Truyen3h.Co

Lili

18

authoriya



"Makasih ya, Nu?" sambil berkata dan menatap cowok di balik setir kemudi, Lili melepas sabuk pengaman yang dipakainya. Wajahnya masih sedikit merah, tertinggal jejak dari ruam yang tadi sempat terasa sebelum meminum resep obat yang diberikan oleh dokter. Namun hal berbeda jelas nampak, karena ruam pada tangan dan kaki yang masih terlihat masih dalam kondisi yang sama.

Sebenarnya, Lili disarankan untuk menjalankan rawat inap di rumah sakit. Namun, cewek itu menolak dengan alasan ia tidak menyukai bau rumah sakit yang khas dan lebih memilih untuk menjalankan rawat jalan saja. Setelah berdebat lumayan panjang dengan Nu, akhirnya cowok itu mengibarkan bendera putih dan mengikuti keinginan Lili.

Nu mengangguk. "Lo yakin bisa masuk rumah sendiri?" tanya Nu tak yakin melihat kondisi Lili yang masih sakit. Kedua bola mata hitam pekat itu menatap khawatir dari balik lensa kacamata.

"Gue baik kok. Ruam ini nggak bikin otot dan sendi gue jadi jelly, tau?" Lili memutar bola mata. "Sekali lagi makasih ya. Dan lo yakin nggak mau masuk dulu? Renata kayaknya ada di rumah deh."

Ada keengganan untuk pergi tersirat di mata Nu ketika mendengar nama Renata disebut, namun ia harus kembali ke sekolah untuk mengembalikan mobil milik temannya dan mengambil motor yang masih terparkir di pelataran parkir Sriwijaya. Bola mata hitam itu sedikit melirik keluar, mendapati langit Palembang yang sedikit mendung. Akhirnya Nu menggeleng sekali dan melontarkan kalimat sebagai penegasan pada penolakannya. "Gue harus balik ke Sriwijaya."

"Oh, oke deh..." jawab Lili tanpa memaksa.

"Salam ya buat Renata."

"Renata aja?" Lili mengangkat kedua alisnya sambil menahan senyum, membuat Nu langsung menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Cowok itu kemudian menambahkan.

"Tante dan Opa juga lah, Li."

Lili mengangguk. "Iya, ntar gue sampein."

"Oke."

Setelah Lili turun dari dalam mobil itu, cewek itu menyempatkan diri berdiri di depan pintu pagar menunggu sampai mobil yang dikendarai oleh Nu melesat pergi. Nu membunyikan klakson mobil sekali sebelum menarik pedal gas dan pergi dari sana, diiringi oleh kedua mata Lili yang memandang mobil yang kini semakin menjauh diujung sana. ketika mobil itu sudah tak nampak dari penglihatan, Lili mengembuskan napas lesu. Ada sedikit tempat di hatinya yang masih menyukai sahabatnya itu, dan efek yang ditimbulkan setiap kali melihat wajah lain dari Nu tiap mereka menaikkan nama Renata jelas masih sama. Bahagia yang melingkup satu dengan perasaan nelangsa. Bukan dia yang ada di hati cowok itu, dan tidak pernah ada atau berubah menjadi dia di dalamnya.

"Jangan ngarep, jangan ngarep. Harusnya lo bersyukur karena cowok kayak dia mau aja jadi sahabat lo." Gumam Lili sehalus angin sembari melangkah masuk ke dalam rumah.

***

Lili menahan hati ketika Mama dan Opa terus menceramahinya karena ia bisa-bisanya terkena alergi setelah bertahun-tahun tidak pernah. Opa bahkan hampir menangis ketika melihat salah satu cucu kesayangannya pulang dengan keadaan ruam di sekujur tubuh, padahal Opa adalah pribadi yang dikenal jarang mengungkapkan kesedihannya—kecuali ketika Oma meninggal kala itu. Terang saja pria baya itu sedih, karena sejak kepindahan Lili kemari—bahkan ketika mereka masih di Jakarta—Opa tidak henti-hentinya berpesan supaya menjaga makanan yang di konsumsi oleh cucunya. Bahkan ketika Lili masih SMP, pria baya itu selalu menyuruh Mama untuk membawakan Lili bento dengan menu empat sehat lima sempurna. Namun hal itu berhenti dilakukan ketika Lili masuk ke SMA.

