Truyen3h.Co

Lili

17

authoriya


Berulang kali Lili melirik jam dinding di antara bingkai foto presiden dan wakil presiden yang menggantung tepat di atas papan tulis kelas dengan tak sabar. Entah karena dia menunggu, atau memang seperti itulah perpindahan dari menit ke menitnya, namun Lili merasa kalau siang ini waktu terasa lebih lambat dari biasanya. Rupanya, kegusaran Lili di tempatnya duduk telah di baca oleh Sarah yang duduk di belakangnya, karena cewek dengan aksesoris serba biru itu langsung menoel punggung Lili menggunakan bolpoin yang ia pegang.

"Lo kenapa? Sakit?" tanya Sarah khawatir. Dan sekarang cewek itu semakin terkejut saat melihat wajah Lili yang pucat dan... "Yaampun, Li!? Lo kenapa ih? Kok ruam gitu leher lo?"

Pertanyaan Sarah itu membuat Ares (teman sebangku Lili untuk hari ini) yang sejak tadi memilih jalannya untuk tidur di kelas daripada merangkum buku sosiologi langsung membuka mata ketika suara Sarah samar terdengar di telinganya. Cowok itu menjauhkan sebelah pipinya dari meja, menegakkan tubuhnya. Matanya sedikit menyipit dengan kepala condong ke depan memerhatikan wajah pucat Lili dengan seksama.

"Anjay, lo kenapa Li?" tanya Ares tak selow. Cowok itu berseru—benar-benar dengan suara super besar sampai membuat seluruh penghuni kelas menoleh ke arah mereka. Ares menggaruk dahinya yang tak gatal ketika Pak Toipi yang sejak tadi menyibukkan diri dengan kertas-kertas di atas mejanya, ikut menoleh.

Dari balik kaca matanya Pak Toipi memerhatikan salah satu siswinya yang nampak tak berdaya di bangkunya. "Lili, kau sakit?"

Ditanya seperti itu malah membuat Lili ingin menangis. Tubuhnya terasa semakin panas akibat ruam dan gatal kemerahan yang entah kenapa bisa timbul. Cewek itu menahan airmata di pelupuk mata sambil meringis. "Kayaknya alergi saya kambuh, Pak."

"Astaga, baiklah, tolong Sarah kau antarkan Lili ke UKS."

Sarah langsung mengangguk. Cewek itu berdiri sambil memegang lengan Lili, dibantunya teman sekelasnya itu berdiri kemudian mereka berdua berjalan keluar kelas.

Suasana kelas yang ribut langsung dihentikan oleh Pak Toipi. Guru berkacamata itu mengatakan agar penghuni kelas kembali melanjutkan pekerjaan mereka dan dilarang berisik. Membuat seisi kelas menurut dan kembali berkutat dengan pekerjaan mereka, walaupun beberapa tetap memilih untuk bermain HP atau pekerjaan lain yang tidak ada sangkut-pautnya dengan mata pelajaran sosiologi siang ini.

Fajir memerhatikan dari tempatnya duduk dengan kening mengernyit dalam. Jauh ke dalam ingatannya, sepertinya ia melihat Lili baik-baik saja sampai masuk ke kelas tadi yang seperti ingin berbicara dengannya, namun diurungkan oleh cewek itu entah karena apa sebabnya.

"Cewek lo alergi apaan, Jir?" Dipo bersuara. Ikut memandangi punggung dua cewek yang mulai menghilang di depan sana.

"Nggak tau."

"Anjay, jadi beneran lo udah jadian sama Lili?!" Angga yang sengaja pindah tempat duduk dari bangkunya karena meja itu kosong langsung menoleh ke belakang. Cowok itu sedang sibuk main HP, namun radar pendengarannya jelas melalang buana karena langsung siaga satu ketika mendengar gosip yang menggelitik telinga.

"Kata siapa?" Fajir balik bertanya.

