Truyen3h.Co

MUSIM DINGIN [✓]

6

nanayyyg_

Ada yang nungguin gak?

Oh gaada yaudah deh:(

Happy Reading

Seharian winter nangis di dalam kamarnya. Gadis itu masih meratapi ketakutanya untuk memulai hari esok di sekolah baru.

Dia takut dengan segalanya. Dia takut jika teman-temannya akan memandangnya aneh atau yang lainnya.

Bagaimana jika tidak ada yang mau berteman dengannya?.

Bagaimana jika mereka mengejek Winter dengan segala kekuranganya?.

Semua fikiran itu masih sulit untuk dijawab dan di bayangkan bagi Winter.

Setelah tiga tahun lamanya bersembunyi dari lingkungan sekitar, kini sudah saat nya Winter memaksakan dirinya untuk keluar dari sarang setelah bertahun-tahun.

"Adekkk udah dong nangisnya. Nanti air mata lu kering gimana?, atau nanti kalau air mata lu berubah jadi salju gimana dek?." Ujar Jeffery duduk di samping kasur Winter.

"Gak lucu."

"Y-yaudah maaf." Ucap abangnya pasrah.

" Udahlah dek, kan Bunda juga udah bilang kalau lu belum siap, yaudah tetep home schooling aja."

"T-tapi Winter nyusahin bunda sama ayah terus bang,"

"Alhamdulillah sadar,"

"IH BANG!."

Jeffery menggaruk kepalanya resah dengan sikap Winter."iya iya..., jadi mau lu gimana sih?, gw bingung nih."

"Gak tau," balasnya masih tersendu.

"Nter. Gw buang lu ke kali ciliwung dosa ga sih?,"

" ditanyain jawabnya gatau-gatau terus. Yang lu tau apa sih?." Kesal Jeffery.

"Gak tau."

"Sabar Jeffery ganteng sabar...,"

"Dek...,"

"Hmm?."

"Coba deh kita datang ke tempat Na, kali aja kalau kamu abis ke sana, kamu bisa lebih tenang sedikit, kamu cerita ke dia tentang pilihan yang kamu ragukan saat ini."

"Iya abang bener. Ayo kesana sekarang!,"

"Serius sekarang?. Ini udah jam 9 malam loh,"

"Maunya sekarang!."

Jeffery mendengus nafas pasrah "tadi mah mending gw gausah ngomong."

Sungchan dan, Haechan masih ada di dalam kamarnya, seperti biasanya tiada hari tanpa kata ribut bagi mereka berdua.

"Abang, ini buku tulis Sungchan kok cuma satu di tas." Tanya nya membuka tas sekolah.

"Mana saya tahu, saya kan ikan,"

"IH BANG!. yang serius dong. Bukunya kan mau Uchan bawa buat sekolah besok!."

"Gw gatau."

"100% Uchan yakin sama abang. Kalau abang itu yang ambil buku Uchan!." Ujarnya di hadapan Haechan yang masih sibuk dengan game nya.

"Fitnah lebih kejam dari pada pembunuhan." Balas Echan santai.

"Tapi kan tadi Uchan bilangnya 'yakin', jadi itu otomatis bukan Fitnah, melainkan 'ke ya ki nan'."

"Aku nyerah punya adek goblok kaya gini...,"

"Mamaaaa!!! Echan mau punya adek lagi mahh, yang ini dibuang aja ke tong sampah."

"Kalau Uchan goblok, berarti abang lebih goblok, kalau Uchan gila berarti abang lebih gila. Itu sebuah kenyataan yang sudah tervesifikasi oleh kak Koeun."

"Berarti kalau lu ganteng gw lebih ganteng."

"Iya..., eh! ENGGAK!."

"Gantengan Uchan, tinggian Uchan, pinteran Uchan, lebih jago main bola Uchan, terus lebih--,"

"Lebih bacot lo!." Kesal Echan menaruh hp nya di meja belajar.

Cklek

"Berisik--"

"DIEM LO!," sarkah Echan dan Uchan dengan tatapan sinis mereka, saat Koeun masuk.

"He!. Kalian berdua yang harus diem. Gak capek apa ribut mulu, tru-"

"Kak Koeun juga gak capek apa marahin kita terus?!." Kesal Sungchan dengan kakak pertamanya.