Adalah hal yang membuat Opa trauma dan Opa tidak ingin jika hal itu terulang kembali. mendiang istrinya—Nenek Lili—memiliki alergi yang sama dengan Lili, dan beliau wafat karena alergi itu pula. Dan Opa tidak ingin jika itu sampai terjadi lagi di keluarganya. Karena itu setelah kepindahan anak dan cucunya kembali, Opa sangat protektif tentang menu makanan apapun yang akan di makan oleh Lili, komposisinya harus jelas dan halal.

Dan sekarang, hal yang tidak diinginkannya malah terjadi...

"Kamu pokoknya harus istirahat total sampai sembuh." Titah Opa dengan suara serak termakan usia.

Karena tahu kalau ucapan Opa bukanlah sebuah hal yang bisa diperdebatkan, Lili memilih diam tak menjawab. Ia dan Renata saling menyikut siku memberi kode. Kemudian suara Renata lah yang terdengar, "Lili ada projek, Opa...," tukasnya seraya memiringkan kepala menatap sepupunya. "iya kan, Li?"

Lili mengangguk.

"Kesehatan nomor satu." Kali ini suara Mama yang terdengar. Diangguki oleh Opa tentu saja. Kedua ayah dan anak itu menanamkan dalam diri mereka bahwa kesehatan adalah hal yang paling penting. Lalu, kemudian adalah sebuah kewajiban-kewajiban yang mengikuti dibawahnya.

"Opa dan Mama nggak nanya Lili ada projek apa?" akhirnya Lili menyuarakan keheranannya. Masa sih kedua orang tua itu tidak penasaran akan projek di sekolahnya, apalagi itu menyangkut nilai pelajaran. Dan, bagi Sriwijayans nilai adalah hal yang penting di atas segalanya.

Dengan memasang wajah cemberut karena tidak ada jawaban dari dua orang yang ia beri pertanyaan tadi, Lili mengembuskan napas lemah. "Aku jadi pemain utama di pentas bahasa antar kelas. Gimano coba?"

"Tapi kamu sakit, nak."

"Temen-temen pasti kesel sama aku..." keluhnya dengan kedua bahu merosot.

"Sebenarnya tadi ada yang nelpon ke rumah, Li," Renata bersuara. Tadi, saat cewek itu keluar dari dapur, langkahnya bersamaan dengan suara telepon rumah yang berbunyi. Karena tidak melihat ada Opa dan Tante-nya berada di sekitar, alhasil ia yang mengangkat panggilan itu. "dari Gilda, gue kutip ya katanya gini, 'Halo ini Gilda temen sekelas Liliana. Yuk, boleh minta tolong bilang sama Lili?' gue jawab deh minta tolong apaan. Terus katanya, 'Tadi udah diskusi sama miss Chatrine, dan miss-nya nggak papa kalo peran Lili di gantiin sama Niken. Kasian Lili, Sarah bilang ruamnya banyak banget. Jadi, Lili nggak usah khawatir dan ngerasa nggak enak, sekarang dia bed rest aja sampai membaik. Makasih ya, Yuk.' Gitu katanya." Renata mengakhiri kutipannya.

"Nah, udah bukan jadi masalah lagi kan?" Opa kembali bersuara dengan nada senang.

Lili mengangguk.

Setelah kepergian Mama dan Opa, Renata mengembalikan fokusnya pada Lili. "Gila Opa lo serem!"

"Opa lo juga kali!" gerutu Lili. Membuat Renata terbahak-bahak.

Cewek itu membawa tubuhnya berbaring di atas ranjang sambil memerhatikan ruam di tangan sepupunya yang masih sama. "Sakit nggak?"

"Panas sama gatel aja. Bawaannya pengin garuk gitu." Jawab Lili.

"Lagian, masa lo nggak tau si kandungan yang lo makan itu ada kacang-kacangannya?" Renata menyipitkan mata. Cewek itu tidak percaya kalau Lili sampai bisa kecolongan soal komposisi makanan yang ia makan karena sebelum-sebelumnya hal ini tidak pernah kejadian. "Atau ada yang jebak lo?"