"Tuh tadi lo nggak komplain waktu Dipo bilang 'cewek lo' ."

"Itu mah karena dia aja yang ngarep, Ga." Respons Ares yang tahu-tahu sudah mengambil tempat di sebelah Angga. Cowok itu memasukkan tasnya ke dalam laci meja seraya menyeringai menatap kedua sobat sejiwa yang duduk di belakangnya.

"Ngapain lo kemari?" Dipo mendengus.

"Duh chayank, jangan ngambek dong. Aku nggak selingkuh kok sama cewek-cewek itu...," jawab Ares dengan nada dibuat manja sambil mencolek dagu Dipo pelan. Cowok itu mengedipkan satu matanya sebelum melanjutkan. "Hatiku nyangkut di kamu."

"Najis!" Dipo melemparkan tipe-X miliknya mengenai dahi Ares yang langsung ditanggapi dengan gerutuan oleh cowok plontos itu.

"Ngeri gue lama-lama bergaul sama kalian." Fajir pura-pura bergedik sambil melindungi tubuhnya dengan tangan menyilang.

"Gue juga njir." Sahut Angga.

Dengan semangat 45, Ares langsung membawa kedua telunjuk kanan dan kirinya untuk menoel dagu Fajir dan Angga bersamaan. "Aduh, susah jadi orang ganteng dari embrio ini ya, banyak banget yang pengen homoan. Jadi bingung mau pilih yang mana hm..." tukasnya dengan gaya pura-pura berpikir.

"Ares, kau sudah selesai merangkumnya? Coba bawa ke depan hasil rangkumanmu. Bapak ingin melihat."

Ketiga orang di sekitar Ares kontan tertunduk sambil menahan tawa.

"Mampus!"

"Sukurin!"

"Ares, bye!"

Ejek ketiganya dengan kompak tanpa suara.


***

"Untung Bu Ina belum pulang," Ujar Sarah sambil memerhatikan Lili yang sedang menelan obat yang diberikan oleh Bu Ina—kepala UKS—tadi setelah mereka sampai di UKS. Sarah kemudian membantu Lili berbaring di brankar UKS dan memberikan selimut untuk menutupi sebagian tubuh Lili. "Lo ada alergi, Li?" tanya Sarah sambil menarik kursi plastik mendekat ke brankar dan duduk disana.

Lili menepuk bantal bersarung putih itu tiga kali sebelum menjatuhkan kepalanya disana. Ia mengangguk. "Sejak kecil gue emang alergi kedelai. Tapi gue yakin kalau gue nggak minum susu apapun, atau hal-hal yang menyangkut dengan kedelai kok tadi."

Ia ingat sekali kalau ia selalu menjauhi 'kedelai' sejak dulu. Apalagi susu kedelai yang normalnya memang cewek itu tidak seberapa menyukai susu. Saking tidak sukanya Lili dengan minuman protein itu, ia bahkan mencium wanginya saja langsung muntah. Apalagi jika dia alergi dengan kedelainya, nggak mungkin sekali dia malah mengkonsumsi hal yang membuatnya ruam dan kemerahan begini. Itu sih namanya menyengsarakan hidup.

"Lo yakin? Lo makan gorengan tempe kali?" Sarah mengerutkan alis, berpikir. Namun ia langsung membantah omongannya sendiri saat menyadari kalau Lili bahkan tidak jadi menyantap soto ayamnya karena Nu mengajak cewek itu untuk bertemu. "Eh, lo aja baru icip dua sendok kuah soto ayam nya tadi ya..."

Lili mengangguk. "Nah, iyakan. Gue juga bingung kenapa alerginya kambuh, Rah."

"Nu ngasih lo makanan apa gitu nggak tadi?"

"Enggak," Lili menggeleng pelan. "Gue tadi sama Nu cuma ngobrol soal kejadian waktu itu aja. Terus gue balik ke kelas..." buru-buru karena pengin bilang makasih sama Fajir, tapi nggak jadi. Tambah Lili dalam hati.

