Truyen3h.Co

MUSIM DINGIN [✓]

4

nanayyyg_


Double update huhu

Vomentnya sepi banget kaya kuburan

.

Happy Reading

"Sungchannnn!!!!, Sungchan" teriak Echan berlari ke kamar mereka.

"Apa sih teriak-teriak udah kaya orgil," jawab Sungchan yang masih sibuk merbahkan tubuhnya.

"Bentar, gw gamau berantem dulu nih sat."

"Tumben biasanya ngajakin berantem.

..., Ehh?! Abang kenapa mimisan?!, Mama abang mim- mmmmm," teriak lelaki itu kencang.

"Ih jangan ngadu terus bisa ga sih?!." Kesal Echan membekap mulut Sungchan.

Setelah Sungchan diam tak ada suara, Echan langsung melepas tanganya dari mulut sang adik.

"Pweehhh tangan lu bau ikan asin bang,"

"Makanya jangan bacot." kesalnya menatap tajam Sang adik. " padahal tadi siang gw makanya ikan teri bukan ikan asin." Ujarnya mencium telapak tangan.

"Ih tapi abang tumben mimisan, abang kenapa?, abang ga sakit kan? Bang?, cerita sama Uchan jangan di sembunyiin."

" Walaupun Uchan suka kesel sama abang, tapi Uchan masih perduli kok sama abang serius deh bang. Uchan juga masih bisa nangis kalau abang meninggal nanti," ujarnya cepat dalam satu nafas.

"Lu mau nanya atau doain gw meninggal ha?!," kesal Echan yang masih sibuk memeggangi tisu di hidungnya.

"Mau nanya hehe, emang itu idung kenapa sih?"

"Lu tau tetangga sebelah kita ga?," tanya Echan duduk di bangku meja belajar.

"Tau-tau-tau, bang Jeffery kan?," Echan mengangguk meng-iyakan.

"Lo kenal adeknya ?,"

"Engga sih, cuma dia pernah bilang kalau dia punya adek cewek, tapi Uchan ga pernah liat mukanya." Ucap Sungchan membuat Echan terdiam sejenak.

"Gw baru inget!, Kayanya gw kualat sama omongan lu."

"Ha?, maksudnya?,"

"Gw kira ngeliat cewe cantik sampe mimisan itu cuma ada di film, komik sama novel doang, ternyata itu bener adanya,"

"Jadi abang mimisan gara-gara liat cewe cantik?!. "

"Iyaa anjir, perdana dalam hidup seorang Eric Chana kaya gini, liat Somi aja ga sampai mimisan begini."

"Sumpah adeknya bang Jeffery cantik banget anjir, mukanya adem diliat, berasa liat spoiler bidadari surga ini mah..," ujar Echan dengan mengangkat kepalanya sembari mengingat wajah gadis tadi.

"Woy abang!, konsisten dong, abang kan udah hampir jadian sama Somi, masa oleng dalam sehari sih,

....,lagi secantik apasih adeknya bang Jeff. Uchan yakin pasti masih cantikan si musim dingin," ujarnya tersenyum sendiri.

"Musim dingin?,"

"Iya, cewe yang Uchan ceritain ke abang,"

"Aneh banget namanya, pasti nanti kalau punya anak di kasih nama Musim semi, musim hujan, musim pancaroba," ujarnya.

"Yak gak gitu konsepnya Jaenudin,"

"Udahlah, kalau nanti Somi nolak gw, gw pindah haluan ke adeknya bang Jeff aja," ujar Echan.

"Dih pede banget. Emang dia mau sama abang?."

"Kalau gamau gw pakai pelet ajalah biar instan,"

"Emang punya abang rada ga waras tuh harus sabar ya," gumam Sungchan meratapi kegilaan abangnya.

Winter kini berada di dalam kamarnya merebahkan tubuh lelahnya di atas kasur, kemudian mengadahkan kepalanya kepada langit-langit kamar.

Fikirannya berputar mengingat lelaki yang menabraknya tadi, jujur sebenarnya dia benar-benar takut jika di hadapkan dengan seorang lelaki seperti tadi, tapi entah kenapa saat lelaki itu bertanya namanya , gadis itu malah tersenyum dan berani menjawab.

Rasanya sangat lega bisa keluar dari rumah walau hanya sebentar dan masih dengan perasaan takut.

Tok tok tok

"Adek, abang masuk ya, kali ini abang gak ngajakin buat snowman kok," ujar Jeffery setelah mengetuk pintu.

"Iya masuk aja,"

"Are u okay?," tanya Jeffery mendudukan tubuhnya di samping ranjang Winter.

Winter berfikir sejenak, kemudian mengangguk perlahan. "Baguslah, dunia yang sekarang udah membaik dek, jangan terlalu takut."

"Tapi bang..., " Winter bangun mendudukan tubuhnya di samping Jeffery.

"Ga ada tapi-tapian."

" Rasa takut kamu sekarang, cuma buat kamu terus-terusan ga berani dan ga bisa liat keindahan dunia yang lainnya."

