20
Brakkkk
"Musim dingin!." Panggilnya keras setelah mendobrak pintu gudang.
"Sungchan.....," rintih gadis itu melihat lelaki yang selalu ada untuknya.
Jeffery ikut memasuki ruangan tersebut "shasha cewe bajingan!."
"Shasha kayanya lo harus makan otak-otak biar punya otak!." Ujar Giselle.
"Sha..., keren juga lo ya. Kecil-kecil udah jadi psikiater," Echan ikut kesal.
"Psikopat bang," koreksi Daehwi yang baru saja datang.
"Sha!. Lo tuh kalau mau jadi manusia jadi manusia aja!. Kalau mau jadi anjing jadi anjing aja. Jangan jadi manusia kaya ANJING! . Kan tolol," ujar Guanlin.
"Winter..., lo gapapa?," tanya Ningning menghampiri Winter, membuka setiap tali yang terikat.
"Ahhh Winter, ini semua pasti sakitkan?," Giselle menangis melihat beberapa luka membiru di tangan dan kaki Winter. Tak lupa dengan sedikit darah yang ada di kening gadis itu. "SHASHA LO APAIN TEMEN GW ANJENG!."
"K-kok kalian bisa ada disini...,"
Chenle memberikan satu tisu kepada Karina, "Makasih Rin. Akting lu bagus juga ternyata."
Shasha terlonjak kaget dengan penuturan Chenle."Sialan lo Karina!. Jena Jina ayo pergi!."
"Eits!!! Mau kemana lo anak kecebong." Guanlin menghadang jalan Shasha dan teman-temannya.
"Cantik doang, tapi suka nyiksa orang!." Celetuk Echan.
"Gw bakalan bawa lo ke kantor polisi!. Ayo ikut gw lo!. " Ujar Jeffery, membuat Winter kaget.
"Gamauuu!!. Gw gamau!. Lepasin tangan gw!."
"Abang!. Jangan..., jangan bang." Cegah gadis itu.
"Lo udah gila dek?!. Setan kaya gitu masih lu belain?!."
"Abang jangan....," Winter terus menggeleng kepalanya, ia menghadap Jeffery untuk mendekati Shasha. "Shasha ga sejahat itu bang..., dia cuma salah paham."
"Salah paham sampai nyiksa anak orang?!."
"Bang tolong maafin Shasha,"
"Kok lo yang jadi minta maaf si dek. Seharusnya yang minta maaf itu dia!." Jeffery sontak menunjuk wajah Shasha.
Shasha menjambak rambutnya sendiri "Gakkk!!!. Gw gasalah!. Gw selalu bener!. Gw ga pernah salah!. Pergi kalian semua!!!."
"Sha..., jangan gini Sha." Winter menggenggam tangan Shasha, menahan nya agar tidak terus-menerus menjambaki rambut.
"LO JUGA PERGI WINTER!. GW GAK BUTUH RASA KASIHAN LO?!."
"gatau diri lo bangsat!." Kesal Ningning.
Shasha dengan segera mendekat ke Winter, mengunci leher Winter dengan siku nya erat. Kemudian tangan kanan gadis itu bergerak mengambil satu buah pisau lipat dari kantong celana nya.
"DIAM KALIAN!. PERGI SEMUANYA!!!. TINGGALIN GW DISINI!. ATAU GW AKAN GORES LEHER WINTER!."
Mata sungchan membesar "SHASHA JANGAN GILA!."
"GW UDAH GILA!. KALIAN MENJAUH SEKARANG!. ATAU ....., GW AKAN LEBIH GILA DARI INI!"ancam gadis itu, mengarahkan pisau ke depan leher Winter.
"SHA!."
"SHA JANGAN!."
"SEMUANYA PERGI DARI SINI!." Shasha semakin mendekatkan pisaunya.
"Bang, Chan, kita mundur aja dulu. Dari pada nih cewe makin macem-macem." Saran Chenle di angguki yang lain.
Semuanya berjalan keluar dari gudang itu, kecuali Sungchan. Dia masih tidak bisa meninggalkan Winter begitu saja.
"LO JUGA KELUAR SUNGCHAN!."
"GAK AKAN!. GW TAU NIAT LICIK LO SHA!."
"Sungchan..., keluar..,"ujar Winter tanpa suara.
"Gamau!." Sungchan berjalan maju.
"Mau apa lo?!. MUNDUR!. " tegas Shasha mengarahkan pisaunya ke hadapan Sungchan.
Sungchan dengan segera menarik tangan Shasha dengan sekuat tenaga. Menjauhkan posisi pisau yang masih di genggam erat gadis licik itu.
"MUSIM DINGIN!. PERGI!. " tegas Sungchan yang masih sibuk menahan tangan Shasha.