Sarah mangut-mangut, pandangannya terarah pada aquarium yang menempel dengan dinding bercat putih dengan ikan nirwana yang sedang berenang nyaman di dalamnya.

"Mending lo ke kelas aja deh, Rah. Lo kan belum selesai ngerangkumnya tadi." Lili kembali menambahkan.

Bukannya Lili hendak mengusir, tetapi Pak Toipi dikenal sebagai guru disiplin nilai meskipun beliau nggak memandang nilai UTS atau UAS sebagai tolak ukur siswa yang ia ajar paham atau tidak dengan materi—menurutnya aktivitas sehari-hari yang dilihatnya adalah poin utama—maka dari itu Lili menyuruh Sarah untuk kembali ke kelas. Namun, sepertinya Sarah nampak tak sependapat karena jelas dia sama sekali bergeming di tempat. Lalu, menyengir lebar.

"Gue ngantuk tau dengan suasana kelas yang lebih kalem dari kuburan itu." jawab Sarah kalem. Cewek itu menyipitkan matanya. "Ya ampun, Li! Ini kenapa ruam lo makin lebar aja deh?" ucapnya khawatir.

Lili mengikuti arah pandang Sarah dan tiba-tiba rasa gatal serta panas pada tubuhnya menjadi meningkat berkali-kali lipat. Sorot mata Lili kabur, tangannya mencoba mencari HP dari dalam saku seragam dan mengaduh ketika mengingat bahwa ia meninggalkan HP-nya di laci meja.

"Gue boleh minta tolong panggilin Bu Ina nggak? Terus lo bawa HP?"

"Bawa kok, pake aja nih," Sarah mengeluarkan HP-nya dan menyodorkannya kepada Lili. "Bentar, gue panggilin Bu Ina dulu deh. Kayaknya lo kudu di periksa ke rumah sakit deh, Li. Daripada makin parah."

Lili mengangguk, mimik wajahnya menyiratkan rasa terima kasih sebelum kembali bersuara. "Iya, gue mau nelepon Mama. Siapa tau bisa jemput kesini, karena nggak mungkin gue minta tolong Nu. Dia pasti sibuk sama KIR."

"Gue juga naik bus, Li. Jadi nggak bisa nganterin elo..." kata Sarah dengan agak sedih. Setelah itu, Sarah melangkah menuju pintu penghubung untuk mencari Bu Ina. Tapi, sebuah gelengan yang ditemukan Lili setelahnya. Sarah menyatukan kedua alisnya ke bawah. "Nggak ada lagi. Katanya Sita, Bu Ina-nya udah pergi tadi." ia meneruskan informasi yang diperoleh dari Sita—anak PMR yang kedapatan jadwal piket di UKS—di depan.

Mendesah pelan, cewek itu menggigit bibir bawahnya pelan. Nomor HP milik Mama jelas sudah mengelotok kering di kepala Lili, tetapi siapa yang bisa menyalahkan kalau ternyata nomor itu tidak aktif. Kepusingannya semakin bertambah saat ia merasakan ruamnya semakin menyiksa. Lili menarik napas perlahan, sebelum mengembuskannya juga perlahan. Ia mencoba mencari penenangan diri dengan mata terpejam rapat.

"Kayaknya gue nelepon Nu aja deh ya, Rah?" putus Lili setelah beberapa menit dilewatkannya untuk berpikir.

Sarah mengangguk. "Baru gue mau nyaranin gitu ke elo. Iya, lo hubungin aja Nu, Li. Gue yakin dia pasti bisa kok nganterin elo."

Lili mengangguk sekali, kemudian kembali berkutat pada HP Sarah.

Cewek itu membawa benda elektronik dalam genggamannya ke telinga kanan, menunggu sampai Nu mengangkat panggilannya. Tapi, hingga dering terakhir Nu sama sekali tidak mengangkatnya.

