Truyen3h.Co

MUSIM DINGIN [✓]

2

nanayyyg_

Hari Senin biasanya menjadi hari paling sibuk bagi para remaja seumuran gadis itu. Biasanya anak remaja seumuran dia menghabiskan waktunya untuk belajar di sekolah dan bermain bersama teman, namun  Eirabelle Winter Iclyn, atau gadis yang lebih kerap dipanggil 'Winter' baginya hal itu hanya sebuah mimpi belaka yang taakan terwujud.

Sudah sekitar tiga tahun Winter tidak melakukan aktivitasnya seperti dulu. Gadis itu  hanya bisa mengurung diri di kamar dan melakukan semua aktivitasnya seorang diri. Ah, mungkin juga terkadang di temani abangnya kalau sedang tidak sibuk dengan segala urusan kuliah.

Kenangan buruk di masa lalunya membuat gadis itu trauma akan sesuatu. Dirinya selalu sulit untuk  bersosialisasi dengan teman-temannya apalagi untuk mereka yang berjenis kelamin lelaki.

Setelah tiga tahun Winter berhenti dari sekolahnya, semenjak itu pula dia hanya mulai belajar di rumah bersama guru privat.

Jujur dia sangat sedih karena tidak bisa merasakan keindahan masa SMA bersama teman-temannya, terlebih lagi dengan ketiga orang temannya Karina, Gisselle dan juga Ningning.

"Winter... Winter.... Main Yukkkkk" Teriakan dari seorang gadis di depan rumah.

Cklek

"Eh bang Jeffry, aduh kenapa sih bang tiap hari makin ganteng, kan hati Giselle jadi makin dugun-dugun nih!." Ucap Giselle saat Jeffry membuka pintu, menampakan wajah yang baru saja bangun dari tidur siangnya.

"Ehh? Gw kan  emang  ganteng tiap hari hahaha."

"Dih gantengan juga Kak Jeno kakak kelas kita, ya gak Ning?," Tanya Karina ke Ningning.

"Ga ah, gantengan bapak gw." Jawab Ningning.

"Untung temen gw lu Ning,  kalau bukan udah gw ceburin ke comberan samping."

"Ini temen lu pada kenapa sih?  nge gas Mulu  dari dulu, heran gw..., makin gede makin galak." Ujar Jeffry menatap Karina.

"Dia mah emang gitu bang, terdidik nge-gas sejak dini." Tambah Gisselle

"Oh iya Winter ada ga bang,?" Tanya Ningning .

"Ada setiap hari dia mah, masuk aja ke kamarnya, kalau bisa dobrak pintunya sekalian," ujar Jeffry kemudian ketiga gadis itu masuk, dan tak lupa menyapa bunda dan Ayah selaku pemilik rumah.

Tok tok tokk

"Go away Jeffry, i won't build a snowman with u"

"Lahk  siapa juga yang mau buat boneka salju?," bingung Ningning masuk ke kamarnya Winter.

"Eh kalian? Gw kira bang Jeffry,"

"Winterrrrrr nter nter nter kangennnnn." Gisselle mendorong badan Karina Agara membuka jalan nya untu memeluk Winter.

"Santai dong kalau jalan!," Karina.

"Ya maap,"

"Iya gw juga kangen kalian," balas Winter memeluk sahabatnya.

"Winter nter itu rumah kosong yang disamping udah ada yang tempatin ya?," Tanya Ningning.

"Oh iya udah ada,"

"Ada cogan ga nter?" Tanya nya lagi, kemudian Karina menoyor pelan kepala Ningning.

"Otak lu isinya nyari cogan Mulu, heran gw ," sahut Karina.

"Dih dari pada nyari cecan, kan lebih heran lagi,"

"Kalian tumben datang jam segini, emang gaada eskul?"

"Eskul diliburin semua, karena di sekolah besok bakalan di buat panggung pensi gitu, jadi takut tempat nya gamuat," jawab Karina selaku anak OSIS yang mengerti tentang setiap kegiatan sekolah.

"Nah mumpung kita lagi disini, main keluar yok," ajak Gisselle kepada teman-temanya.

"Gw gaikut."

"Nter, ayo ikut dong, ga bosen apa dirumah?,"

"Engga,"

"Nter ayo pliss, kan ada kita bertiga, lo gausah takut," ujar Karina.

"T-tapi Rin..,"

"Ayo Winter, lo tuh harus berani, emang lo mau masa muda lo habis cuma di dalem kamar doang?," tambah Ningning membuat Winter terdiam dan berfikir.

"Yaudah ayo," ujarnya membuang nafas pasrah.

"Yesss!," ujar mereka bersamaan

"E-eh tapi bukan cuma itu nter, lu harus mau  kita dandanin, masa iya lu jalan pake baju beginian terus, kaya maling tau gak?,"

"Kalian malu gw pake baju kaya gini?,"

"E-enggak, bukan gitu. Gw cuma pengen liat lu kaya dulu lagi, jangan terlalu tertutup kaya gini terus. Lu harus berani sekarang." Balas Gisselle menepuk pundak Winter

"Ck. Yaudah terserah kalian."

