runaway - act viii.
"raja dan para pangeran menderita luka yang cukup serius."
"dokter istana telah tiba."
"pasukan akan segera tiba di istana. persiapkan sambutan."
kabar kembalinya pasukan jeruma pada hari kelima menyebar dengan cepat ke seluruh istana.
seluruh pengawal yang berjaga di ruang makan mulai berhamburan keluar istana setelah menyampaikan kabar tersebut kepada sang putri.
di tengah keributan itu, nami hanya bisa meletakkan garpunya di atas piring dalam diam.
ia mencoba menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri dan memproses semua informasi yang baru saja diterimanya.
pertama-tama, kudeta gagal.
artinya, kerajaan sufinkusu aman untuk saat ini.
ia hanya bisa berharap tidak banyak korban jiwa dari sufinkusu dan pasukan bantuan goa.
di sisi lain, lima puluh tentara jeruma tewas dan seratus kembali dengan luka serius.
bahkan raja dan para pangeran pun menderita luka yang cukup serius.
lalu,
bagaimana dengan seratus lima puluh tentara yang tersisa?
bagaimana dengan dia?
bagaimana dengan luffy?
nami menggigit bibir bawahnya dengan cemas.
ia tidak ingin kecemasan menguasai dirinya. namun, keterbatasan informasi membuat berbagai skenario buruk terlintas di benaknya.
apakah luffy termasuk di antara seratus lima puluh tentara yang belum diketahui kondisinya?
atau lelaki itu justru termasuk di antara lima puluh dan seratus tentara yang—
"tuan putri, raja dan para pangeran hampir tiba."
suara tegas seorang pengawal dari arah belakang membuat sang putri kerajaan goa terkesiap dan tanpa sadar meremas gaun birunya.
"aku akan segera ke sana."
.
.
.
nami membungkuk singkat ketika raja dan para pangeran tiba dengan kuda masing-masing.
"selamat datang, yang mulia."
untuk pertama kalinya, sang putri melihat bagaimana kelima pria yang selalu tampil menawan itu datang dalam kondisi berantakan dan kacau.
mereka memang kembali dengan selamat. namun, setiap luka yang menghiasi tubuh mereka seolah menceritakan kengerian pertempuran yang berlangsung kurang lebih lima hari itu.
tanpa berlama-lama, nami segera menjauh dari depan gerbang utama agar mereka dan seluruh pasukan di belakangnya bisa masuk.
"dokter istana telah tiba dan siap memberikan perawatan terbaik bagi seluruh pasukan yang telah berjuang sampai titik darah penghabisan."
satu demi satu masuk melalui gerbang utama untuk menerima pengobatan atas kerja keras mereka di medan perang.
gadis itu memperhatikan semua wajah asing yang memasuki istana dengan saksama—hanya untuk mencarinya.
hanya saja,
ia tidak ada di sana.
luffy tidak ada di sana.
bahkan ketika orang terakhir memasuki istana.
.
.
.
jam terus berjalan.
langit tampak indah dengan rona oranye dan matahari akan terbenam kapan saja.
namun, tidak ada seorang pun yang mengetahui lokasi terakhir pengawal pribadi sang putri setelah mereka mengibarkan bendera putih dan kembali ke istana.
ada yang bilang ia mungkin tidak akan kembali.
yang lain mengatakan ia mungkin kehilangan kesadaran di tengah jalan tanpa ada yang menyadarinya.
jika beruntung, seseorang mungkin akan membantunya sampai ia cukup kuat untuk kembali ke istana.
jika keberuntungan tidak berpihak padanya, ia akan mati seperti anjing jalanan.
nami menghabiskan pagi dan siangnya dengan berdiri di depan gerbang utama.
ia terus menanti dengan harapan di relung hatinya.
tidak peduli berapa banyak orang yang mengatakan ia tidak akan kembali dan mati seperti anjing jalanan, hati kecil sang putri terus berkata bahwa luffy akan kembali padanya.
ia akan kembali untuk menepati janjinya.
hanya saja, putri kerajaan goa itu tidak dapat terus berdiri di sana ketika seorang pengawal datang memberitahukan bahwa raja dan para pangeran telah siap untuk ditemui.
dengan berat hati, ia datang mengunjungi mereka satu per satu sebelum akhirnya kembali ke kamarnya dan melanjutkan penantian di sana.
melalui jendela kamarnya, mata lelah nami berusaha terus bergerak—mengidentifikasi siapa pun yang memasuki istana melalui gerbang utama.
namun, langit semakin gelap dan manik indahnya tidak bisa lagi melihat di antara kegelapan malam.
tepat ketika sang putri menarik tirai tipis untuk menutupi jendelanya, terdengar ketukan pelan di pintu.
satu kali.
dua kali.
tiga kali.
empat kali.
lima kali.
pada ketukan kelima, pemilik surai oranye itu segera berlari menuju pintu kamarnya dan membuka pintu lebar-lebar.
tubuhnya seakan bergerak sendiri, menyambut sosok gagah yang berdiri di balik pintunya dengan pelukan hangat.
"putri—"
"terima kasih."
setetes air mata akhirnya jatuh dari sudut mata kanan nami.
"terima kasih telah kembali dengan selamat."
———&———
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co