Truyen3h.Co

MUSIM DINGIN [✓]

26

nanayyyg_

Hari ini Sungchan udah semangat 45 bangun pagi untuk menjalani hari baru bersamaan dengan dengan status yang baru asekkkk.

Dia udah mandi pagi banget sekitar jam setengah enam. Satu keluarga pada heran, karena biasanya di hari libur Sungchan pasti mandi bisa jam 12 siang, itu juga harus diomelin dulu sama mama Victoria.

"Tumben udah ganteng bener, mau kemana anak papa?," tanya Jaejoong di meja makan bersama keluarga kecilnya.

"Mau apelin musim dingin pah!." Jawabnya semangat.

Uhuk uhuk

Itu Echan yang keselek, dia ganyangka banget adik nya jadi tambah gila sekarang. "Lu ngapelin pagi-pagi begini gitu?," Sungchan mengangguk semangat. "gw yakin 100% nanti lu diusir sama Winter."

"Jahat lo bang!."

"Emang adek udah pacaran sama Winter?," tanya Mamanya.

"Ud---- eh udah belum ya?,"

"Tuhkan emang ga jelas hidup lu," celetuk Echan.

"musim dingin sih udah bilang suka juga sama Uchan mah. Tapi Uchan belum sempet nembak dia dengan resmi."

"Ck ck ck kamu gimana sih dek. Yang gentle dong jadi cowok. Masa mau nunggu cewenya duluan yang maju."

"Gentle gimana lagi pah?, Uchan bingung tau."

"Sini sini gw ajarin nembak cewe yang bener," ujar Echan menarik kera baju Sungchan.

"Ga mau sama lo. Sesat yang ada,"

"Eh sialan!. Lo ga tau aja ya, modelan bule kaya Somi aja bisa gw tembak tepat sasaran. Jadi gausah diragukan lagi,"

"Iya juga sih, yaudah untuk kali ini i trust you bang Echan, tapi ga pake pelet kan?,"

"Sok inggris lo Jaenal!. Anti pelet lah, gw ganteng gini mana sudi main pelet-peletan."

"Idiw pede banget," sinis Koeun.

"Dih sewot aja lu mak lampir."

"Bodo!."

"Aduh berantem mulu sih kalian, heran papa. Coba sekali-sekali saling sayang-sayangan biar enak diliat gitu lho."

"Sayang adikku Sungchan,"

" sayang abangku Echan."

"Jijik!." Gumam Koeun melihat dua adiknya.

"Gak sayang  Koeun!." Jawab Sungchan dan Echan bersamaan.

"Musnah kau Koeun."

Tok tok tok

"Dek buka pintu nya," ujar Victoria

"Bang buka gih. Gw lagi makan,"

"Eh Wakidi. Buta mata lo?!. Gw juga lagi makan."

"Ck. Dasar males," akhirnya Sungchan beranjak membuka pintu rumahnya.

"Siapa sih dateng pagi-pa----- pagi Musim dingin!~~."

"Hai~,"

"Aduh manis banget heran."

"Masih pagi!. Jangan buat gw enek denger gombalan lo."

"Eh perdana nih kamu ke rumah aku, harus aku abadikan dulu."

Cekrek

"Ih apaansih?!. Apus gak fotonya!."

"Gamau wle,".

"Ck. Ngeselin."

"Tapi kamu suka kan?. Oh iya Kamu mau ngapain?,"

"Ini bunda buat soto, katanya suruh mama lo cobain." jawab Winter memberikan kotak kue pemberian bunda Taeyeona.

"Baiknya calon mertua,"

"Siapa yang dateng dek?." Tanya Victoria agak keras dari ruang makan.

"Ini mah calon menantu mamah yang dateng,"

"He?!."

"Masuk dulu yuk, kenalan sama keluarga dari calon suami kamu." tanpa mendengar jawaban dari Sang empu, dengan seenaknya lelaki itu menarik tangan  Winter.


