Truyen3h.Co

MUSIM DINGIN [✓]

5

nanayyyg_

It's okay if u won't give vote for this book.
Kalian udh baca buku ini aja aku udah seneng kok :).

So

Happy Reading

Angin malam terhembus di kulit gadis kecil itu. Dia menundukan dirinya dekat sebuah toko lusuh lama yang sudah tidak terpakai.

Jalanan terlihat sepi hanya di temani beberapa lampu jalan dan tangisan kecilnya.

Tanganya gemetar ketakutan, rambutnya sudah berantakan ditambah lagi baju sekolah nya yang sudah terlihat kusam.

"Bun-daa hiks adek takut," tangis gadis itu, semakin kencang ketika melihat darah yang mengalir dari kepalanya.

"Bundaa sakit  tolong adek bundaa..., bundaa ayah abang, kalian dimana?, "

"Adek t-takut sendirian disini,"

Tangisnya semakin menjadi ketika seorang lelaki berbaju hitam datang menghampirinya.

"J-jangan!. Jangan bawa aku lagi kak!, aku m-mau p-pulang."

"Jangan harap"

"Bundaaa tolong adekkk," gadis itu berlari dengan sisa tenaga nya yang ada.

Brug

Dengan satu pukulan kayu di kepalanya, gadis itu jatuh lemah, meneteskan air mata terakhirnya bersamaan darah dari kepalanya.

"Bun-daa...," lirih gadis itu sebelum menutup matanya.

"Bundaaaaa!!! Bundaaaa, bunda manaaa?!!"

Cklek

"Adek kenapa?," tanya bunda Taeyeon memasuki kamar anak gadisnya.

"Bundaaa hiksss, Winter t-takut," tangis gadis itu di pelukan sang bunda.

"Kenapa sayang?, bunda ada di sini jangan takut,"

"L-lekaki itu bunda, d-dia da-teng lagi," tangisnya tersendu keras.

Bunda Taeyeon ikut meneteskan air matanya sembari mengelus rambut sang anak.

"Adek itu cuma mimpi buruk, dia ga akan dateng lagi dek," ujar nya menenangkan sang anak.

"T-tapi bun..., t-tadi d-dia...,"

"Engga sayang, dia ga datang lagi. Dia gaakan bawa kamu lagi, ada bunda abang, sama ayah yang sekarang jagain kamu,"

"J-jangan tinggalin adek lagi,"

"Iyaa sayang,"


"Papah, pokoknya abang mau di Sma Neo itu ya pah, disana bagus kok sekolahnya." Ujar Echan semangat kepada sang Ayah yang sedang menyeruput kopi dengan santai.

"Emang kenapa sih kok tiba-tiba semangat banget mau sekolah disana," tanya Jaejoong kepada anaknya.

"Ya semangatlah, orang ada Somi disana," celetuk Sungchan.

"Sungchan adik ku sayang, kamu sehari saja tidak cepuk dan bacot bisa ga?!,"  Echan menahan kepalan tanganya.

"Mohon maaf abang ku sayang, adik mu yang tampan ini tidak bisa," balas Sungchan menyatukan tanganya meminta maaf ala lebaran sembari tersenyum lebar.

"Kalau kakak mau kuliah dimana?," tanya Sang Mama yang membawa cemilan dari dapur.

"Dimana aja deh mah, tapi aku lagi coba tes masuk di UI."

"Wahai kakak, otak mu tidak mampu masuk UI, jadi mending mundur, sebelum ketendang. "

"Dih kalau otak kak Koeun ga mampu, berarti otak abang lebih ga mampu dong," tambah Sungchan dengan santai sembari mengambil kentang goreng yang di masak mama nya.

"Abang nih kalau kakak nya mau masuk UI di support dong, bukanya di ejek gitu."

"Males ah, tapi pah!, pokoknya Echan di Sma Neo ya! ya! ya!, kalau si Sungchan mah biarin  sekolah di kolong jembatan aja."

"Abang~," Victoria menatap tajam mata Echan.

"Ampun mama, Echan cuma bercanda,"

"Abang sama adek sekolah di Sma Neo." Keputusan sang Papa.

"Ah pah, males  ketemu Sungchan lagi."

"Uchan juga males ketemu abang. Di rumah ketemu, di kamar ketemu, di sekolah masa ketemu lagi!."

Koeun yang merasa sebal dengan pertengkaran kedua adiknya itu langsung membuka suara.

"Kalau gamau. Yaudah gausah sekolah."

"IHHH KOK GITU!!,"  ucap abang dan adik itu serempak.

"Ya mau gamau, lagi pula kalian kan nanti gak sekelas. Jadi pasti jarang ketemu di sekolah."

"Yaudah terserah Mama," pasrah Sungchan.

"Nah gitu dong, nanti Papa tambahin deh uang jajan kalian,"

"Serius pah?!," tanya Sungchan dan Jaejoong mengangguk.

