Truyen3h.Co

Lili

04

authoriya




Kalau bukan karena semalamam Lili yang tidak bisa tidur akibat pikirannya yang tidak mau berkooporatif dengan berhenti memikirkan Fajir dan masalalu mereka—yang mungkin saja akan terulang dalam waktu dekat ini—Lili pasti tidak akan sampai telat bangun. Ocehan mama bahkan masih kental terngiang ditelinga Lili sepanjang langkah penuh keburu-buruannya tadi di rumah. Pokoknya naluri ke-ibuan mama langsung keluar dengan segala kalimat wejangan yang lebih bisa diklasteringkan sebagai sebuah dumelan panjang; mama udah ketuk kamar kamu dari jam 5 pagi sampe bilang kalo itu udah jam 6, lho. Tuh kasian kan Nu, jadi nungguin kamu lama, udah gitu ikutan telat juga.

Seperti yang diketahui bahwa ucapan adalah doa, apalagi kalau yang mengucapkan itu adalah seorang Ibu. Maka, bisa dipastikan jalannya menuju langit berkali-kali lipat lebih cepat dibandingkan yang biasa. Lili memegangi helm ungu ber-Standar Nasional Indonesia ditengah perut seperti sedang memeluk, sedangkan fokusnya sudah terkunci pada gerbang Sriwijaya yang tertutup rapat—dengan Pak Hamid berdiri memakai seragam lengkap dengan posisi istirahat ditempat—yang jaraknya tak kurang dari satu meter dari posisinya berdiri sekarang. Juga, kumpulan Sriwijayans yang juga telat sepertinya.

Lili menoleh kesamping, mendapati Nu yang sedang duduk diatas motor merahnya yang telah mati mesin—salah satu peraturan lain yang harus di patuhi Sriwijayans, untuk tidak menghidupkan mesin kendaraan dalam radius dekat dengan lingkungan sekolah jika gerbang sudah tertutup—dengan sorot mata lurus ke depan. Menyadari kalau ia sedang ditatap, Nu spontan menoleh dan tersenyum.

"Sori..."

"Nggak usah pasang tampang bersalah gitu deh, Li," Ucap Nu pelan. Cowok itu tahu sekali kalau Lili pasti sedang merasa bersalah karena hari ini mereka terlambat ke sekolah. Tapi, tidak ada yang bisa menebak takdir bukan? Nu juga merasa tidak masalah jika sekali ini terlambat, lagipula mereka sudah berusaha cepat, namun apa daya kemacetan selalu terjadi di sepanjang jalan ke sekolah jika hari biasa seperti ini. "Kalo ekspresi lo masih kayak gitu aja, gue nih yang malah merasa bersalah sama lo..." tambahnya ketika mendapati ekspresi yang dikeluarkan Lili tetap tak berubah.

Keduanya berjalan mengikuti antrean lumayan panjang untuk menuju ke dalam melalui pagar kecil di sebelah pagar utama, yang biasanya menjadi tempat lalu-lalang para Sriwijayans ataupun guru-guru jika butuh keluar kawasan sekolah di jam ajar-mengajar. Pintu gerbang itu muat dilalui oleh pengendara motor juga, jadi para murid yang telat dan membawa kendaraan pun bisa melalui pagar itu tanpa harus membuka pagar utama.

Lili mengubah ekspresi, namun kedua alisnya masih menyatu kebawah. Cewek itu menoleh pada Nu sebelum kembali menatap ke depan, "Sori ya, Nu."

"Iya, Lili... mau berapa kali coba lo bilang 'sori'?"

Lili mendesah. "Abis gimana dong, kolom nama lo di blackbook jadi tercemar karena gue. Gue beneran nggak enak tau, Nu."

"Kasih kucing kalo nggak enak,"

"Ha?"

Candaan yang tidak satu kapal—atau lebih tepatnya koneksi Lili yang kurang stabil hingga tak bisa menangkap candaan yang dilempar Nu barusan. Dengan tampang penuh kebingungan yang membuat Nu malah gemas dan mengacak puncak kepala Lili tanpa sadar, keduanya terus berjalan dengan Nu yang berjalan masih menduduki motornya sambil mendorong.

"Li, satu kolom ternoda di buku hitamnya Pak Terada nggak bakal bikin lo di keluarin dari sekolah kok. Percaya deh sama gue..."

"Aih," Lili menggembungkan pipi, "Gue juga tau! Maksud gue, ya gue nggak enak gitu sama elo Yasnu..."

