Limabelas
SUARA berisik dari dalam kelas hampir setiap pagi di hari senin sangat kental terdengar dari hampir seluruh penjuru koridor. Begitu juga dengan suara check sound samar terdengar dari lapangan upacara bendera yang kini mulai terdengar hingga ke kelas 11 IPS 2. Walaupun bel tanda masuk belum dibunyikan, namun beberapa anak dari kelas lain nampaknya sudah ramai berbondong-bondong menuju lapangan dengan seragam dan atribut lengkap mereka—hendak melaksanakan upacara bendera. Seperti biasa, hari ini yang bertugas jaga piket adalah Bu Indri dan Pak Sanusi, sungguh merupakan duo maut yang menggetarkan hati.
Bambang, Dwiki, dan beberapa siswa kelas 11 IPS 2 yang sedang sibuk menyalin jawaban LKS milik Agung—cowok kutu buku nan penurut dan bisa diandalkan oleh guru-guru—sementara Dwiki yang bertugas mengatakan jawaban dari soal pilihan ganda yang berjumlah 50 soal itu.
"32. A ..., 33. C ..., 34—"
Tit! Tit! Tit!
Suara bel tanda upacara akan di mulai berbunyi nyaring, membuat cowok-cowok itu langsung mendesah kesal karena mereka belum selesai meng-copypaste tugas Sosiologi.
"Lanjut aja, Ki. Buruan!" Perintah Bambang. Cowok itu duduk di atas meja dengan satu kaki terangkat sementara buku LKS-nya ia diletakkan di paha bagian atas. Baju seragam yang keluar, tidak pakai ikat pinggang, dasi yang tidak terpasang—hanya menggantung di dalam kerah baju osis cowok itu. Sepatu dekil yang sepertinya sudah tidak di cuci sejak dia membelinya. Tipikal sekali.
Baru saja Dwiki hendak bersuara membacakan pidato singkat mengenai hasil jawaban yang dari buku LKS yang sempat di tunda karena suara bel tadi, suara nyaring milik pak Sanusi terdengar memakai speaker dari arah lorong koridor. Membuat beberapa anak dari kelas 11 IPS 1, 11 IPS 3 dan juga kelas 11 IPS 2 nampak langsung kabur keluar sebelum terciduk apalagi sampai terkena ceramah dadakan di tempat kejadian perkara.
Bergerak cepat memasukan buku LKS mereka ke dalam laci meja masing-masing, beberapa murid nampak langsung lari terbirit keluar dari kelas, sedangkan Bambang sedang sibuk mencari topi osis-nya di dalam tas.
"Buruan, Nyet!" Ucap Dwiki sambil memasang dasinya di depan kelas, kedua fokus matanya terbagi antara dasi, Bambang, dan pak Sanusi yang sekarang sedang mengetuk-ngetuk pintu kelas 10—dan menyuruh anak-anak yang masih di dalam kelas untuk segera ke lapangan upacara.
Bambang mengambil topinya, memakainya dengan asal kemudian mengajak Dwiki untuk segera meninggalkan kelas mereka sebelum Pak Sanusi menjadikan mereka sebagai bulan-bulanan yang empuk. Bambang berjalan cepat sambil memasang dasinya, sedangkan Dwiki sedang merapikan bajunya. Ia bisa dimarahi Lala kalau sampai pakaiannya kusut dan tidak rapi.
Lapangan upacara sudah di padati seluruh siswa-siswi SMA Kartini. Petugas upacara dari mulai MC hingga Paduan Suara yang semuanya berpakaian putih-putih bahkan sudah berdiri di depan lapangan dengan kewajiban mereka masing-masing. Di antara kerumunan siswa yang berbaris sesuai dengan barisan kelas mereka masing-masing itu, Hani dan Lala sedang sibuk bercengkrama saat Lala tiba-tiba membuat semacam kode sambil menunjuk-nunjuk ke belakang sahabatnya menggunakan gerakan bibir. Hani yang paham akan kode yang di maksud itu dengan gerakan secepat kilat langsung menoleh ke arah belakang.
