Truyen3h.Co

Spring Blooming #1

13. Bigo

authoriya

"Wow, kau pacaran dengan Park Jiyeon?" Kai menepuk pundak belakang Myungsoo, kemudian ikut duduk di bangku kosong disebelah laki-laki itu. Isi kelas sudah sepenuhnya ramai dan Myungsoo tidak mungkin menyamperi Suzy di tempat duduknya.

Sial.

Saat masih mengejar Ellen dirinya bahkan berani terang-terangan didepan si tukang robot dan mahasiswa lain mendekati Ellen, mengapa dengan Suzy tidak? Apa dia takut jika Suzy menangis dan membuat penyamaran gadis itu dan saudara kembarnya terbongkar?

Ck, sejak kapan pula dia memikirkan orang lain... Myungsoo mengusap wajahnya frustasi.

Ia menghela napas, memandangi punggung yang tidak menoleh sama sekali sejak tadi itu dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Jiyeon sialan, batin Myungsoo kesal. Gadis pirang itu berani sekali menciumnya dalam keadaan sadar seperti tadi, dan di depan banyak orang pula. Dan lagi... Di depan Suzy.

Astaga.

"Dude, kau tidak mau menjawab pertanyaanku?" Kai kembali bersuara saat pertanyaan pertamanya belum juga mendapat jawaban.

"Kukira Myungsoo akan selamanya bertekuk lutut pada Ellen." Kata Max.

Lagi-lagi Myungsoo mendesah. Tangannya bergerak mengacak-acak rambutnya dengan gerakan random. Lalu, menoleh kepada dua sahabatnya itu, "Aku kini tahu apa perasaanmu." Ucapan itu ditunjukkan pada Kai.

Membuat laki-laki yang memiliki kulit sedikit hitam itu menaikan alisnya dengan pandangan bingung, "Maksudmu... Astaga, kau berciuman dengan Jiyeon karena mabuk juga?" Kai sampai menggebrak mejanya karena menemukan fakta, tapi kemudian matanya menyipit, "Tapi, kau terlihat baik-baik saja..."

"Aku tidak mabuk." Myungsoo menggerutu.

"So? Kau dalam keadaan sadar mencium Jiyeon?" Timpal Max.

Myungsoo menatap Max--pria tinggi dengan potongan rambut seperti pria yang akan pergi wamil itu dengan kesal, "Aku tidak menciumnya."

"Geez, kupikir tadi foto ini editan." Kai memberikan ponselnya kedepan wajah Myungsoo.

Myungsoo terkejut, "Bagaimana foto ini tersebar di group angkatan?!"

"Salah satu anggota dari kelompok pirang itu yang menyebarkannya." Kai menggedikan bahu, "Jadi, Jiyeon yang menyosormu? Wow..." Kai berlaku seperti sedang membayangkan sesuatu.

"Ya, dia yang menciumku. Dan didepan mata seseorang yang kusukai itu."

Max membawa kedua tangannya keatas meja, "Ellen?"

"Siapa lagi?" Myungsoo balik bertanya dengan kesal.

"Kau sudah tamat, brother." Jawab Max.

Yang kemudian diangguki oleh Kai.

"Sial." Myungsoo menggerutu.

***

Pukul dua belas lebih tiga menit saat Mrs. Lee mengakhiri materi mereka minggu itu. Praktis, sebagian besar mahasiswa-mahasiswi dikelas itu berbondong-bondong keluar kelas mengekor dibelakang Mrs. Lee agar bisa meluncur ke kantin karena perut mereka sudah memanggil-manggil.

Suzy, ikut bergabung diantara kerumunan itu bersama si kawat gigi yang namanya tidak diketahui Myungsoo. Buru-buru Myungsoo memasukkan notebook nya, kemudian menyusul gadis itu. Ia harus menjelaskan dan wajib menjelaskan. Persetan dengan orang-orang yang nantinya berpikir macam-macam tentang Ellen yang ternyata bisa menangis juga. Sedangkan, Max dan Kai melempar pandang satu sama lain. Kemudian keduanya sama-sama mengangkat bahunya. Mereka berdiri, bergegas mengikuti Myungsoo yang sudah lebih dulu keluar kelas.

