Truyen3h.Co

Tit For Tat | Jaehyun✔️

9

authoriya

CHAND melangkah cepat menuju ruangan Yena ketika mendapati empat orang pria berbadan tegap berdiri menjaga pintu di ruangan 304. Dua hari ia tidak mengunjungi Risa karena sibuk melucuti segala perasaan bersalah akibat tidak bisa menjaga Rosa hingga berakhir dengan kejadian seperti sekarang membuat pria itu sedikit tidak mengerti akan situasi saat ini.

Namun, ditilik dari keempat pria besar berpakaian hitam dengan badge 'JY' di lengan kanan pakaian mereka sudah bisa disimpulkan oleh Chand kalau keempat orang itu merupakan orang suruhan Jefri. Entah karena apa Jefri menyuruh orang untuk menjaga kamar itu padahal pria itu sendiri yang merusak Risa hingga seperti sekarang.

Chand mendengus sinis. Pria itu segera membuka pintu putih yang setelah mengetuk pintu itu tiga kali, dan menemukan Yena sedang menerima keluhan dari pasiennya. Wanita itu mendongak, sedikit terkejut melihat Chand sudah berada di ruangannya, namun segera mengangguk ketika Chand dengan gerakan tangan tanpa suara mengatakan kalau ia akan menunggu dipojok ruangan.

Sementara menunggu Yena menyelesaikan tugasnya, ekspresi Chand tanpa sadar kembali muram, matanya yang biasa memancari semangat seolah meredup dan tak terlihat lagi disana. Chand benar-benar hampir putus asa dua hari mencari Rosa dan ia sama sekali tidak menemukan secuil jejak yang ditinggali, seolah Rosa dan pria itu lenyap. Bahkan, ketika ia coba melacak ke kediaman Jefri dia tidak mendapati siapapun disana. Pelayan-pelayan yang bertugas di rumah itu dipensiunkan, dan sudah memencar pulang ke desa mereka masing-masing dengan uang pesangon yang bisa digunakan untuk membiayai sandang dan pangan mereka untuk dua puluh tahunan ke depan.

"Apa yang membawamu kemari setelah berhari-hari tidak bisa kuhubungi?" suara merdu Yena membawa Chand kembali ke dalam realita.

Pria itu mendongak, dan menemukan senyuman ramah Yena disana. Tak urung, Chand membalas senyuman itu meskipun tahu kalau senyumannya malah terkesan seperti dipaksakan. Ia menarik napas, dan bersandar punggung. "Kau tidak memberitahu padaku jika ada orang-orang yang menjaga kamar Risa?"

"Bagaimana aku akan memberitahumu jika nomormu saja tidak bisa kuhubungi?" Yena memutar bola mata, wanita itu lantas mengambil tempat pada kursi panjang yang sama dengan yang diduduki Chand. "Kau baik-baik saja?" ada kekhawatiran terselip di suara Yena.

Chand tersenyum masam. "Jika kau bertanya soal tubuhku, maka aku baik-baik saja."

Mengamati selama beberapa detik, Yena memilih bungkam. Pria ini jelas tahu jika ia tidak sedang mempertanyakan kondisi tubuhnya, melainkan keadaannya pasca telepon tak disangka waktu itu.

"Kau tahu aku tidak sedang membahas kesehatanmu, Chand." Tidak ada senyuman di wajah Yena. Namun ia tahu Chand pun tidak mungkin menceritakan apa yang sedang bergelayut dipikiran pria itu. Chand adalah tipikal pria yang lebih memilih menyimpan perasaannya, bukannya membagikannya.

Terdengar helaan napas berat sebelum Chand kembali bersuara. "Apa kabar Risa?"

"Dia baik. Kau tahu orang-orang menyangka bahwa dia gila, namun kurasa dia hanya sedikit depresi karena kejadian yang menimpanya. Sejak kemarin, Risa bahkan mau kuajak bicara walaupun hanya sepatah dua patah kata," ucap Yena. Wanita itu menatap Chand semakin dalam dan melanjutkan, "Dia bertanya soal keluarganya."

"Lalu?"

"Kau tahu rumah sakit ini masuk dalam pengawasan manajemen atas, dan bagi siapapun yang menghubungi keluarganya maka akan tamat saat itu juga."

Chand menghela napas lega, "Jangan katakan apapun. Aku tidak ingin Rosa terluka jika orangtua-nya tahu kalau selama ini mereka telah dibohongi."