"Nah gitu dong!," semangat Ningning.

Ketiga temannya itu semangat untuk mendandani Winter dengan segala cara.

"Jangan tebel-tebel gw gasuka," ujarnya saat Gisselle memoleskan makeup di wajahnya.

"Iya kagak elah,"

"Nter pokoknya lo pakai baju ini, pasti cakep banget," ucap Ningning memperlihatkan dress yang di pegangnya sekarang.

"Nah ini sepatunya," tambah Winter.

"Dress nya kependekan,"

"Ih apasih, ini mah ga terlalu pendek. Kalau lu mau pakai yang panjang, sekalian aja pakai gamis ibu-ibu pengajian," jawab Ningning cerewet.

"Yaudah terserah." Lagi-lagi Winter pasrah dengan ide teman-temannya ini.

..

"Abang Eric Chana Abrian Sunggoyono pancakaryo Jayapura," ujar Sungchan memanggil abangnya.

"Anjir, nama dari mana itu?"tanya Koeun.

"Dari Uchan dong, keren kan,"

"Aneh yang ada," balas Koeun menggeleng kepalanya.

"Abangggg oy Abang,"

"Apasih?!, berisik banget. Game gw jadi mati kan."

"Main game mulu, gaada kerjaan lain apa?!."

"Emang gaada!."

"Ih bang, sepedaan yok!, dari pada di rumah terus."

"Males, mending rebahan dirumah, sambil main game."

"Bang ayo dong, kali aja abang disana bisa nemu cewe cantik terus bisa abang kardusin,"

"Jiwa kardus gw sudah hilang semenjak Somi datang ke kehidupan gw,"

"Halah, Somi nya di kardusin mulu di seriusin kagak,  abang lama banget nembak Somi, Sungchan jadi greget sendiri." Ujar Sungchan duduk di antara Echan dan juga Koeun.

"Bacot kamu tolong di kecilkan dulu ya sayang, gw kan majunya secara perlahan,"

"Lagi pula emang Somi mau sama lo?, " Koeun membuka suara.

"Nah bener tuh," setuju Sungchan.

"Ya pasti mau lah, secara gw kan mos wantet di sekolah,"

"Kak, ambilin kantong kresek tolong, perut Uchan mual mau muntah," ejek Sungchan.

Bugh

"Sakit Abangggg!!!,"

"Ga perduli!,"

"Ambil piso gih, biar sekalian main bunuh-bunuhan, capek gw ngeliat kalian di dunia ribut mulu." ujar Koeun lalu pergi ke kamarnya.

Sungchan langsung pergi meninggalkan Echan dengan rasa kesalnya. Dia pergi ke garasi dan mengambil sepeda untuk berkeliling ke daerah sekitar.

"Liat aja, pasti nanti dia nyesel gaikut sepedaan," gumam Sungchan seorang diri.

"Gilaaaa cantik banget temen gw!." Histeris Ningning melihat Winter.

"Tuhkan bagus, siapa dulu dong yang make up in," ujar Gisselle sembari mengibaskan rambutnya.

"Iya iya yang jago make up,"

"Udah ayo jangan lama-lama, nanti  kesorean," Karina mengambil tas sekolahnya.

"Ayokkkk,"

"T-tapi ga jauh-jauhkan?,"  tanya Winter

"Enggak kok,"

Taman dekat perumahan disini setiap sore terlihat lebih ramai dari sebelumnya, banyak anak-anak yang berlari ke sana kemari untuk bermain, banyak juga tukang jajanan di tepi taman.

"Abang somay empat porsi di bungkus ya," ucap Sungchan setelah memberhentikan sepedanya saat melihat tukang Somay di tepi taman itu.

Ah iya walaupun dia dan kakak-kakanya sering ribut, tapi jujur saja lelaki itu masih perduli kok untuk beliin Somay untuk mereka berdua.

"Siap mas ganteng, duduk aja dulu mas"

"Oke bang Somay ganteng," jawab Sungchan.

Sungchan duduk di kursi plastik yang disediakan, matanya berkeliaran menatap kearah sekeliling taman.

Hawa di taman ini sangat ceria dan menyenangkan, Sungchan sangat suka itu. Walaupun ramai dengan para pengunjung, taman ini ternyata tetap terjaga kebersihannya.

"Nih mas ganteng udah jadi somay nya," pedagang itu memberikan plastik  Somay yang  di genggam nya kepada Sungchan.

"Eh iya ini uangnya, kembalian nya abang ambil aja ya," Sungchan memberikan satu lembar lima puluh ribuan.

"Eh? Seriusan mas?, ini banyak banget loh kembaliannya, bisa dibeliin 7 somay lagi,"

"Gapapa kok, ambil aja," ujar Sungchan tersenyum  lembut.

"Aduh mas udah ganteng, baik lagi. Saya doain deh semoga cepet ketemu jodohnya ya," ujar pedagang itu menepuk pundak Sungchan.

