Truyen3h.Co

MUSIM DINGIN [✓]

25

nanayyyg_

Setelah dua minggu dirawat di rumah sakit, dan seminggu istirahat di rumah, akhirnya gadis itu  bisa beraktivitas  kembali di sekolah nya.

Pagi hari sekali gadis itu sudah rapih dengan seragam dan juga rambut rapih yang terurai indah, ditambah dengan jepitan rambut kesayang nya, yang seingat nya dulu diberikan Shasha saat ulang tahun.

Entah kenapa sekarang ia lebih berani dan bersamangat tak seperti biasanya. Rasa percaya diri nya kembali muncul, tak lagi menjadi Winter yang penutup dan juga takut dengan keramaian.

Winter bahagia, semuanya kembali lagi seperti semula. Semua ini berubah semenjak lelaki itu hadir dalam hidupnya. Ya siapa lagi kalau bukan.....

Cklek

"Pagi musim dingin masa depan Sungchan!,"

Sungchan.

"Pagi jugaaaa!." Semangat nya.

"Eh apanih?!." Tanya Sungchan heran.

"Ha?, kenapa?,"

"Ini kenapa sih?,"

"Apa nya?,"

"Kamu,"

"Kenapa sih?, aneh ya?,"

"Kamu kenapa?, kenapa makin hari makin cantik!."

Uhuk uhuk

Jeffery yang baru jalan sembari memakan rotinya langsung keselek denger omongan Sungchan.

"Lancar modusnya ya bun, " ujar Jeffery.

"Aduh anak bunda di modusin mulu, kapan nih jadian nya?," tanya bunda Taeyona usil.

"Ganteng doang tapi tukang modus," celetuk Baekhyun.

"Ayahhh!."

"Bercanda doang, dasar anak ayah yang paling galak."

"Ih!."

"Udah siap belum nih?," tanya Sungchan.

"Udah?,"

"Oke. Ayo gas  ke KUA,"

"Sungchan!."

"Bercanda doang, dasar calon masa depan Sungchan yang galak," ujar nya mengusak rambut Winter.

"Ayah Bunda, Winter berangkat sekolah ya." Ujarnya keluar dari rumahnya dengan hentakan kaki yang sedikit kesal.

"Eh eh tungguin dong,"

"Gamau!."

"Ih kan aku mau berangkat sekolah bareng kamu naik sepeda,"

"Kan gaada sepeda Daehwi," elak Winter.

"Oh iya ya..., gimana dong,"

"Tuh pake aja si Asep ," ujar Jaehyun melemparkan kunci.

"Asep siapa bang?,"

"Motor gw,"

"Ga elit banget namanya Asep," cibir Sungchan.

"Terserah gw dong, motor motor gw!."

"Satu keluarga isinya macan semua," gumam nya pelan.

"He ngomong apa lu?!."

"Eh e-engga, cuma mau bilang makasih bang Jeffery ku i lop yu tri tausen muach. "

"I lop yu tu muach," Winter yang melihatnya sudah mau muntah. Bisa-bisanya mereka saling berbagi heart sign menggunakan jari di depan Winter.

"Sungchan ayo cepet ih!."

"Sabar sayang,"

"Ih yang bener!. Ayo cepet!"

"Iya-iya pokoknya besok kita nikah,"

Brukkk

"Ngomong lagi sini kalau berani!." Ancam Winter mengepalkan tanganya.


Winter turun dari motor vespa merah milik Jeffery, menunggu Sungchan merapihkan motor tersebut di parkiran.

"Udah?," tanya Winter, di jawab anggukan oleh Sungchan.

"Kenapa sih kok semangat banget?,"

"Kangen sekolah,"

"Kangen aku engga?,"

"Engga."

"Ah iya iya aku tau kamu pasti malu ngomongnya, aku juga kangen kamu kok," Sungchan mendekatkan dirinya ke Winter sembari melebarkan tangan.

"Ih apansih!. Jauh-jauh!,"

"Oh iya,  musim dingin."

"Hm?,"

"Aku punya sesuatu untuk kamu, tapi tutup mata dulu yuk,"

"Ha?, apaan?."

"Rahasia!." Sungchan mengambil satu kain yang udah ia siapkan dari rumah. Emang niat banget nih anak.

"Jangan kenceng-kenceng iketnya,"

"Iya-iya," Sungchan mengambil tangan kanan Winter, menuntun gadis itu.

"Emang harus banget di sekolah nih kejutanya?, kalau ada yang liat gw jalan kaya gini kan jadi malu."

"Ya biarin aja, yang malu kan kamu bukan aku,"

"Sungchan!."

"Sabar-sabar dikit lagi sampai."

Tanganya menuntun tangan mungil Winter menuju tengah lapangan, tak ada sama sekali suara keramaian di kuping Winter, semuanya sangat sunyi. "Sungchan ini mau kemana?,"

"Udah, kamu buka matanya ya...," Sungchan memulai hitungan mundur.