Di sana dia...
Sedang berjalan bersama rombongan anak laki-laki yang kemungkinan besar teman sekelas cowok itu—karena Hani bisa melihat Bayu, Bima dan beberapa anak yang diketahui olehnya merupakan teman sekelas Unggah—menuju ke lapangan.
Padahal tadi pagi Hani sudah puas memandangi Unggah—meski punggung cowok itu—tapi tetap saja dia merasa perlu menatap cowok itu penuh-penuh sekarang. Dalam balutan seragam osis dan atribut lengkapnya, Unggah terasa makin tampan menurut Hani. Hani tidak pernah melihat cowok setampan itu dalam balutan lengkap khas anak sekolah. Ya, kecuali yang ada di drama korea.
"Mata lo nggak pernah salah ya," tutur Lala.
Hani melirik sekilas, "Maksud lo?"
"Gue yakin sih, kalau Unggah dua sampe tiga tahun lagi bakal jadi inceran adek-adek kelas. Baru upgrade seragam aja udah ganteng begitu."
Hani menyetujui, "Makanya doain ya sebelum uzur, gue udah pacaran sama dia."
"Uzur banget ya bahasa lo..."
Keduanya langsung terkekeh. Dengan pandangan masih mengikuti ke mana Unggah melangkah, Hani merasakan rangkulan di bahunya hingga tubuhnya sedikit oleng ke samping. Diliriknya cowok tinggi kurus yang kini menyeringai lebar kepadanya itu dengan pandangan kesal. "Ganggu aja deh!"
Bukannya merasa bersalah, Bambang malah semakin mengeratkan rangkulannya pada Hani, kemudian dengan sedikit berteriak dan melambaikan satu tangannya yang kosong ke udara, Bambang memanggil, "Oi, Upload! Ung!"
Beberapa murid di sekitar barisan kelas sebelas langsung serentak ikut menoleh ke arah sumber suara. Mereka menatap Bambang yang sudah memiliki track record nakal itu dengan antusias. Sementara, selebihnya lagi malah terkesan tak peduli dan tetap bercokol dengan teman sebaya mereka di barisan. Hani membeliakkan mata, menoleh sekali lagi ke arah Bambang dengan pandangan jengkel yang tidak di tutup-tutupi, sedangkan disisi lain Lala dan Dwiki malah terkikik pelan.
"Ngapain juga manggil dia sih?" Komentar Hani dengan nada sewot.
"Nah, tuh anaknya noleh," Bambang memberikan informasi, alih-alih membalas perkataan Hani. Cowok kurus itu semakin mengeratkan rangkulannya, kali ini seringaian muncul di wajah nakalnya. Sambil memainkan alisnya secara naik turun, Bambang kembali bersuara, "Cewek lo dari tadi ngeliatin lo mulu nih! Belum di kasih jatah pagi apa gimana, Ung?"
Hani tidak perlu mengedarkan pandangan untuk mengetahui kalau saat ini seluruh mata anak-anak yang mendengar perkataan Bambang—yang berada dalam radius dekat—mereka sedang menatap antusias. Dipermalukan Bambang bukan hal yang baru terjadi, cowok itu memang sudah suka malu-maluin sejak namanya menjadi bagian siswa SMA Kartini, namun yang seperti ini merupakan kali pertama bagi Hani, terlebih cowok kurus itu dengan frontal memanggil nama gebetannya. Dan mengatakan kalau dia adalah pacarnya Unggah.
Cewek itu jadi bingung, di-aminkan dulu, atau menutup wajahnya dulu ya?
Unggah melihat kalau cewek dalam rangkulan Bambang itu kini wajahnya merah padam menahan malu sekaligus kesal. Entah apa yang di pikirkan Bambang sampai berkata seperti tadi, namun dia sedikit canggung juga karena kini beberapa pasang mata ikut memandang ke arahnya. Agak bingung harus merespons bagaimana, lalu kedua matanya tak sengaja melihat Rini yang ternyata ikut memandangi mereka. Kemudian, tanpa berpikir panjang ia tersenyum lebar, "Bilang sama dia, ntar jam istirahat gue samperin ke kelas." ucap Unggah sambil mengedipkan sebelah mata. Memasukkan tangannya ke dalam saku celana, kemudian melanjutkan langkah menuju barisan kelasnya dengan iringan 'ciyee-ciyee' dari anak-anak di lapangan upacara.
