Truyen3h.Co

MUSIM DINGIN [✓]

8

nanayyyg_


Saat bel istirahat berbunyi, Winter masih diam di tempat duduknya. Kaki nya masih sangat kaku untuk melangkah, ia ragu dengan segala pemikirannya.

Ningning menghampiri bangku Winter, yang berada di urutan terbelakang. "Winter, ayo ke kantin,"

"Gw disini aja deh, gw bawa bekal kok,"

"Yaudah makan bekalnya di kantin." Giselle mengambil kotak makan yang baru Winter keluarkan dari tas nya.

"Tapi rame banget disana,"

"Ya bagus dong, biar lu membiasakan diri dengan lingkungan sekolah, emang lu mau terus-terusan kaya gini?," Winter menggeleng kepalanya saat Karina selesai bicara.

"Udah ayo, tenang nter ada kita-kita,"

"Yaudah,"

Winter berjalan ragu di belakang teman-temannya, suasana di sekolah ini masih masih asing bagi Winter.

Banyak tatapan yang mengiringi perjalanan keempat gadis itu, ah mungkin mereka masih penasaran dengan murid baru secantik Winter.

"Loh Winter?, lo sekolah lagi?. "

"Gw kira lo udah malu gamau sekolah," ujar Seorang gadis yang baru saja menghampiri.

Ningning menatap Shasha dengan tajam. "Mulut lo di jaga ya Sha kalau ngomong, "

"Jangan ngungkit-ngungkit kejadian di masa lalu Sha." Tegas Giselle.

"Loh kok ngungkit?, gw kan cuma tanya. Sebagai mantan teman Smp nya Winter," jawab Shasha mengibaskan rambutnya.

"Mending lo pergi dari hadapan kita Sha," 

"Cih, lu sama aja kaya dulu Rin, Sok Ja-go-an!." Ujar Shasha melipat kedua tanganya di dada.

"Udah plis jangan ribut, banyak yang liatin," ujar Winter pelan ke Karina.

"Udahlah orang kaya gini mah gausah di ladenin, nanti dia juga capek sendiri udah ngerusak kebahagian orang," Giselle natap Shasha yang mukanya memerah.

"Liat aja nanti kalian!. "

"Lo juga Winter, gw gasuka ya sama lo dari dulu!. Berita yang dulu tersebar gaakan hilang sampai sekarang!." Shasha pergi melangkahkan kakinya cepat, tak perduli dengan tatapan para siswa.

Kakinya sudah melemas, tangannya gemetar ketakutan. Winter berusaha menahan air mata nya sejak tadi, menahan juga ketakutannya dengan tatapan para siswa, yang mungkin sekarang makin penasaran dengan ucapan Shasha tadi.

"Nter, lo gapapa?," tanya Ningning.

"G-gapapa kok," ningning sangat tahu dengan keadaan Winter yang sedang pura-pura menguatkan dirinya.

"Gw mau ke kelas aja ya Ning, Rin, Selle,"

"Yaudah deh, mau gw anter?," tanya Giselle.

"Engga usah, gw bisa sendiri,"

Winter berjalan cepat ke kelasnya sembari menundukan kepala, ia masih takut dengan tatapan para siswa dan siswi di sekitar.

Dukkk

"M-maaf g-gw ga sengaja,"

"Musim dingin kan?!,"

"H-hah??,"

"Ini, aku yang waktu itu nabrak kamu di taman pas bawa Somay, inget ga?,"

"O-oh inget,"

"Ternyata bener kata mama, kalau emang takdirnya pasti ketemu lagi."

"Maksudnya?,"

"Engga engga, kamu ga ke kantin?,"

"Engga."

"Oh..., oh iya kenalin nama aku Sungchan," Winter ikut bersalaman kala Sungchan menjulurkan tangan panjangnya.

"I-iya,"

Sungchan menoleh ke kotak bekal yang di bawa Winter."Kamu mau makan dikelas?,"

"Hmm,"

"Yaudah aku temenin,"

"Engga usah!. E-eh maksudnya, gw lebih suka makan sendirian."