3

2

1

"WELCOME BACK WINTER!!!!!!," Teriak semua orang saat Winter membuka matanya.

"L-loh...," mata nya berbinar melihat semua siswa yang mengelilinginnya sembari membawa beberapa tulisan.

"Winterrrrr semangat ya!!,"

"Semangat Winter, kita semua disini ada untuk lo!."

"Gausah takut lagi ya, mulai sekarang harus berani,"

"Lo spesial Winter, lo paling spesial."

Teriakan para murid semakin membuat Winter senang tak tertandingi. Gadis itu menoleh ke arah Sungchan yang ada di sampingnya.

"Sungchan...," Winter teringat cerita Shasha saat minta maaf karena telah menyebarkan berita tentang masa lalu nya kepada semua siswa di sekolah.

"Ini ide temen-temen kok, Shasha juga yang bantuin, dia udah minta maaf ke semua siswa disini."

"Winter!." Panggil gadis itu keras menghampiri Winter.

"Maafin gw ya sekali lagi...," Shasha memeluk tubuh Winter.

"Iya Sha, gw akan selalu maafin lo. Makasih juga untuk semuanya,"

"Oh iya ada satu lagi...," ujar Ningning yang tiba-tiba ada di samping Winter.

"Apa?,"

"Ayo Sungchan...," ujar Karina.

"Ekhem tes tes tes 1 2 7,  " mata Winter menoleh ke sumber suara.

"Halo semuanya, gw Sungchan. Pertama-tama gw mau bilang makasih dulu ke guru-guru nih yang udah mau mutualan untuk buat kejutan ini. Makasih karena kalian juga udah memahami kondisi Musim--- eh Winter,"

"Sungchan ngapain sih Ning?," tanya Winter.

"Kita liat aja dilan 2021 beraksi," jawab Ningning.

"Sungchan cepet ngomong!." Teriak Chenle.

"Aduh sabar dong, malu nih gw diliatin banyak orang,"

"Bukanya urat malu lo udah putus Chan?," tanya Guanlin.

"Okay, jadi gini. Berdirinya Sungchan disini karena ingin sampaiin sesuatu ke temen-temen sekalian."

" Pertama makasih banget untuk kalian yang udah bisa ngertiin keadaan Winter, Sungchan tau kalian pasti masih punya hati nurani, sehingga kalian gak mengeluarkan kata-kata yang menjijikan seperti sebelumnya."

"Kalian semua tahu kan, kalau setiap manusia pasti punya kekurangan. Begitu juga dengan winter dan kita semua. Gak ada satupun manusia yang tak luput dari kekurangan dan kesalahan. Seandainya takdir bisa dipilih, pasti kita sebagai manusia juga mau memiliki takdir dengan segala alur yang baik dan juga lancar kan?. "

"Sama seperti Winter gadis 17 tahun yang mungkin udah mengalami berbagai macam hal yang berat dalam hidupnya. Mengalami berbagai kejadian yang mungkin juga pernah di alami orang lainnya. Tapi kalian tahukan?, bahwa semua itu bukan salah mereka, mereka hanya korban dari bejatnya para pelaku."

"Seandainya ada orang yang mengalami hal sama seperti Winter, gw harap kalian ga akan mengeluarkan kata-kata menjijikan seperti dulu lagi, seharusnya orang seperti mereka harus kita dukung."

"Mereka benar-benar butuh dukungan dari kita, memang mungkin gak terlalu berat kalau di ceritakan, tapi siapa yang tahu?, karena kita belum pernah merasakan hal itu. Dan yang tahu cuma mereka yang  pernah mengalami. "

"Mulai sekarang gw harap, gak akan ada kejadian seperti ini lagi untuk selanjutnya. Kita harus saling menghargai dan mendukung setiap orang seperti mereka. Seperti yang selalu guru-guru ajarkan, bahwa kita harus selalu menghargai sesama manusia, kita harus saling membantu. Jangan cuma di dengarkan, kita harus ikut lakuin semua itu."

"Sekian, bacotan dari gw. Gw harap semua ini bukan cuma untuk di dengarkan lalu dengan sekejap dilupakan. Semoga kita semua bisa menjadi orang yang lebih baik ke depan nya."

"Makasih semuanya, Sarangek i lop u tri tausen muach,"

"Padahal Sungchan yang ngelakuin, kok gw yang malu ya?," gumam Echan.

"Oh iya ada satu lagi nih, Sungchan ada pantun untuk musim dingin,"

"Adohhh apanih,"sahut Daehwi keras.

"IKAN HIU BERENANG DI SUNTER,"

"CAKEP!."

"I LOVE U WINTER,"

"ASEKKKKKK,"  semuanya bertepuk tangan dengan gembira mendengar pantun receh dari Sungchan.

"Eh?!. Bukan adek gw bukan adek gw." Teriak Echan malu sendiri.

"Asek neng Winter ahay," goda Ningning menyenggol bahu Ningning.

