Truyen3h.Co

Lili

16

authoriya



Lili memimpikannya lagi.

Memimpikan kejadian yang dialaminya ketika beranjak remaja. Ledekan, hinaan, dan segala macam aspek pendukung yang membuat masa menuju remajanya itu seperti di neraka. Kembali ia seperti berada di tengah-tengah kerumunan yang mengerumuninya sambil melontarkan ejekan-ejekan menyakitkan. Perihal tubuh gemuknya, perihal wajah chubby-nya. Ia ingin berlari, namun seseorang menahannya dan membuatnya kembali terduduk—menerima sorakan-sorakan itu lagi. Kerumunan itu semakin bertambah, wajah-wajah yang sama dengan wajah yang mengejeknya dulu nampak berkali-lipat seolah mereka memiliki kembaran. Mengejeknya hingga ia menangis. Ia tersesat, ia ingin lepas dari belenggu. Ia mulai berdiri, memberanikan diri untuk keluar dari kerumunan sambil berlari dan ketika ia tahu bahwa di depannya bukan sebuah jalan yang bisa di lewati—tetapi karena ia tidak dapat menghentikan laju kakinya, akhirnya ia terjerembap. Jatuh ke tanah; tanah yang tiba-tiba longsor dan menenggelamkannya ke dasar jurang...

Sebelum akhirnya ia terjaga karena sebuah suara yang nyaring memanggil. Peluh membasahi kening Lili padahal dingin AC jelas terasa menyelimuti. Cewek itu terduduk di ranjang dengan napas terengah-engah saat ia berhasil menembus selubung awan hingga membuatnya kembali ke dalam realita.

Lili mengerut saat suara berisik yang tadi membangunkannya dari mimpi buruk—dia harus berterima kasih pada alarm HP-nya—dan menatap HP silver itu dari tempatnya. Tangannya terulur malas mengambil HP itu, menggeser ikon pada layar untuk mematikan alarm yang ia setel lima belas menit lebih awal dari biasanya.

Cewek itu menyibak selimut dan membawa kakinya menapaki dinginnya ubin lantai di kamar saat suara adzan subuh terdengar lima menit kemudian. Lalu, tanpa menunggu lebih lama lagi Lili segera melesat ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Jika untuk waktu magrib atau isya biasanya Mama, Opa dan dirinya akan melakukan shalat berjamaah di ruang shalat, tetapi berbeda jika di pagi buta begini. Karena Opa yang seperti biasa akan pergi ke masjid yang letaknya di antara kompleks perumahan Lili dan perumahan sebelah, sedangkan mengikuti Mama—Lili memilih untuk melakukan ibadah sendiri di dalam kamarnya seperti biasa.

"Asli gue nggak khusu' dah ini!" gerutunya ketika selesai melipat mukena dan menaruhnya di atas meja kecil dekat al-qur'an. Ini semua salah Fajir yang mengatakan ingin menjemputnya sampai membuatnya kepikiran melulu. Dan pasti, mimpi buruknya itu datang juga sebagai bentuk manifestasi karena cowok itu juga ada di sana.

Setidaknya menurut Lili bahwa Fajir ada di sana dan ikut meledeknya juga.

Dengan cepat ia menggeleng. Dia sudah bertekad untuk tidak ingin mengenang masalalu-nya dan melanjutkan hidup dengan bahagia, di samping itu juga saat ini tidak ada alasan untuknya untuk tidak bahagia. Meskipun menyebalkan, Lili mengakui kalau Fajir sekarang berbeda—maksudnya tidak seperti dulu.

Dan Lili telah menanamkan dalam hati bahwa ia akan berusaha menilai dari perspektif berbeda soal Fajir.

Cowok itu baik, cowok itu tampan, cowok itu...

Gue emang nggak mau lo salah paham kok. Kita kan soon to be...

"Aiiih!" seru Lili sambil menutup kedua telinganya dengan telapak tangan saat kalimat Fajir kembali terngiang-ngiang. Rasanya kuping Lili akan meledak kalau ia terus mendengar kalimat itu padahal ini sudah lebih dari dua belas jam lamanya. Sebenarnya, itu jugalah yang membuat Lili akhirnya menyetel alarm di HP-nya lima belas menit lebih awal dari biasa, karena semalam ia berusaha mati-matian untuk memejamkan mata namun sulit untuk menuntaskannya. Alhasil daripada ia nanti malas-malasan bangun dan telat, akhirnya Lili membuat sebuah plan b.

