Truyen3h.Co

Tit For Tat | Jaehyun✔️

10

authoriya

"AKU Chand, Rosa. Aku Chand..." ucap Chand, pria itu maju selangkah namun Rosa mundur dua langkah.

Tatapan mata Rosa yang menyiratkan ketegangan, juga dengan jemari tangannya yang bergetar—Chand melihat itu dari bagaimana tangannya yang bergetar saat memegang cup odeng—membuat Chand merasa sedih. Wajah pria itu yang muram jelas terlihat, ditambah mata sedunya yang seakan turut menyiratkan kesedihan mendalam. Chand mencoba meraih lengan Rosa, namun secepat kilat Rosa menjauhkan lengannya.

Wanita itu menggeleng pelan. "Aku tidak mengenalmu."

"Kau mengenalku."

Rosa menggeleng lagi, semakin kencang. "Suamiku mengatakan kau orang jahat, jadi mana mungkin aku mengenal orang jahat!"

Rosa berusaha pergi, namun seperti di sambar petir tangan Chand langsung terulur menahan wanita itu agar tidak kemana-mana. Dia tidak ingin Rosa jauh dari jarak sentuhnya, dia tidak ingin kehilangan wanita itu lagi.

"Maaf," ucap Chand seraya melepaskan cengkeramannya ketika melihat ekspresi horor Rosa. Lalu, ia buru-buru menambahkan. "Kita saling mengenal, Rosa. Percayalah."

"Tidak."

"Aku serius, Rosa. Aku serius," Ucap Chand dengan hati teriris.

Rosa menggeleng lagi. "Kau bohong!"

"Aku bersungguh-sungguh. Satu-satunya yang berbohong adalah Jefri karena dia mencoba menjauhkan kita. Kita adalah sahabat..." suaranya semakin memelan saat mengucapkan kata terakhirnya. Dan aku mencintaimu... tambah Chand dalam hati.

"Sahabat?"

Chand mengangguk. Pria itu melangkah mendekat, mengulurkan tangannya kembali dan Rosa tidak menolak ketika pria itu mengajaknya untuk mengambil tempat di bawah rindang pohon yang ada kursi kayunya disana. Lalu, keduanya duduk.

Masih dengan menatap Rosa, Chand merogoh ponselnya dari dalam saku jaket, membuka kunci layar dan seketika foto pria itu dan Rosa yang tengah tersenyum menghadap kamera dengan Rosa yang membawa tart coklat dengan tulisan 'selamat ulangtahun, Rosa.' . ujung hidung Rosa cemong terkena cream kocok, namun jelas aura kebahagiaan tersirat di foto itu.

Ada sesuatu di dalam diri Rosa yang tiba-tiba merasa hangat ketika melihat foto itu. Bahkan walaupun sulit diyakini perasaan apa ini, tapi yang terjadi ketika ia bertemu dengan pria di hadapannya ini adalah radarnya tidak bersikap siaga. Sikap defensifnya tadi adalah murni karena terkejut melihat sosok yang ada dalam foto berkamuflase di depan mata. Hanya itu.

Namun, alih-alih mendalami apa yang dikatakan Chand—atau apa yang ia lihat di ponsel pria itu—Rosa langsung menarik tangannya hingga terlepas dari genggaman Chand, lalu ia berdiri.

Ditatapnya Chand tepat di manik mata. "Aku tidak tahu apakah yang kau katakan itu benar, atau tidak," Rosa menggigit bibir dalamnya sekilas, lalu kembali melanjutkan, "Tetapi aku yakin kalau suamiku tidak akan membohongiku." Rosa menunduk sekali. "Aku permisi."

Tangannya gemetar ketika berbalik.

"Rosa!" Chand hendak mengejar wanita itu cepat, sebelum Rosa kembali berbalik dengan ancaman keras. Tidak hanya melalui sebuah kalimat, namun dengan kedua matanya juga.

"Jangan ikuti aku, atau aku akan panggil polisi!"

Membuat langkah Chand terhenti di tempatnya. Pria itu menatap muram pada punggung yang semakin menjauh di depannya, dan menghilang di telan oleh kerumunan orang yang berlalu-lalang.

***

Pertemuan itu benar-benar mengusik pikiran Rosa.

Berkali-kali ia mengganti posisi duduknya yang tak nyaman, ia juga kerap menghela napas keras-keras dalam jeda waktu yang tak lama. Ucapan Chand bagaikan jaring laba-laba yang memerangkapnya dalam angan, dan untuk kali pertama sejak tersadar di rumah sakit waktu itu Rosa merasakan rasanya gusar.

Suara bibi Pyo berulang mempertanyakan kegelisahan yang ditampilkan nyonya-nya di waktu yang beruntutan, sejak mereka sampai di villa, memasak di dapur dan kini sedang menunggu lasagna matang. Duduk pada salah satu kursi kayu berukir yang mengelilingi meja makan dengan apron menggantung di tubuhnya, lamunan Rosa benar-benar hampir mencelakakan diri wanita itu sendiri. Bahkan terkadang bibi Pyo harus mengulang dua kali pekerjaannya—padahal niat awal Rosa hendak menolongnya mencuci beberapa belanjaan yang mereka beli di pasar tradisional. Tapi alih-alih, Rosa malah menambah pekerjaannya.

