7
"Sekolahhh baru Yeyyyyy!!!," teriak Sungchan semangat yang keluar dari kamarnya dengan seragam rapih.
Berbanding terbalik dengan abangnya, yang terlihat kurang minat dengan sekolah barunya, ya mungkin bisa dibilang alasan dia sekolah satu-satunya itu biar bisa melihat gadis yang ia dekati selama beberapa bulan ini.
"Semangat banget kamu dek," Victoria menggeleng melihat kelakuan anak bungsunya.
"Semangat dong mah, kan sekolah baru."
"Ini kok si abang, keliatan lemes banget?." Tanya Jaejoong melihat anak yang satunya dengan wajah lusuh dan pakaian yang kurang rapih.
"Iyalah pah, kan abang ga biasa bangun pagi, sekolah dirumah dulu kan masuknya jam Siang, jadi dia biasanya jam segini dia masih molor." Balas Sungchan.
"Semangat dong bang, kan nanti bakalan ketemu Somi, masa iya lemes begitu." Tambah Sungchan sembari mengambil nasi goreng yang di masa sang mama.
"Somi?, owh somi yang anaknya Henry itu kan?." Jaejoong mengingat Henry teman satu kantornya dulu saat di Padang namun pindah dinas sama seperti dirinya.
"Ck. Kebiasaan banget sih mulutnya kompor banget," Echan mendecak kesal.
"Maaf wahai abang. iya bener pah, anaknya om Henry. Kan dia di Sma Neo juga."
"Abang pacaran sama Somi?," tanya Jaejoong.
"Otw pah," jawab Sungchan.
"Yang ditanya siapa yang jawab siapa," balas Koeun sinis.
"Otw mulu, kapan jadiannya bang?."
" Mama ga akan ngelarang kalau abang mau pacaran kok," ujar Victoria kemudian memberikan nasi goreng ke Echan.
"Iya bang, jangan kelamaan, nanti keburu diambil orang , atau Uchan yang ambil boleh ga?," Echan menatap langsung sang Adik dengan senyumnya.
"Canda elah bang, Somi bobrok kaya gitu, bukan tipe Uchan ew. "
"Somi cantik tau bang, pasti banyak yang nungguin, jadi jangan kelamaan."
"Takut di tolak mah," jawab Echan.
"Yang penting kamu udah usaha bang, jangan negatif thingking gitu ah."
"Anak papa, udah pada gede ya..., udah pada sibuk sama kisah cinta gini,"
"Uh iya dong pah," semangat Sungchan.
"Koeun engga tuh,"
"Ah kakak mah hidupnya datar banget, gaada seru-serunya."
"Yaa..., mungkin Koeun sekarang lagi mau fokus sama pendidikan nya dulu, jadi dia gamau buka hati untuk seseorang. Setiap orang pasti punya alasan dibalik semua yang dia lakukan ," ujar Jaejoong
"Sabdah Jaejoong abrian 2k20," ujar Echan.
"Nanti Uchan catat di kamus kebahasaan Uchan pah,"
"Udah 10 menit lu di dalem mobil, kapan mau turunnya dek?." Tanya Jeffery yang menunggu Winter keluar dari mobilnya.
"Bang..., takut ih, " ucapnya dengan tangan yang sudah mendingin.
"Dek, abang udah nelfon karina buat samperin lu. Nanti lu dianter ke ruang guru sama dia," ujar Jeffery lalu Winter mengangguk.
"Tapi abang nanti jemput Winter kan?,"
"Iya elah, tenang."
"Tuh Karina dateng." Jeffery menunjuk Karina dari dalam mobil. "Keluar sono. Keburu bel masuk."
"Iya ih sabar!."
"Cepet makanya,"
"Akhirnya lu balik sekolah lagi nter," ujar Karina.
"Jagain adek gw yang bener lu rin, kalau dia lecet sedikit kita jadian," ujar Jeffery ke Karina.
Bughh
Winter memukul lengan bagian kiri abangnya.
"Mimpi buruk bagi gw kalau jadian sama lo bang." Jawab Karina. "Ayo nter gw anter ke ruang guru,"
"Temannya baik-baik gak disana?," tanya Winter takut.
"Baik kok, cuma rada bobrok aja,"
"Y-yaudah, Winter sekolah dulu bang, jangan lupa jemput nanti pas pulang sekolah."
"Gw sebenarnya abang atau babu lu sih dek?,"
"Dua-duanya, tapi kayanya jadi babu lebih cocok." Balas Karina lalu menarik tangan Winter menuju ruang guru.
"Abang, ruang guru dimana ya?," tanya Sungchan ke Echan.