Kaki Winter tak bergerak, "Sungchan jangan...., lepasin dia!."
"Gak akan!."
"Arghh Sungchan tangan gw," rintih Shasha saat Sungchan menggenggam keras tangannya.
"Bisa-bisanya lo ngelukain masa depan gw dengan tangan kotor lo ini Sha!."
"SUNGCHAN LEPASIN SHASHA!." tegas Winter yang segera memisahkan mereka berdua.
"S-sakit!."
"CHAN!. Lepasin Shasha!."
"Kamu jauh Ja--,"
Srek
Darah mengalir begitu saja dari perut gadis itu, wajahya kini tampak pucat dan tubuhnya tergeletak lemas di lantai.
Bruk
"MUSIM DINGIN!."
Sungchan segera mendekati tubuh Winter yang telah tergeletak lemas pada dinginnya lantai. "J-jangan sa--lahin Sha- sha...," ujar gadis itu tersenyum di pelukan Sungchan.
Sungchan menggeleng menahannair matanya. "Dia salah!, dia harus dapat hukuman."
"Engga Sungchan...," tak memperdulikan ucapan gadis itu, Sungchan langsung menggendong tubuh Winter, membawa tubuh gadis itu cepat memasuki mobilnya.
Disisi lain, Shasha masih terdiam dengan darah yang penuh pada tanganya. Badanya terus bergetar ketakutan, kakinya seketika terasa lemas dan padanganya mulai buram. "G-gw gak salah kan?,"
Malam ini Karina masih tidak mau keluar dari kamarnya, bahkan mama nya sangat khawatir melihat Karina yang tak mau berbagi cerita seperti biasanya.
Ting!
Bunyi nontifikasi chat berbunyi, Karina dengan segera mengambil ponselnya.
Ting !
Ting !
Shasha
|gw tunggu lo
di gudang blkg sklh
|jam 11 mlm
"Ck. Shasha udah gila!," gumamnya kemudian mengacak-acak rambut risau. Dia berganti melihat nontifikasi baru sejak tadi yang belum ia buka.
æspa
Giselle
|Kabar penting!
|Sungchan bilang klau
Winter ilang!.
Ningning
|loh kok bisa?!
|terus gmn skrg?
Giselle
|ikut carilah!
|Guan, Chenle Daehwi
jg bantuin
|Rina? Lo ikut ga?
|Rin Woy!
Ningning
|karina woy woy woy!!!!
Giselle
|udahlah Ning kita aja
berdua.
|Kalau lu mau ikut
nyusul aja ya Rin.
"Gw gamau ikut!. Gw gak akan ikut!,"
Ting!
Kak Jeno❤
|Rin, bisa ketemuan ga?
|Rin, please kali ini aja
|jangan di read doang dong:(
Gak udh ngantuk|
|5 menit doang please
| udah di depan rumah nih
"Ckk. ngapain sih!." Dengan segera Karina mencuci mukanya, berusaha menghilangkan mata sembab karena tangis nya.
Dia menuruni tangga, menuju secara perlahan ke depan pintu. Dan benar saja, di depan rumahnya sudah ada Jeno yang berdiri di depan mobil bewarna hitam itu.
Jeno tersenyum melihat Karina yang sudah menggunakan piyama tidurnya. "Hai," sapa Jeno.
"Hm, mau ngapain kesini?." Tanya gadis itu sinis.
"Masuk ke dalam mobil aja, disini dingin udara nya," Karina mengangguk mengikuti langkah Jeno.
"Kenapa?,"
"Besok aku bakalan ke Singapore," Karina kaget mendengar ucapan lelaki itu. "Gak lama sih disana, cuma se-minggu. Nanti balik lagi, cuma sebelum aku pergi, aku mau jelasin semuanya ke kamu. Biar kamu ga salah paham lagi,"
"Jelasin apa?," bingung Karina.
"Aku sama Winter gaada hubungan apa-apa. Aku juga gapunya perasaan lebih ke Winter." Jeno mengambil satu tangan Karina untuk di genggam.
"K-kak,"
"Aku ke Winter itu hanya sekedar untuk tepatin janji aku ke Navan Rin, sebelum Navan pergi, dia minta aku untuk jagain Winter." Entah kenapa, satu air mata Karina malah turun begitu saja.
"Kamu tau kan?, Navan itu sahabat aku dari kecil, jadi kali ini aja aku mau turutin permintaan dia. Jagain Winter sampai dia nemuin orang yang bisa jagain dia sebaik mungkin." Jeno menoleh ke arah Karina yang sudah menundukan kepalanya.
"Maafin Karina kak...," tangisnya yang justru membuat Jeno malah tersenyum.