Selain itu, bibi Pyo harus mengadon ulang bahan untuk menu makan malam mereka karena Rosa melamun dan menyebabkan apa yang sedang di goreng olehnya berakhir gosong. Tidak sedikit, tetapi semuanya. Akhirnya karena tidak tahan harus mengulang beberapa pekerjaan dari awal, bibi Pyo mencoba mengatasi dengan menyarankan kepada Rosa membuat lasagna yang di minta Jefri tadi sebelum berangkat ke perusahaan cabang tadi pagi.

"Nyonya, Pak Jefri telah tiba." Seorang pelayan wanita menginformasikan kepada Rosa dari ambang pintu dapur.

Rosa yang melamun langsung tersentak, menoleh dan mengangguk cepat. Ia segera bangkit dari duduknya sambil melepas apron yang masih dipakainya dan menyerahkan apron itu kepada bibi Pyo, "Tolong bantu aku tangani lasagna itu ya, bi?"

Bibi Pyo mengangguk dan mengambil apron yang diulurkan Rosa tadi. Wanita setengah baya itu menghela napas lega ketika air muka majikannya yang tadinya keruh tak terbaca, sekarang mengalami perubahan aura. Jangan-jangan sejak tadi Rosa diam dan kalut adalah karena dia merindukan suaminya? Pikirnya.

Rosa berjalan cepat dan langsung memeluk Jefri ketika pria itu sudah berada dalam jarak sentuhnya. Ia membiarkan Jefri mencium puncak kepalanya dan semakin menenggelamkan diri dalam bumi yang sedang balas memeluknya kini. Wangi aroma tubuh Jefri bercampur dengan aroma parfum yang pria itu gunakan sungguh menenangkan pikirannya yang kacau. Dan bodohnya, ia sempat mencurigai pria yang sedang memeluknya ini hanya karena ucapan dari pria yang tidak dikenalnya, plus foto yang digunakan pria itu sebagai wallpaper ponsel tadi.

"Aku sangat bosan disini..." suara Rosa teredam oleh pelukan. Lantas, kepalanya mendongak perlahan dan memenukan manik mata tajam yang kini memandangnya dengan tatapan hangat. Rosa lantas mengulas senyum, dan berjinjit pelan untuk memberikan satu kecupan di bibir Jefri. "Kau terlalu lama meninggalkanku. Aku merindukanmu."

Kehangatan sekaligus rasa nyeri langsung melingkupi Jefri. Pria itu membalas senyuman Rosa seraya menyingkirkan dengan gaya seringan bulu anak-anak rambut di pelipis Rosa. "Banyak yang harus kulakukan di tempat baruku. Aku juga sama sedihnya meninggalkanmu di villa terlalu lama."

"Dan kau tidak ada niatan untuk mengajakku. Apa pekerjaanku dulu?"

Lagi-lagi pertanyaan tak terduga membuat Jefri terkejut. Tangannya mengambang diudara selama lima detik sebelum kembali melanjutkan aktivitasnya. Jefri mengalihkan pembicaraan, "Aku akan mengajakmu lain kali. Apa yang kaulakukan seharian ini?"

Rosa melepaskan pelukannya. Ia berjalan sambil mengandeng lengan Jefri menuju lift dan keduanya masuk ke dalamnya. "Aku ikut bibi Pyo ke pasar tradisional dan mencicipi berbagai makanan disana. Apa kau pernah ke pasar tradisional?"

"Apa?"

"Kau pernah ke pasar tradisional?" Rosa mengulangi pertanyaannya. Senyumnya kembali terukir ketika mengingat perasaannya tadi ketika mencicipi berbagai makanan di sana. Rasanya, ia ingin mengulangi kulinerannya lain kali bersama Jefri.

Namun, katika merasa Jefri yang tak kunjung menjawab pertanyaannya, bahkan sampai pintu lift terbuka, Rosa lantas mendongak sambil melangkah menuju kamar mereka. Kedua alisnya terangkat saat menemukan ekspresi tegang di wajah Jefri. Ia yang langsung paham, buru-buru menambahkan. "Aku salah ya karena ikut bibi Pyo dan tidak meminta izin padamu dulu?"

"Aku kan sudah mengatakan padamu kalau kau bisa berpergian ditemani Hyun."

"Tetapi Hyun tidak ada, dan kurasa dia memiliki urusan lebih penting membantumu di perusahaan daripada mengikutiku jalan-jalan," Rosa mendesah. Melepaskan rangkulan pada lengan Jefri dengan wajah muram. Kepalanya mendongak, menatap sebal Jefri. "Aku bukan tahanan, tahu!" lanjutnya dengan suara naik satu oktaf.

