Truyen3h.Co

runaway

runaway - act vii.

fikawashere

luffy tidak menyangka pintu itu akan terbuka hanya beberapa detik setelah ia mengetuknya tepat pada pukul tiga pagi.

namun, wajah murung nami yang muncul dari balik pintu jelas jauh lebih mengejutkan.

tanpa pikir panjang, sang pengawal segera memasuki kamar dan mengunci pintu di belakangnya sebelum berbalik untuk memeriksa kondisi sang putri.

ia hendak menyentuh bahu nami ketika gadis itu tiba-tiba melangkah maju dan memeluknya erat.

begitu erat sampai luffy bisa merasakan jantungnya yang berdebar kencang di dadanya.

deg.

deg.

deg.

deg.

ia membiarkan nami bersandar di bahunya dan mulai mengusap punggung bawahnya dengan hati-hati.

"ada apa, putri? apa yang membuatmu terjaga pada jam tiga pa—"

"jangan pergi."

bisikan lirih disertai remasan kuat di bagian belakang seragamnya membuat luffy terdiam, seolah seluruh kosa kata yang ada di benaknya hilang tanpa bekas.

sang putri tidak ingin ia pergi.

nami tidak ingin ia pergi.

tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat ketika ia menyadari bahwa gadis itu mungkin mengkhawatirkan keselamatan fisik dan mentalnya selama berada di medan perang.

ternyata sangat menyenangkan.

sangat menyenangkan jika ada satu orang saja yang mengharapkan keselamatanmu.

tumbuh di tengah-tengah pasukan pemberontakan, tidak ada yang berani berharap untuk kembali dengan selamat. mereka hidup dan siap mati.

bagaimanapun juga, kematian sangat dekat dengan mereka yang memperjuangkan keadilan.

sesuatu yang baru ini membuat jantung luffy seolah melonjak girang.

ia ingin nami mengingatnya dan menantinya kembali dengan hati yang penuh harapan.

ia ingin nami menjadi orang pertama yang dilihatnya ketika ia kembali.

ia ingin nami menyambutnya dengan pelukan hangat seperti ini.

ia ingin melakukan banyak hal dengan nami.

ia ingin melakukan hal-hal yang tidak bisa mereka lakukan ketika terpisahkan oleh jarak.

berbagai skenario menyenangkan yang terlintas di benaknya itu membuat sang pengawal khawatir nami akan merasakan detak jantungnya yang semakin cepat.

oleh karena itu, luffy dengan hati-hati melepaskan pelukan mereka dengan kedua tangan menangkup bahu sempit sang putri. manik gelapnya bertemu dengan manik indah yang menatapnya dalam.

ketulusan yang terpancar dari matanya membuat luffy tersenyum.

"putri, apakah putri tidak percaya padaku?"

alih-alih menjawab, nami malah mengulum bibir bawahnya—membuat sang pengawal terkekeh sebelum mengusap bahunya dengan lembut.

"aku tidak akan menjanjikan sesuatu yang tidak bisa aku tepati." tangan luffy perlahan turun meraih tangan sang putri dan meremasnya sedikit. "aku pasti akan kembali dengan selamat."

dengan seluruh keberanian yang dimilikinya, pemuda itu mengangkat kedua tangan nami sejajar dengan wajahnya dan memberikan ciuman singkat tepat di atas masing-masing buku jarinya.

"jadi, jaga dirimu dan tetaplah sehat sampai aku kembali."

.

.

.

satu hari.

dua hari.

tiga hari.

empat hari.

belum ada kabar apa pun mengenai pasukan jeruma.

fakta itu membuat empat hari terakhir terasa sangat sulit bagi nami.

ia telah mencoba melakukan semua yang disarankan luffy sebelum pergi.

mengunjungi taman bunga, membaca buku di perpustakaan, berlatih memanah, berkuda di kebun teh, bahkan memberanikan diri duduk di tepi kolam renang.

hanya saja, tak satu pun dari aktivitas tersebut yang bisa membuatnya berhenti memikirkan pengawal pribadinya.

ia yakin luffy akan kembali dengan selamat.

pemuda itu bahkan sudah berkali-kali berjanji padanya.

ia hanya ingin luffy segera kembali padanya.

ia ingin membuka matanya di pagi hari dan tahu bahwa luffy akan berada di depan kamarnya ketika ia membuka pintu.

ia ingin luffy menjadi orang pertama yang dilihatnya di pagi hari.

ia ingin merasakan detak jantung luffy yang tak karuan kala mereka berpelukan seperti terakhir kali.

ia ingin melakukan banyak hal dengan luffy.

ia ingin melakukan hal-hal yang tidak bisa mereka lakukan ketika terpisahkan oleh jarak.

berbagai skenario menyenangkan yang terlintas di benaknya itu membuat sang putri tersenyum malu.

ia kembali menusuk sebutir bluberi di piringnya sebelum menyuapkan buah segelap langit malam itu ke dalam mulutnya.

namun, ruang makan yang tadinya sepi tiba-tiba dipenuhi bisikan-bisikan ribut setelah seorang pengawal berlari masuk dari luar untuk menyampaikan kabar yang didengarnya kepada pengawal lain yang berjaga di sana.

kabar kembalinya pasukan jeruma dari medan pertempuran.

"kudeta gagal. lima puluh tentara kita tewas dan seratus kembali dengan luka serius."

———&———

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co