"Mana gw tau bego!. Kan gw juga baru disini,"
"Yaudah sih, gausah ngegas."
"Tanya gih sama rumput yang bergoyang,"
"Emang ga waras manusia yang satu ini." Balas Sungchan lalu mendekati salah satu murid yang sedang berjalan.
"Misi, boleh nanya ga?,"
"Gaboleh."
Sungchan terdiam berkedip kebingungan. "O-oh yaudah maaf deh,"
"Selamat kamu kena prank haha." Ujar nya lanjut.
Sungchan dalam hati menggerutu apasih garing banget sial.
"Ruang guru dimana ya?," tanya Echan yang ikut menghampiri murid itu.
"Owh kalian anak baru ya?,"
"Iya nih,"
"Yaudah ikutin gw aja, gw anter."
"Btw, ini kalian saudaraan?," tanya nya.
"Iya,"
"Ini abangnya?," tanya lelaki itu menunjuk Sungchan.
"Bwahahaha tuhkan bang, emang seharusnya gw yang jadi abang lo," ujar Sungchan.
"Eh? Oh lu abangnya, maaf maaf."
"Santuy," ujar Echan yang masih kalem.
"Nama lu siapa?," tanya Echan.
"Sanha, anak 12 Ips 2," ujar nya.
"Owh gw Eric, belum tau masuk kelas mana. Kalau yang ini... panggil aja Jaenal," Ucap lelaki itu menunjuk ke Sungchan.
"Jangan dengerin kata iblis, percaya artinya anda musyrik." Sungchan menatap tajam Echan.
Sanha yang bingung cuma bisa diem doang dari tadi, bingung juga dia mau ngapain, takut salah ngomong.
"Nama gw Rajasungga Chana Abrian, panggil aja Sungchan atau Uchan." Menjulurkan tanga nya ke Sanha
"Eric Chana abrian, panggil Echan" lanjut Echan
"Oalah, salken ya," ujar Sanha lalu mendapat anggukan dari kedua bersaudara itu. "Ini ruang guru nya,"
"Kalau gitu gw pergi ke kelas dulu ya,"
"Iya, makasih banget ya bang Sanha,"
"Iya sama-sama, oh iya kalau kalian berdua minat eskul main monopoli bisa hubungin gw ya," ujar Sanha memberikan kartu nama nya sebagai ketua eskul monopoli di sekolah Neo ini.
"Monopoli?,"
"Okee oke bang,"
"Oke gw balik ya," Sanha kembali ke kelasnya dengan berjalan cepat, karena bel sudah berbunyi.
"Abang minat ikut eskul monopoli ga?,"
"Gak. Kalau ada eskul judi gw baru ikut,"
"Gawaras#2" gumam Sungchan.
Semua anak di kelas 11 Ipa 2 sekarang masih kaget ga nyangka karena ada anak baru masuk di kelas mereka. Ah iya kecuali Karina, Ningning dan juga Giselle tentunya.
"Ayo nak perkenalkan diri kamu,"
Wimter menundukan kepala dan mengepalkan tanganya yang sangat dingin. "H-halo, saya Eirabelle Winter Iclyn, panggilannya Winter,"
"Musim dingin dong," ujar salah satu teman.
"I-iya,"
"Santai aja Winter, di sini emang murid nya muka-muka gangster, tapi hatinya hello kitty," Ningning.
"Udah ayo Winter di belakang ada bangku kosong satu, kamu duduk disana ya,"
"I-iya bu, makasih banyak."
Tok tok tok
"Misi bu Irene, ini ada murid baru satu lagi," ujar Pak Suho membawa satu anak di belakang nya.
"Loh ada satu lagi ternyata," kaget Irene.
"Iya bu, double nih. Ayo nak masuk kenalin diri kamu,"
Murid baru itu masuk dengan rasa semangatny.
"Halo semuanya!!!!, nama gw Rajasungga Chana Abrian panggil aja Sungchan, tapi kalau ada yang mau panggil sayang juga gapapa kok."
"Tinggi lu berapa?," tanya Chenle menatap sinis anak baru itu.
"Eh? Gatau deh, tapi kayanya gw lebih tinggi dari lo." Jawab Sungchan.
Untung Chenle masih sabar, pokoknya abis ini dia mau ke Singapore beli obat peninggi badan, biar bisa melebihi tinggi Sungchan.
"Ibu saya duduk di mana ya bu?,"
"Di belakang, samping anak baru yang disana,"
"Owh oke bu...,"
Sungchan berjalan pelan menuju bangku. Tiba-tiba kakinya kaku jantungnya mulai berdetak lebih kencang dari biasanya.
"Lohhh?! MUSIM DINGIN?,"
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co