" Kamu percaya kan? Kalau di gelapnya malam masih ada terangnya bintang yang menghiasi." Ujar Jeffery mengelus kepala adiknya.

"Tapi , bintang kan ga selalu datang saat malam tiba,"

"Bintang kan datangnya bukan di waktu yang cepat, melainkan datang di waktu yang tepat."

"Bang, Winter takut kaya dulu lagi..., Winter juga takut di pandang rendah sama orang lain,"

"Winter udah ga se-sempurna dulu," Winter menahan tangisnya ketika mengingat kejadian di masa lalu.

"Gaada manusia yang sempurna dek, jangan salahin diri kamu sendiri atas semua yang terjadi, abang yakin nanti kamu akan nemu orang yang bisa mengerti keadaan kamu," tambah Jeffery.

"Dek..,"

"Hm..?"

"Kamu mau gak masuk sekolah lagi?,"

"Bang..., aku gayakin."

"Dek, kamu udah Sma dikit lagi juga lulus, masa iya mau habisin masa Sma cuma di kamar sendirian,"

"Bunda sama Ayah juga maunya kamu berani dek, mereka mau kamu ngerasain masa-masa indah di Sma seperti anak-anak lain,"

"Kamu gausah takut, abang bakalan jagain kamu, abang gamau lalay jagain kamu untuk kedua kalinya," Jeffery memeluk adiknya.

"Abang bisa kasih waktu Winter untuk berfikir dulu ga?,"

"Iya..., fikirin aja dulu baik-baik, jangan terlalu maksain kalau gabisa ya,"

"karena hidup manusia itu dijalani sesuai kamampuan bukan kemauan." Jeffery tersenyum saat adiknya mengangguk gemas.

Dia mengusak-usak surai sang adik. "Udah ah kok jadi mellow gini, jangan lupa mandi lu dek, badan lu bau terasi," ujar Jeffery lalu Winter mendengus kasar.

"Jiwa bobrok abang kembali lagi," gumam nya saat Jeffery keluar dari kamar.

Dengan sigap gadis itu berlari ke kamar mandinya, tak mau berlama-lama di dalam kamar mandi, jadi dia hanya mandi sekitar sepuluh menit. Yaa.. walaupun biasanya dia bisa mandi sampai ber jam-jam lamanya.

Ia keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah tertutup handuk. Gadis itu berjalan ke lemari dan mengambil pakaian nya. Hanya sebuah celana pendek dan juga hoodie warna hitam ia gunakan saat ini.

Winter beralih tempat ke dekat jendela kamarnya, langit terlihag mulai menggelap tanda akan beralih nya waktu menuju malam. Gadis itu memperhatikan kosongnya jalan yang di temani lampu jalan seperti biasa, dia sangat suka sunyi, entah kenapa menurutnya ini lebih nyaman dan tenang.

"Sungchan, kamu mau kemana lagi?," tanya sang Mama yang melihat Sungchan keluar mengambil sepedanya di garasi.

"Keluar bentar mah,"

"Udah mau malem masih aja keluar-keluar,"

"Sebentar mama, Uchan mau beli es krim," ujarnya menaiki sepeda hitam milik Echan.

"Yaudah jangan lama-lama. Sekalian beliin buat abang sama kakak." Ujar sang Mama memberikan uang kepada Sungchan.

"Okee kanjeng mami," ujarnya tersenyum mengeluarkan jempol tanganya.

Dia mengeluarkan sepedanya, matanya berkeliaran melihat ke arah sekitar rumah lainnya.

"Eh? Siapatuh item-item? Mukanya ga keliatan pula" Gumamnya, memberhentikan sepedanya di depan rumah Jeffery.

"Oh adek nya bang Jeff kali ya?,"-batin nya.

"Sapa gak ya?, gausah deh, nanti dikira sok kenal."

"Halooooo!! Adeknya bang Jeff ya?," sapa Sungchan teriak sembari melihat ke jendela atas.

Brakk

Gadis itu menutup jendelanya cepat dan menyembunyikan diri nya di dalam kamar, membuat Sungchan terdiam sejenak kaget dengan mata berkedip.

Tumben banget ada perempuan yang cuekin dia, atau mungkin sekarang kegantenganya udah berkurang karena terlalu sering dekat-dekat Echan?, fikir lelaki itu.

"Ga santai banget nutup nya ya, gw tau gw ganteng, jadi pasti dia tuh deg-deg an liat muka gw trus langsung masuk kamar, nah iya bener," ujarnya merasa benar.

"Tapi dia aneh banget , mukanya ke tutupan hoodie, terus diem sendirian di jendela.

"Cantik dari mananya coba, sampe- sampe bisa bikin abang gw mimisan."

" Dasar cewe aneh!." ujar Sungchan sendirian, lalu kembali melajukan sepedanya.

"Dia cowo yang tadi?,"

"karena hidup manusia itu dijalani sesuai kamampuan bukan kemauan"

"Oke kanjeng mami,"

Next?

©nanayyyg_

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co