Selesai memasang jepit rambut lidi sambil memerhatikan penampilannya sekali lagi di cermin gantung, Lili meraih ransel dan berjalan keluar. Jemarinya bergerak mengetuk dua kali layar HP-nya, dan dahi itu kembali mengernyit saat tidak menemukan pesan apapun disana.

"Dia jadi ngajak bareng nggak sih?" gumam Lili pelan. Langkahnya santai, menuruni undakan tangga menuju lantai bawah.

Lili sudah menyusun alternatif lain bila mana Fajir tidak jadi menyusulnya—sedangkan Nu, Lili bahkan tidak bisa mengharapkan cowok itu sekarang. Sejak tragedi dompet hilang itu Nu hanya sekali menghubunginya plus mengatakan kalau cowok itu akan mencari tahu kebenaran. Tapi, sampai detik ini Nu tidak pernah menghubunginya. Padahal ia pernah melihat di status aplikasi pesan daring kalau Nu sedang berada di toko buku bersama Renata. Cewek itu memang mengabarinya kalau Nu tiba-tiba menyusulnya ke rumah mengatakan kalau cowok itu hendak mengantarnya ke sekolah. Jelas saja Renata ingin menolak—jarak sekolah Renata dan SMA Sriwijaya kan beda jalan dan jauh—tetapi karena tidak ingin Nu salah paham, akhirnya ia mengiakan.

Dengan wajah super kusut karena memikirkan ia akan naik bus menuju sekolah, samar ia mendengar suara Opa sedang tertawa dengan seseorang. Seseorang yang jelas bukan Mama karena suara yang didengarya adalah suara laki-laki juga, dengan penasaran Lili mempercepat langkahnya menuju ruang makan.

Dan disana. Duduk pada salah satu kursi yang mengintari meja makan—sedang tertawa bersama Opa sambil menyantap nasi goreng sosis buatan Mama. Sedangkan wanita setengah baya yang itu sesekali melontar tawa mengimbangi kedua laki-laki berbeda generasi itu.

Lili menghentikan langkahnya di samping pilar berornamen ukiran khas nan klasik. Meremas HP dalam genggamannya dengan mata yang tak berpaling sedikitpun pada pemandangan aneh di depannya kini. Hari ini. Detik ini.

"Kesini, sayang..." suara mama menarik habis Lili ke kenyataan. Menyadarkan Lili kalau ini bukan sekuel dari mimpinya tadi malam karena suara mama begitu jelas sekarang.

Pun dengan tatapan Fajir yang khas, yang diperuntukkan hanya untuknya saja.

Lili menyeret langkahnya kaku—padahal ia berusaha bersikap biasa saja—lalu mengambil tempat di seberang Fajir yang sedang menyendokan nasi goreng ke mulutnya.

"Opa tidur nyenyak?" Lili melontarkan pertanyaan yang sudah menjadi rutinitasnya tiap pagi itu kepada pria setengah baya yang meraih cangkir kopi paginya. Padahal sudah tua, tetapi menyesap kafein setiap pagi masih menjadi kebiasaan Opa yang tak bisa dihentikan.

Pria setengah baya itu mengangguk. "Tentu saja. Opa bahkan mimpi kedatangan tamu, eh taunya beneran. Kamu nggak bilang kalau mau di susul nak Fajir, kalau bilang kan Opa bisa bilang Mamamu untuk bawain kerupuk dan pempek dari toko," Ujar Opa. Lalu menatap Fajir sambil tersenyum ramah, "Kamu besok pagi sarapan disini lagi ya. Nggak lengkap kalau sarapan tanpa pempek. Iyo dak?" kata Opa dengan mengimbuhkan tawa pada akhir kalimatnya.

Fajir tersenyum. "Iya, Opa. Besok saya mampir lagi kalau nggak ngerepotin."

"Idak lah. Opa malah senang kalau Lili punya teman selain Yasnu dan Renata." Jawab Opa.

Hih, apaan. Emang besok gue mau bareng elo lagi!? teriak Lili dengan lantang—tentu saja hanya sampai pada dinding-dinding hati cewek itu saja. karena sekarang Lili mulai menyantap nasi gorengnya dan menjadi pendengar setia obrolan antara Opa dan Fajir.

