runaway - act v.
pagi-pagi sekali, sebelum matahari terbit di barat, nami sudah berada di atas kuda putih di tengah kebun teh jeruma.
di sampingnya, ada luffy yang sedang berjalan sambil menuntun kuda hitamnya.
sang putri tertawa kecil kala kuda hitam bernama onyx itu menyundul bahu luffy main-main.
rutinitas mengikuti pendidikan pranikah membuatnya jenuh. oleh karena itu, ia ingin melakukan hal seperti ini di waktu luangnya.
dan luffy adalah satu-satunya yang ia miliki di istana ini.
satu-satunya sekutunya.
satu-satunya yang bisa ia percayai.
"oleh karena itu, saya datang untuk memenuhi janji pada putri."
"janji untuk membagikan semua informasi yang kau miliki?"
"besok malam saya akan memperlihatkan sesuatu yang berhubungan dengan keturunan jeruma."
"apakah itu berhubungan dengan kertas yang kuterima pada malam setelah makan malam itu?"
"benar. saya akan menjawab semua yang tidak bisa dijawab oleh para pangeran."
"sebelum itu, ada beberapa hal yang ingin aku lakukan sebelum kau berangkat berperang."
benar.
ia akan memaksimalkan waktu yang dimilikinya untuk bersenang-senang sebelum sang pengawal pergi sampai batas waktu yang tidak ditentukan.
"luffy! ayo berlomba menuju gerbang!"
kompetisi dan tantangan selalu membuat sang pengawal bersemangat.
ia tersenyum miring. "apa yang akan saya dapatkan jika sampai di gerbang lebih dulu?"
nami tampak berpikir sejenak sebelum menjentikkan jarinya. "aku akan memberimu hari libur. kau tidak perlu berjaga ataupun menemaniku pada hari itu."
mendengar itu, luffy sontak terkekeh pelan.
"saya tidak bisa melakukan itu."
ia lantas menatap sang putri dengan tulus. "saya akan selalu mendampingi dan melindungi putri sampai saatnya tiba."
deg.
deg.
deg.
deg.
nami bisa merasakan betapa kencangnya detak jantungnya setelah mendengar kalimat yang terdengar seperti sebuah deklarasi itu.
mengabaikan detak jantungnya yang berisik, ia mengusulkan imbalan yang berbeda. "kalau begitu, kau bisa meminta apa saja kepadaku jika kau sampai di gerbang lebih dulu. begitu pula sebaliknya."
"setuju."
tanpa berlama-lama, luffy segera naik ke atas onyx dan mengibaskan tali kekangnya. kuda hitam itu sontak meringkik sebelum mengangkat kakinya dan mulai melaju kencang.
melihat itu, nami memekik tidak terima. "hei! curang!"
putri kerajaan goa itu segera mengibaskan tali kekang kuda putihnya.
"pearl! kejar mereka!"
dan sang kuda putih bernama pearl tidak menahan diri untuk melaju kencang, mengejar onyx yang berada beberapa langkah di depan.
.
.
.
di tengah ruang makan yang luas, yang terdengar hanyalah suara dentingan peralatan makan di atas piring.
kelima pria di sana tampak sibuk dengan makanan yang tersaji di hadapan mereka.
hanya nami yang duduk dengan tatapan kosong sambil menusuk ceri di piringnya—tanpa berniat menyantapnya.
melihat luffy dan onyx hampir mencapai gerbang, nami langsung mengibaskan tali kekang pearl dengan kencang.
akibatnya, kuda putih itu meringkik dan melaju lebih kencang lagi.
suara nyaring pearl membuat luffy menoleh.
detik itu juga, ia menyadari betapa sang putri kesulitan menjaga keseimbangan karena kecepatan pearl. tubuh rampingnya bergoyang ke kiri dan ke kanan.
benar saja.
tak lama kemudian, tubuh nami limbung ke kiri dan tali kekang terlepas dari genggamannya.
"putri!"
dengan gesit, ia melompat turun dari onyx dan segera menangkap tubuh nami sebelum sempat menyentuh tanah.
"putri."
sosok cantik bersurai oranye itu tersentak kaget ketika sanji berbisik di telinganya.
ah.
ia melamun lagi.
nami memberanikan diri melirik ke sekelilingnya dan mendapati kelima pria itu memandangnya dengan penuh tanda tanya.
"pipimu merah. apakah kau sedang kurang sehat?" bisik sang pangeran ketiga sekali lagi.
dengan sedikit panik, gadis itu memalingkan wajahnya. "tidak, pangeran—"
memperhatikan semua yang terjadi, sang raja kerajaan jeruma berdeham pelan. "apa yang sedang kau pikirkan, putri? apakah ada sesuatu yang membebani pikiranmu?"