"Gapapa kok, salah paham itu wajar," ujar Jeno kemudian menangkup wajah Karina untuk menghadap ke arahnya.
"T-tapi Karina udah ngatain kak Jeno segala macem, sampai Karina juga sempat benci ke Winter kak..., Karina salah, Karina minta maaf." Jeno menarik tubuh Karina untuk masuk kedalam dekapan nya.
"Udah gapapa, jangan nangis lagi dong, udah jelek jadi tambah jelek nanti," goda Jeno.
Bruk
"Awwww," rintih lelaki itu saat bahunya di pukul Karina.
"Eh-eh maaf, abisnya Kak Jeno ngeselin!." Jeno tertawa melihat wajah Karina yang tampak khawatir.
"Kak Jeno bener besok mau ke Singapore?," Jeno mengangguk tersenyum. "Ngapain kesana?,"
"Jenguk nenek aku, dia lagi sakit. Saudaraku yang lain pada sibuk sama kerjaanya, gaada yang jagain, kasian juga kan kalau sendirian disana." Karina mengangguk paham dengan ucapan Jeno.
"Semoga nenek kak Jeno cepet sembuh ya," Jeno mengangguk tersenyum.
"Ada satu hal lagi yang aku mau omongin Rin...,"
"Apa kak?,"
"Ekhem, kamu bilang kamu suka sama aku udah dari lama kan?," tanya Jeno.
"Ehmmm i-itu....,"
"Aku juga suka kamu kok," ucapan Jeno membuat Karina langsung terlonjak kaget.
"H-HAH?!."
Jeno terkekeh melihat tingkah gadis yang satu ini "Biasa aja dong kagetnya,"
"Kak ini mimpi ya?-----awwww!. Eh ga mimpi dong?,"
"Nyata kok nyata," ujar Jeno "udah segitu aja yang mau aku omongin, sisahnya nanti aja pas aku pulang dari Singapore,"
"Ih kok gitu?, omongin sekarang aja Kak,"
"Ga ah gamau. Udah malem aku mau pulang, sana kamu masuk ke rumah gi,"
"Ck, yaudah deh. Hati-hati kak, udah malem jangan ngebut,"
"Iya sayang,"
'Sial jantung gw yang baper,'
"Udah lah masuk sana ke rumah kamu, muka kamu udah merah banget kaya kepiting rebus."
"Ih apasih engga!," Karina keluar dari mobil Jeno dengan jantungnya masih yang berdetak begitu cepat.
"Karina!," panggil Jeno menghentikan langkah gadis itu.
Karina menoleh ke arah Jeno.
Chup
"Have a nice dream,"
Jeno dengan santainya berjalan menuju mobil setelah mencium pipi kanan Karina. Meninggalkan Karina yang masih terdiam membeku dan tak mengedipkan matanya sejak tadi.
Karina segera berlari menuju kamarnya, menelungkupkan wajahnya di dalam selimut sembari menedang-nendangkan kaki nya tampak kesenangan.
"OWH IYA?! WINTER!."
"Arghhh Karina bego bego bego!, bisa-bisanya lo lupa."
Karina segera mengambil ponsel nya, berusaha menghubungi salah satu teman nya.
"Halo Chenle,"
"Apa?, lo dimana Rin? Lo gaikut cari Winter?,"
"Lo bisa jemput gw ga?, gw tau dimana Winter."
"Seriusan lo?!,"
"Iya cepet ya, Winter pasti lagi dalam bahaya sekarang."
"5 menit lagi sampe,"
"Ok,"
"Jadi lo tau dimana Winter?," tanya Guanlin ke Karina.
"Dia ada di gedung belakang sekolah sama Shasha,"
"Kok lo bisa tau?, wah ada konspirasi apa ini?!. " bingung Daehwi.
"Panjang ceritanya, sekarang kita langsung aja kesana," ujar Giselle.
"Iya, kita harus cepet, oh iya jangan lupa hubungin Sungchan." Chenle langsung mengambil ponselnya menghubungi Sungchan.
"Tapi kita jangan gegabah ya disana, Shasha itu licik. Mau gamau kita harus buat rencana dulu,"
Semuanya terdiam memikirkan rencana yang tepat agar semuanya bisa teratasi.
"Gw ada ide," ujar Chenle cepat.
"Apa?,"
"Kita ikutin aja permainan dia terlebih dahulu. Baru kita tusuk dari belakang," semua mengangguk paham mengerti dengan ucapan Chenle.
"Oke setuju," semangat Guanlin.
"Apa disini gw doang yang ga paham sama omongan Chenle?," tanya Daehwi.
"Daehwi ayo tos, gw juga gapaham. Emang otak kita ga berbakat buat pecahin masalah kaya gini wi," ujar Ningning.
Tuh tuh aku apdet :)
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co