Yena mengangguk. "Well, aku juga tidak berniat mencampuri urusan orang lain."

Chand menyunggingkan senyum karena ucapan Yena. Begitulah wanita itu, dia tidak senang mencampuri urusan orang lain—tidak seperti kebanyakan wanita yang dikenalnya—dan sama sekali menjaga privasi sesama. Mungkin karena itu juga ia dan Yena bisa berteman akrab, karena wanita itu tidak ribet dan drama.

Karena tidak mungkin bagi Chand untuk menemui Risa—disamping itu ia juga sudah mengetahui kabar saudara kembar Rosa itu, akhirnya dia menepuk kedua pahanya sebelum beranjak berdiri. Chand tersenyum, menatap arloji ditangannya sebentar sebelum kembali menatap Yena. "Sepertinya aku harus pergi."

"Kau masih belum menemukan Rosa?"

"Aku akan segera menemukannya. Ini hanya soal waktu." tukas Chand. Ia tidak mau mengatakan 'belum' atau 'tidak' untuk apa yang sedang ia usahakan. Karena kepastian hanya milik semesta, dan ia yakin bahwa semesta akan segera memberikan kepastian itu kepadanya.

Dengan langkah terkordinasi Chand berjalan keluar ruangan. Pikirannya melayang-layang memikirkan distrik mana lagi yang harus disisirnya kali ini, karena ia jalan sendiri—tidak mungkin menghubungi polisi—dan hanya mengandalkan maps. Juga orang kepercayaannya yang masih terus mencoba melacak ponsel Rosa melalui sinyal. Meskipun harapannya setipis selendang pengantin, karena jelas Jefri pasti telah membuang ponsel itu jauh ke dalam lautan atau hutan.

***

Ini benar-benar membosankan. Setelah menghabiskan banyak waktu di perpustakaan untuk membaca buku, kemudian menonton televisi selama dua jam, lalu turun ke bawah untuk menghirup udara di taman belakang, mengobrol dengan kepala pelayan—sampai Rosa bisa membuat satu lembar portofolio kepala pelayan itu—dan sekarang ia sudah sampai pada fase bosan yang paling atas.

Rosa berpikir, apakah yang dia lakukan sepanjang hidupnya sebelum ia hilang ingatan, apakah ia melakukan kegiatan membosankan ini? ataukah, ia melakukan hal yang menyenangkan? Tetapi pertanyaan itu tidak akan bisa dijawabnya, dijawab para pengawalnya, ataupun dijawab para pelayannya. Satu-satunya yang bisa menceritakan kisah hidup dirinya terdahulu adalah Jefri. Dan pria itu kini sedang di kantornya.

Rosa berdecak, kemudian mendorong tubuhnya untuk bangun dari posisi duduknya, mengambil langkah keluar ketika melihat bibi Pyo sedang berbicara pada salah satu pegawai pria di teras depan. Langkahnya cepat ketika melihat kepala pelayan itu sudah selesai dari pembicaraannya dengan pegawai pria dan kini nampak melangkah ke arah pagar. Rosa buru-buru menyejajari langkah wanita setengah baya itu,

"Bibi Pyo!" panggilnya ketika langkahnya hampir sampai. Ia menetralkan napasnya ketika kepala pelayan itu menoleh ke belakang dan nampak terkejut. Diukirnya senyuman kecil dan kembali bersuara. "Kau hendak kemana?"

"Aku harus berbelanja bahan makanan dan beberapa sayuran. Ada yang bisa kubantu, nyonya?"

Rosa kembali berdecak malas ketika mendengar bibi Pyo kembali memanggilnya dengan sebutan 'nyonya', rasanya tidak nyaman ketika seorang yang lebih tua daripada kita malah memanggil dengan panggilan seperti itu alih-alih nama saja. "Kau bisa  memanggilku Rosa saja, bi. Sudah kukatakan puluhan kali," katanya. Dan menambahkan, "Bisakah aku ikut berbelanja?"

"Aku hanya tidak nyaman jika memanggilmu dengan nama, sementara kau adalah istri dari Pak Jefri."

Rosa menghela napas. "Aku juga sama tidak nyamannya ketika dipanggil dengan panggilan begitu. Atau begini saja, bibi bisa memanggilku seperti itu jika ada suamiku. Sementara, bibi bisa bersikap santai ketika kita hanya berdua seperti ini. Setuju?"