"tidak, yang mulia. tidak ada yang perlu dikhawatirkan," jawab nami cepat.
sambil menyantap pisang yang ada di piringnya, raja judge kembali berdeham pelan. "jangan khawatir. ayahmu akan tiba di istana ini tiga hari sebelum pernikahan dilangsungkan."
mendengar itu, nami hanya tersenyum sekilas sebelum kembali menyantap cerinya.
.
.
.
nami sontak membetulkan jubah tidurnya begitu pintu diketuk lima kali.
sesuai dengan kode yang telah mereka sepakati.
"masuk!" seru sang putri dengan lantang.
dengan itu, pintu terbuka menampilkan sosok pengawal pribadinya yang langsung masuk dan mengunci pintu.
nami tersenyum kecil, lalu menepuk ruang kosong di tempat tidurnya. "kemarilah."
dengan sedikit ragu, luffy duduk di tepi tempat tidur sebelum mengeluarkan sebuah gulungan dari balik seragamnya.
"apakah putri masih memiliki kertas—"
sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya, sang putri telah merogoh bagian depan gaun tidurnya dan memperlihatkan secarik kertas yang dimaksud.
aksi tak terduga nami membuat sang pengawal sedikit tersipu. namun, ia segera menerima kertas itu dan membuka gulungan yang dibawanya.
manik indah nami mengikuti setiap gerak-gerik luffy.
ia memperhatikan bagaimana pengawalnya meluruskan gulungan berukuran sedang itu sebelum menyatukan secarik kertasnya dengan ujung gulungan yang robek.
proses itu membuat sang putri tanpa sadar menahan napas.
kertas itu bagian dari sebuah gulungan?
"inilah isi sebenarnya dari ramalan itu," jelas luffy segera setelahnya.
atau lebih tepatnya, gulungan ramalan kerajaan jeruma.
dengan sedikit gugup, nami mendekat untuk membaca setiap kata yang tertulis di sana.
seorang pangeran bermahkotakan emas akan menikahi seorang putri seindah swastamita dari kerajaan jauh di timur.
dari rahimnya akan lahir seorang pemimpin yang memimpin dunia menuju kemahsyuran keturunan jeruma.
beberapa detik kemudian, nami mendengus pelan.
memimpin dunia menuju kemahsyuran keturunan jeruma?
mereka sengaja menyembunyikan dua kata terakhir itu demi keuntungan mereka sendiri?
sambil menarik napas dalam-dalam, nami mencoba menyimpulkan apa yang baru saja dibacanya. "jadi, jika pernikahan dilangsungkan dan anak itu lahir—"
"dunia akan jatuh ke tangan jeruma," sahut luffy cepat.
sekali lagi, nami mendengus pelan sebelum tertawa tak percaya.
mereka ingin sanji menikahinya untuk melahirkan seorang tiran yang akan menguasai dunia?
melihat perubahan emosi di wajah nami, sang pengawal memutuskan untuk memberikan penjelasan lebih lanjut.
"ada alasan mengapa para pangeran tidak memiliki pengetahuan tentang silsilah keluarga kerajaan."
nami mengerutkan kening dan bertanya melalui matanya.
"terlalu banyak pertumpahan darah di istana ini. mereka tidak bisa terus-menerus mencoret keturunan mereka dari buku silsilah dan menjelaskan penyebab kematian mereka." luffy menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan kalimatnya. "itu sebabnya mereka memilih untuk membakar semua buku silsilah yang ada."
penjelasan itu membuat sang putri tiba-tiba merasa mual.
jeruma membunuh keturunan mereka sendiri?
meski berat, luffy tetap melanjutkan penjelasannya. "pangeran sanji mengetahui alasan di balik tidak adanya pendidikan mengenai silsilah keluarga kerajaan secara tidak sengaja. namun, ia tidak akan pernah mengakuinya."
"pada usia tujuh belas tahun, ia melihat bagaimana ayahnya membunuh ibunya sendiri."
wajah nami sontak menjadi pucat.
luffy mengulum bibir bawahnya. "ramalan itu adalah satu-satunya alasan yang membuatnya tetap hidup."
tidak mungkin.
mereka akan menyingkirkan sanji setelah mendapatkan apa yang mereka inginkan?
dan kalimat luffy berikutnya seolah membenarkan pikiran buruk yang timbul di benaknya.
"tidak ada jaminan bahwa ia akan tetap hidup setelah anak dalam ramalan itu lahir."
detik itu juga, nami menutup wajahnya dengan kedua tangan. ujung jarinya menekan pelipisnya dengan kuat.
hatinya benar-benar terasa berat.
ia ingin menyelamatkan dirinya sendiri lebih dari apa pun.
namun, kini ia sadar bahwa ia tidak sendirian.
sanji dalam bahaya.
sama sepertinya ... dan bahkan lebih.
melihat bagaimana informasi ini sangat memengaruhi sang putri, luffy menghela napas kasar. "itulah sebabnya kita tidak bisa membiarkan pernikahan itu terjadi."
———&———
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co