Truyen3h.Co

MY FUTURE SON |JenoKarina|✅

13

nanayyyg_

Langkah kakinya bergerak mengetuk pintu kamar sang adik, seakan tak ada respon dari dalam sana lelaki itu terpaksa membuka pintunya tanpa izin. "Kinara bangun Lo mau seko—"

"Anjing! Adek Lo ngapain tidur berdua sama Jevano! Astaga Lo abis ngapain semalem. Anjir pantesan belom bangun,"

Yang merasa terpanggil mulai membuka matanya perlahan. Menguap sembari merentangkan tangannya. "Apaansih berisik banget Lo pagi-pagi."

"Lo yang kenapa dongo. Tidur bertiga udah kaya keluarga sakinah mawadah warahmah." Celetuk Theo melihat kasur besar Kinara yang masih diisi Jevano dan Jojo.

"Ck. Lebay, dah ah Sono."

"Betewe Dek? Ini kalau gue liat-liat Jojo kok mukanya mirip Jepan ya?" Kinara membesarkan matanya, astaga dia lupa kalau abangnya emang punya mata yang cukup teliti.

"Apaansih ngawur banget Lo."

"Seriusan. Eh Jevano! Bangun Lo, bisa-bisanya modus ke adek gua. Kalau mau tidur bareng halalin dulu lah,"

Kinara yang masih setengah sadar memberikan dua jempolnya. "Setuju bang,"

"Lah ini main setuju-setuju aja. Mandi Sono, liat udah jam tujuh,"

"OH IYA ANJIR! Ah Lo sih baru bangunin gue."

"Nar, mandi sebelum gue slepet ginjal lu nih ya! Gue udah bangunin Lo dari pagi subuh anjing!"

"Ish gak usah mandi lah gue, udah cakep. Cuci muka pake minyak wangi juga udah jadi."

"Astaga punya adek jorok banget anjir. Lo ngaca Lo cewek, rapihan dikit kenapa dek. Mandi dandan yang cakep biar si Jepan suka."

"Dih siapa dia." Kinara menolehkan kepalanya ke arah Jevano yang masih duduk mengumpulkan nyawa. "Liat tuh, dia aja ileran gitu."

"Ngaca dulu sebelum ngomongin orang Nar," sahut Jevano.

"Mandi anjir, sekolah Lo bego. Nih orang berdua tolol banget, cocok dah Lo pada."

"Ish iya bawel banget, punya Abang mulutnya kek emak-emak nyebelin banget."

"Ngomong apa Lo anjir!"

"Canda Abang, jangan galak-galak nanti kak kekeyi gak suka sama Lo."

"Amit-amit!"


Sama seperti hari kemarin, Jevano dan Kinara masih setuju untuk mengikut sertakan Jojo pergi ke sekolahan, ah lebih tepatnya Jojo yang juga ikut kesenangan, dia suka datang kesekolah itu, dia suka memiliki teman baru seperti Cika. Iya Jojo ingin bertemu Cika.

"Jojo main sama Cika ya mah, pah..."

Kinara menyamakan tinggi tubuhnya dengan Jojo, terdiam sesaat memandangi wajahnya bocah kecil yang nampak polos dan lucu. "Jo... Main dekat-dekat sini aja ya? Jagain Cika juga ya Jo,"

"Iya mamah, Jojo pasti jaga Cika. Mama enggak perlu khawatir. "

"Mamah belajar dulu ya, ah gak tega ninggalin, gimana dong Jev. Bawa ke kelas aja yok."

"Ck. Astaga cuma sebentar, nanti kita balik lagi Nar."

"Ehm gak tau, dulu rasanya pengen gue lempar nih anak ke kali Ciliwung, tapi sekarang mau gue tinggalin aja, jadi  hati gue susah." Jojo tertawa mendengar penuturan Kinara.

"Mama lucu, mah... Jojo gapapa, mama belajar ya, papah tolong jagain mama, mama gak boleh sedih ya pah..."