Kemudian dia melangkah masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya dari dalam. Biarkan saja Jefri diluar, siapa tahu udara dingin bisa menyadarkannya kalau istrinya ini juga butuh hiburan selain menunggu suaminya pulang bekerja. Rosa memberikan tatapan tajam ke arah pintu seolah-olah pintu itu tembus pandang dan bisa menghantarkan tatapan tajam itu langsung kepada Jefri.

"Rosa, maaf kalau aku salah bicara. Aku bukannya bermaksud untuk melarangmu keluar. Aku hanya takut kau terluka."

"Aku tidak mungkin terluka," Rosa mendengus kasar. "Aku bukan anak umur tujuh tahun."

"Iya, aku paham," ucap Jefri lagi sambil mengetuk pintu kamar itu dari luar. "Aku minta maaf, ya? Kumohon buka pintu ini sayang..."

Rosa tak membalas lagi. wanita itu melangkah menuju ranjang dan menggeletakkan diri disana, kedua matanya memandang lampu yang menggantung pada langit-langit kamar dengan minat berlebih. Lagi-lagi perasaan asing kembali merundungi kepala atas apa yang baru ia lakukan ini. Seolah-olah apa yang ia lakukan itu—merajuk dan bersikap manja— adalah kali pertama dilakukannya seumur hidup. Membuatnya semakin penasaran bagaimana sikap dan sifatnya selama ini...

Di samping itu, ada hal yang tak luput mengganggu benaknya; bahwa satu pertanyaannya tadi tidak di jawab oleh Jefri.

"Sebenarnya siapa dan bagaimana aku yang sesungguhnya..." gumam Rosa sehalus angin.

***

Chand duduk dalam kegelapan. Bahkan, ketika matahari mulai muncul bersama dengan galur-galur keemasan yang memancar masuk melalui celah-celah gorden kamar hotel, pria itu tetap diam di tempatnya. Tak merubah posisinya sedikitpun.

Kemarin setelah pergi menemui Risa—namun tidak berhasil karena penjagaan ketat—akhirnya Chand memutuskan untuk menyising tempat-tempat yang memungkinkan. Setelah penjelajahannya kemarin-kemarin tidak membuahkan hasil, Chand berupaya merubah petanya, dan mulai mencari Rosa dari tempat terjauh—juga terpencil—yang mungkin tidak terpikirkan oleh orang lain kalau berada di posisinya.

Dan di desa itu terdapat anak cabang perusahaan keluarga Jefri yang belum lama didirikan. Meskipun tidak begitu yakin, tetapi harapan Chand besar ke sana.

Singgah ke pasar tradisional memang tidak termasuk dalam destinasi, karena Chand yang belum makan sejak pagi dan cacing-cacing diperutnya mulai berkonfrontasi untuk demo, alhasil Chand terpaksa meluangkan waktu ke pasar itu untuk membeli makanan pengganjal dan bisa di makan di mobil. Dan takdir mulai bermain disana, ia sama sekali tidak menyangka jika wanita yang tengah terkena pelototan dari penjual odeng adalah wanita yang ia cari-cari keberadaannya.

Lalu sekarang, segala tentang Rosa sore kemarin semakin mengganggunya, dan ia benar-benar tak terima karena omongan Jefri tempo lalu terbukti; bahwa pria itu akan membuatnya menjadi satu-satunya orang yang dibenci oleh Rosa.

Ia mengusap wajahnya frustasi, kemudian menyibak selimut dengan kasar, dan bangkit dari ranjang dengan satu tujuan yang kini berputar-putar di kepalanya. Jika dia menemukan Rosa di sekitar sini, sudah pasti dalang dari semua ini juga berada di sini. Dan jika dia tidak mengetahui dimana Rosa di 'sekap', maka satu-satunya tempat untuk adu argumen—yang mungkin berakhir dengan luka lebam atau bonyok di wajah—adalah di sarang pria itu.

Chand melepas kaos yang dipakainya melempar sembarang ke lantai, lalu melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Tidak sampai lima menit pria itu sudah keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk yang menggantung di pinggul. Ia berjalan menuju koper dan mengambil salah satu baju serta celana dari dalamnya. Untung saja dia selalu membawa sekoper pakaian bersih untuk berjaga-jaga kalau saja ia sampai menginap di hotel—atau suatu tempat yang jauh dari apartemennya seperti sekarang.

Setelah siap, pria itu langsung mengambil kunci mobil dan keluar dari kamar hotelnya. Berhubung ini masih jam enam pagi, Chand akan menunggu sepupunya itu pada salah satu kedai yang buka 24 jam, dan membeli sarapan disana. Ia hanya tidak ingin jika di kantor cabang itu terdapat mata-mata dan berakhir dengan kegagalannya menemui Jefri disana. Karena itu, menunggu di kedai ini sampai jam masuk kantor datang adalah hal yang paling tepat.

Sambil meneguk kopinya, Chand memandangi wallpaper pada ponsel sambil mengusap layarnya pelan.

"Aku akan membuatmu mengingatku lagi..." ucapnya lirih.

***
Kasihan, Chand:(

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co