"Nggak pa-pa, Li. Gue serius. Lagian gue juga pengin sekali ngerasain gimana rasanya terlambat dateng ke sekolah, dan ternyata seru juga." ujar Nu setengah terkekeh. Nu tidak bohong soal itu, karena selalu menjadi anak 'baik-baik' semasa dia bersekolah, cowok itu sama sekali tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya terlambat datang ke sekolah, dimarahi guru karena bandel atau tidak mengerjakan tugas. Dan hari ini Nu berhasil merasakan satu diantara banyak hal yang tak pernah dirasakannya itu, makanya alih-alih menggerutu penuh penyesalan seperti yang dilakukan Lili, Nu malah tersenyum takjub.

Aneh memang.

"Wah tumben terlambat," sapa Pak Hamid ketika Lili masuk ke dalam melewati pagar lebih dulu. Pria setengah baya dengan kulit coklat yang agak menghitam itu sedikit kaget karena salah satu siswi yang dikenalnya ikut ke dalam rombongan murid terlambat hari ini. Namun dia juga hanya menjalankan tugasnya dengan baik sehingga pria berprofesi satpam itu tidak bisa membantu kali ini.

Lili meringis kecil, "Kesiangan, pak."

"Pasti nonton drama korea ya?" tebak Pak Hamid dengan penuh ke-sok tahuan.

Pertanyaan Pak Hamid barusan sontak membuat Lili terkekeh karenanya. "Kayak tau drama korea aja deh, bapak."

"Sering denger anak-anak ngomongin Lee Min Ho bapak mah," Jawabnya jujur, kemudian menambahkan, "Yaudah sana kalian. Hari ini yang jaga piket Pak Terada lho..."

Mampus!

Pak Terada. Satu nama angker di SMA Sriwijaya. Selain karena pria dengan gaya rambut seperti profesor dan kumis tipis itu yang memegang buku hitam Sriwijaya, juga karena guru kurus itu juga termasuk ke dalam jajaran 'guru angker' bagi para Sriwijayans. Kalau mereka bisa milih jadwal telat, maka akan dihindarinya telat pada hari rabu dan jumat—dan apesnya, pada telat perdana Lili, dia langsung bertemu dengan pak Terada. Menurut gosip antar Sriwijayans disini, pak Terada dalam hal hukum menghukum sama sekali menerapkan hukum 'kesetaraan gender' sehingga semua hukuman akan dipukul rata dan pas bagi siapa saja murid yang terlambat datang.

Lili meletakkan telapak tangannya di depan dada, mulutnya komat-kamit sibuk membacakan surat pendek apapun yang terlintas di kepalanya sambil berjala melewati selasar koridor yang akan menghubungkan mereka pada pintu kaca geser yang akan membawa ke bagian dalam lingkungan Sriwijaya. Karena harus memarkirkan motornya terlebih dahulu, Nu menyuruh Lili untuk lebih dulu berbaur dengan murid-murid yang kini telah membentuk empat barisan dengan tiap baris diisi oleh lima orang. Segera, Lili mengambil langkah menuju barisan dua dimana baru diisi oleh tiga murid yang diketahui Lili sebagai anak kelas sepuluh dan kelas dua belas. Cewek itu lalu mengambil posisi siap dengan pandangan lurus ke depan, memerhatikan pak Terada yang sedang memarahi satu murid cowok karena memakai sepatu berwarna putih ke sekolah. Sepertinya dia murid kelas dua belas jika dilihat dari garis tiga hitam yang terpasang di lengan kiri kemeja osisnya.

Dalam hati Lili menyayangkan kelakuan seniornya itu, seharusnya dia lebih rajin dan nurut karena tahun ini adalah tahun terakhirnya menjadi murid Sriwijaya. Harusnya, para senior yang terlambat dan mayoritas cowok itu lebih peka, karena siapa yang tahu jika soal ujian yang keluar nanti adalah materi yang diajar hari ini.

Sebuah gerakan di belakang Lili membuat cewek itu tersenyum. Lili mentapa bayangan pada paving yang dipijaknya dan hampir yakin kalau cowok yang menempati tempat di belakangnya adalah Nu. Ya, dia hampir yakin kalau indera penciumannya tidak menangkap bau yang 'bukan' Nu. Jelas sekali Lili hapal aroma parfum temannya itu. dan ini aroma yang asing, tapi juga tidak asing. Lili sepertinya pernah mencium aroma parfum ini di kelasnya dan...