Yang disebut hanya mengangguk tersenyum. "Iya, ayo Nar, udah telat. Tuh buka otak dikit, anak Lo lebih pinter dari Lo."

"Jepan kampret. Yaudah Babay Jo, anak mamah yang ganteng mirip Lee Jeno Nct! Nanti mama bawain susu Milo deh, nyolong punya Rendi."

"Kinara! Apaansih, anak gua ya mukanya mirip gua, gak boleh mirip orang lain!"

Kinara menaikkan alisnya bingung. "Lah ngambek,"

"Gak." Jevano meninggalkan Kinar, melangkahkan kakinya cepat menuju kelas.

"No, Lo marah? Ahahaha apaansih gemesh banget."

"Gak marah."

"Nono Nono Lo masih aja sama kaya dulu, tukang ngambek."

"Kinar!"

"Ahahaha iya-iya maaf, cie ngambek."

Setelah Jevano dan Kinara berpisah, mereka kembali ke kelas masing-masing. Kinara masih sama dengan kelasnya 12 IPS 3 sedang kan  Jevano berada di kelas unggulan 12 MIPA 1.

Pernah terlintas di pikiran Kinara, kenapa Jevano selalu mendapatkan nilai bagus, padahal kalau diliat-liat kerjaan lelaki itu hanya main game, dan juga sibuk eskul basket. Jujur Kinara sedikit kesal kalau ngeliat Jevano nilainya selalu diatas dia.

"Kinara oy,"

"Somik!!! Jijel!!!"semangat gadis itu menghampiri kedua sahabatnya.

"Kebiasaan banget Lo, sampe kelas lima menit sebelum pelajaran dimulai." Celoteh Giselle.

Somi mengangguk setuju, kemudian menatap Kinara dengan sedikit tajam "Bentar. Gue mau introgasi Lo,"

"Serem banget bahasa Lo introgasi. Emang gue habis ngapain,"

"Duh pura-pura bego nih orang. Tadi Lo berangkat sama Jevano lagi kan?" Tanya Somi.

"Iya, itu karena telat doang. Seriusan."

"Pertanyaan intinya... Anak siapa yang Lo dan Jevano bawa kesekolahan? Tadi gue liat kalian bertiga sama anak kecil, gak mungkin mata gue salah kan? Mata gue masih sehat kok ini, tulisan Bu Neneng yang kecil di papan tulis aja masih jeli gue liat."

Kinara gugup, terdiam sesaat memiliki jawaban "Lo salah, heumm perasaan tadi gue cuma berdua Jevano deh? Masa iya ada anak kecil?"

"Anjir serem." Giselle bergedik ketakutan. "Bentukkan anak kecilnya gimana Som?"

"Gak mungkin setan sih anjir,"

"Tuyul kayanya Som, ah iya Tuyul anjir." Ujar Kinara berusaha meyakinkan.

"Enggak! Seriusan bukan. Anak kecilnya ganteng, putih mukanya mirip Jevano sedikit."

"Itu anak mereka dari masa depan Som... Selle. " Kinara membelalakan matanya, menoleh kearah sumber suara.

"HAEKALANJING!"

PLAK

"AW! Sakit babi. Mending Lo kasih tau sekarang bego!" Celetuk Haekal.

"Ya tapi gak gini caranya."

"Bentar-bentar otak gue masih berproses 20%" Giselle mengusak rambutnya kebingungan.

Sedangkan Somi masih terdiam di posisinya, sesaat mencerna ujaran Haekal."Jadi anak yang tadi Lo bonceng, itu anak Lo dan Jevano di masa depan?"

"Aduh... Gimana ya kak jawabnya, gimana aku bisa menjawab pertanyaan yang gak jelas kaya gini. Ini kalau gue bilang iya Lo pada percaya gak sih?"

"PERCAYA!" suara Giselle dan Somi bersamaan.