Omong-omong, kenapa Fajir bisa secepat itu ya akrab dengan Opa? Pikir Lili.

***



Sekelebat mimpi buruk itu seperti sarang laba-laba yang menyekapnya dan sulit untuk terlepas. Kepalanya sibuk menampung monolog dari praduga-praduga yang mungkin sebentar lagi akan menjadi kenyataan, tentang pendapat teman-temannya pasca tuduhan salah alamat itu...

Lili menggeleng samar, ia terus meyakinkan diri kalau semua akan baik-baik saja. Karena itu, ketika motor Fajir berhasil memasuki gerbang Sriwijaya dengan mulus—kenyataan kembali menyentak cewek itu. Lili menahan kedua tangannya pada ransel hitam Fajir ketika cowok itu melakukan rem mendadak, setelahnya Lili langsung melompat turun.

"Lo sengaja ya!?" tuduh Lili terang-terangan. Matanya memicing menatap Fajir jengkel. Tipikal cowok, sukanya ngerem mendadak ugh!

"Habis lo dari tadi diem aja, lo kira gue abang gojek?" Fajir mendengus. Melepas helm yang ia kenakan dan menyampirkannya di satu spion motor. Cowok itu menyugar rambutnya pelan sebelum turun dari motornya.

Wajah Lili memanas. Selain karena ia bingung harus membawa topik bahasan apa, pikirannya juga tadi di selubungi oleh perkara mimpi buruk yang tak berkesudahannya itu makanya ia sampai lupa kalau ia sedang dalam perjalanan ke sekolah. Bersama orang yang tak pernah dibayangkan Lili sedikitpun pula.

"Maaf. Gue tadi lagi mikir sesuatu hal jadi nggak konsen sama dunia nyata." Lili mengembuskan napas. Lalu menyunggingkan senyum sambil menatap cowok tinggi di depannya. "Yuk!" ajaknya kemudian.

"Eh, eh mau kemana," baru juga Lili hendak mengambil langkah, ranselnya tiba-tiba di tahan dan membuatnya mundur dua langkah. Lili menatap Fajir dengan dahi berkerut jengkel, namun yang di tatap malah balas menatap geli. "Helm lo, neng. Copot dulu. Atau, lo mau bikin harlem shake?"

Otomatis, Lili membawa pandangannya ke atas. Lewat bulu-bulu mata, ia menyadari kalau dia masih memakai helm.

Demi neptunus!

Wajahnya tiba-tiba panas, dan semakin bertambah panas ketika Fajir melepaskan pengait helm di bawah dagu dan melepaskannya masih dengan tatapan geli yang sama. Menolak untuk mempermalukan dirinya lebih jauh, Lili langsung buru-buru berbalik dan berlari pergi. Cewek itu semakin menggerutui dirinya sendiri setelah mendengar suara tawa Fajir di belakangnya.

"Bego, Li. Bego!" makinya sambil memukul pelan kepala. "Makin terlihat absurd aja deh gue..."

***


Terus berprasangka rupanya memang tidak baik.

Segala manifestasi tentang ketakutan-ketakutan kalau mungkin teman-teman sekelas, sekolah, bahkan seluruh civitas SMA Sriwijaya akan memandang rendah dirinya langsung membias ketika di depan pintu masuk kelas, Jelita—korban kehilangan dompet—langsung menghentikan aktivitasnya menghapus papan tulis dan berlari memeluk Lili yang hendak melangkah masuk ke dalam kelas.

"Gue sejak awal tau kalo bukan lo pelakunya," Ucap Jelita sungguh-sungguh sambil memeluk erat Lili. Cewek yang membawa dagunya ke pundak Lili tadi melepaskan pelukan mereka, menatap dengan wajah menekuk sedih kepada Lili. "Cuma gue nggak mungkin bilang itu ketika buktinya ada di elo. Gue lega karena Bu Yun kasih informasi kalau ternyata si bedebah yang nyolong itu udah ngaku ke wali kelas."

"Makasih ya Jel udah percaya sama gue."

Jelita mengangguk. Kemudian bersama Lili, keduanya lalu berjalan menuju bangku masing-masing. Lili meletakkan tasnya di atas bangku dengan pandangan ke arah bangku sebelahnya yang masih kosong. Ia membawa pandangannya pada jam yang melingkar di pergelangan tangan kanan dengan kening mengernyit.