Tepat jam 7 pagi Karina yang baru saja bangun langsung kaget saat ada lelaki berbadan tegak dengan senyum bulan sabitnya berdiri di depan pintu kamar.

Dia menepuk pipi nya lima kali berturut-turut. Berusaha menyadarkan bahwa ini bukan lah mimpi. Melainkan hanya  hayalan author di dunia oren.

"Pagi~,"

"Arghhhhhh!!!!. Gila gila gila Ini bukan mimpi kan?!."

"Nyata kok nyata." Jawabnya tersenyum lebar. "Sini aku cubit pipinya,"

" nyata?!. Arghhh!!! Ngapain kesini?!."  Tanyanya keras.

"Loh ga boleh dateng ke rumah pacar?,"

"E-eh gagitu, m-maksud Karina tuh...," Jeno terkekeh melihat wajah salting Karina. "Ih ngapain pagi-pagi banget. Karina masih iler-an begini." Ujarnya lusuh malu melihat dirinya sendiri.

Kenapa sih dia harus tampil di depan Jeno disaat dia masih pakai piyama gambar minion dan juga wajah bantal sama iler nya masih ada. Sumpah mau menghilang aja dari dunia rasanya.

"Tetep cantik kok."

"Ih apaansih kak. Basi, jangan jadi Sungchan yang tukang gombal."

"Yaudah-yaudah aku ga jadi Sungchan deh."

"Kak Jeno kapan sampai Indonesia?,"

"Kemarin sore,"

"Kok gabilang?, kan aku mau jemput di bandara."

Tuk

"Emang aku presiden yang harus di jemput di bandara pakai mobil sedan,"

"Iya dong, presiden rumah tangga kita nanti." Jeno tertawa lantang.

"Tadi katanya jangan gombal, tapi sekarang kamu yang gombal."

"Hehehe kalau aku gapapa," Jeno mengusak-usak rambut gadis di depan nya dengan gemas.

"Kamu receh juga ternyata,"

"Eh tapi serius aku nanya, Kak Jeno ngapain kesini?,"

"Mau ajak kamu nge-date,"

"Pagi-pagi gini?," Jeno menggeleng. "Trus kenapa datengnya pagi buta begini?,"

"Kangen."

Tolong kaki gw lemes.

"Tadi aku udah izin ke mama  kamu,"

"Seriusan?,"

"Ngapain bohong."

"Ih tunggu aku mandi dulu 1 jam,"

"Kamu mau mandi apa bertapa?,"

"Mau gelar konser gratis." Jeno dari tadi cuma terkekeh sama ucapan Karina. Dia gatau kalau Karina ternyata se receh dan se lawak ini. Tapi gapapa lah ya, cocok sama Jeno yang hidupnya terlalu monoton.

"Sim Sim,"

"Hm?,"

"Aku mau ajak kamu double date mau ga?,"

"Double date?,"

"Iya, sama si Jenrina."

"Kemana?,"

"Rahasia."

"Yaudah gaikut."

"Ih kok gitu sih!."

"Kasih tau dulu makanya. Nanti kalau ternyata lo ada niat jahat untuk culik gw gimana?,"

"Yaampun engga lah. Palingan aku culik, trus  bawa ke KUA,"

"Sungchan!."

"Iya sayang apa?,"

Tak

Sungchan meringis dengan jitakan dari Winter "mulai deh,"

"Eh tapi aku bingung, kita udah jadian belum sih?," Winter diem gatau mau jawab apa.

"Ekhem," pura-pura batuk dulu. " gatau."

"Aku langsung lamar aja gimana?,"

"Boleh aja, kalau maharnya mobil tesla kaya punya Chenle." Gurau Winter.

"Mundur deh, aku pengangguran."

"Tuh tau diri,"

Sungchan elus dada, untung stok kesabarannya gak pernah habis  untuk hadapin gadis di depan nya.