"Lahk gue kira Lo berdua gak akan percaya, karena  gue juga sempet ngerasa ini gak masuk akal. Tapi kalau di ingat-ingat lagi tentang kehadiran Jojo gue sekarang jadi percaya."

"ANJING LO JADI NIKAH SAMA JEVANO DONG DI MASA DEPAN?!"

"SOMI MULUT LO GUE SLEPET YA! Gue yang nikah sama Jevano, bukan anjing gue!"

"ANJIR! Pasti Jevano memperbaiki keturunan burik Lo Nar."

"Giselle bangsat, gue gak burik-burik amat kalau diliat. "

"Aduh cewek jaman sekarang pada tolol-tolol, gue capek liatnya." Gumam Haekal, yang langsung mendapat tatapan tajam dari ketiga cewek itu. "Eh-eh canda tolol canda."

"Gue mau liat anak Lo! Lo titip dimana dia?"

"Di warung Bu Ayu, dia main bareng Cika."

"Anjir, pasti ganteng banget ya?" Tanya Giselle.

"BENER! Ganteng banget, anak gue pasti pas gede masuk the most handsome boy in the world."

"Yah anjir, coba Jevano nikah nya sama gue. Keren tuh anak kita nanti ada keturunan bulenya," gumam Somi.

"Si Jevano juga gak mau kali Som buat anak sama Lo. "

"Haekal babi emang ya. Pergi Lo sialan."

"Berantem-berantem nanti mampus jatuh cinta." Tawa Giselle mengeras saat Kinara menyelesaikan ucapannya.

"Amit-amit anjir!"

"Najis! Bule Depok ew. Stroberi mangga apel, sori gak lepel."

"Haekal mulut Lo 11 12 sama cewek. Lemes banget!"

"Bodo!"

Jam pelajaran kelas 12 MIPA 1 sekarang diisi oleh Pak Johnny, dimana anak-anak pergi ke lapangan untuk ambil nilai lari. Jevano sudah siap dengan baju olahraga nya, dia diam duduk menunggu namanya dipanggil sang guru.

"Jev, nanti  ada rapat gak?" Tanya Rendika yang duduk disamping lelaki itu.

"Gak Ada." Rendika bergedik ngeri kalau udah berbicara dengan si dingin Jevano.

"Oh iya Jev, tadi cewek Lo si Yejira kayanya sakit deh, dia tadi pergi ke UKS."

"Bukan cewek gua."

"Oh..." Rendika mengangguk, kemudian menoleh kelain arah "Lah itu dia dateng, gua kira Yejira izin gak ikut penilaian. "

"Ren, tolong nanti kabarin di grup OSIS hari ini libur rapat ya. Handphone gua lowbat."

"Iya Jev, nanti gua kabarin." Jevano pergi dari tempatnya, berjalan mendekat ke arah Yejira.

"Lo sakit?" Tanya Jevano, namun yang ditanya hanya diam tak menjawab. "Jawab Ra,"

"Enggak gue gak sakit."

"Muka Lo pucet."

"Lupa pakai liptint tadi."

"Lo kenapa?"

"Gapapa." Bersamaan dengan ucapannya Yejira jatuh lemas di tangkap Jevan. "P-pala gue sakit Jev..."

"Ck." Jevano menggendong tubuh Yejira, membawa cepat gadis itu ke UKS. Dibukanya pintu UKS yang sepi nan sunyi, tak ada seorang pun kecuali mereka berdua.

Perlahan ditaruhnya tubuh Yejira diatas kasur kecil yang ada disana. "Lo disini aja, nanti gua bilang Lo sakit ke pak Johnny."

Melihat Jevano yang melangkahkan kakinya pergi, membuat Yejira segera menarik tangan lelaki itu. "Jevano... Tolong disini sebentar, gue takut sendirian."

