Truyen3h.Co

Spring Blooming #1

12. Uh, What?!

authoriya

Myungsoo mendengus, gadis di depannya ini benar-benar membuatnya jengkel. Dari sekian banyak waktu, kenapa pula Soojung harus berada disini, saat ini?

Kedua manik mata tajamnya meneliti gadis itu dengan pandangan menyipit. Ia tidak heran mengapa Kai berciuman dengan gadis lain saat statusnya masih menjalin kasih dengan gadis didepannya ini. Tentu saja, ekspresi angkuh dan kalimat pedasnya itulah yang mungkin membuat Kai berselingkuh, pikir Myungsoo.

Myungsoo menghembuskan napas nya keras-keras, kemudian bertanya dengan kalimat sakarstik, "Perlu apa kau kemari? Mengganggu saja."

Soojung membelalakan matanya tak percaya. Satu tangannya bergerak memukul lengan Myungsoo dengan kasar, membuat lelaki itu mengaduh.

"Harusnya aku yang bertanya seperti itu! Sedang apa kau disini? Mau mencuri kesempatan karena Ibu Han sedang kerja, heh?!" Desisnya. Tangannya bergerak mengambil ponsel dari dalam saku tas, "Tunggu sampai Ellen mengetahui hal ini!"

Sejak diam kaku dibelakang Soojung beberapa menit yang lalu, Suzy membelalakan mata mendengar nama Ellen disebut. Dengan gerakan cepat, kedua tangannya menahan pergelangan tangan Soojung yang sedang mencoba menghubungi Ellen. Tentu saja Suzy belum siap menerima amukan Ellen jika sampai saudara kembarnya itu tahu kalau Myungsoo ke rumah mereka.

Soojung mengernyit, "Why, Suzy?"

"Rahasiakan ini dari Ellen. Kumohon?" Kata Suzy. Gadis itu menggigit bibir bawahnya dengan mata tertutup memohon pada Soojung. "Ellen tidak perlu tahu kalau Myungsoo kesini. Ya, Soojung?"

Soojung menyipitkan matanya, "Dan kenapa Ellen tidak perlu tahu?"

"Karena..." Suzy menggigit bibir bawahnya, merasa bingung alasan apa yang harus ia katakan.

"Karena kalau kau memberitahu Ellen, aku juga akan memberitahu seluruh civitas universitas kalau Ellen membohongi mereka." Myungsoo menyela. Kedua tangannya masuk kedalam kantung celana sambil menatap Soojung dengan pandangan santai khas laki-laki itu.

"Hei, kau..." Soojung kehilangan kata-katanya. Ditatapnya laki-laki bermarga Kim yang sama brengseknya dengan sang  mantan kekasih itu dengan kesal. Kesepuluh jemarinya terkepal disisi kiri dan kanan, kemudian ia mendesah.

Tidak akan berjalan sempurna kalau Myungsoo sampai membocorkan hal ini, batin Soojung.

"Aku tidak akan memberitahu hal ini pada Ellen. Tapi..." Soojung menyipitkan matanya, "Ini terakhir kalinya kau kesini!"

"Siapa kau berani nya mengaturku?" Myungsoo terkekeh dengan gaya mengejek.

"Kau perlu bertanya siapa aku?" Soojung tersenyum congkak, gadis itu kemudian melipat tangannya didepan dada, "Aku Jung Soojung, tentu saja. Dan apapun yang menyangkut sahabatku aku wajib mengetahuinya."

Myungsoo berdecak. Tangannya mengambil segelas air mineral kemudian meneguknya. Setelah itu, matanya menatap Suzy yang berdiri dibelakang Soojung selama beberapa detik sebelum perhatiannya kembali ke gadis berambut coklat didepan Suzy. Myungsoo mendesah, "Kenapa kau tidak urusi saja Kai, kau rela dia bersama Sulli?"

Praktis, tubuh Soojung menegang. Rahangnya bergemertak namun ia bisa mengendalikan dirinya dengan cepat, "Kau fikir aku peduli?"

"Kenyataannya begitu." Myungsoo mengedikkan bahu. Pandangannya meneliti Soojung dengan ekspresi mengejek yang kentara, "Nenek tua juga bisa tahu kalau kau masih menyukai Kai, Soojung."

"Hell, no!" Soojung menjawab dengan cepat. Soojung merutuk kesal, dengan gerakan kasar gadis itu bergerak mendorong Myungsoo ke luar dapur, "Pergi sana! Dasar menjengkelkan."

"Sial, kenapa kau malah yang mengusirku? Yang punya rumah saja tidak keberatan." Myungsoo bergerak menjauhkan diri. Matanya menatap kesal gadis bermarga Jung.