"Niken belum dateng, Rah?"

Sarah yang sedang fokus dengan Lembar Kerja Siswa di depannya, mendongak. "Lha, lo udah dateng? Kok gue nggak liat?"

"Ya gimana mau liat, mata lo lagi bahu-membahu gitu sama tangan nyalin PR Ekonomi."

Sarah tertawa. "Maklumin aja ya Li, temen lo ini kan cintanya beda zona waktu."

"Mamah dan aak, curhat dong," Ares tiba-tiba nimbrung, seperti biasa cowok itu entah datang dari mana tahu-tahu sudah berada dalam radius dekat saja. Ares duduk santai, mengambil tempat di bangku Niken yang belum berpenghuni dan meletakkan tasnya di atas meja. "Hai, ledis ledis. Pakabar?"

"Resek!" Sarah mendengus kesal karena kerap di ledek seperti itu. Cewek itu mengambil bolpoin-nya kembali yang tadi ia geletakkan di meja, lalu kembali menekuni menyalin jawaban dari LKS milik Vio ke lembar LKS-nya.

"Ya allah hari gini ngerjain PR di sekolah?" ucap Ares dengan gaya tengilnya. Cowok itu kemudian mengeluarkan buku LKS miliknya dengan sombong, "Nih, contoh nih calon presiden RI. Udah ngerjain tugas dari kemaren-kemaren dong."

"Iya, elo kan tinggal nyalin doang dan sibuk makan pempek." Dengus Lili, ia masih ingat dengan jelas bagaimana si tengil Ares menyarankan untuk mengerjakan PR Ekonomi mereka saat tiga pentol korek itu mampir ke 0004.

"Kalo gue ikut ngerjain nanti gue pinter. Nggak mau show up akutu anaknya," Jawab Ares kalem. "Ohya, gue mau duduk disini hari ini karena teman sebangku gue nggak masuk."

"Kalo-kalo lo lupa, udah semestinya sebagai sesama manusia kita saling mengingatkan bahwa bangku yang elo dudukin ini adalah bangku Niken."

Seringaian di wajah Ares semakin berakar, memerhatikan ke arah pintu kelas sembari bersiul-siul dengan kedua alis dinaik-turunkan. "Tuhkan Li, gue bilang juga apa." tunjuknya menggunakan dagu. Lili menolehkan kepala mengikuti arah pandang Ares dan menemukan Fajir dan Niken yang sedang berjalan bersisian. Niken tersenyum lebar menatap Lili sambil melambaikan tangannya dan berlari kecil menuju meja mereka.

"Lili, kangeeen!" ucap Niken histeris. "Tadi gue ketemu Nu di parkiran, kok lo nggak bareng dia?"

"Gue tadi sam—"

"Wah, hebat si Fajir. Pacar nomor satu sama nomor dua bisa akur begini," cowok itu tersenyum lebar. Lalu menjadikan meja Niken sebagai alat gendangan, "Heiii, senangnya dalam hati, bila beristri dua—"

"Ipuuuul, berisik lo!"

"Aw!" Ares mengusap keningnya yang terkena lemparan bolpoin. Cowok itu menunduk mengambil bolpoin di dekat kakinya dengan mengukir senyum kecil. Namun, senyuman itu turut menghilang ketika tubuhnya kembali menegak. Ia menggerutu pelan, menatap cewek berkacamata sebagai pemilik dari bolpoin itu. "Kalo gue sampe amnesia karena pena lo ini, elo harus tangg—"

"Makanya jangan berisik. Plis deh, jiwa saipul jamil lo ditahan dulu. Masih pagi, tau!" oceh Gilda dari bangkunya. Lalu, cewek itu dengan serta merta berbalik arah, kembali menekuni apapun yang sedang ia lakukan di sana.

"Imutnya..." gumam Ares cengengesan.

"Kalo suka itu ditunjukin, bukan dari belakang gini." Lili geleng-geleng. "Dah sana ke tempat lo, Niken udah dateng nih."

"Niken kan mau duduk sama Fajir."

"Ha, yang bener?" ekspresi serta suara Lili yang syok berat itu langsung di banjiri kekehan penuh kemenangan dari Ares dan beberapa anak yang sejak tadi mendengarkan percakapan mereka seolah-olah seperti sedang menonton pertunjukan opera sabun pagi buta.