Suasana di luar ruangan universitas itu nyatanya lebih padat daripada biasanya. Hal yang selalu terjadi jika mendapatkan materi di jam siang seperti ini.

"Ng... Ellen? Aku harus ke perpustakaan dulu." Tiba-tiba si gadis berkawat gigi menoleh gugup kearah Suzy.

Suzy berhenti melangkah, kemudian mengangguk, "Um... oke." Responnya. Sebenarnya, dia juga tidak mengerti kenapa dia bisa berakhir berjalan bersama gadis berkawat gigi itu, namun keinginannya tadi hanya satu; cepat pergi dari dalam kelas mengikuti Mrs. Lee sehingga Myungsoo tidak akan berani macam-macam terhadapnya.

Oke, bukan macam-macam juga seharusnya. Tapi, Suzy belum menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan itu sekarang. Yang jelas dia tidak mau bertemu dengan--

"Ellen!"

Suzy membelalakan matanya mengetahui siapa yang memanggilnya barusan. Ditatapnya gadis berkawat gigi yang masih berdiri didepannya itu lurus-lurus, "Kau lekaslah ke perpustakaan. Aku harus buru-buru pergi dari sini mencari Soojung dan Minho. Bye!"

Tanpa menunggu jawaban dari si gadis berkawat gigi itu, Suzy langsung melangkahkan kembali kakinya kedepan. Kali ini bahkan terkesan sambil berlari kecil.

Si gadis berkawat gigi memandang punggung Suzy dengan ke-khawatiran. Dia tahu jika Myungsoo mengejar-mengejar gadis itu sejak dulu, namun dia juga tahu jika gadis itu tidak menyukai Myungsoo.

"Kasihan Ellen harus dikejar-kejar oleh lelaki brandal tapi tampan seperti Myungsoo." Gumamnya. Kemudian berbelok kearah jam sembilan, ke gedung perpustakaan universitas mereka.

***

Suzy menatap tangan yang mencengkram pergelangan tangan kirinya itu dengan jantung berdebar. Setelah berhasil kabur dari dalam kelas akhirnya Myungsoo berhasil menangkapnya. Di koridor antara letak loker dan juga koridor penghubung kearah kantin.

Dia tidak ingin membuat keributan disini dan dia tidak ingin menjadi pusat perhatian. Tetapi sepertinya pusat perhatian seluruh mahasiswa yang kebetulan berada dalam jarak terdekat dengan Suzy dan Myungsoo telah terpusat seutuhnya kepada mereka berdua. Suzy mengigit bibir bawahnya, mencoba menarik tangannya yang dicengkram laki-laki didepannya itu. Namun, tidak bisa.

Untuk pertama kalinya dalam situasi ini, Suzy mendongak. Membalas tatapan Myungsoo kepadanya. "Aku tidak ingin menjadi pusat perhatian."

"Yang tadi tidak seperti yang kaulihat."

"Lepaskan." Kata Suzy dengan suara cepat. Mencoba menarik tangannya meskipun dirinya tahu itu sama sekali percuma.

"Yang tadi tidak seperti yang kaulihat." Myungsoo mengulang. Mata tajam itu menatap dengan serius gadis didepannya. Namun, Suzy memilih tidak menanggapi tatapan itu.

Suzy menghela napas, "Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan, Myungsoo. Lepaskan cekalanmu."

Gadis itu kembali menggigit bibir bagian dalamnya saat indera pengdengarannya menangkap bisik-bisik dari beberapa mahasiswa disekitar mereka. Bahkan, mahasiswa-mahasiswa itu sudah mengerubung membentuk lingkaran mengelilingi Suzy dan Myungsoo.

Kai dan Max menyeruak diantara kerumunan itu. Menatap bingung pada kedua manusia yang kini menjadi pusat perhatian itu.

"Aku tidak mencium Jiyeon." Ucap Myungsoo setelah menghela napasnya sekali.

"Kenapa dia menjelaskan ke Ellen?" Max menoleh kearah Kai.

Kai mengedikkan bahu, "Mungkin Ellen cemburu."

