03
Lili menghempas rubik fisher's cube nya ke atas ranjang bersamaan dengan tubuhnya yang juga terhempas di sana. Kedua tangannya terentang di bed cover dengan corak flamingo, sedangkan tatapannya terarah pada langit-langit kamar yang berhiaskan stikers bintang mendominasi.
Mata tajam Fajir sore tadi benar-benar mengusiknya. Lili bahkan yakin, kalau tatapan penuh intimidasi itu ditunjukkan Fajir untuknya... dan juga Nu. Tiba-tiba, sebuah kilas balik detik-detik sebelum ia bertemu Fajir di selasar parkir sekolah—yang seingatnya bahwa Fajir sudah lebih dulu bergegas keluar kelas bersama kedua sekutu barunya itu—menyeruak dalam pikiran.
Tadi, Lili harus mengikuti bimbingan belajar tambahan yang diadakan sekolah dengan tanpa memaksa setiap anak kelas sepuluh atau sebelas mengikutinya—kecuali akan menjadi hukum yang berbeda jika sudah menginjakkan kaki di kelas dua belas—bersama dengan Niken dan beberapa teman sekelas mereka. Tidak hanya itu, Nu juga mengikuti bimbel yang sama di kelasnya. Alhasil, jam pulang sekolah mereka sedikit mengulur karena mengikuti jadwal tambahan itu. Dan, jelas sekali bahwa Fajir—dihimpit Ares dan Dipo—yang bahkan langsung melesat keluar saat bel jam ketiga melengking berbunyi. Begitulah kelakuan jika ada jam kosong di jam terakhir sekolah, maka tingkat kesadaran para Sriwijayans kadang ikut 'kosong' juga.
Lili memutar otak, kepalanya terus-terusan dibayangi oleh mimik tak enak Fajir tadi siang. Belum lagi, suara cowok itu yang menanyakan soal apakah mereka merupakan teman satu sekolah ketika di SMP dulu terus terngiang di telinga Lili. Cewek itu mendesah pasrah, tubuhnya berbalik menjadi posisi tengkurap dengan dagu menyandar di kedua tangan yang terlipat. Kali ini, pandangannya menatap tanpa fokus ke bawah kolong meja belajar.
"Dia nggak lagi pengin nyoba untuk ngebully gue lagi kan?" gumam Lili sehalus angin.
"Kok kamu ngelamun?"
Suara tanya sontak membuat Lili menoleh ke pintu kamarnya. Dan disana, sudah berdiri dengan senyuman penuh kedamaian milik Mama dengan nampan di tangan. Mama berjalan mendekati Lili, kemudian dia mengambil tempat ke sisi ranjang. Sedangkan Lili, langsung bangkit dari posisi tengkurapnya.
Kaos oversize berwarna merah yang Lili kenakan berhasil menutupi sebagian pahanya yang tertutupi celana denim pendek. Lili duduk bersila dengan bantal berada dalam pangkuannya. Tak perlu ditanya, mata Lili bahkan sudah berbinar-binar ketika melihat isi nampan yang dibawa Mama.
Potongan mangga segar bersama mayones di mangkuk berbeda mampu menelan habis air liur Lili malam ini. Mama menyuapkan sepotong mangga pada Lili yang langsung diterima dengan suka cita oleh cewek itu.
"Mam, dapet mangga dari mana?" tanya Lili di sela-sela kunyahannya.
"Tante Era tadi ngasih. Panen katanya." Jawab Mama sambil menyodorkan sepiring mangga yang telah di potong-potong itu kepada Lili.
Lili mengangguk, baru juga selepas pulang sekolah tadi Nu menotice soal mangga di rumah sebelah yang pohonnya rendah, namun buahnya lebat sekali. Sungguh sulit dipercaya rasanya kalau tidak langsung melihat darimana buah mangga ini berasal. Selain buahnya yang besar-besar, rasanya juga manis banget. Ini juga bukan kiriman mangga pertama yang didapat dari tante sebelah rumah, sejak Lili pindah ke kota ini, sudah terhitung beberapa kali—hampirnya setiap pohon mangga itu berbuah—pasti tante Era selalu memberi beberapa buah untuk orang rumah. Opa pernah bercerita, kalau sejak dulu memang tetangga mereka yang satu itu ramah dan baik. Sama seperti orang tuanya.
"Opa mana, Mam?" tanya Lili sambil menyuapkan sepotong mangga ke dalam mulut.
Karena dia tadi langsung masuk ke dalam kamar dan belum keluar kamar lagi jadi Lili belum bertemu Opa. Tapi, biasanya tiap sore Opa akan duduk di teras luar dengan segelas kopi dan roti kering di atas meja, memandangi jalan kompleks yang kalau sore hari ramai anak kecil pulang mengaji. Namun, tadi Lili sama sekali tidak melihat Opa.
