Truyen3h.Co

Hello mellow

Empatbelas

authoriya

"Sori ya, Han, nyokap gue kalau ngomong emang suka bercanda gitu." Unggah melirik Hani yang duduk di kursi kayu di depannya, sedangkan Unggah sibuk memainkan melatih kakinya dengan bola sepak.

Keduanya kini berada di lapangan futsal yang juga merangkap sebagai lapangan basket di komplek perumahaan Botania, tak jauh dari blok rumah Unggah. Tadi, saat beberapa teman lama Bunda dan Tante Gigi sudah mulai berdatangan dan menimbulkan kegaduhan, Unggah lantas mengajak Hani untuk jalan-jalan keluar. Walaupun bisa saja Unggah naik ke atas dan melanjutkan PES nya, namun Unggah sedikit tak tega juga membiarkan Hani manyun dan memasang kupingnya tebal-tebal untuk mendengarkan genks SMA jaman dulu itu sibuk mengingat masa lalu mereka.

"Nggak apa-apa, gue senang kok! Eh—" Hani mengatupkan mulutnya, lalu ia buru-buru meralat, "Maksud gue, gue santai kok anaknya." Ralatnya sambil melirik Unggah yang masih sibuk dengan bola nya.

Unggah nampak menyeringai ketika mendengar jawaban Hani, "Jujur amat nih kakaknya."

"Bukan gitu," Hani mendesah, "anjir gue keceplosan! Pura-pura nggak paham aja ya?"

Kali ini Unggah tak bisa untuk tidak tertawa karena ucapan Hani. Unggah tidak yakin, namun Hani selalu saja bisa membuatnya tersenyum dan tertawa jika ia sedang berada di dekat cewek itu.

"Ih, kok ketawa sih!" Hani cemberut, wajahnya sedikit merah ketika melihat Unggah yang tertawa lebar karena ucapannya. Kebodohannya yang selalu telat menyadari kalau mulutnya selalu saja kelepasan bicara. Apalagi, kali ini di depan Unggah yang notabanenya adalah gebetan.

Unggah mengambil bola itu, kemudian duduk di sebelah Hani. Ia membawa kedua matanya menerawang menatap langit-langit yang nampak ringan tanpa matahari berlebih dengan desiran angin yang menerbangkan helaian rambut tipisnya.

"Lo anak kesayangannya bu Indri ya?"

"Ha?" Hani mengerutkan keningnya bingung ketika pembicaraan berubah seratus delapan puluh derajat.

Unggah melirik cewek di sebelahnya, kemudian memainkan bola ditangannya. "Bu Indri selalu ngebahas lo di kelas gue. Katanya, 'Kalian ini cari teman kakak kelas yang seperti Hani dan Syaila yang bisa membantu mengerjakan tugas dan menghapal pasal dengan cepat. Jangan yang seperti Bambang dan Dwiki, sudah malas, buku pun hasil meminjam.' " ucap Unggah sambil menirukan gaya bicara Bu Indri.

Sontak saja Hani tertawa mendengarnya. "Parah lo!"

"Nah, kok?"

"Gue aduin bu Indri ntar lo karena gosipin doi, sampe ngikutin gaya ngomong segala lagi." Ucap Hani di sela tawanya.

Unggah menyeringai nakal, "Kan gue ngomong fakta, jadi nggak termasuk gosip, Hani."

"Iya deh, iya." Hani tersenyum. Kembali menatap ke arah depan.

"Lo tahu, gue juga pernah jadi bahan dia buat 'ngoceh-ngoceh' karena gue diajak ngobrol sama Bayu waktu itu, terus kedapatan Bu Indri." Cerita Unggah. Dia masih ingat dengan jelas kala Bu Indri membuat 20 menit terakhir kelasnya untuk menceramahi Bayu dan dirinya. Belum lagi, Bu Indri juga membahas soal kemalasan mereka karena tidak membeli buku dan malah meminjamnya. Padahal sebelumnya, Ibu itu sendiri yang mengatakan tidak mau memberatkan, yang penting muridnya memiliki buku pegangan yang sama dengan miliknya.

"Terus?"