"Iya bener!. Lo juga gak capek apa nyuruh kita ngambil piso buat bunuh-bunuhan!." Tambah Echan nunjuk pisau yang dibawa Koeun.

"Kakak gak capek apa? Ngadu ke mama kalau kita berdua berantem terus!."

"Lo gak capek apa?, aduin ke Papa, kalau kita berdua suka liat jawaban ulangan lewat brainly!."

Koeun terdiam membisu, dia bingung dengan keadaan saat ini. Kok jadi dia yang dimarahin?, yang salah jadinya siapa?.

"Kok gw yang jadi dimarahin?." Bingungnya yang masih berdiam diri depan pintu kamar dua lelaki itu.

"Ya emang kakak yang salah!,"

"Bener!."

"Gila ya lo berdua, untung masih gw anggep adek. Mau enyah aja dari bumi lah kalau kaya gini!."

"Silahkan," balas Echan.

"Dengan senang hati wahai kakakku," tambah Sungchan tersenyum.

"Kalau syukuran 40 hari nanti gw dateng, buar dapet besek," teriak Echan.

Brukkk

Koeun menutup pintu kamar itu dengan keras dan segala rasa kesalnya.

Koeun sudah menggerutu dalam hati, pokoknya liat aja nanti, Koeun pasti akan balas mereka berdua nanti di waktu yang tepat.

Kedua adik lelaki itu tertawa terbahak saat kakak nya pergi, kemudian saling melakukan tos an bersama.

"Bwahahaha liat mukanya tadi merah banget." Ujar Echan masih tertawa lepas.

"Ngakak banget liat kak Koeun marah kaya gitu," Sungchan memegang perutnya yang sudah sakit karen atawa keras yang ia keluarkan.

Ah iya, dia lupa dengan tujuan nya tadi.

"ABANG!. Buku tulis gw manaa?!."

"Bukan sama gw!."

"Gw sekolah aja ga pernah bawa buku." Tambah lelaki itu.

"Pantesan bego!."

Echan menghampiri adiknya sembari ternseyum, dan menepuk-nepuk pundak lelaki berbadan tinggi itu.

"Uchan, adek ku sayang..., udah pernah rasain kaki kanan nya patah belum?!."

"Belum bang,"

"Cobain yuk sekarang," Echan menampilkan senyum liciknya membuat Sungchan langsung menggeleng cepat.

"GAMAU!!!."

Brukkk

"MAMAAA!!!. Abang mau patahin kaki Uchannnnn!!!." Teriak lelaki itu setelah keluar dari kamarnya dengan berlari.

"Kak Na, "

"Iya...?,"

"Semua manusia di dunia itu jahat ya?"

"Kalau semua manusia di dunia jahat, berarti kak Na juga jahat dong?,"

"Kecuali Kak Na, dan Keluarga aku,"

"Gak semua manusia itu jahat dan baik,"

"Terus apa dong kak?,"

"Sebaik apapun manusia di dunia ini, pasti dia pernah melakukan suatu kejahatan atau kesalahan sekecil apapun itu."

"Terus kalau ga baik dan ga jahat itu namanya apa kak?,"

"Apa ya...?, mungkin itu bisa lebih di sebut manusiawi, karena setiap manusia gaada yang sempurna, mereka pasti melakukan kesalahan."

"Termasuk kak Na?,"

"Iya..., Kak Na punya banyak kesalahan pastinya."

"Seberusaha apapun manusia itu, dia ga akan sampai kepada titik yang 'sempurna' , karena yang sempurna itu hanya satu, yaitu Tuhan kita,"

"Manusia itu memang gaada yang sempurna, karena mereka diciptakan untuk saling melengkapi kekurangan dan kelebihan mereka satu sama lain,"

"Kalau begitu, kak Na mau gak?, jadi orang yang bisa melengkapi semua kekurangan aku?."

"Kalau Tuhan mengizinkan," balasnya tersenyum manis.

"Kak Na, dapat salam dari sang musim dingin kalau ia rindu,"

"Kak Na, kakak bakalan terus jadi bola salju ku kan?. "

"Bola salju yang selalu datang bersamaan saat musim dingin tiba,"

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co