"YESSSS,"  semangat ketiga anak itu kemudian berpelukan layaknya teletubies.

"Tumben akur," ujar Mama.

"Kalau ngomongin uang baru akur mah," jawab Echan kemudian sang Papa hanya bisa menggeleng kepalanya.

"Aduhh abang bego!. Uchan gabisa napas nih!. Meluk pake tenaga kebo sih,"

"Lo belom mandi sore ya Chan!." Tanya Koeun.

"Ih apasih Uchan udah mandi!."

"Maksud gw Echan."

"Sejak kapan seorang Echan mandi sore?," jawab Sungchan.

"Eh gw mandi sehari sekali juga tetep ganteng, apalagi kalau mandi 2x sehari pasti gatengnya bertambah." jawab Echan

"Ganteng apanya!. Badan lo bau tanah kuburan baru tau gak?!." Ujar Koeun.

"Bunda maya, kali ini mas anang setuju pada mu," ujar Sungchan mengedipkan satu matanya ke Koeun.

"Dih ngapa mata lo. Cacingan? Kedip kedip begitu."

"Iya di dalam perutnya pasti ada cacing besar alaska, makanya badan dia bisa bongsor begitu. " ujar Echan.

"Abangggggg!!!!. Sini lo!," Sungchan berjalan mendekat ke Echan dengan wajah licik.

"Napa lo!. Berani sama gw?," tanga Echan dengan gaya songongnya.

"siapa yang bilang gw  gak berani sama lo ?!. Emang bener kok  gw gak berani sama lo bang,"

"Tuhkan adek lo sawan nih koeun." Ujar Echan.

"Adek gw adek lo juga bego!."

"Udah kalian sama-sama bego jadi gausah berantem. Yang pinter disini cuma Uchan." Jawab Sungchan santai.

1

2

3

"Mamahhhhh!!! Echannn di siksa kak Koeun sama bang Echannnn!!!. Mamahh Papahhh tolong Uchannnn,"

"Baru juga tadi akur." Victoria menggeleng kepalanya.

"Jadi adek gimana?, mau belajar di sekolah ga? tahun ini." tanya Baekhyun saat semua anggota keluarga kecilnya berkumpul di ruang tamu, sembari duduk santai menonton film kesukaan mereka 'Frozen'.

"Enak tau dek sekolah Sma, nanti punya temen banyak, trus bisa bandel-bandel gitu, bisa pacaran juga," ujar sang Abangyang duduk di sampingnya.

"Ah itu mah abang doang yang kaya gitu," jawab Baekhyun.

"Pokoknya seru deh dek, apalagi di Sma abang yang dulu."

"Disitu lumayan enak fasilitasnya lengkap, eskul nya juga banyak. Temen kamu yang tiga kecebong itu juga sekolah disana kan?,"

"Hmm," balasnya menangguk.

"Adek mau gak?, kalau gamau juga gapapa sih, Ayah masih mampu kok bayarin homeschooling kamu yang bayarnya per jam. "

"Yaa..., walaupun keuangan kita lagi sedikit menipis," ujar Baekhyun dengan nada pelan di ujungnya, yang malah membuat hati sang anak semakin tidak enak.

Winter menunduk, berfikir betapa menyusahkan nya hidup dia, seakan satu-satunya beban bagi keluarga.

"Adek..., kalau kamu gamau juga gap--"

"Winter mau mah." Jawabnya memotong ucapan sang Mama.

"Serius?!," tanya Jeffery kemudian Winter mengangguk ragu.

"YESSS!!!"  Semangat Jeffery dan juga sang Ayah.

"Mission complete ayah,"  gumam Jeffery sembari menggedikan alisnya kepada sang Ayah.

"Ha?," bingung Winter.

"Uang jajan abang jadi nambah kan yah?,"

"Tenang bang, nambah 2x lipat," jawab Ayah.

Winter kembali memfokuskan dirinya ke televisi, dan tidak memperdulikan abang dan juga ayah nya itu.

"Bun...,"

"Iya?,"

"Emang adek masuk sekolahnya kapan?," tanya Winter.

"Seminggu lagi, kamu masuk pas semester 2," Winter mengangguk paham.

"Bun, yah, bang..., adek mau masuk sekolah tapi ada persayaratanya."

"Apaa..?," tanya Ayah.

"Ribet banget ih pake syarat-syarat gitu, udah kaya mau lamar kerja,"

"Ih udah gapapa bang, yang penting adek udah berani masuk sekolah lagi."

"Emang syaratnya apa dek?, jangan yang susah-susah." Ujar Jeffery

"Ini bun..., adek mau sekelas sama Karina,Giselle sama Ningning. Cuma mereka yang benar-benar kenal adek."

"Gampang, itu bisa di atur sama Ayah." Ujar Baekhyun santai.

"Iya, pokoknya kamu tenang aja di sekolah. Coba terbuka sedikit lagi dek, cari teman yang banyak."

"Iya, nanti adek coba bun,"



Next?


Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co