Soojung mendengus, "Tentu saja! Suzy mana mungkin mengusir orang. Sana pergi! Tunggu sampai Ellen datang lima hari lagi, mati kau!"

Myungsoo bergeming ditempatnya. Ditatapnya Soojung dengan raut bertanya yang kentara. "Apa? Dia akan kembali?"

"Kenapa kau jadi tidak bersemangat begitu?" Soojung mengernyitkan dahi, gadis itu sedikit bingung akan ekspresi yang dikeluarkan Myungsoo barusan. Pasalnya, lelaki itu begitu mengejar-ngejar Ellen dan tidak peduli walaupun Ellen menolak atau memakinya. Tapi, melihat pertanyaan serta raut wajah Myungsoo sekarang membuat Soojung mengernyitkan keningnya. "Kau sehat?"

Myungsoo menatap Suzy dengan tatapan yang sulit diartikan. "Jadi, kau akan ke New York?"

"Tentu saja Tid--"

"Mm... Mungkin aku akan ke New York sementara Ellen disini." Ucapnya tanpa berfikir panjang. Padahal, kedatangan Ellen kesinipun baru saja dia ketahui sekarang.

Namun, jika benar Ellen kesini mungkin ini akan menjadi ide yang baik agar dia bisa pulang. Sejujurnya, dia merindukan orang-orang di New York.

Soojung menoleh cepat. Ditatapnya Suzy dengan mulut sedikit terbuka, "Suzy, disana kan libur. Kenapa kau harus pulang? Kau, Ellen dan Aku kita harus pergi ke klub bersama-sama. Oh my god!"

"Aku juga merindukan bibi Merry, Soojung." Suzy mendesah.

Soojung memutar bola matanya, "Geez, kau bisa bervideo call dengan bibi itu tanpa harus repot-repot kesana. Lagian, Ellen juga sudah bicara dengan ayah kalian dan dia mengizinkan Ellen-sebagai dirimu-ke Korea."

"Yang benar?"

Soojung mengangguk. Lalu meringis, "Jangan katakan pada Ellen jika aku membocorkan ini. Okey?"

Saat itu Ellen mengatakan jika ia ingin memberi Han Sora dan adiknya kejutan dengan datang secara tiba-tiba. Karena mengingat mereka sudah lama tidak berkumpul bersama-sama. Soojung yang mendengar hal itu lantas saja merespon dengan nada tak percayanya. Dan tentu saja Ellen malah memarahinya. Salahkan Ellen karena tiba-tiba bersikap seperti 'bukan' dia saja.

***

"Aku tahu kalian pasti bisa mengerjakan ini." Mrs. Lee berkata dengan decak kagum saat menilai essay yang dikumpulkan oleh Suzy dan juga Myungsoo di ruangannya sebelum kelasnya di mulai.

Mata yang berbingkai kacamata silinder itu membaca kalimat pertama pada essay itu, "Aku tidak percaya kemampuan kalian mengerjakan essay yang kusuruh semakin baik, Ellen, Myungsoo." Mata itu melirik senang kepada dua mahasiswa nya.

Suzy mengangguk, "Aku tidak akan mengulangi kesalahan lagi, Mrs. Lee."

Mrs. Lee tersenyum, "Karena kalian mengerjakan essay dengan sangat baik. Aku memaafkan kalian berdua." Kedua mata Mrs. Lee kembali pada essay yang dipegangnya, "Ah, Myungsoo, Ellen? Bisa kalian membawakan tugas-tugas teman kalian ke kelasku? Aku akan masuk sedikit lebih terlambat, jadi kalian bisa membuka kelasku lebih dulu agar teman-teman kalian bisa masuk."

"Tentu saja, Mrs. Lee."

***

Kedua tungkai itu berhenti melangkah, lalu menghentakkan kakinya dengan kesal. Kepalanya menoleh kebelakang dengan kedua manik mata Suzy memandang laki-laki yang berjalan tidak jauh darinya.

"Mengapa?" Tanya Myungsoo santai. Kedua tangan laki-laki itu bahkan terkurung nyaman pada masing-masing saku celananya. Myungsoo berjalan sambil mengikuti Suzy yang sedang membawa essay-essay milik teman sekelas mereka, sedangkan dirinya membawa kunci pintu kelas mereka.

Sebagian mata mencuri pandang kearah mereka. Pemandangan aneh melihat Ellen dan Myungsoo berjalan dalam radius sedekat seperti sekarang. Dan, pemandangan yang aneh melihat seorang Bae Ellen membawa tumpukan kertas ditangannya. Bahkan, laki-laki yang kerap mengejar gadis itu sama sekali tidak menolong si gadis untuk membawakan tumpukan kertas itu.