Lili mendongak. "Apa dia masuk kelas ya, Rah?"

"Tapi Niken aja dispen kok. Dia satu tim kan sama Niken?"

Cewek itu mengangguk. "Yaudah deh, gue coba hubungin Nu lagi." ucapnya sambil kembali mendial nomor yang tadi.

Lili kembali menunggu saat sambungan itu mulai berdering sambil melirik Sarah di depannya dengan gelisah. Rasanya ini benar-benar nggak nyaman, mungkin karena Lili yang sudah lama tidak terkena alergi—dan sekarang harus merasakannya lagi makanya alergi kali ini jauh lebih terasa menyiksanya. Dia benar-benar butuh berobat ke dokter, karena kalau tidak pasti dia akan kembali tidak masuk sekolah. Dan, bagaimana soal pentas bahasa itu coba? Waktunya tinggal tiga hari lagi sebelum pentas bahasa di mulai.

"Yasnu!" sesaat, Lili menyingkirkan segala pemikiran tentang pentas bahasa di kepalanya ketika suara Nu terdengar dari ujung sambungan. Ada senyuman kecil terukir di wajah Lili dan ia merasa lega soal ini.

"Lili?"

"Iya. Lo dimana?"

"Sekret, Li. Kenapa? Lo nggak ada guru? Atau udah mau balik?" suara Nu membrondong diujung sana.

"Nggak. Bukan," Lili menggeleng di tempatnya. Cewek itu mati-matian menahan efek dari alergi yang ia rasakan. "Bisa anterin gue nggak ke rumah sakit? Alergi gue kumat dan gue lagi di UKS sama Sarah..." ketika ia mengatakan itu, Lili hampir saja mengeluarkan tangisnya. Ia jelas bukan tipe cewek yang cengeng, tetapi rasa dari ruam akibat alergi yang menimpanya ini benar-benar bikin tidak nyaman dan... sakit. Karena itu juga yang membuat Lili tidak bisa mengontrol diri.

"Lo tunggu disana ya. Gue kesana sekarang."

Lili mengangguk lega. "Mm,"

Setelah memutuskan panggilan itu, Lili menyerahkan HP itu kepada si pemiliknya dan mengucapkan terima kasih. Cewek itu menolehkan kepala, melirik jam yang mengantung di dinding arah jam sembilan.

Lima menit lagi bel pulang akan segera berbunyi. Cewek itu sedikit mengusap peluh menggunakan punggung tangannya, lalu menatap Sarah lemas. "Rah, lo nggak pa-pa kalo mau ke kelas."

"Ntar aja deh, daripada kalo sekarang ke kelas yang ada gue kena kultumnya pak Toipi karena 'kabur'. Hehehe." Sarah tertawa dengan menggunakan suku kata. "Omong-omong, gila ya si Nu langsung gercep mau nyusulin lo sekali di telepon. Nemu dimana lo paket lengkap macem itu?"

"Lo kira menu mekdi!" Lili terkekeh kecil.

"Elah gue serius, Aisaaaah. Kalo Nu temen gue aja udah gue jadiin pacar dari kapan tau deh." Sarah memulai pembicaraannya mengenai Nu. Cewek itu emang sejak dulu udah 'naksir' berat sama Nu, soalnya orangnya yang kalem dan nggak neko-neko, menurut Sarah. Dan Lili akan mengangguk setuju soal itu, karena begitu pula yang membuat hatinya jatuh; karena Nu orang baik. Dan baik kepadanya.

Masalahnya, biasanya saat membicarakan soal sahabat cowoknya itu Lili pasti merasa degdegan dan senang. Tapi, kenapa sekarang efeknya tidak semenakjubkan dulu ya?

"Gue tahu di Sriwijaya ini banyak orang pinter walaupun yang bobrok juga banyak. Tapi ya Li, Yasnu ini bener-bener tipe idealnya cewek-cewe—"

"Li, Bu Ina-nya mana? Kok kalian berdua aja?"