Lili memutar bola mata. "Ya kali, lo pikir gue Gigi hadid? Buat apa juga orang ngejebak gue, Ta."

"Ya lo kan cantik. Kali aja ada yang iri sama lo," jawab Renata kalem. Cewek itu sedikit melirik ke atas masih dalam mode berpikir, kemudian menjentikan jari. "Aha! Atau, ada cowok yang lo tolak ya? Terus dia patah hati dan mau bales dendam sama lo. Iya nih, pasti!"

"Lo ngomong gitu sambil ngaca ya?" Lili mendengus sambil menahan senyum. "Kalau gue cantik kayak elo, mungkin iya. Tapi gue ya gue, mana ada dalam hidup gue hal-hal kayak di sinetron dan novel kayak gitu, Ta. Hidup gue itu lebih flat daripada layar televisi." Imbuhnya malas.

Ini serius. Bagi Lili, persepsi seperti yang dikatakan oleh Renata itu adalah hal yang mustahil terjadi di hidupnya. Dalam sekala satu sampai seratus, bahkan nilai nol koma adalah jawabannya. Mengikuti Renata yang membaringkan tubuh, cewek itu ikut berbaring di sebelah sepupunya sambil mengambil rubik dari atas nakas untuk membangun mood-nya lagi.

"Elo itu cantik. Cuma masalahnya adalah lo terlalu insecure dengan diri lo sendiri, Li," Renata menghela napas. Kepalanya berpaling menatap cewek yang sedang mengotak-atik rubik dengan konsentrasi penuh itu sambil menambahkan, "gue nggak mau ya kalo lo terus-terusan terjebak dalam masa lalu. lo udah cantik dari dulu, dan mereka yang ngebully lo itu bahkan gue rasa nggak jauh beda sama lo dulu atau bahkan lebih dibawah lo. Dan satu hal yang selalu gue tegasin sama lo, bahwa lo bisa temenan sama Yasnu atau temen-temen lo yang lain itu karena mereka tau kalo lo itu anaknya asik, Li."

"Gue bisa kenal cowok kayak Nu ya karena dia sahabat elo, Ta. Nggak mungkin Nu mau—"

"Stop bilang nggak mungkin, oke?" Renata memotong. Cewek itu sudah jengah ketika Lili terus-terusan bertingkah seperti ini saat sedang membahas tentang dirinya. Sepupunya itu terlalu memandang dirinya rendah, dan itulah masalahnya. "gue akan marah besar kalo sikap baik Nu selama ini cuma karena elo sepupu gue. Bukan karena dia emang mau temenan sama lo." Imbuhnya.

"Memangnya lo nggak ngerasa ya?" Lili memalingkan wajah. Menafsirkan tatapan bertanya Renata padanya sebelum menambahkan, "Nu itu suka sama lo, Ta. Ya ampun!"

"Dan elo suka sama Yasnu."

Kedua mata Lili sontak membeliak ketika mendengar penuturan Renata. Jantungnya berpacu cepat, namun buru-buru ia berkilah. "Nggak. Ngarang lo!"

"Oh ya?" tanya Renata dengan nada tak percaya.

Sambil kembali memusatkan fokus pada rubik ditangan, Lili berkata dengan nada sambil lalu. "Iya lah. Gue nggak suka sama Nu lagi."

"Terus? Sama Fajir?"

"Ih Tata! Apaan sih!" seketika Lili langsung sewot. Cewek itu membanting rubiknya ke sebelah dan berdiri.

"Yah, ngambek. Dasar pundungan! Gue bercanda kali sisteeeurrr..." seru Renata ketika melihat Lili berjalan. Ia sempat mengira kalau cewek itu hendak keluar kamar, namun ketika langkah Lili berbelok ke meja belajar dan berkutat dengan tasnya, cewek itu langsung menyeringai. "Omong-omong, dia kok nggak kesini sih?"

"Tata!"

"Apa? gue cuma nanya lho," Jawabnya santai. "Soalnya tadi katanya dia mau ke rumah."

Tangan Lili berhenti diudara ketika mendengar penuturan sepupunya. Kepalanya menoleh, menatap Renata dengan horor.