"Yaudah aku temenin, biar sekarang jadi suka makan bareng,"

"Gausah. Lo jajan aja di kantin."

"Yaudah deh, aku ke kantin ya, hati-hati di kelas."

"Emang ada apaan?,"

"Tadi kata si Guanlin kelas kita itu bekas kuburan dulunya," bohong Sungchan.

"Eh?!," Ya walaupun Winter suka sendirian, tapi tetap aja dia masih punya rasa takut terhadap setan.

"Lo bohong!. G-gw gak takut sama setan kok!."

"Oh ga takut, tapi tanganya gemeteran gitu," Sungchan nunjuk tangan Winter.

"Engga!. Udah sana pergi!."

"Ish iya iya, hati hati loh inget!."

Winter masuk ke kelasnya dengan rasa sedikut parno. Dia kembali duduk dan membuka kotak bekalnya dengan tenang.

Roti bakar kesukaannya dengan isian coklat terlihat di kotak bekal bergambar winnie the pooh.

Winter mengambil roti tersebut dan mulai dengan gigitannya perlahan.

Tok tok tok

"Musim Dingin, Sungchan masuk ke dalem kelas ya?," tanya Sungchan memunculkan kepalanya dari pintu yang sedikit terbuka.

Winter mengangguk, toh lelaki itu juga berada di kelas ini, jadi apa hak dia untuk melarangnya masuk.

"Ngapain duduk disini?," tanya Winter saat Sungchan menarik bangku mendekati meja tempatnya saat ini.

"Gapapa mau aja,"

"Kok ga ke kantin,"

"Nih udah," Sungchan tersenyum memperlihatkan roti yang ia beli di kantin. "Sengaja aku bawa ke kelas, biar makan bareng kamu,"

"Gw kan bisa makan sendirian."

"Ck, udah deh keras kepala, makan berdua doang apa susah nya sih?, Sungchan ga jahat kok seriusan, jadi gausah takut gitu,"

"Gapercaya."

"Emang muka Sungchan, muka-muka orang berandalan ya?," Winter mengangguk mengunyah rotinya.

"Sabar Sungchan, kamu ganteng apa adanya syukuri hidupmu sempurna, jangan dengarkan kata mereka." Ujar Sungchan membuka bungkus rotinya.

Winter terkekeh mendengarnya.

"Mau cobain gak?," tanya Sungchan menjulurkan rotinya.

"Makasih, gw juga punya."

"Ih tapi kan beda, itu roti tawar ini roti sobek,"

"Sama aja."

"Beda tau, itu kalau di sobek cuma satu rasa, kalau ini banyak rasanya," Sungchan merobek satu rotinya menunjukan ke Winter.

"Kaya di iklan kopi Good day, 'karena hidup itu perlu banyak rasa'," ujar Sungchan memperagakan iklan tersebut.

"Iya terserah lo."

"Nah gitu dong, nih rasa srikaya buat kamu,"

Winter ambil dengan ragu roti yang di kasih Sungchan, "gaada racunnya kok tenang," ujar Sungchan.

"Oh iya, kamu baru pindah juga ke sekolah ini?," Winter mengangguk.

"Sebelumnya sekolah dimana?,"

"Rumah." Sungchan menngangguk paham, kemudian pusing sendiri untuk cari topik bicara.

"Musim dingin," gumam Sungchan.

"Hmm?,"

"Lucu namanya," Sungchan terkekeh dalam fikirannya. "Btw, kamu mau gak jadi temen aku?," tanya Sungchan.

Winter terdiam menatap lelaku di depannya. Dia masih tidak yakin, apa dirinya benar-benar bisa berteman lagi dengan orang lain.

"Kenapa?,"

" aku mau jadi bola salju yang selalu datang disaat Musim dingin tiba boleh ga?,"

Kenangan masa lalu seketika terputar ketika Sungchan mengucapkan kalimatnya.

"Cuma satu orang yang bisa jadi bola salju untuk gw, disaat musim dingin tiba."