Ares menutup mulutnya meredam tawa. Kembali di tatapnya wajah memerah di depannya dengan geli. "Bercanda, Lilong. Si Niken dispen katanya kemaren. ya kan, Ken?" tanyanya pada Niken. Lalu kembali melontarkan godaannya untuk Lili. "Nggak usah cemburu gitu dong."

"Iya." Niken mengkonfirmasi.

"Ih, apaan sih. Siapa juga yang cemburu!" Lili mendengus. Cewek itu merogoh HP-nya dari dalam tas dan pura-pura berkutat pada benda eletronik di genggamannya itu.

Dasar Ares nyebelin, sama aja kayak temennya itu! Belum juga bel masuk berbunyi, kenapa ia sudah dua kali malu coba! Maki Lili dalam hati.

"Res, balik ke kandang lo sini!" panggil Fajir, cowok itu telah sampai di bangkunya sendiri sementara Dipo belum datang di bangku sebelah.

Belakangan cowok itu jadi suka datang mepet-mepet bel masuk karena sidak dahulu di kawasan kelas sepuluh. Begitulah jika memiliki pacar baru, semenit nggak ketemu aja rasanya udah kangen. Apalagi dua belas jam nggak ketemu, rasanya kayak sedang dihukum pokoknya. Tetapi, Fajir dan Ares sama sekali nggak cerewet. Bagi mereka, alhamdulillah Dipo bisa kembali ke jalan yang lurus—nggak dapet gosip homoan dengan Ares melulu—karena jelas, yang kebagian gosip itu merasa dirugikan. Ares pernah menggerutu kesal mengatakan kalau kejombloannya itu disebabkan oleh gosipnya dengan Dipo. Dan saat itu Dipo hanya cengengesan sambil bilang, "Siapa suruh lahir jelek?"

Kan ngeselin.

Kembali ke bahasan, Ares dengan songongnya mengangkat sebelah alisnya sambil membawa jari telunjuknya menujuk ke arahnya dan Fajir bergantian. "Kita kenal?"

Fajir berdecak. "Udah sini nggak usah kayak cewek gitu. Ngapain lo duduk disitu."

"Mau pedekatean lah." Ucapnya lantang, lalu menyenggol bahu Lili. "Ya nggak Li?"

"Buruan sini."

"Aduh, Jir, jangan agresif gitu dong," Ares geleng-geleng. "Kan lo udah janji untuk ngerahasiain hubungan kita. Gimana sih?"

Mendengar perkataan Ares sontak membuat seisi kelas dipenuhi oleh gelak tawa tanpa terkecuali. Lili tertawa, dengan tak sadar ia menoleh ke meja Fajir masih dengan kekehan kecilnya disana. Membuat cowok itu langsung salah tingkah seketika itu juga, Fajir mengusap tengkuknya pelan dan ikut tertawa.

Lagi-lagi cowok itu membenarkan jika sebuah tawa dan senyuman itu bisa menular.

Ditempatnya berdiri, dengan tawa kecil yang juga tercetak di bibirnya—perlahan tawa itu menghilang ketika menyaksikan interaksi kecil yang dipastikan tak sengaja di antara Lili dan Fajir. Senyuman Niken perlahan hilang bersama dengan pertanyaan ketidakpercayaan yang menelusup di kepalanya.

Kenapa cowok seperti Fajir menyukai cewek seperti Lili?

Kenapa bisa?

***

Cewek itu menatap lurus pada cowok yang berdiri di depannya.

Wajah letih, bagian bawah mata yang sedikit menghitam, mata dibalik lensa dan ada ekspresi bersalah yang terlihat disana, namun Lili memilih untuk tidak membenarkan praduganya. Terakhir ia besar kepala, ternyata perlakuan yang awalnya ia anggap spesial tak memiliki arti yang sejalan dengan yang cowok itu artikan.

"Kenapa?" Lili bersuara, mencoba mengeluarkan sikap santainya dan bertanya sambil lalu. Hampir tiga hari tidak bertemu Nu kenapa rasa asing tiba-tiba menyelimutinya seperti ini? apakah karena belakangan mereka sudah jarang berkirim pesan? Ataukah, ini hanya perasaan Lili saja?