"Gemesh deh, jadi pengen aku cipok."

Winter melotot tajam ke arah Sungchan.

"He?!. Anak bocah!. Masih kecil udah cipok-cipokan. Sini cipok sendal swallaw gw dulu sebelum cipok adek gw!." Jeffery mengangkat sendal dari kakinya, kemudian berjalan mendekat ke arah Sungchan sebagai ancaman.

"Eh eh enggak gitu bang, Sungchan khilaf. Tadi cuma bercanda serius dah." Dia lari ketakutan.

"Di ancem pake sendal aja lu udah ketakutan bocah, apalagi kalau di ancem untuk tanggung jawab."

"Kalau udah mildun mah pasti gw tanggung jawab bang." Jawab Sungchan.

"Cih. Ga percaya gw kalau gaada bukti."

"Mau gw buktiin?, okay kalau gitu,"

"Musim dingin ayo kita buat dede bayi gemoy di kamar."

"HE?!!,"

"Bener-bener lo ya Jaenal!. Sini mulutlo gw tampar pake sendal dulu!!."

Bruk

Brak

dug

"Mama!!! Bang Jeff siksa Uchan!!!."

Semilir angin berhembus kencang, bau pantai kini semakin tercium dan pasir putih semakin terasa di kaki. Karina dan Winter masih berdiri dengan tatapan kosong melihat keindahan pantai yang tiada tara.

Kedua gadis itu mulai menatal lelaki di samping mereka.

"Cantik ga pantai nya?," tanya Sungchan ke Winter yang masih menatapnya dalam.

Winter tersenyum "banget."

"Iya kaya kamu,"

"Apasih kang kerdus." Celetuk Karina.

"Ye, bilang aja iri lo. Jeno pacar lo tuh jangan dianggurin terus,"

"Ih apaansih Sungchan!." Kesal Karina memukul bahu Sungchan keras.

"Sunhchan." Jeno memberikan kode kepada lelaki itu.

"Okay paham,"

"Mau ngapain?," Karina dan Winter kebingungan.

"Adadeh, Musim dingin, ayo kita kesana." Ujarnya menunjuk tepian pantai.

"Ayo rin kesana," Jeno menunjuk ke lawan arah.

"Pisah?," tanya Winter.

"Iya dong, kita ga boleh jadi nyamuk diantara Jeno Karina,"

"Yaudah ayo rin," dengan segera Jeno menggenggam tangan Karina membuat gadis itu terdiam membeku, namun jantungnya berdetak 127km/jam.

Kedua pasangan itu pergi berlawana arah. Sama seperti Jeno dan Karina, Sungchan dan juga musim dingin nya tak mau kalah untuk bergandengan, walaupun dia sempat mendapat tatapan tajam  saat berusaha mengambil tangan Winter.

"Biar kamu ga ilang," ujarnya tersenyum licik.

"Kan gw udah gede, ga bakalan ilang. Seandainya ilang juga bisa cari jalan pulang sendiri."

"Y-yaa gimana ya...,"

"Maksud si Aa' tuh dia mau Pegangan sama  a neng geulis, liat tuh tangan nya si Aa'udah karatan ga pernah gandeng cewe." Ujar seorang lelaki tua yang melewati mereka.

Sungchan tersenyum, ternyata bapak itu peka juga ya, "makasih bapak." Ujarnya.

"Gw izinin, cuma sebentar."

"Asekkkk," mereka berdua berjalan beriringan menyamakan setiap langkah, sambil mengayunkan gandengan tangan yang masih bertaut.

"Kalau misah kaya gini berarti bukan double date," ucap Winter.

"Double date dong, cuma sekarang misah dulu ,"

"Terserah deh."

"Eh sini deh, " Sungchan menarik tangan gadis itu dengan cepat. "Sini duduk."

"Jadi kesini untuk liat senja?," Sungchan mengangguk semangat.