"Kata bu Indri, gue ganteng,"

"Semoga aja gue percaya ya, Ung..." Hani memutar bola matanya. Dia tahu banget kalau bu Indri tidak akan pernah berbicara hal tidak berfaedah seperti yang diucapkan Unggah barusan. Ibu itu tidak akan memuji fisik seseorang, kecuali kalau dia pintar.

Unggah tertawa, "Bu Indri bilang, gue modus minjem buku sama lo karena buku cetak punya lo kan udah di isi semua. Padahalkan gue nggak tahu kalau dapat bonus begitu."

"Gue emang kebiasaan nyoret jawaban di buku."

Unggah mengangguk mengerti, kemudian menjawab dengan nada khas mantan presiden ketika kampanye beberapa tahun yang lalu, "Lanjutkan."

"Dih," Hani tersenyum kecil.

Keduanya lantas kembali diam selama beberapa menit. Pikiran mereka sibuk melayang-layang sambil menatap awan yang bergerak pelan mengikuti arah mata angin.

"Lo kalau ke sekolah naik angkutan umum terus?"

Hani menoleh ketika suara Unggah tiba-tiba mengalun dengan santai. Kemudian kembali mengikuti cowok itu menatap langit Bogor yang sedang ramah. "Biasanya berangkat sekolah bareng kak Meta, tapi dia lagi liburan ke Bandung sama teman-temannya. Jadi mau nggak mau naik busway." jelas Hani.

Unggah terdiam. Kedua matanya masih sibuk menatap ke atas, kemudian menoleh, "Berangkat ke sekolah bareng gue aja, mau nggak?"

Hani mengerjapkan mata dua kali. Dari sekian pertanyaan dan bahan obrolan yang pernah dipikirnya, ia tidak pernah berpikir kalau Unggah akan mengajaknya pergi ke sekolah bersama dalam waktu dekat ini. Ia pernah berimajinasi, namun itupun masih lama karena hubungannya dan Unggah masih di angin-angin saja. Belum ke tahap pedekate kalau kata anak zaman sekarang.

"Kalau lo ma—"

"MAU!" sanggah Hani secepat kilat.

Unggah menaikkan satu alis sesaat, namun tak urung kedua sudut bibirnya tertarik ke atas. Ekspresi yang otomatis berubah karena bahkan Unggah sendiri tidak menyadarinya.

***

"Kamu kenapa?" Bunda mengerutkan keningnya dengan heran, melirik anak bungsu nya yang sejak tadi tidak melepaskan senyuman di wajah barang sedetikpun.

Bunda melepaskan safety belt-nya ketika mobil yang di kendarai sudah terparkir di carport di kediaman mereka, Hani mengikuti sambil menggeleng pelan, "Nggak kenapa-kenapa, Bun."

Masih dengan kening yang berkerut, Bunda menatap anak gadisnya sambil menggelengkan kepala. Memiliki dua anak gadis yang berkepribadian berbeda memang sesuatu. Jika Meta lebih mengikuti sifat Faisal yang pendiam dan sedikit jutek, berbeda dengan anak bontotnya ini yang lebih mengikutinya. Ceria dan blak-blakan. Bunda Hani berharap kalau senyuman anak bontotnya ini akan selalu hadir dan tak akan pernah padam. Kemudian, keduanya menuruni mobil itu melalui pintu di samping mereka.

Mobil Ayah sudah terparkir di dalam garasi, menandakan kalau Ayah sudah pulang dari pekerjaannya di luar kota. Tadi, Ayah memang mengirimkan pesan ke group chat keluarga kalau hari ini Ayah baru balik dari perjalan bisnis ke Yogyakarta bersama beberapa orang rekannya.

Hani dengan cepat membuka pintu rumahnya, mencari keberadaan sang Ayah yang sudah ditunggu-tunggunya. Lebih spesifiknya, buah tangan ayah yang dipesannya sejak keberangkatan sang Ayah kemarin lusa.

"Ayaaaah!" Hani langsung berlari memeluk sang Ayah ketika melihat tubuh pria itu keluar dari ruang dapur dengan celana pendek dan kaus berwarna abu-abu. "Pesenan aku dibawa, kan?" Tanyanya.

"Adek, Ayahnya pulang bukan ditanyain kabar malah nanya pesanan." Bunda geleng-geleng, berjalan di belakang. Bunda menaruh tas bahu nya di atas sofa yang menghadap ke televisi yang menggantung di dinding ruang keluarga.