"Lum balek mekot Wak Wahyu liat toko tadi."
Toko yang di maksud Mama adalah toko Pempek dan Kerupuk 0004 sebagai bisnis keluarga—yang kini di kelola oleh Mama sejak mereka pindah ke Palembang—yang berada di ilir barat. Dulu, masih serupa warung kecil-kecilan, namun sekarang sudah menjadi toko dengan puluhan karyawan. Cukup besar dan terkenal di Sumatra Selatan. Bahkan, wisatawan yang ke Palembang sengaja datang untuk membeli buah tangan di toko milik keluarga Lili itu. Saat masih SMP ketika baru pindah ke Palembang, Lili ingat kalau dia sering membantu Opa dan Mama-nya di 0004, tapi setelah masuk SMA—apalagi ketika menginjakkan kaki di Sriwijaya—sebagian besar waktu Lili tersita, karenanya terkadang Lili hanya bisa ikut ke toko ketika akhir pekan saja.
"Kamu ngelamun apa tadi?" suara Mama kembali terdengar.
Lili mendongak, menatap Mama dengan daster bermotif bunga memberinya tatapan bertanya nan penasaran. Selain memiliki jiwa analisis yang baik, Mama juga memiliki jiwa keingintahuan yang sama baiknya. Karenanya, terkadang Lili sedikit kurang senang. Tapi jauh dari itu Lili tahu, bahwa Mamanya ingin mereka terus dekat, dan tidak ingin Lili menyembunyikan apapun darinya. Mungkin Mama tidak mau kejadian serupa dulu terulang lagi. Perempuan setengah baya itu bahkan tidak tahu apa yang menimpah putri tunggalnya di sekolah kalau bukan guru BK di SMP-nya dulu yang memberitahu Mama. Karenanya, sejak saat itu Mama berusaha terus dekat dan mencoba menjadi teman yang baik untuk Lili, apalagi sepeninggal Papa.
"Aku lagi mikirin sesuatu nih Mam," Lili mengembuskan napas pelan. Cewek itu menarik bantal kecil berbentuk hati dan meletakkannya di atas paha sebelum suaranya kembali mengudara, "Cowok yang dulu ngatain aku di SMP, dia pindah ke Sriwijaya. Dan parahnya, ternyata dia adik sambungnya Nu, Mam..."
Kedua pupil mata Mama membesar. Sepertinya sama seperti Lili, perempuan setengah baya itu sedikit terkejut akan kabar yang barusan ia dengar. Mama memperbaiki posisi duduknya, lalu merespons, "Dia jahatin Lili lagi?"
Lili menggeleng.
"Terus, Nu tau soal ini?"
Lagi, Lili menggeleng. "Lili nggak berniat kasih tau Nu. Aku dak galak kalo Nu gek dak selemak-an dengan Fajir, Mam..."
Nu sahabatnya, tapi Nu juga saudara Fajir—meskipun pada kenyataannya kedua cowok itu tidak saling bersinggung sapa—. Hal ini membuat Lili meluruhkan bahu, pikirannya pusing bukan main. Apapun yang sangat ditakutkannya, adalah kalau kejadian masa lalu terulang lagi. Cewek itu memejamkan mata, mencoba menghapus segala pemikiran-pemikiran tak berpondasi yang dibangunnya, namun kedua matanya langsung membuka kaget ketika bayangan wajah Fajir muncul di benaknya.
Ini sudah pasti gila!
Lili menggelengkan kepala cepat. Segera dienyahkannya wajah itu dari dalam pikiran. Karena Lili yakin, dirinya akan terkena kutukan sial jika memikirkan cowok itu. Diraihnya kembali rubik yang tadi dia tekuni ketika Mama-nya telah menghilang dibalik daun pintu bercat putih itu dan Lili mulai tenggelam pada permainan rubiknya. Hingga jatuh tertidur.
***
"Oi!" sebuah tepukan di bahu kiri serta aroma dari asap mengepul tekwan model yang di bawa Ares dengan penuh hati-hati itu membawa Fajir kembali ke realita. Mangkuk mie ayam-nya telah tandas, menyisakan sedikit kuah dan beberapa tulang ayam yang tak terjamah di dalamnya. Fajir tidak bisa menghentikan pikirannya tentang segala praduga yang bergelayut di kepala, dia yakin jika Lili adalah orang yang sama dengan seseorang yang ia kenal semasa SMP dulu. Benar-benar orang yang sama.
Tapi, cewek itu bahkan tidak mau berkooperatif sama sekali dengannya dan memilih tidak menjawab pertanyaan yang dia lempar kemarin. Fajir mengembuskan napas dengan agak keras, memalingkan pandangan yang sejak tadi tertuju pada satu meja panjang di arah jam tiga berpaling. Fajir bahkan tak menyadari kalau sejak tadi dia terus memandangi cewek berkuncir kuda yang sedang menyantap makan siang bersama teman sekelas mereka.