"Ha ha ha. Sampai bumi runtuh hal itu tidak akan terjadi sepertinya..." Max menanggapi.

Keduanya kembali fokus menatap sahabatnya dan satu wanita yang disukai setengah mati oleh sahabatnya itu dengan seksama.

Kerumunan itu semakin membesar dan suara riyuh bisik-bisik semakin banyak terdengar. Suzy tersenyum dengan jenis senyuman artifisial kearah Myungsoo, "Kau menciumnya. Dan aku tidak peduli."

Dihentakkannya tangan miliknya hingga cekalan itu terlepas. Kedua manik matanya kembali menatap mata tajam laki-laki itu dengan sinis--namun, Myungsoo bisa melihat ada kekecewaan yang sebenarnya terdapat didalam bola mata itu. Ada nyeri didalam hatinya saat melihat kesedihan itu.

"Aku tidak mencium Jiyeon." Kembali Myungsoo katakan hal itu kepada Suzy.

"Ya, ya. Terserah padamu saja." Suzy tersenyum sinis. Kedua matanya menatap Myungsoo selama tiga detik, kemudian tubuhnya berbalik. Dia harus segera pergi dari sana sebelum kerumunan disekitar mereka menjadi lebih banyak.

Suzy baru melangkahkan kakinya sebanyak dua langkah saat Myungsoo memegang bahu-nya dan membuatnya kembali menghadap kearah laki-laki itu. Kedua tangan Myungsoo berada disisi wajah Suzy dan dengan gerakan pelan namun pasti Myungsoo lalu mencium bibir gadis itu. Suzy.

"Oh my god!"

"Apa dia sudah gila?"

"Choi Minho akan menerjangnya jika sampai melihat ini!"

"Videokan itu, hal ini akan menjadi berita besar!"

"Dasar gadis jalang!"

"Dude, mengapa kau tidak menahan hasratmu!"

"Temanku , kau yang terbaik!"

Kata-kata itu yang hilir-mudik di telinga Suzy ketika merasakan bibir milik Myungsoo menciumnya. Tubuh Suzy menegang sepenuhnya, kedua matanya membulat sempurna. Ketika tangan gadis itu hendak mendorong tubuh Myungsoo menjauh, rupanya Myungsoolah yang lebih dulu menyudahi ciuman itu.

Myungsoo mundur satu langkah, "Seperti itu yang dinamakan aku yang mencium."

Suzy menahan napasnya, kesepuluh jemarinya saling meremas satu sama lain sebelum akhirnya terurai dan...

Plak!

Bunyi tamparan itu membuat suasana disekitar sana semakin hening, suara-suara "Oh!", "Wow!", "Duh!" -lah yang menjadi backsong dalam keheningan yang mencekam detik itu. Beberapa anak sibuk memvideokan hal itu untuk menjadi bahan gosip dengan teman-teman mereka.

Myungsoo mengusap pipi kirinya yang terkena tamparan dengan pelan. Rahangnya mengeras. Dia sama sekali tidak menyangka jika Suzy akan menamparnya.

"Jangan pernah muncul di hadapanku lagi." Ucap Suzy dengan suara bergetar. Dan pada detik berikutnya gadis itu melangkah menjauh keluar dari kerumunan yang otomatis menatap kearahnya dengan pandangan penasaran.

Jangan menangis... Jangan menangis... Jangan menangis... Suzy merepal kata-kata itu dalam hati dengan langkah besar.

Dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Dan dia membutuhkan Soojung secepatnya. Mengapa gadis itu tiba-tiba hilang disaat Suzy membutuhkannya. Kenapa Soojung tidak hadir disaat waktu seperti sekarang.

Dengan tangan bergemetar Suzy mengambil ponsel dari dalam kantung tasnya. Menekan panggilan cepat pada angka nomor 4 dan menunggu sambungan teleponnya terhubung. Langkah kakinya kian menjauh meninggalkan kerumunan yang kini sudah menghilang itu.

"Oh, Soojung. Kau dimana?" Tanya Suzy dengan air mata mengalir di pipinya.

***

Uff uff... Kenapa dah ini >,<
Sori ya pendek. Besok di panjang deh. Jangan bawel, mwah!

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co