"Bukannya sahabat lo udah nyusulin sejak subuh tadi ya?"

Ya tuhan!

Tubuh Lili langsung menegang saat telinganya menangkap suara familier. Tanpa perlu menoleh untuk memastikan, cewek itu bisa langsung menarik kesimpulan bahwa Fajir yang sedang berdiri di belakangnya.

Duh, kenapa harus ketemu Fajir disini sih. Dan kenapa juga dia berdiri dibelakang gue... Lili mengeluh.

Dengan tak kentara, di palingkannya kepala ke arah lain dan mendapati Nu berdiri dibarisan keempat. Ugh, tahu gitu dia juga tadi memilih disana saja!

Hal kedua yang membuat Lili malas datang terlambat ke sekolahnya adalah karena dia harus menyiapkan fisik yang kuat untuk lari empat putaran. Jumlahnya memang sedikit, bahkan di sekolah lain ada yang lebih banyak dengan hukuman lari lima putaran. Hanya saja di SMA Sriwijaya ini memiliki jalur tersendiri khusus untuk berlari. Kalau masih seputaran mengelilingi lapangan futsal dan lapangan basket nggak masalah, tetapi rute larinya ini lebih buruk lagi karena medan tempuh yang dilewati adalah lapangan futsal, basket, musola dan gedung sekolah. Bayangkan saja, untuk gedung kelas di Sriwijaya saja di bagi per-tingkatan dan jurusan, belum lagi perpustakaan, ruang guru dan ruang ekskul. Jadi, sudah kebayang kan, berapa panjang dan melelahkan rute lari yang akan dilewati ini?

Harapan Lili langsung pupus ketika pak Terada mengatakan kalau barisan satu dan dua kebagian hukuman berlari, sedangkan barisan tiga dan empat membersihkan halaman sekolah berikut toilet dan musola. Memang benar tidak ada pilihan yang baik dari keduanya itu, tetapi hukuman bersih-bersih seperti terlihat lebih santai ketimbang lari di pagi hari. Apalagi untuk Lili yang tidak sarapan pagi.

"Lo nggak jawab pertanyaan gue." Suara berat dan sedikit serak khas Fajir kembali terdengar. Cowok itu menyejajarkan diri dengan Lili yang mendahuluinya, kelihatan sekali kalau ia mencoba menjaga jarak dengan Fajir.

"Pertanyaan apa?" kata Lili pura-pura tidak mengerti. Langkahnya terus mengayun, semakin mencoba berlari meninggalkan Fajir, namun cowok itu rupanya tidak membiarkan hal itu terjadi karena Lili akhirnya mendesah pasrah ketika Fajir lagi-lagi berlari di sebelahnya. Membiarkan murid-murid lain di belakang mereka berlari mendahului.

"Kenapa lo bisa terlambat?"

"Ya karena terlambat." Jawab Lili santai.

Fajir mendengus geli. "Bukannya sahabat lo itu udah nyusulin dari subuh ya?" ucap Fajir dengan sarkas. Diliriknya cewek yang berlari di sampingnya itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Sesungguhnya, kepindahannya kali ini rupanya membawa angin segar selain badai yang menghantam. Ia bahkan tidak mengetahui kalau cewek kaku dan canggung yang dulu menarik perhatiannya ternyata pindah ke kota yang sama dengan kota yang dianggap Fajir sebagai kota penuh kesedihan. Karena, di kota inilah kehancuran dunianya bermuara.

"Nggak dari subuh." Jawab Lili dengan nada keki. Melalui nada bicara Fajir, Lili bisa yakin kalau cowok itu sebenarnya sedang mengejek.

"Oke, tapi seenggaknya tu orang nyusulin lo di waktu yang nggak bakal bikin elo terlambat. Right?"

Dari cara Fajir menolak menyebut nama Nu tiap kali mengumandangkan kalimat yang membawa-bawa Nu di dalamnya, Lili yakin kalau Fajir tidak menyukai saudara sambungnya itu. Cih, nggak perlu terkejut sebenarnya, karena toh Fajir memang doyan bikin huru-hara dan mengajak berantam orang sejak dulu... batin Lili.

"Gue bangun kesiangan."