"Wow, jadi lo beneran udah jadian sama Unggah? Padahal gue cuma asal aja tadi." Respons Bambang, membantu menyuarakan pertanyaan yang ada di benak beberapa teman mereka juga. Bambang melepaskan rangkulannya pada Hani, sedikit menjauhkan diri namun kedua matanya masih menatap penasaran kepada cewek itu.
"Ibu bilang jangan ngobrol terus, Bambang!" Bu Indri tahu-tahu sudah berada di belakang mereka, satu tangannya mencubit pinggang Bambang hingga membuat cowok itu mengaduh kesakitan.
"Aw! Duh!" Bambang menggeliat kesakitan sambil mencoba melepaskan cubitan bu Indri dari pinggangnya, "Ampun, Bu!"
Murid-murid di sekitar barisan 11 IPS 2 yang melihat, mau tak mau menahan tawa melihatnya. Namun buru-buru menghadap ke depan ketika pandangan mereka bertemu dengan bu Indri. Daripada kena cubit juga, pikir mereka.
"Kelas kalian itu kelihatan paling ribut dari depan sana, jangan malu-maluin, Ibu." Ucap Bu Indri pada anak didiknya seraya melepaskan tangannya dari pinggang Bambang.
Bu Indri berdiri berkacak pinggang dengan setelan baju dinas rapi di hari senin. Rambutnya tertata ke belakang membentuk sanggul kaku sama seperti hari-hari biasanya. Beliau melirik ke arah anak-anak yang kini diam dan berbaris rapi karena kehadirannya. Kemudian kembali menatap Bambang yang sedang mengelus pinggangnya pelan, "Baris yang benar dan hargai upacara pagi ini." Tukasnya datar sebelum pergi meninggalkan tempat itu.
***
Matahari yang mulai naik ke atas membuat upacara pagi ini lebih terasa melelahkan. Nampak beberapa anak di bagian belakang yang sibuk mengibas-kibaskan baju seragam mereka hanya agar mendapatkan sedikit angin segar ditengah panas yang luar biasa ini. Padahal, ini baru jam delapan kurang, tapi matahari sudah senang membagikan sinarnya.
Hani mengusap peluh di dahinya yang mulai menetes menggunakan punggung tangan. Matanya sedikit menyipit karena posisi baris kelas 11 begitu pas berhadapan dengan sinar matahari—padahal sudah menggunakan topi. Hani menghela napas, merasakan kepalanya sedikit berdenyut dan pandangannya mulai mengabur, Hani memegang kepalanya sambil meringis.
"Lo kenapa, Han?" Tanya Lala khawatir, ia berdiri tempat di sebelah Hani. Cewek itu rupanya menyadari ngelagat Hani yang sedikit aneh karena memegangi kepalanya terus sejak beberapa menit yang lalu. "Lo pusing lagi ya?"
"Nggak kok, gue cuma—" tidak sempat Hani melanjutkan omongannya, tubuh itu langsung limbung ke belakang.
Hani kehilangan kesadaran.
***
"Cuy, lo jadian sama Hani?" tanya Bayu kepada Unggah di sela-sela antrian es teh mereka. Upacara baru saja selesai, namun alih-alih langsung ke kelas, beberapa siswa—mayoritas cowok—lebih memilih menuju kantin sekolah untuk mendapatkan minuman dingin penghilang dahaga.
Unggah mengambil es teh di plastik dan membayarkan sejumlah uang kepada si penjual, Bayu dan Bima mengikuti saat mendapatkan milik mereka juga. Ketiganya kemudian duduk di bangku panjang yang terbuat dari kayu. Cairan dingin itu langsung mengalir dengan damai melewati kerongkongan dengan sekali teguk.