"Sungchan cukup!. Turun dari mimbar, waktu kamu udah abis," ujar Pak Johny.

"Eh eh iya pak, maaf maaf, bye semuanya muach,"

"Bukan temen gw!." Teriak Guanlin.

Dua remaja itu berjalan bersama di tengahnya daun berguguran. Entah apa yang Sungchan pikirkan, karena lebih memilih memberikan Asep ke Echan, sedangkan dia dan Winter pulang berjalan kaki.

"Kenapa sih malah di kasih ke bang Eric?," tanya Winter.

"Gapapa, jalan kan sehat,"

"Bilang aja mau lama-lamain sama gw,"

"Tuh pinter."

"Eh?,"

"Gimana menurut kamu tadi pas aku di mimbar,"

"Hmmm... awalnya bagus, tapi akhirannya malu-maluin banget."

"Musim dingin, kamu tuh kebiasaan deh kalau ngomong jujur banget tapi nyakitin."

"Bagus dong, dari pada manis tapi ternyata bohong,"

"Iya juga sih,"

"Eh tapi ini kita seriusan jalan kaki?,"

"Iya dong, emang kenapa?. Kamu capek ya?, kalau capek sini aku gendong," Sungchan segera membungkukan badan nya di depan Winter.

"Ih apaansih, gw masih kuat jalan,"

"Yaudah, kalau capek bilang aja, biar aku gendong nanti, mau di gemblok atau bridal style,"

"Kebiasaan deh, berisik." Celetuk Winter

"Tapi kamu suka kan?,"

"Iya,"

"EH?! SERIUSAN?!."

"Maunya di seriusin atau di bohongin?," tanya Winter.

"Seriusin dong!." Winter tersenyum mengangguk.

"Tunggu tunggu!." Sungchan menghentikan langkahnya.

"Kenapa?,"

"Jantung Sungchan deg deg an nih," Winter terkekeh.

"Lebay ah, baru juga bilang 'iya', belum bilang 'sah'."

"Aduh kode nih, pasti mau di nikahin aku kan?,"

"Dih apaansih?!."

"Iya iya, tunggu 5 tahun lagi ya, nanti aku  nikahin kamu kalau udah sukses."

"A-paansih, kok jadi bahas ginian."

"Kan kamu yang kodein duluan,"

"Ih enggak kok!."

"Iya-iya cowok selalu salah,"

Mereka berdua berjalan menikmati semilir angin yang seakan menemani kesunyian ini.

"Makasih ya," ucap Winter sekilas.

"Untuk?,"

"Makasih untuk semuanya, gw ga pernah nyangka kalau lelaki yang awalnya gw anggap aneh, justru malah menjadi lelaki yang saat kini paling buat gw bahagia,"

"Kehadiran lo udah buat kebahagian gw balik lagi Sungchan."

"Mungkin kalau gak ada lo, sekarang gw tetap menjadi gadis pendiam dan penakut akan segala hal."

"Makasih nya jangan ke aku dong," jawab Sungchan.

"Terus ke siapa?,"

"Ucapin makasih ke Tuhan yang udah mempertemukan kita, dan makasih untuk diri kamu yang udah berani untuk melangkah lebih jauh dari zona nyaman," Sungchan mengambil satu tangan Winter.

"Sungchan...,"

"Apa?,"

"Masih mau jadi bola salju untuk gw ga?,"

"Boleh ga nih?,"

"Mau ga?,"

"Mau banget."

"Yaudah,"

"Apa?,"

"Boleh." Winter berlari meninggalkan Sungchan.

"Ehhh tungguin dong,"

"Gamau!."

Greppp

"Ketangkep hehehe," tawanya memeluk Winter.

"Lepas ih, nanti ada yang liat."

"Gamau, mau maksiat dulu sebentar,"

"He?!."

"Engga yang berlebihan serius,"

"Lepas Sungchan....,"

"Gamau musim dingin....," bukannya melepas pelukan merek, Sungchan justru malah semakin mengeratkan.

"Mau jadi masa depan aku ga?," tanya Sungchan.

"H-ha?,"

"Bantu aku ya..., untuk ngisi lembaran baru di masa depan,"

"Kalau gamau gimana?,"

"Harus mau!."

"Dih maksa."

"Egois sekali-sekali halal kali ya,"

"Terserah deh."

" mau kan?," tanya Sungchan sekali lagi.

"Iya-iya terpaksa."

"Kok gitu jawabnya,"

"Kan lo paksa."

"Gemesh banget sih!." Sungchan sontak mencubit pipi gadis itu.

"Ih sakit!."

"Sini peluk lagi, aku masih kangen." Kali ini Winter tak menolak, gadis itu pasrah dan juga jujur bahwa dirinya juga rindu sosok lelaki di depan nya.

"I love u,"

"1432,"

"Ha?,"

"Cari di gugel ya nanti," Winter melepaskan pelukan Sungchan, kemudian berlari cepat.












End?

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co