Bibi menukas senyum. "Baiklah... Rosa?"

"Ya, Rosa." setuju Rosa dengan riang. "Jadi, apa boleh aku ikut berbelanja?"

"Kau ingin membeli apa, biar aku yang membelikannya saja. Pak Jefri bisa marah jika tahu istrinya keluar dari villa tanpa sepengetahuannya..."

"Memangnya aku tahanan?" bibir Rosa mencebik ke bawah, menatap nanar pada aksen bunga di sendal yang ia pakai. "Aku hanya ingin berjalan-jalan karena bosan di dalam villa ini saja."

Jiwa keibuan kepala pelayan itu nampak teriris ketika melihat raut wajah sedu wanita muda di depannya. Ia bisa merasakan kebosanan yang dirasakan oleh Rosa karena jelas wanita itu selalu di dalam villa sepanjang hari. Akhirnya bibi Pyo mengangguk dan membuat Rosa tersenyum senang. Keduanya lantas berjalan menuju mobil pribadi yang terparkir di garasi yang terpisah dengan bangunan villa, dan masuk ke dalamnya.

***

Kedua mata Rosa benar-benar dimanjakan oleh apa yang kini tersuguh di depannya. Street food nampak berbaris rapi dengan beberapa pedagang yang berteriak kencang plus cepat untuk menawarkan dagangan mereka. Wajahnya semringah menatap jajanan-jajanan yang terlihat mengiurkan di depannya dan tanpa sadar ia melompat kecil. Ada satu hal yang Rosa tahu setelah ia hilang ingatan, bahwa pasti dirinya yang dulu sangat mencintai makanan. Kepalanya menoleh ke samping, memandang bibi Pyo yang sedang mengambil beberapa lobak dan wortel memasukkannya ke keranjang bawaan lalu menoleh, "Bibi Pyo?" panggilnya.

Rosa sama sekali tidak membawa uang—dan ia sangsi kalau dia memiliki uang karena ia bahkan tidak pernah melihat dompetnya—tetapi keinginannya untuk mencicipi olahan-olahan itu sangat kuat dan sulit di bendung.

"Kau ingin membeli sesuatu nyonya—maksudku, Rosa?" tanya Bibi Pyo setelah membayar belanjaannya.

"Apakah bibi masih lama?"

Wanita setengah baya itu mengangguk. "Masih banyak yang harus dibeli. Dan aku juga harus menunggu penjual kerang abalon segar, biasanya mereka sampai di pasar ini jam empat sore. Nyonya—emm maksudku Rosa, apa kau ingin melihat atau membeli sesuatu?"

"Ya!" Rosa mengangguk antusias. "Aku ingin mencicipi street food itu, tetapi aku tidak membawa uang."

Dengan senyum khas keibuan, bibi Pyo mengeluarkan sebuah dompet kecil berwarna ungu muda dari dalam tas yang dibawanya. Kemudian mengulurkan dompet itu kepada Rosa. Rosa menerima dompet itu dengan pandangan bingung.

"Sejak kemarin Hyun memberikan dompet itu padaku, katanya itu khusus untuk membeli keperluanmu. Diperintahkan langsung oleh Pak Jefri."

"Ya ampun, kenapa dia tidak memberikan langsung padaku, alih-alih kepadamu. Dasar pria aneh!" gerutu Rosa namun tetap memancarka seulas senyum dengan raut bahagia.

Rosa membuka dompet kecil itu dan kedua alisnya bertaut ketika melihat isi di dalamnya. "Apa ini, kartu semua?" keluhnya bergumam pelan. "Apakah kedai-kedai itu menerima pembayaran menggunakan kartu kredit atau debit..."

Kesenangannya yang semula hadir perlahan surut ketika mendapati isi dari dompet itu hanyalah sebuah beberapa kartu dari berbagai bank. Dia membutuhkan uang tunai sekarang, dengan wajah kesal akhirnya Rosa membawa dompet itu ke dalam kantong. Lalu, kembali menatap bibi Pyo yang nampak sedang memerhatikan daftar belanjaannya pada secarik kertas yang ia pegang.

"Bibi, aku akan melihat-lihat kesana siapa tahu ada kedai yang bisa membayar selain menggunakan uang tunai. Kita bertemu ditempat ini lagi saja ya?"