"Kamu ingat gak?, yang dulu pernah kita lakuin di danau?,"

"Lempar baru ajaib?,"

"Iya, nah kalau dulu kamu ngelempar batu itu dengan harapan untuk hilangin semua rasa sedih kamu, kalau sekarang beda lagi, bukan pakai batu ajaib."

"Pake apa?,"

"Pakai kertas, kamu coba sekarang tulis semua harapan kamu di kertas itu," ujarnya memberikan selembar kertas dari kantung celananya. "Kertasnya udah lecek, tapi gapapa, yang penting masih bisa bermanfaat. Oh iya, nih pulpen nya."

"Harus banget di tulis nih?,"

"Harus!. Wajib dalam kamus kebahasaan kelauarga kita nanti."

"Gw buang nih kertasnya!." Ancam gadis itu.

"Eh eh iya iya jangan,"

Winter mulai menulis kata demi kata dalam kertas itu. "Jangan ngintip!."

"Iya yaampun, galak banget sih, kamu juga jangan ngintip kertas aku."

"Siapa juga yang mau ngintip,"

semilir angin dan matahari yang kini mulai menurun menjadi saksi bisu antata mereka berdua yang menulis setiap harapan bersama.

"Aku udah selesai, kamu udah belum?,"

"Nih, terus di apain?,"

"Di lipet, terus kamu masukin botol  ini,"

"Botol coca-cola nih?,"

"Iya hehe, tadi mungut di jalan."

"Berbakat jadi tukang pulung." Celetuk gadis itu.

"Yang penting halal, sini botolnya." Sungchan mengambil botol coca-cola kaca dari tangan Winter. Kemudian memasukan kertas harapan nya tadi, menutup botol itu dengan penutup Wine yang juga tadi ia temukan di jalan.

"Sekarang ngapain lagi?,"

Lelaki iti menjulurkan tanganya, "pegangan dulu,"

"Modus mulu."

Tak memperdulikan ucapan Winter, Sungchan langsung menarik tangan gadis nya, menautkan erat setiap jari sembari memandang indahnya senja di hari ini.

Sungchan memberikan isyarat kepada Winter untuk memegang botol itu secara bersamaan, kemudian di lemparnya ke air pantai. "Musim dingin..., kamu tau ga?, kenapa aku simpan kertas harapan aku di botol yang sama dengan kertas kamu?,"

Winter menoleh menatap lelaki di sampingnya "kenapa?,"

"Di dalam botol itu ada dua kertas harapan milik kita berdua, di mana kertas itu gaakan pernah  terpisah dari kertas yang satunya. Mereka terperangkap di dalam botol yang sama"

"musim dingin, kali ini aku mau egois dulu ya, aku mau kita menjadi  seperti dua kertas yang tak pernah terpisah tadi. Aku mau kamu selalu di samping aku, terus bersama. Aku mau kamu jadi orang yang  menemani aku untuk mengabulkan setiap harapan baik yang ku tulis tadi, maupun setiap harapan yang ada di masa depan."

Winter mengelus tautan tangan mereka berdua. "Kalau gitu, gw juga mau lo jadi orang yang nemenin gw untuk membuat setiap harapan gw jadi nyata."

"Sungchan...,"

"Iya?,"

"Makasih ya.., karena kamu, aku sekarang jadi berani untuk membuat harapan yang lebih tinggi lagi. Karena kamu, aku bisa berani untuk lawan semuanya. Sosok lelaki aneh yang awal nya aku kira menyebalkan, sekarang malah jadi lelaki yang mengubah hidup aku lebih berwarna, gak monoton lagi kaya dulu."

"Aku cuma sedikit bantu kamu, dan seharusnya kamu harus berterima kasih sama diri kamu sendiri, karena kamu kuat  untuk bertahan sampai di titik ini."

"Sungchan...,"

"Iya?,"

"Jangan pergi ya..., tetap disini, temenin musim dingin," Sungchan tertegun dengan penuturan Winter barusan.