"Tahu nih," ujar Ayah sambil mencubit hidung Hani. Kemudian menunjuk ke arah dapur, "Tuh, di meja. Ada oleh-oleh dari Bulik kamu juga."

"Yeaay!" Hani langsung bergegas ke area dapur rumah mereka.

"Udah gadis, tapi kelakuan masih persis anak SD." Gumam Ayah sambil memerhatikan anak perempuannya yang kini beranjak dewasa itu.

***

Lala    : Han, jangan lupa bawa FD ya, Gue bagi drakor yang baru itu. dan tambahan. Plis, don't do stupid things ya ntar di motor dedek Ung.

Hani membiarkan sisirnya menyangkut di rambut ketika tangannya bergerak meraih ponsel dari atas nakas tempat tidur yang bergetar. Jemari Hani bergerak aktraktif membuka lock screen ponsel dan membaca pesan WhatsApp yang berasal dari Lala. senyumnya terukir kecil sambil membalas pesan itu.

Hani mengamati pantulan dirinya di depan cermin besar itu dengan seksama selama beberapa detik. Rambutnya sudah rapi tersisir dan untung saja sudah kering berkat hairdyer andalan. Jika dulu saat sekolah SMP Hani akan membiarkan saja rambutnya yang masih basah dan berangkat ke sekolah, namun sekarang saat sudah beranjak dewasa begini Hani jadi berpikir ulang mengikuti kebiasaan SMP-nya dulu.

"Dek, itu pacar kamu udah nunggu tuh di depan." Bunda tiba-tiba sudah bersuara dari balik pintu yang terbuka setengah. Bunda menatap sang anak gadis dengan menggoda, "Cantik amat sih, sementang mau dijemput pacar." Goda Bunda lagi.

"Kita temenan, Bundaaa ih. Unggah belum jadi pacarku kok." jawab Hani. Kedua manik matanya menatap pantulan diri sekali lagi di cermin, kemudian mengambil tasnya yang tersampir di atas kursi meja belajar, lalu memakainya. "Ayah mana, Bun?"

"Itu lagi ngobrol sama Unggah." Jawab Bunda, kemudian berujar kembali, "Bisa aja kamu nih ya, tahu-an sama cowok ganteng."

Hani tersenyum, membawa tungkai jenjangnya berjalan sejajar dengan sang Bunda.

"Nah itu dia, Hani," adalah suara berasal dari Ayah yang terdengar ketika melihat anak gadisnya sudah rapi dalam balutan seragam sekolah.

Unggah ikut mendongakan kepala dan langsung bertemu dengan si pemilik mata indah, Hani. Cowok itu tersenyum kecil. "Kalau gitu saya dan Hani izin berangkat sekolah dulu ya, om, tan." Ucap Unggah seraya bangkit berdiri.

Ayah mengangguk.

"Lo abis makan gorengan ya?" Tanya Unggah sambil memberikan helm kepada Hani.

"Ha, gimana?" Kening Hani berkerut bingung, "Enggak, kok. Kenapa?" Tanyanya. Kemudian bergerak naik ke atas motor. Tangan Hani bertumpu pada pundak Unggah saat hendak menaiki motor besar itu.

"Ngaca deh, mengkilap amat kayak abis makan gorengan." Unggah menatap melalui kaca spionnya. Dihidupkannya mesin motor, memberi salam sekali lagi kepada kedua orang tua Hani sebelum melesatkan motornya keluar dari komplek perumahan cewek itu.

"Ugh!" Hani menggerutu, "Ini gue pakai lip butter, Unggah!"

"Nggak ngerti," Unggah mengerutkan kening. "Mending lo apus deh, nggak suka gue lihatnya. Serius, lo kayak abis makan gorengan segerobak gitu."

Hani cemberut. Dia sengaja pakai lip butter yang memiliki kandungan minyak lebih banyak, bukannya lip balm, selain agar bibirnya sehat tapi juga supaya tidak pucat dan kering. Tapi, cowok ini, benar-benar...

Dengan cepat Hani mengambil tissue basah dari kantung roknya, lalu mengusapkannya pada bibir. Tanpa disadari Hani bahwa Unggah tersenyum melihatnya melalui kaca spion motor.

***

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co