Suara Nu langsung membungkam bibir Sarah. Cewek ini seketika diam dan tersenyum tidak enak. Dalam hati, ia berdoa agar Nu tidak mendengar ghibahannya soal cowok itu tadi karena itu benar-benar memalukan. Disamping itu, Nu bisa saja besar kepala—menelisik dari cowok-cowok yang sering jadi bahan gosipan cewek dan seketika langsung besar kepala—jadi tidak menutup kemungkinan tu cowok juga akan bersikap sama.

Bagi Sarah, pantang rasanya membuat cowok besar kepala. Ugh!

Lili menoleh ke arah pintu dan mendapati Nu sedang melepas sepatunya. Cewek itu menahan geli ketika melirik Sarah melalui ekor mata dan menemukan wajah super tegang disana.

Salah siapa hobi ngegosip! Kikik Lili dalam hati.

"Bu Ida pergi tadi."

Nu mengangguk. Cowok berkacamata itu melangkah masuk dan tersenyum sopan ketika pandangannya bersinggungan dengan manik mata milik cewek lain di ruangan itu. Sebelum, ia kembali membawa fokusnya pada Lili. Ekspresi Nu berubah sedih dan khawatir, "Kok bisa? Lo makan atau minum kedelai?"

Lili memutar bola mata. "Lo pikir gue sengaja alerginya? Lo tau kan gue nggak mungkin makan atau minum yang ada ingredients kedelai-nya."

Nu nampak mengamati prihatin. Dan ketika lengkingan bel terdengar, suara Nu kembali mengudara. "Ya udah, Rah, tolong anterin Lili ke mobilnya Angke ya?"

"Kok mobil Angke? Kenapa nggak motor lo aja?"

"Dengan kondisi lo begini?" Nu menaikkan alis. "Lo bisa aja nambah parah di perjalanan menuju rumah sakitnya. Udah jangan banyak protes dan nurut aja, oke?"

Lili menghela napas dan mengangguk pasrah. Di bantu Sarah, cewek itu segera turun dari brankar. "Terus lo mau kemana?"

"Ngambil tas lo dan Sarah lah."

"Oh iya..." gumam Lili. Dia bahkan sampai lupa kalau ia ke sekolah tadi membawa tas dan buku-buku.

"Eh, punya gue biar Vio aja yang bawa. Lo bilang aja sama Vio, tau kan Vio yang mana?" elak Sarah.

Nu mengangguk. "Anak paskibra kan?"

"Iya."

"Oke deh. Tolong ya, Rah." Pinta Nu sekali lagi.

Sarah mengangguk sambil mengacungkan jempolnya. "Beres."

Setelah mengumandangkan itu, bertiga mereka bersama-sama berjalan keluar UKS dan berpisah jalur setelahnya. Lili dan Sarah berjalan ke arah selatan dimana parkiran terletak, sedangkan Nu ke Utara gedung dimana gedung kelas 11 berada.

***

Tatapan Fajir tajam menusuk. Seperti seorang pemburu yang melihat bahwa ada pemburu lain yang juga sedang mengincar musang temuannya. Bola mata hitam itu bergerak mengikuti satu fokus yang merengkut radar siaganya sejak satu menit yang lalu—yang kini sedang membereskan buku-buku dan memasukkannya ke dalam tas yang sangat ia ketahui milik siapa.

Cowok berkacamata yang sejak tadi ia awasi itu nampak terlibat pembicaraan dengan Vio sebelum meraih tas milik Lili dan membawa talinya ke pundak.

"Bahu gue siap kok kalo lo mau nyandar," Ares menepuk pelan bahu kirinya seraya menatap Fajir yang terus memerhatikan punggung Nu dengan ransel milik Lili yang semakin menjauh. "Berat hati menerima kekalahanku, sadarkan aku saat kau menjadi miliknya..." imbuh cowok itu menggunakan salah satu lirik dari lagu populer Indonesia.