"Kenapa, Jir?" tanya Ares yang duduk tepat disebelah Fajir langsung memalingkan kepala dari mangkuk tekwannya dengan bingung. Ini adalah tekwan terenak di Sriwijaya—selain harganya yang relatif murah—porsinya juga sangat besar. Makanya, terkadang Ares suka kalap dan lupa sekitar kalau sedang menyantap makanan ini. Namun, helaan napas seperti suara keputusasaan dari mulut Fajir mampu membuat cowok plontos itu menomorduakan tekwannya.
"Nggak," ucap Fajir. Namun semua orang yang duduk di dekat cowok itu pun tahu kalau kata 'nggak'-nya barusan berbanding terbalik dengan kernyitan di dahinya. Manik mata sehitam oli itu kembali mengunci fokus ke arah jam tiga. Ares mengikuti.
Kedua alisnya terangkat kemudian melempar pandang pada Dipo yang duduk di depannya yang kini juga melakukan hal yang sama dengan apa yang ia lakukan. Kemudian, satu kesimpulan tercetak di benak masing-masing cowok itu sambil menahan senyum. Berbeda dengan Dipo yang memilih kembali menekuni mie ayam-nya yang baru selesai dibuat, Ares menghirup kuah tekwannya yang sedikit pedas sambil berkelakar,
"Naksir ya lo sama Niken?" tuduhan pertama yang dialamatkan kepada Fajir membuat cowok itu mengerutkan dahi kebingungan. Ares kembali menyeringai, lalu mengikuti arah pandang aliansi-nya lagi. Dia bergumam, "Emang cantik sih. Anak kelas dua belas juga banyak yang naksir, tapi ya cuman dapet angin doang." Ares menginformasikan.
"Bacot lo gundul!" Dipo mendengus. Menggeser mangkuk mie ayam-nya sedikit ke depan dan menegak air mineral dari atas meja di depannya. "Fajir kagek jingok Niken, bahlul. Tapi yang di sampingnya." Imbuhnya.
Si kepala plontos itu bahkan selalu mengejeknya tidak peka terhadap sekeliling. Tapi, yang terlihat sekarang malah Ares yang tidak peka terhadap sekeliling. Bagaimana bisa cowok itu salah mengambil kesimpulan disaat bayi umur lima bulan saja mampu menerjemahkan siapa fokus dalam tatapan Fajir barusan.
Menemukan kesalahan dari tebakannya, Ares langsung mencari kebenaran. Ditatapnya Fajir dengan sedikit mencondongkan tubuh, lalu dengan gerakan berlebihan cowok plontos itu kembali menolehkan kepala pada meja panjang disana. "Lili?"
"Pinter, nggak sia-sia bu Yun kasih lo ranking delapan ya." Dipo mangut-mangut.
"Sialan."
"Berisik ya tu mulut-mulut kayak cewek aja." Fajir mendengus. Cowok itu bangkit sambil meraih HP-nya yang tergeletak diatas meja kantin, lalu mengantongi benda elektronik itu ke saku celana bagian kanan. Kakinya melangkahi bangku panjang yang semula ia duduki dengan sigap, sejurus kemudian Fajir sudar berbalik badan dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celananya dan pergi dari sana.
"Fajir sayang, tunggu akooh!" seruan lengkingan Ares membuat orang-orang yang berada di kantin sontak menoleh.
"Jadi, homoan lo udah ganti nih bukan Dipo lagi?" tanya Angga—cowok yang duduk di sebelah Dipo.
Menyesap es teh-nya sekali lagi, Ares berdiri. Tampangnya berubah feminin kemudian melemparkan tatapan jumawa kepada Dipo sesaat, sebelum dia melempar pandang kembali pada cowok bernama Angga. "Ga, elo dihidangin berlian sama batu akik. Kira-kira yang mana yang bakal lo pilih?"
"Berlian lah!"
"Nah, tu pacak kau." Respons Ares santai kemudian berlari dengan gaya dibuat-buat menyusul Fajir yang hampir menghilang di selasar menuju ke bagian dalam Sriwijaya.
Melihat itu, Dipo langsung mendengus. Bagaimana bisa guru-guru menyamakan dia dan Ares—bahkan mengeklaim sebagai saudara kembar—padahal jelas kelakuan mereka sungguh bertolak belakang, kecuali soal ribut dan terlambat datang ke sekolah. Dipo bangkit, melambaikan jari telunjuknya sebagai sinyal bahwa dia akan hengkang dari kantin itu juga menyusul kedua temannya yang telah berlalu lebih dulu.
***
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co