Nu melangkah maju, membawa Lili ke dalam pelukan. "Sori, Li. Sebagai sahabat gue merasa nggak berguna."

Napas Lili tercekat. Ini bukan kali pertama Nu memeluknya—beberapa kali dalam level sahabatan mereka cowok itu pernah memeluknya entah untuk menenangkan atau karena sedang bahagia—tetapi kenapa Nu's effect-nya masih kencang terasa? Padahal mati-matian Lili berusaha melatih jantungnya supaya tetap tenang dan tidak bersikap berlebihan.

Embusan angin di atas atap sekolah menelusup melalui celah-celah rambut ke bagian leher cewek itu, membuatnya menggigil sedikit. Lalu, dengan sedikit dorongan, Lili mencoba lepas dari bumi yang saat ini mengurungnya. Ditatapnya Nu dengan pandangan lembut, "Lo kenapa? Sakit?"

"Maafin gue ya?"

"Untuk?" tanya Lili bingung. Sejak tadi cowok itu melontarkan pernyataan maaf, sedangkan Lili tidak merasa cowok itu telah membuat kesalahan.

"Harusnya gue yang lebih dulu datengin kantor cctv itu, dan memperbaiki nama baik lo. Bukannya Fajir."

"Apa?" Lili terkejut setengah mati. "Fajir?" tanyanya memastikan.

"Lo nggak tau?"

Lili menggeleng pelan. "Emang dia yang bantuin gue? Maksud gue, dia yang bilang ke Bu Yun?"

Nu mengangguk. "Waktu sore gue ke kantor cctv, katanya udah ada anak dari Sriwijaya yang lebih dulu ngambil rekamannya. Dan bapak itu bilang kalo namanya, Fajir."

Lili tercenung. Embusan angin semakin membawanya menuju ke ujung dunia. Lagi-lagi, Fajir membantunya. Lagi-lagi cowok itu menunjukkan sisi lain yang menghangatkan.

Suara burung di atas sana terdengar bersamaan dengan lengkingan nyaring bel yang menandakan bahwa istirahat pertama telah berakhir. Lili mengerjap, kemudian tersenyum cepat. "Udah masuk, yuk turun?" ajaknya. Kemudian cewek itu berjalan lebih dulu meninggalkan Nu di belakang.

pikirannya dipenuhi oleh awan-awan yang bertuliskan nama Fajir disana. Meringsek masuk tanpa henti, membuatnya tak bisa beralih.

Fajir yang membantunya? Kenapa cowok itu nggak bilang? Pantas saja Fajir tahu soal ia yang sudah bisa masuk ke sekolah lagi...

Langkah Lili berhenti, cewek itu menoleh ke belakang dan berseru, "Nu, gue duluan ya!" ucapnya, lalu berlari menuju kelas.

Setidaknya, ia harus berterima kasih kepada Fajir. Kepada cowok yang mendapatkan predikat negatif di kepalanya karena masa lalu—dan Fajir tidak berhak diberikan predikat itu. Seseorang bisa berubah, entah itu menuju ke lebih baik atau ke lebih buruk. Dan Fajir telah menunjukkan bahwa ia adalah cowok baik. Sama seperti yang dipikirkan Mama dan Opa. Lili harus berterima kasih!

Napasnya terengah ketika sampai di depan pintu kelas XI S1. Lili menenangkan degup jantungnya sesaat, melangkah dua kali dan menoleh ke tempat duduk Fajir. Dan ia mulai meragu ketika cowok itu sedang bercokol dengan teman-teman cowoknya, nampak sedang tertawa karena topik bahasan mereka.

Fajir mengangkat alisnya melihat Lili yang hendak bersuara—sambil menatapnya—namun mengurungkan niat itu. Cewek itu menggeleng samar, kemudian berjalan cepat menuju mejanya dan mengambil botol air minum dari dalam tas, lalu segera menyesap isinya.

Fajir mengedikkan bahu dan kembali ke lingkarannya. Dia tahu kalau Lili hendak mengatakan sesuatu kepadanya tetapi karena banyaknya gerombolan dengan mulut tak bersaring di sekitar cowok itulah membuat Lili akhirnya mengurungkan niat itu.

Dan jauh dari kelas, ditempatnya sedang berkumpul, seseorang tengah tersenyum senang karena berhasil mencampuri sesuatu ke dalam botol air minum Lili...

***

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co