"Berisik!" Fajir mendengus, bangkit dan menarik ransel hitamnya dan berjalan keluar kelas.

Meninggalkan gelak tawa dari tempat duduknya. Ares dan Dipo buru-buru membereskan buku-buku mereka dan hendak menyusul langkah Fajir yang telah menjauh. Namun, ketika Ares sampai di ambang pintu, suara cewek berkumandang memanggilnya. Ia menoleh, menatap dengan pandangan bertanya.

"Lili sakit?"

"Lo nggak denger si pwity boi tadi bilang apa?" Ares mengangkat alis, memberikan tampang ngajak berantem karena saking ngeselinnya. Membuat Gilda mati-matian menahan sabar.

"Terus, gimana? Kita kan hari ini mau latihan. Pentas bahasa tiga hari lagi lho..."

"Yaudah lo aja," Ares memamerkan deretan giginya, menatap cewek berambut bob yang kini mengernyit bingung atas jawaban yang ia berikan. Jadi, cowok itu kembali menambahkan. "Lo juga cocok kok jadi cinderella. Walaupun kayak Langit dan kerak bumi jatuhnya kalo berdiri sama Fajir..." ucapnya kalem. Yang langsung mendapat sambutan ramah dari Gilda. "Aw! Sakeeet, Gil!" teriak Ares mengaduh sambil memegangi kakinya yang menjadi korban injakan cewek itu.

Ares menatap Gilda dengan kesal, sementara Gilda yang memang sudah kesal sejak tadi langsung buru-buru memelototi cowok itu sambil berkacak pinggang. "Apa?! emang buang-buang waktu ngajak ngomong elo ya! Nyebelin!" selorohnya dan pergi meninggalkan Ares.

Cowok itu berdecak, memandang punggung munggil yang berjalan melewatinya dan kini bergabung bersama cewek lain—mengobrol renyah—dan tanpa sadar Ares menyunggingkan senyuman kecil. Ia hendak melangkah menyusul kedua temannya yang entah sudah dimana ketika suara panggilan kembali terdengar.

Cowok itu menoleh dan mendapati Tere—salah satu penghuni XI S1 juga—memanggilnya sambil memegang sapu ditangan. Sepertinya cewek itu sedang melakukan piket kelas.

Tere menyodorkan sebuah HP ke depan Ares. "Kayaknya punya Lili deh ketinggalan. Tolong kasihin ya."

Ares menatap HP itu sesaat, kemudian mengambilnya dengan cengiran lebar seolah ia telah menemukan harta karun luar biasa. "Oke deh!"

***

"Emang miss Keket udah setuju?" Fajir menyuarakan komentarnya setelah mendengar keputusan sepihak Gilda.

Mereka—anak-anak yang terlibat pentas bahasa—sedang berkumpul di GSG sekolah untuk latihan drama. Dan tahu-tahu Gilda sudah membuat keputusan yang menurut Fajir sama sekali nggak profesional.

"Gue ngomong gini karena abis ngomong sama miss Keket," Gilda menatap Fajir. Lalu menambahkan seraya membubuhkan tatapannya pada Niken. "Lo gimana, Ken? Mau kan?"

"Terus, yang jadi bidadarinya siapa dong?"

Gilda tersenyum, seolah pertanyaan itu sudah terbaca dan ia sangat paham harus menjawab apa. Cewek itu membenarkan letak kacamatanya dan bersuara. "Kalau peran itu kan gampang, gue udah bilang sama Vio buat gantiin lo. Gimana?"

"Emang nggak ada kandidat lain?" Niken mengerutkan kening.

"Kalo ada udah gue pilih, Ken. Disini yang menurut gue cocok buat gantiin Lili ya cuma elo. Nggak masalah kan sama olimpiadenya?"

