Enam
"HANI..."
Sapaan bernada menggoda itu ditunjukan pada cewek yang sedang duduk di bangku depan warung yang berada di luar pintu pagar SMA Kartini. Karena tadi Bu Indri meminta Hani untuk menemuinya sepulang sekolah, alhasil ia harus pulang sedikit terlambat dari biasanya. Kalau bertanya soal Lala, sahabatnya itu sedang jalan dengan Dwiki, bilangnya sih ingin ke Mall. Tadi juga sebenarnya Lala sempat mengajak Hani untuk ikut bersama mereka, tapi tentu saja Hani menolak karena ia tidak mau mejadi obat nyamuk.
"Kok belum pulang, Beb? Pasti nungguin gue ya?" Motor yang dikendarai si penyapa itu berhenti tepat di depan Hani.
Hani menatap cowok ber-helm batok di depannya sambil menyeruput thai tea. Kemudian menggeleng dengan polos, "Enggak tuh."
Bambang, si cowok berhelm batok itu langsung tertawa kencang, "Jangan terlalu jujur napa, Han." Satu kaki Bambang kembali naik ke atas footstep, "Ikut, nggak? Gue mau ke Dome yang deket rumah lo nih."
"Ngapain?"
"Beli Mocca float." Jawab Bambang sekenanya.
Hani mendesis kesal saat mendengar Bambang menjawab pertanyaan seriusnya dengan tak serius begitu, ia membuang wadah thai tea-nya ke tong sampah yang tak jauh dari tempatnya duduk, kemudian cewek itu lalu berdiri—menepuk-nepuk bagian belakang rok, lalu menghadap ke arah Bambang lagi, "Gue naik busway aja deh."
"Yakin?" Bambang tersenyum menggoda, melirik melalui kaca spionnya saat terdengar deru suara motor dari belakang mereka—kini ikut berhenti di belakang motor Bambang.
"Eh, ada Hani..." Bima bersuara dengan senyuman lebar saat menyadari kalau kakak kelasnya yang imut itu sedang bersama salah satu kakak kelasnya juga.
Tadi, saat Unggah mengatakan kalau mereka duluan saja ke Dome, mereka memutuskan untuk tidak mematuhinya. Selain karena kedua teman Unggah itu hobi nongkrong di parkiran motor bersama anak-anak lainnya, Bayu dan Bima juga yakin bahwa mereka akan memiliki bahan untuk meledek Unggah. Terbukti, wajah lesu berbalut kekesalan yang di tampilkan Unggah saat menyambangi motor cowok itu membuat dua pasang mata milik Bayu dan Bima langsung menemukan jawaban. Pasti 'eksekusi' Unggah sudah jatuh menjadi hukuman mati, dilihat dari wajah cowok itu.
Hani tersenyum, ia melirik Unggah yang seperti tidak memiliki jiwa. Helm berwarna hitam legam dengan kaca yang tidak terlalu gelap membuat Hani bisa melihat dengan jelas raut wajah cowok itu. Unggah bahkan tidak menoleh ke arahnya disaat teman-teman cowok itu sibuk menggodanya. Unggah sudah seperti mumi yang duduk di atas jok motor dengan kaku dan pandangan lurus ke depan. Hani mendengus sebal, lalu berusaha bersikap biasa dan kembali menatap duo upin-ipin versi muda di depannya, "Pada baru mau balik?"
Bima mengangguk, "Mau bareng nggak, Honey?"
"Heh!" Bambang merespons dengan cepat saat mendengar suara Bima yang memanggil Hani dengan sebutan itu.
"Ngapa dah?" Tanya Bima sambil menaikkan alisnya, "Kan yang ini bukan punya lo." Lanjutnya dengan nada santai.
"Iya, tetep aja dia masih dalam teritori gue. Kan gue temen sekelasnya," Jawab Bambang kalem. Lalu, melirik Hani sekilas dengan menahan senyum yang super mengesalkan, "Lagian Hani nggak akan suka sama lo, oncom goreng. Dia suka—"
"Beng, katanya mau nganterin gue balik?" sergah Hani dengan cepat. Ia tahu kalau Bambang memiliki mata yang tajam dan akan dengan cepat mengetahui siapa yang sedang di taksir atau di benci teman-temannya. Tapi, dia juga tahu kalau Bambang punya mulut semacam akun gosip di instagram, karena nya Hani tidak akan membiarkan Bambang membeberkan dan membuatnya malu.
Bambang menyeringai, "Tadi nggak mau?"
Hani menahan kesal, "Yaudah, nggak jadi. Gue naik busway aja!" Kata Hani, dan langsung berjalan meninggalkan ke empat cowok itu. Sebenarnya, itu adalah akal-akalan Hani saja agar dia cepat menjauh dari Bambang. Karena kalau dia tetap di sana, cowok itu pasti akan menjadi 'si bacot kompor meleduk' walaupun kakinya memiliki hobi menendang bola.