"Gue sama Bayu mah santai kali bro, kalau lo emang udah jadian sama dia." Ujar Bima ketika tak mendengar Unggah menjawab pertanyaan yang diajukan Bayu barusan. Bima mendesah lega ketika tubuhnya kembali segar.
"Nggak jadian."
"Terus, kenapa si Bambang ngomong gitu?" Cecar Bima.
"Lo kayak nggak paham dia aja, Bim." jawab Unggah.
Tepat pada saat itu, cowok yang menjadi bahan perbincangan mereka muncul, jalan berangkulan dengan Dwiki. Wajah tengil itu langsung mencari tukang jualan air minum dingin yang tak perlu antre. Kedua cowok-cowok itu terlibat pembicaraan singkat, namun ketika salah satu pasang mata melihat adik kelas yang juga merupakan anggota baru tim futsal mereka itu sedang duduk menikmati es teh mereka, mulut Bambang tak tahan untuk tidak memberikan kabar tentang apa yang terjadi di barisan kelasnya tadi.
"Ung, cewek lo pingsan tuh, sekarang lagi di UKS." Ucap Bambang mengambil tempat duduk di depan Unggah, lalu menyuruh satu anak kelas 10 yang lewat di dekatnya agar membelikan minuman dingin untuknya dan Dwiki seraya memberikan selembar uang sepuluh ribu.
Unggah berhenti menyesap es teh-nya, ia mendongak dan memandangi Bambang yang sedang menyeringai, namun tak ada respons yang keluar dari mulut cowok itu.
"Hani pingsan?" Bima yang merespons.
Bambang mengangguk.
Pantas saja sekelebat dia seperti melihat ada keributan di barisan kelas 11 tadi, Unggah sudah menduga jika ada yang pingsan ketika upacara berlangsung karena panasnya memang bikin pusing kepala, tapi dia tidak menduga kalau Hani yang dibawa di atas tandu anak PMR itu.
"Dia sendirian pula, Lala nggak bisa nungguin karena jam pertama hari ini pelajarannya si Sanusi." Kali ini Dwiki yang berkomentar.
"Gue pura-pura sakit aja apa ya?" Gumam Bambang pelan.
Yang langsung mendapatkan respon pedas dari Dwiki. "Sanusi mana percaya lo sakit. Kecuali kalau lo udah sekarat di RS, nah itu baru mungkin bapak itu percaya."
"Bambang juga manusia, Dwiki," dengus cowok kurus itu.
Di sisi lain, pikiran Unggah sedikit terganggu akan berita yang baru saja di dengarnya. Unggah menghela napas mencoba untuk tidak peduli. Cewek itu hanya kakak kelasnya, dan kebetulan juga merupakan anak dari teman Ibunya. Tidak lebih.
Cewek itu...
Unggah menghela napas keras, bahkan ketika sekarang ia sudah berada di kelas sedang mengikuti pelajaran di jam pertama yang masih sekitar dua puluh menit lagi baru berakhir, seluruh pikirannya sukses terdistraksi oleh Hani. Kedua mata Unggah memandangi Bu Tuti, guru bahasa Indonesia yang super lembut itu sedang menuliskan contoh kalimat bermajas metafora di papan tulis, tapi jelas fokusnya tidak disana. Karena pikirannya tak mau kooporatif sedetikpun, akhirnya Unggah menggeser bangkunya kebelakang, lalu berdiri.
"Ke mana?" Tanya Bayu yang sedang mencatat apapun yang di tulis oleh Bu Tuti, tanpa mengerti inti tulisan itu.
"Mules," Jawab Unggah asal sambil memegangi perutnya. Unggah berjalan ke depan hingga sampai di depan Bu Tuti, dan memberikan alasan yang sama kepada guru lembut itu sebelum akhirnya ia diperbolehkan dan melangkah ke luar kelas.
Dan tak kembali hingga mata pelajaran berakhir.
***
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co