"Enggak sih, pak Agus juga udah bilang lima hari ini untuk istirahat sebelum berangkat ke Jakarta awal bulan." Niken menerangkan, cewek itu kemudian melirik teman-temannya. "Emang kalian pada setuju kalo gue yang jadi cinderellanya?"

"Gue sih oke-oke aja ya. Nggak masalah." Ucap Dipo pertama kali yang langsung diamini oleh beberapa anak disana.

Niken tersenyum, kemudian pandangannya jatuh kepada Fajir yang sejak tadi terlihat enggan. Dengan wajah polos dan tidak enak, Niken kembali bersuara pelan. "Fajir gimana? Kayaknya lo nggak mau gue yang jadi cinderella."

Cowok itu diam, sibuk memainkan kunci motornya dengan pandangan lurus ke bawah. Tidak menanggapi.

"Gue juga nggak pengin jadi cinderella. Peran ini tu emang yang paling cocok hanya Lili. Apalagi gue bener-bener khawatir karena kata Yasnu tadi Lili kena alergi..." gumam Niken sedih. Sorot matanya muram, menatap gelisah dengan bahu merosot.

"Lo yakin kalo yang elo omongin itu sama dengan apa yang ada di dalam hati lo?" Fajir mendongak, satu alisnya terangkat menatap remeh pada cewek di depannya yang nampak terkejut dengan apa yang baru saja ia lontarkan.

"Jir," Dipo menyikut temannya itu kala merasakan ada sesuatu yang aneh yang kini tengah terjadi. Apalagi ketika melihat mimik wajah Niken yang berubah tegang.

Di samping Dipo, Ares juga merasakan hal yang serupa. Cowok itu kemudian tertawa garing guna mencairkan suasana. Lalu, ia menepuk bahu Niken pelan. "Humor Fajir emang rada gelep, Ken. Apalagi karena tadi ngeliat hantu di gudang belakang pas mau ngudut. Maapin ya, Ken..."

Niken tersenyum kecut.

Setelahnya Ares menawarkan agar mereka segera latihan. Akhirnya kelompok itu tidak menghabiskan waktu sia-sia lagi dan mulai latihan drama. Fajir dengan malas-malasan mengikuti proses itu setengah hati, sampai dua jam berlalu anak-anak itu kemudian membubarkan diri karena cuaca yang tiba-tiba mendung di atas sana.

Fajir sedang mengancingkan helm-nya ketika sebuah tangan tersodor di depannya sambil memegang HP. Satu HP yang sangat dikenali oleh cowok itu.

Fajir menatap Ares. "Kok ada di elo?"

"Tere yang nemuin, ketinggalan di kolong meja." Jawab Ares dengan kedua alis terangkat. "Nih, HP-nya lo aja yang balikin. Itung-itung buat alesan supaya nggak kaku waktu jengukin tu cewek sendirian."

"Sialan," Kekeh Fajir sambil menerima HP itu dan memasukkannya ke dalam kantong jaket. Cowok itu menstater motornya hingga berbunyi geber. "Yaudah, gue cabut duluan!" Ucapnya pada Ares dan Dipo.

"Oke!" angguk Ares membawa jari telunjuknya ke ujung alis dan menjauhkannya seraya mengatakan kalimatnya.

"Gue ngerasa ada yang aneh antara Fajir sama Niken. Menurut lo?" Ucap Dipo sambil memandangi motor Fajir yang melaju semakin jauh dan menghilang di tikungan gerbang.

Ares mengangguk setuju. "Sepaham. Dan sebagai upin-ipin kita harus mencari tahu biduk permasalahannya."

"Anjir, ogah amat gue kembaran sama lo." Dengus Dipo, kemudian menjalankan mobilnya setelah memberikan klakson maha kencang kepada Ares.

Ares tertawa ngakak, lalu menggas motornya mengikuti jejak kedua temannya yang lebih dulu bergerak meninggalkan gerbang sekolah mereka yang sudah semakin sepi sore ini.

***

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co