"Kau yakin berani sendirian? Ini bukan daerahmu, bagaimana kalau—"

"Aku tidak akan tersesat di sebuah pasar, bi." Rosa memotong cepat. Membuat bibi Pyo akhirnya mengangguk dan mereka berpisah jalan mulai sekarang.

Rosa mengambil langkah santai menyusuri jalan-jalan kecil yang di sepanjang kanan dan kirinya terdapat penjual makanan-makanan lezat. Wanita itu akan berhenti pada setiap kedai yang dilihatnya memiliki mesin gesek dan tersenyum sabar menunggu hingga makanan yang di pesannya datang. Kemudian, ia kembali menyusuri satu demi satu penjual makanan yang membuatnya penasaran. Kedua matanya membeliak ketika melihat odeng dengan kuah yang menguap di panci besar dan beberapa orang tengah mengantri untuk membeli itu, tanpa berpikir panjang Rosa langsung berjalan menuju penjual odeng itu dan ikut mengantri.

"Ahjumma, aku ingin tiga. Tolong?" ucap Rosa ketika ia sampai di depan.

Si penjual itu segera mengangguk dan memberikan tiga tusuk odeng kepada Rosa diletakkan di satu cup berisi kuah kaldu. Rosa langsung melahap odeng itu dengan ekspresi penasaran.

Kedua matanya membeliak ketika merasakan rasa odeng untuk pertama kalinya. Ia mendesah kenikmatan, "Woah, kupikir serial drama itu hanya melebih-lebihkan menikmati makanan ini dengan sangat lahap. Ternyata memang selezat itu! astaga!"

"Ahjumma, aku minta dua tusuk."

Sambil tetap fokus memakan odeng miliknya, Rosa mendengar ada suara lain yang memesan. Ia langsung tersadar kalau ia masih berdiri di tempatnya dan merusak antrean. Dengan buru-buru, Rosa membuat tusukan odengnya yang telah tandas ke dalam kotak sampah, lalu hendak melangkah pergi. Namun, suara ahjumma kembali terdengar, menyuruhnya untuk membayar.

Rosa mengerutu pelan ketika ia melupakan yang satu itu. Sambil meminta maaf, wanita itu merogoh dompet yang ada di kantong kardigannya dan mengeluarkan sebuah kartu dari dalamnya.

"Maaf, aku lupa. Maafkan aku." Rosa menunduk meminta maaf.

"Nona, kau harus membayar dengan uang tunai. Kami tidak melayani kartu kredit atau debit." Kata si penjual.

Tamat riwayatku! Pikir Rosa. Dengan kaku, Rosa kembali menatap penjual yang nampak tidak senang karena Rosa memberikan kartu alih-alih uang tunai kepadanya.

"Aku tidak memiliki uang..." gumam Rosa pelan.

"Dasar orang kaya! Kau pikir segalanya akan menjadi mudah hanya dengan satu gesekan? Membeli odeng saja perlu menggunakan kartu sakti!"

"Aku yang akan membayar punyanya dan punyaku." Seseorang yang berdiri di samping berkata. "Berapa semua?"

"5000 won."

Kemudian pria itu mengulurkan uang pas kepada si penjual. Setelah mengucapkan terima kasih, lalu dengan deru napas pendek dan jantung yang berdetak cepat dia menoleh. Mendapati mata milik Rosa menatapnya dengan tatapan terima kasih.

"Terima kasih, aku akan mengganti uang—"

"Rosa..."

"Ya? Kau mengenalku?" Rosa memerhatikan wajah pria itu dengan ekspresi bingung. Mendadak, dia seperti pernah melihat wajah itu. Lama dipikirnya dimana ia pernah menemui atau melihat pria penolongnya hari ini.

"Dia adalah orang jahat..." suara penjelasan dari Jefri serta secarik foto yang dilihatnya sore itu tiba-tiba merengsek masuk ke pikirannya. Rosa membeliakkan mata dengan jantung berpacu cepat, langkahnya tiba-tiba mundur defensif.

"Aku Chand, Rosa. Aku Chand." Ada kesedihan dari suara Chand ketika melihat sikap waspada Rosa terhadapnya. Ia yakin seratus persen kalau Jefri telah mengatakan sesuatu hal yang salah kepada wanita di hadapannya ini hingga membuat wanita itu bersikap defensif seperti sekarang.

***
TBC

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co