Fajir mengangguk. Untuk beberapa saat keduanya berlari beriringan tanpa sepatah kata pun keluar dari mulut keduanya. Mereka kini mengikuti jalur lari menuju kantor guru yang di depannya terdapat kolam air mancur berisi ikan hias mendominasi. Untuk sesaat perasaan Lili menjadi tenang ketika mendengar derai air yang keluar dari patung gajah yang langsung jatuh ke dalam kolam air bertahtakan batu alam. Selain rubik, suara air terjun seperti ini mampu menenangkan Lili—membuatnya terisolasi dari dunia luar dengan seketika.

Mungkin, karena sejak dulu Lili tidak memiliki teman bermain makanya cewek itu menyibukkan diri di dalam dunianya; bersama rubik dan air terjun buatan yang berada di taman belakang rumahnya dulu. Kadang, Lili mampu menghabiskan berjam-jam untuk menggeluti rubiknya diiringi suara air yang menenangkan. Tapi, ketika rumah di Jakarta dijual dan pindah kesini. Lili sudah tidak pernah lagi—atau jarang—melakukan 'me time'-nya seperti dulu.

"Gue seneng ketemu lo lagi."

Kedua kaki Lili mengerem mendadak. Ditatapnya cowok jangkung yang ikut berhenti di depannya dengan pandangan tak percaya. Bisa-bisanya setelah semua yang dia alami, Fajir malah mengatakan omong kosong seperti ini?

Whoaa!

"Gue nggak seneng ketemu lo." Lili langsung menjawab ketus. Dirinya agak tersentak ketika mendengar suara seruan pak Terada dari balik speakers mengudara, menyuruh seluruh Sriwijayans yang terlambat agar mempercepat menjalani tugas hukuman mereka. Otomatis, Lili kembali berlari. Pandangannya bertautan dengan manik mata tajam Fajir ketika dia melewati tubuh jangkung di depannya, tanpa sepatah katapun Lili terus berlari kecil mendahului cowok itu.

"Tunggu, jadi bener kalo elo temen SMP gue?"

Ampun deh, ni cowok masih aja bahas itu-itu lagi! Lili menggeram kesal. Suara yang memantul hanya sampai dinding hatinya saja tanpa keluar menunjukkan eksistensinya. Melalui ekor mata, cewek itu bisa melihat Fajir yang kembali menyejajarkan posisi dengannya. Lili mendesah menahan sabar.

"Mau lo apasih?"

"Nggak mau apa-apa." Fajir mengangkat kedua alisnya. Satu lesung pipi tercetak ketika senyuman kembali tergambar pada wajah tampan itu.

Lili mendesah lagi, entah sudah berapa kali dalam kurun waktu yang belum sampai dua belas jam sejak pagi tadi. dan akhirnya satu kejujuran yang terpaksa di keluarkan Lili. Jika hanya ini yang bisa membuat Fajir diam dan tidak menganggunya, maka Lili akan mengiyakan. "Iya, elo bener. Gue adalah cewek yang sama dengan orang yang elo dan temen-temen lo ejekin di SMP. Puas?"

"Tunggu sebentar," Fajir memegang pergelangan tangan Lili. Membuat langkah keduanya kembali berhenti di bawah perpohonan rindang yang berjejer tinggi nan sejuk di dekat lapangan Futsal sekolah mereka. Fajir benar-benar terkejut mendengar ungkapan cewek itu barusan. "Gue nggak pernah ngejekin elo."

Lili tertawa satir. "Lo kan yang nyebarin surat salah kirim gue ke anak-anak dan kasih julukan nyakitin sampe mereka ikutan ngatain gue juga?"

"Gue nggak pernah nyebarin surat itu, Li."

Sebuah elakan yang jujur, namun Lili terlanjur memilih untuk tidak memercayai kata-kata Fajir yang satu ini. Baginya, semua kejadian tak mengenakan dulu tercipta memang karena cowok di depannya ini. Lili mendengus, "Ya terus kalo bukan elo siapa? Masa hantu?"

"Yang jelas bukan gue. Dan gue nggak pernah kasih lo julukan seperti yang elo tuduhin kepada gue barusan." Fajir melepaskan cengkraman tangannya. Keningnya mengerut dan rahangnya mengetat. Tuduhan tanpa bukti dari Lili benar-benar menganggunya. Mata tajam itu kembali mengunci Lili di dalamnya seraya menambahkan, "Lo boleh memilih untuk nggak percaya sama apa yang gue omongin, tapi gue bener-bener nggak sejahat itu sama orang, apalagi dia seorang perempuan."

***

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co