Lelaki itu membuang nafasnya berat, bergerak perlahan mendekati Yejira. "Jevano..." Gadis itu menarik tubuh sang lelaki, memeluk erat tubuh Jevano seakan tak mau ada orang yang mengambilnya.

"Yejira... Lepas, nanti kalau ada orang bisa salah paham," gadis itu menggeleng kan kepalanya.

"Aku butuh kamu Jev..."

"Yejira... "

"Aku juga lelah kaya gini Jevano, Jev... Gak bisa ya kamu buka hati untuk aku? Jev, aku bahkan lebih cinta kamu,"

"Enggak Yejira. Perasaan yang ada di Lo sekarang  bukan perasaan cinta, tapi hanya sebuah obsesi semata." Yejira melepaskan pelukan mereka sesaat, hatinya sakit.

"Kok kamu jahat Jev? Aku cinta sama kamu. Aku mau kamu jadi milik aku, aku secinta itu sama kamu, aku gak salah kan?"

"Justru itu yang salah! Dengan Lo begini, Lo buat gua gak nyaman dan merasa bersalah. Seakan-akan gua yang paling jahat, Yejira... Kalau Lo benar-benar cinta gua, Lo gak akan maksain hati gua untuk punya perasaan yang sama dengan Lo."

"Tapi aku kan berjuang Jev."

"Tapi Lo udah kelewatan batas Ra. Udah saatnya Lo berhenti... Biarin hidup gua tenang, kalau emang benar Lo cinta sama gua, pasti Lo akan rela gua bersama orang yang gua cintai, relain gua hidup bahagia, mama gua pernah bilang, cinta bukan hanya tentang hal bahagia, tapi juga tentang mengikhlaskan dan merelakan."

Jevano menatap dalam mata Yejira, memegang bahu gadis itu. "Ra... Lo itu baik, Lo hebat, gadis seperti Lo pantas untuk menemukan lelaki yang lebih baik dari gua. Lelaki yang bahkan bisa mencintai semua tentang diri Lo."

Yejira meneteskan air matanya, dia terjuatuh akan kenyataan yang memang begitu pahit. "Jev... Aku salah ya? Jev... Aku jahat? Jev..." Terus menerus gadis itu memukul kepalanya.

Sontak dengan cepat Jevano menahan tangan Yejira. "Yejira, enggak Lo gak jahat. Gak ada yang salah Ra, tapi ada yang harus di perbaiki, Ra... Dengerin gua, Lo pantas dapat yang terbaik..."

"Jevano.... Maafin aku Jev... Aku bodoh banget, aku... Aku jahat." Lelaki itu memeluk tubuh gadis di depannya, tubuh gadis yang rapuh, yang letih akan kenyataan dunia.

"Enggak Ra... Sekarang gak perlu ada yang dipersalahkan ya? Kita mulai semuanya, kita perbaiki semua ini... Lo harus bergerak maju, banyak lelaki baik yang menanti Lo, jangan diam ditempat nunggu gua yang bahkan mencintai orang lain..."

"Jev... Boleh aku minta sesuatu sebelum aku mundur dari perasaan ini?" Gadis itu menatap Jevano dengan sangat dalam.

"Iya boleh Ra..." Tangan gadis itu bergerak memegang tengkuk Jevano, mengikis jarak diantara mereka.

Yejira menutup matanya, membiarkan bibir mereka bersatu dalam beberapa waktu yang tiba-tiba terasa membeku.

Cklek

Suara pintu terbuka berhasil mencuri pandang Yejira dan Jevano, mereka melepaskan tautan bibir yang tadi menyatu.

"Ups. Sorry gue ganggu ya?" Tanya gadis itu tersenyum nanar. "Kalau gitu gue pergi, sorry sekali lagi."

"Kinara..."

"Ehehe maaf Jev, sorry..." Gadis itu pergi tanpa kata lagi, berlari cepat tak tahu arah sembari menundukkan kepalanya.



Bosenin gak?

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co