" Abang bisa aja, eh tapi makasih doa nya bang, saya pergi dulu ya,"

"Iya mas ganteng."


Keempat gadis itu berjalan menuju ke sebuah  bangku taman samping pohon yang cukup rindang

Angin berhembus sangat lembut di kulit gadis-gadis itu. Sudah lama rasanya Winter tidak merasakan suasana seperti ini.

  Kejadian tiga tahun lalu , kejadian terburuk dalam hidupnya, yang membuat gadis itu takut dengan dunia luar, dan selalu menyalahkan dirinya dengan segala yang terjadi.

Semenjak itu ia semakin memandang dunia luar hanyalah neraka yang menyeramkan. Yang hanya di isi para penjahat yang berdosa.

Hanya keluarga dan  teman dekatnya yang memahami segala yang dirasakan Winter saat ini. Keluarga dan teman-teman Winter selalu berusaha untuk membuat gadis itu kembali tersenyum lagi seperti dulu, menjadi gadis ceria yang selalu menghibur setiap orang.

"Winter ayo sini gausah takut, kita ada disini." Ucap Karina menarik tangan Winter untuk ikut duduk bersamanya.

"Iyaa..," Winter duduk, berusaha menenangkan detak jantungnya saat melihat keramaian di sekitar.

Ujung bibirnya terangkat melihat beberapa anak kecil yang berlarian tertawa, mereka terlihat penuh bahagia, Winter selalu berharap agar tak ada orang yamg akan mengalami hal yang pernah Winter alami di masa lalu.

"Eh makan Somay kayanya enak ya," ujar Gisselle.

"Iyanih, mumpung deket situ ada yang jual, beli gih selle,"

"Ah males, lo aja Kar,"

"Suit aja deh," usul Karina dan di setujui Ningning da Gisselle.

"Gw gaikutan," lanjut Winter.

"Ih ikutan dong,  tukang Somay juga ga terlalu jauh kali nter,"

"Ck yaudah ikutan,"

"Ayoo gunting, kertas, batu,"

"Yesss!! Untung bukan gw," lega Ningning.

.
"Ayo silahkan mba Winter beli Somaynya,"

"Tuhkan, gw tuh gamau karena gw selalu kalah kalau diajak suit kaya gini," cemberut Winter.

"Mau gamau harus beli Nter, ayo sana beli," Karina memberikan uangnya ke Winter.

"Iyaa, tapi kalian gaakan tinggalin gw kan?, kalian tetep disini kan?."

"Ya enggalah, udah sana cepet ah, gw laper nih." Ningning mengetuk-ngetuk perutnya yang sudah berbunyi.

"Ck, yaudah sabar,"

Dengan terpaksa gadis itu berjalan pergi ke tukang Somay sembari menundukan kepalanya terlihat seperti ketakutan akan sesuatu.

🎵Pandangan pertama - Ran🎵

Sungchan memakirkan sepedanya di dekat taman, ah dia tidak memperdulikan jika ada yang mengambil sepeda itu nantinya, karena sepeda yang ia pakai saat ini adalah sepeda kesayangan abangnya.

Lelaki itu berjalan gagah, membuat banyak orang yang melihatnya terkagum dengan tinggi badan dan juga wajah tampan lelaki itu, ah tentu saja ia dapatkan dari orang tuanya.

Oh iya jangan di lupakan dengan pakaian hitam-hitam yang ia kenakan, membuat banyak gadis semakin jantungan saat melihatnya.

Sungchan mengambil satu bungkus somay yang tadi dia beli, kemudian berusaha membuka somay itu sembari berjalan menuju ke bangku taman.

Brug

"Awww," rintih seorang gadis yang baru saja terjatuh.

"Eh maaf maaf, saya ga sengaja," ujar Sungchan khawatir saat melihat gadis itu terjatuh karena dirinya.

Gadis itu mengangkat kepalanya "Ah i-iya gapapa, saya yang minta maaf," ujarnya sembari membersihkan pasir yang mengotori tanganya.

Lelaki itu terdiam terpaku tak bisa berbicara. Cantik , fikir lelaki itu, kemudian menggelengkan kepalanya berusaha fokus.

"Kamu ada yang luka ga?," tanya Sungchan

"E-enggak kok, saya pergi dulu, maaf sekali lagi," ujar gadis itu bangkit dan  berjalan.

"Eh tunggu dulu," panggil Sungchan memberhentikan langkah gadis itu.

"???,"

"Na-nama kamu siapa?," tanya Sungchan to the point, namun agak sedikit ragu.

"Musim dingin,"

Ujar gadis itu sedikit tersenyum kemudian berlari.

Sungchan terdiam tangan kanan nya memegangi dada, mengecek detak jantungnya yang berdetak sangat cepat.

Apa ini sudah saatnya bagi Sungchan untuk  menyanyikan lagu Pandangan pertama dari Ran?.



Ku rasa ku tlah jatuh cinta pada pandangan yang pertama

"Na-nama kamu siapa?,"

"Musim dingin,"



Next?

 ©nanayyyg_

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co