"Apa Myungsoo sudah tidak menyukai Ellen lagi?"

"Kurasa begitu. Aku juga jika menjadi Myungsoo malas mengejar gadis angkuh sepertinya."

"Husst, bisa mati kau jika Ellen mendengar ucapanmu!"

Suzy mendesah frustasi saat bisikan-bisikan itu terdengar ditelinganya. Dipejamkannya matanya sesaat, lalu kembali menghela napas.

Kedua manik matanya kembali bersibobrok dengan manik mata hitam milik Myungsoo, "Dasar tidak peka!" Gumamnya pelan. Kemudian gadis itu kembali berjalan.

Dalam hatinya ia sangat ingin menyumpahi Myungsoo. Bagaimana bisa dia mengatakan cinta padanya dua hari yang lalu, namun sekarang laki-laki itu sama sekali tidak memiliki kesadaran untuk membawa tumpukan essay ini dan memilih tebar pesona dengan berjalan dibelakangnya. Benar-benar!

Suzy semakin menghentakkan langkah kakinya. Ia ingin cepat-cepat sampai ke depan kelas materi Bahasa Inggris itu. Setidaknya, tumpukan kertas sialan yang dipegangnya ini bisa diletakkannya di meja pemateri atau bahkan langsung dibagikan kepada pemiliknya masing-masing.

Mulutnya masih terkatup rapat dengan kening mengerut kesal saat matanya melihat sekelompok gadis pirang berjalan dari arah selatan. Suzy memandangi kelompok pirang itu dengan menggelengkan kepalanya. Setidaknya, pakaian yang dikenakan Ellen dan Soojung masih terbilang sopan daripada gadis-gadis pirang itu. Kemudian, ingatannya kembali saat Soojung yang mengatakan jika gadis itu membenci kelompok pirang yang semakin dekat kearahnya.

Si gadis pirang yang berdiri paling depan tersenyum ketika kedua matanya melihat Suzy, kemudian menyapa dengan nada baik yang dibuat-buat, "Ellen, annyeong!"

Suzy tak menjawab. Entah kenapa, ia pun tak tahu. Yang jelas, sapaan itu terdengar menjengkelkan ditelinganya. Tanpa sadar kakinya berhenti ketika si gadis pirang yang tadi menyapanya itu melambaikan tangan dengan gaya berlebihan keararah belakang Suzy, lalu si gadis pirang itu berlari kecil melewati Suzy. Diikuti oleh beberapa teman sekelompoknya.

Suzy otomatis menoleh, Mengikuti kemana tujuan si gadis pirang dan teman-temannya itu. Keningnya yang tanpa sadar berkerut sejak tadi langsung hilang seketika, kini hanya ada pupil mata yang membesar dan tanpa sadar Suzy menahan napasnya saat melihat apa yang terjadi didepannya saat ini.

Yang dilihatnya adalah, kedua lengan telanjang milik si gadis pirang itu bergelayut di leher laki-laki yang sejak tadi berjalan di belakangnya itu dengan mesra. Dan padabdetik berikutnya, Suzy merasa bahwa ia ingin menangis.

Myungsoo mencium gadis pirang itu!

Tidak...

Gadis pirang itu mencium Myungsoo!

Tidak...

Shut up! Terserah siapa yang mencium siapa, yang jelas kedua bibir itu saling menyentuh. Didepan mata Suzy dan beberapa mahasiswa yang sedang berada disana.

Suzy masih menahan napasnya. Buku-buku tangannya mengetat seraya mencengkram tumpukan kertas yang dipegangnya.

Don't cry. Jangan membuat Ellen malu, sekarang yang harus kau lakukan hanyalah pergi darisini, Suzy... Gadis batin Suzy mencoba menenangi dirinya.

Ia menghitung sampai tiga ketika akhirnya gadis itu bisa menghembuskan napas yang sejak tadi ditahannya itu. Suzy kemudian kembali memutar tubuhnya dan berjalan cepat kearah depan.

***

Kukira nulis itu gampang, ternyata berat. HAHAHA
benar kata Dilan, enakkan ngomen dan ngevote aja.

Sorry kalo rada 'aneh'. Aku juga sedikit bosan nulis ini skrg:( makanya diselingi sama nulis Catstagram dan beberapa tulisan lainnya dan nonton drakor. Biar dapet lagi 'semangat'nya nulis SB:')

Btw, crita re set aku ganti cast nya. Bukan Myungzy. So, jangan ditunggu nanti kamu kesal:D

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co