" dan gaada yang bisa gantiin orang itu."

Sungchan melempar tas nya asal, hari pertama sekolah nya terasa sangat bercampur aduk.

Ia senang bertemu dengan teman baru sekaligus dengan sang Musim dingin. Tapi disisi lain lelaki itu bingung dengan sifat aneh gadis itu.

"Aneh, tapi lucu." Ujar Sungchan duduk di bangku belajarnya.

"Dih ngapa lu senyum-senyum sendiri," tanya Echan kaget saat masuk ke kamarnya.

"Abangggggg Echan ku sayang muah," Sungchan memeluk Echan dan mencium pipi kanan abangnya itu.

"Anjing Sungchan!, pipi gw jadi hilang kesuciannya karena bibir lo setan!."

"Hehehe maaf abang. Abanggggg Sungchan sekelas sama Musim dingin," ujarnya Histeris.

"Oh,"

"Ih kok gitu doang reaksinya,"

"Trus harus ngapain?,"

"Kayang kek biar seru."

" bang pokoknya Uchan seneng banget, mau jungkir balik ajalah."

"Sana jungkir balik di tangga,"

"Ga gitu juga konsepnya." Echan melepas kaos kakinya dan ia lempar sembarangan.

"Bau banget bangke najis!."

"Udah tau bau, ngapain lu cium?!." Kesal Echan dengan tingkah adiknya.

"Bang tapi jujur Uchan seneng banget bang, bener kata mama kalau takdir pasti bakal di pertemukan kembali.

" Fix inimah si, 1000% yakin musim dingin jodoh Uchan!."

"Gilanya mulai dah,"

"Tapi bang, Musim dingin tuh rada aneh tau bang,"

"Aneh gimana?,"

"Dia kayanya rada introvert sama lingkungan, dia bilang dulu juga sekolahnya di rumah, mungkin jadi sulit bergaul karena itu kali ya,"

"Bisa jadi,"

"Trus bang, tadi kan Uchan nanya ke dia, 
'aku mau jadi bola salju yang selalu datang disaat Musim dingin tiba boleh ga?,'."

"Tolong kantong kresek siapin, mau muntah gw,"

"Bang dengerin dulu!."

" ekhem seret banget tenggorokan, kayanya starbucks enak,"

"Ck elah, jahat loh . Yaudah nanti gw beliin. Tapi dengerin yang bener!."

"Iya iya adikku sayang, lanjot ceritanya,"

"Trus bang dia jawab, kalau cuma ada satu orang yang boleh jadi bola salju untuk dia, dan ga akan ada yang bisa gantiin."

"Kalau menurut abang gimana?," Echan pura-pura mikir sebentar.

"Fix ini artinya dia ogah sama lo. Jadi lo harus tau diri,"

"Emang iya apa?,"

"Percaya sama gw, kayanya dia tuh nolak lu secara halus,"

"Baru  di ajak temenan aja udah di tolak, apalagi di ajak jadian," ujar Echan.

"Bang, Uchan baru tau rasanya sakit hati," ujar Sungchan memegang dadanya.

Echan yang liat jadi ikut kasihan dengan keadaan adiknya itu. "Yaelah baru segitu, itu artinya lo harus lebih berjuang lagi."

"Harus ingat kalau di kamus keluarga Jaejoong gaada kata menyerah, walaupun ujung-ujungnya gak berhasil, tapi yang penting lo berjuang." Echan menepuk-nepuk pundak Sungchan.

"Sayang abang banyak banyak."

"Sini sini abangku sayang, aku cium dulu," ujar Sungchan memanyunkan bibirnya.
.

"Mamaaaa Sungchan gilaa  mahhhhh,"

" tolong Echannn!!!,"

Penampakan Uchan Echan pas akur

Update nya lama banget ya?? hehehe maaf.

Aku emang kalau update suka random. Cuma aku udah jadwalin seminggu harus 3 chapter atau lebih ku publish, jadi sabar-sabar ya yeorobeun.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co