"Biasa aja kali liatinnya, Li. Lo kayak cewek yang langsung pasang radar siaga pas tau cewek lain ngobrol sama cowok lo deh." Kikik Renata.

"Ih, nggak ya!" saut Lili setengah sebal. Lalu menambahkan, "gue cuma kaget kok karena dia bilang mau kesini sama lo. Kayaknya Fajir nggak ada nomor telepon rumah ini deh."

Renata mengangkat bahu sambil menyugar rambut. "Emang. Tadi gue juga neleponnya ke nomor elo kok setelah Nu chat kalo dia lagi nganterin lo ke rumah sakit. Eh taunya yang ngangkat gebetan lo."

"Ha?"

"Kebiasaan lo nggak berubah-berubah deh," Renata memutar bola mata. Kedua tangannya menyilang di depan dada menatap Lili. "untung aja yang nemuin HP lo Fajir, coba kalo diambil orang lain—"

"Tunggu!" Lili memotong cepat. Fokusnya kembali pada ransel dan mulai mencari HP-nya di dalam sana. tadi, dia tidak sempat mengecek apakah HP-nya sudah masuk ke dalam tas atau belum karena terlalu fokus dengan alerginya. Sementara pas pulang, Mama dan Opa keburu memberikan kultum dan mengambil alih fokusnya. Lama dicarinya, namun ia sama sekali tidak menemukan keberadaan HP itu di dalam ranselnya. Kepalanya kembali menatap sepupunya yang masih duduk pada posisi pertama. Kali ini, ditambah sudut bibirnya yang jelas terangkat. "Lo serius kalo yang ngangkat panggilannya Fajir?"

Renata mengangguk.

"Ih, kenapa juga di dia sih HP-nya!" Lili melengos, cewek itu terduduk di kursi kayu dan membawa kepalanya terbaring di meja. Dari tiga puluh satu anak di kelas, kenapa harus cowok itu yang menemukan HP-nya coba? Kenapa?

Dia sedang dalam keadaan seperti ini dan jelas tidak boleh bertemu dengan Fajir. Cowok itu mungkin akan langsung menertawainya ketika melihat ruam di tubuhnya. Atau, Fajir akan langsung berkelakar dengan group chatnya, dan ia langsung menjadi bahan candaan mereka. Lili menggeleng, menghapuskan pemikiran buruknya.

"Orang suci punya masa lalu, sedangkan pendosa punya masa depan... itu yang selalu elo bilang," Renata bersuara dan mengulas senyum. "gue yakin kalo Fajir orang baik, dan sekarang buang jauh-jauh apapun yang ada di pikiran lo itu. oke?"

"Emang gue mikirin apa?" kilah Lili cepat.

"I know you, sister. Udah deh, lo itu cantik dan baik. Jangan insecure mulu."

"Gue cuma nggak mau—"

"Gue akan ngebela lo kalo sampe dia jahatin elo. Paham?" potong Renata. "lagian, yang harusnya lo waspadain itu temen semeja lo, Li."

"Niken maksud lo?"

Renata mengangguk. "Gue udah bilang kan kalo gue nggak suka sama dia."

"Dia baik, Ta. Lo nggak percaya banget sih."

"Nah, itu elo bisa menilai dengan cepat kalo si Niken adalah orang baik, sementara ke Fajir enggak? Well, gue bukannya mau belain Fajir, tetapi menurut gue dia lebih baik daripada temen semeja lo itu," ucap Renata. Cewek itu berdiri dan melangkah ke dekat jendela dengan kedua tangan terlipat di depan dada. "Banyak orang yang melihara ular karena katanya tu ular udah jinak dan nggak akan menggigit. Mau dia di jinakin kayak apaan tau, tetep aja yang namanya ular ya ular. Pasti gigit." Lanjut Renata. Cewek itu membiarkan Lili mencerna ucapannya sesaat, kemudian mengalihkan pandangannya keluar jendela. Senyumnya perlahan terbit ketika melihat siapa yang berdiri di depan pagar rumah. Lalu, kembali menoleh ke arah Lili dan berbicara. "Sekarang mendingan lo turun deh karena Fajir udah di depan rumah tuh."

***

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co