Lelaki itu tersenyum, "aku akan selalu sama kamu, kamu juga harus ya, wajib hukumnya di kamus Sungchan."

"I love you," ujar gadis itu langsung menoleh ke arah lain, menutupi rasa malunya.

"Eh apa??,"

"Ngomong apa tadi?, aku gak denger." Goda Sungchan.

"Akucintakamu," ujarnya cepat.

"Ngomong apasih, kaya kumur-kumur tau."

"Ih!. Gatau ah males."

Sungchan terkekeh, kemudian memeluk tubuh Winter erat. "Aku juga cinta kamu, sekarang dan untuk selamanya."

"Aku janji akan selalu di samping kamu, kita selalu bersama untuk mewujudkan setiap mimpi kita," lanjut Sungchan kemudian meregangkan pelukan mereka berdua.

"Ekhem. Musim dingin,"

"Apa?,"

"A-aku boleh cium kamu ga?," Winter membesarkan matanya kaget. "Cuma cium seriusan, gaakan kebabalasan untuk buat dede bayi gemoy,"

"Sungchan!."

"Y-yaudah kalau ga boleh," pasrahnya dengan wajah kecewa.

Chup

Dengan secepat kilat, Winter mengecup bibir Sungchan, kemudian menutup wajahnya malu, sembari merutuki kebodohan dalam dirinya.

Sungchan tersenyum, sungguh dia tak percaya jika first kiss nya Winter yang mengambilnya terlebih dahulu.

"Cie cium-cium duluan." Goda Sungchan.

"Ih apaansih!."

Sungchan mengambil tangan Winter yang masih menutupi wajah cantiknya. Sungchan menangkup wajah mungil gadis itu.

Mata mereka bertemu, saling memandang dalam nya tatapan yang di penuhi cinta. "Kamu cantik,"

"Kamu jelek." Jawab Winter.

"Tapi kamu suka kan?," Winer mengangguk membuat Sungchan terkekeh sekian kalinya.

"I love u....

Sungchan mulai mengikis jarak diantara mereka berdua,

Forever.....,"

Chup

Winter :

Harapan gw yang pertama, selalu di kelilingi dengan orang yang sayang sama gw dan  gw berharap mereka terus bahagia, tanpa mendapatkan rasa sedih sedikit pun. Semoga bisa menjalani hidup dengan lebih baik lagi kedepannya.

Dan khusus untuk lelaki di samping gw, gw buat satu harapan khusus nih untuk lo.

Semoga lelaki aneh ini selalu bahagia, dan mendapatkan semua yang terbaik. Kalau memang gw ga baik untuk dia, gw harap dia bisa dapat yang jauh lebih baik lagi.

Selalu bahagia ya Sungchan :)

Sungchan

Kalau Musim dingin bukan jodoh gw, gw harap dia bisa dapat yang lebih baik. Tapi boleh maksa ga sih?, gw mau banget dia jadi masa depan gw. Gw mau dia jadi wanita terbaik yang gw sayangi dalam hidup gw setelah mama dan kak Koeun.

Tuhan tolong, kali ini Sungchan request Musim dingin untuk jadi  jodoh Sungchan, uchan janji ga akan minta ganti seriusan.

semoga dikabulin deh ya.





End

Ges  akhirnya selesai huhu T_ T. Gw gatau bakalan ada bonchap lagi atau engga.

Maaf banget udah gw gantungin sebulan, dan Makasih banget yang udah dukung gw selama ini. Makasih untuk segala vote yang kalian kasih. I love u ❤

Pantengin aja gais, gw mau selesaiin dulu chapter ini, biar kalian ga kelamaan nungguin update huhu:(.

Kemungkinan ini story bakal gw publish bulan maret. Lama?, iya mau gw selesaiin dulu hehe

Makasih pokoknya untuk semua vote dan komen di cerita ini❤

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co