Baru tujuh langkah langkah Hani berjalan, tas ranselnya sudah ditarik oleh seseorang dari belakang. Hani mencurigai kalau itu adalah kerjaannya Bambang karena cowok itu kadang tidak memiliki otak dan suka menarik-narik tas orang sembarangan. Karena itu, Hani langsung menyemburkan makiannya dari lubuk hati terdalam, "Lo apaan sih, Beng! Dasar lo—"
Hani langsung mengatupkan bibir. Wajahnya memerah dan dia bisa mendengar suara kekehan di belakang. Bambang.
"Negatif aja lo mah sama gue, Han." Ucap Bambang. Lalu menghidupkan mesin motornya, "Dah, lo sama Unggah aja deh, gue ikhlas. Soalnya gue juga nggak bawa helm tambahan." Bambang mengedipkan sebelah matanya ke arah Hani. Lalu, menatap Bayu dan Bima yang kini menatap heran ke arah Unggah, menyuruh kedua orang itu untuk ikut melajukan motor mereka menuju lokasi bermain futsal.
Deru motor milik Bambang dan Bayu semakin menjauh, Hani berdeham kecil lalu menatap Unggah yang juga menatapnya. "Kenapa?"
"Naik." Unggah lalu menyodorkan helm berwarna putih kepada cewek di depannya.
"Apaan?"
"Lo nggak tahu kalau ini namanya helm?" Unggah malah balik bertanya dengan satu alis terangkat. Membuat Hani memutar bola matanya kesal,
"Ya, tahu lah!"
"Terus, kenapa nanya?"
Hani menghela napas, sabar-sabar. "Maksud gue, kenapa ngasih helm. Nggak usah repot-repot nawarin ngajak pulang, gue mau naik busway." Hani berpura-pura menolak. Padahal, jauh di dalam hatinya dia benar-benar tergiur ajakan pulang bersama dari adik kelasnya yang manis itu.
Tangannya bergantung pada tali tas ranselnya dan hendak melanjutkan langkahnya kembali ketika suara Unggah terdengar mendengung di telinganya, "Gue nggak hobi maksa, cuma tadi Bambang nyuruh gue boncengin lo pulang karena rumah lo dan Dome searah. Kalau lo nggak mau ya—"
"Oke, gue ikut lo." potong Hani dan langsung menyambar helm putih itu, lalu memakainya. Cewek itu menatap Unggah dengan ekspresi kesal. Alih-alih memaksanya seperti cowok kebanyakan, Unggah malah membeberkan kebenaran dan yang seolah-olah jika ditelaah lebih lanjut berarti cowok itu sebenarnya juga tidak peduli kalau Hani mau atau tidak, yang penting dia sudah menawarkan jasa kepada Hani. Hingga Hani dengan murahannya langsung melupakan niatnya untuk 'shy shy cat' .
Hani menaikkan satu kakinya pada pedal kaki sambil berpegangan dengan bahu Unggah, lalu menempatkan beratnya di atas motor NMax yang pernah ia naiki sebelumnya.
"Udah?" Tanya Unggah dengan senyuman tipis.
Unggah tahu kalau Hani tidak akan menolaknya dan cewek itu hanya berpura-pura saja tadi, makanya, Unggah tidak akan mengikuti keinginan itu. Dia tidak ingin dekat-dekat cewek yang penuh drama seperti Rini lagi. Cukup saja sekali dia mendapatkan cewek drama seperti mantannya itu, dan untuk sekarang dia akan mencoba menjauhi 'tipe-tipe' perempuan semacam itu. Dan terbukti, Hani bukan cewek setipe Rini. Karena, Jika itu Rini, cewek itu akan menaikkan gengsinya dan memilih marah jika Unggah berkata seperti tadi.
"He'eh," Jawab Hani pelan. Satu tangannya memegang ujung motor, menunggu Unggah menjalankan motornya. Namun, dahi nya mengerut saat Unggah tak juga melajukan motor itu, "Kok nggak jalan?"
"Lo nggak pegangan, kak?"
Lagi-lagi!
"Udah, di belakang. Bisa nggak sih lo nggak usah manggil gue 'kak'?" Hani memutar bola matanya malas.
Males banget nggak sih, dipanggil gebetan dengan sebutan kakak?
"Terus, lo maunya dipanggil apa? Sayang?" Unggah tersenyum kecil. Dilihatnya seseorang berseragam yang sama dengan dirinya dan Hani melalui kaca spion motornya. Wajah seperti tomat itu langsung terdiam seribu bahasa. Masih dengan senyuman di wajah, Unggah menurunkan kaca helmnya, "Pegangan, Han. Gue nggak tanggung jawab kalau lo sampe jatuh."
Lalu, cowok itu melajukan motornya menjauh dari sekolah mereka. Menyisakan dua cewek yang berdiri disisi tukang bakso tusuk—yang satu sedang menatap kepergian dua orang di atas motor itu dengan raut wajah kesal.
"Kenapa, Rin?" Tanya seorang teman Rini yang sedang memegang plastik bakso tusuk ditangan. Matanya ikut menatap arah pandang teman semejanya itu.
"Nggak," Jawab Rini pelan. Lalu, mengajak temannya untuk pergi dari sana. "Yuk, cabut!"
***
Lalu lintas di sepanjang jalan raya hari ini sama seperti hari-hari biasanya. Ramai, namun tidak menimbulkan kemacetan. Kecuali jika pada jam sibuk dimana pekerja kantoran keluar dari kantor-kantor mereka.
Terik matahari terus saja mengikuti kemana motor Unggah bergerak. Hani suka hari cerah, tapi dia tidak menyukai terlalu terpapar sinar matahari. Bukan karena takut hitam atau semacamnya, tapi lebih kepada efek bau yang nantinya ditimbulkan akibat terpapar sinar matahari itu. Dan debunya... Hani bahkan tidak memakai masker wajah. Ugh.
"Lo kepanasan kak?" Kata Unggah sambil menoleh sekilas.
"Ya iya, kalau gue kedinginan disaat matahari terik begini kan lucu, adek." Hani menjawab dengan penekanan di kata terakhir.
Unggah tersenyum kecil, "Jadi, kita kakak-adek-an nih sekarang, hm?" cowok itu nampak berpikir, "Tapi, nggak cocok rasanya gue yang dipanggil 'adek'. Secara dari segi tinggi aja lo kalah sama gue."
"Curang! bawa-bawa fisik lo." Hani mengerucutkan bibirnya. Kalau sudah masalah tinggi-tinggian Hani pasti terbelakang. Pasalnya, dulu saat pembagian tinggi badan dia absen karena diare, alhasil tubuhnya stuck pada angka 158 saja. Bahkan disaat ia akan merayakan sweet seventeen-nya.
Sebenarnya, untuk ukuran cewek-cewek, tinggi segitu sudah termasuk umum sih, bahkan ada yang kurang dari segitu. Namun, tetap saja impian Hani buat ikut menjadi trainee untuk model Victoria Secret tidak akan pernah terealisasikan kalau tingginya saja tidak menyentuh SPP alias Standar Pertinggian Permodelan.
Tanpa di duga-duga, Unggah tertawa dengan keras, bahkan Hani bisa merasakan tas Unggah yang berada di belakang terguncang. Ntah apa yang membuat cowok ini tertawa, karena sukses meledek Hani atau karena sikap Hani yang menjawab ledekannya. Yang jelas, kini rasa kesal Hani menguap dan bibirnya turut melengkung naik membentuk senyuman.
Hani tidak pernah tahu jika tawa seseorang bisa menghangatkan, karena kedua sudut bibirnya kini melengkung ke atas bersamaan dengan semilir angin yang datang ditengah teriknya matahari, Hani merasa hatinya seperti matahari sekarang. Bersinar-sinar dan terasa penuh.
Lima menit setelahnya, Unggah dan Hani sama-sama tahu tentang silsilah keluarga masing-masing. Hani yang merupakan anak kedua dari dua bersaudara, sedangkan Unggah, merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Dua adik Unggah adalah perempuan, keduanya masih duduk di bangku sekolah dasar dan berumur tiga tahun.
"Kenapa nama lo Unggah?" Tanya Hani kemudian. Jujur saja, dia sedikit asing dengan penamaan cowok tinggi ini. Unggah... mungkin nama ini satu-satunya di Indonesia Raya, atau setidaknya nama Unggah tidak sepasaran nama Bambang, Bayu, atau Budi.
"Karena ini di Indonesia." Jawab Unggah sekenanya.
Kalau ditanya seperti ini, ya dia mana tahu apa alasannya. Dia nggak mau ambil pusing dengan bertanya-tanya kepada orangtua nya mengenai ilham apa yang mereka dapat ketika ingin memberi nama kepadanya.
Kening Hani mengernyit, "Tunggu, gue lemot nih. Maksudnya gimana?"
"Ya kalau gue tinggal di New York nama gue jadinya Upload."
Hening.
Kalau menganiaya orang tidak termasuk dosa dan berakhir di kantor polisi, Hani pasti sudah menjambak rambut cowok ini sekarang juga.
***
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co