Truyen3h.Co

Tit For Tat | Jaehyun✔️

11

authoriya

            WAJAH Rosa terlihat super senang ketika Jefri mengiakan permintaannya semalam. Bahkan, sejak pagi-pagi sekali Rosa sudah pergi ke kamar mandi, menghabiskan beberapa waktu di dalam sana untuk melakukan perawatan sendiri dan keluar dengan kimono handuk yang sudah membungkus tubuhnya. Langkahnya tertuju pada meja rias dan duduk di bangku kecil di depan meja itu, mengambil toner, lalu memakainya. Senyuman tak kunjung surut dari wajah cantiknya, bahkan setelah ia melakukan ritual reguler yang biasa dilakukan wanita pada pagi hari sebelum beraktivitas.

Rosa berdiri seraya membuka handuk yang melilit di kepalanya dengan pelan ia mengusap helaian rambutnya yang basar menggunakan handuk itu sebelum membawa handuk itu ke balkon untuk menjemurnya. Masih menggunakan kimono, Rosa melirik Jefri yang tertidur tengkurap di atas ranjang dengan punggung polosnya yang terekspos akibat selimut yang merosot hingga pinggul. Yang sekarang, mau tak mau bayangan atas apa yang ia lakukan bersama Jefri semalam kembali melayang-layang di pikirannya.

Wanita itu menggerutu kecil saat merasa pipinya memanas dan membawa kedua telapak tangannya menangkup kedua pipinya dengan gemas. "Astaga, aku pasti sudah gila!" gumamnya tertahan.

Seraya menghilangkan apapun yang kini otaknya pikirkan, Rosa berjalan menuju lemari mengambil satu dress putih polos dengan aksen plisket sepanjang betis dan dengan cepat memakainya. Melirik dirinya melalui cermin berdiri di dekat lemari pakaian, Rosa kembali melangkah menuju ranjang. Menuju pria yang semalam terkena imbas dari sifatnya yang manja—dan terpaksa menunggu dua jam di luar kamar. Ketika Rosa sempat mengira bahwa Jefri akan pergi ke bawah, ternyata pikirannya salah. Pria itu dengan setia menunggu pada kursi sofa coklat letter L di pojok sebelah kamar.

Tertidur.

Jefri pasti sangat lelah akibat seharian bekerja mengurusi perusahaan dan ketika pulang hendak istrirahat, pria itu malah disuguhkan sifat kekanakannya.

Sungguh sifat tidak patut diulang. Batin Rosa.

Tangan Rosa terulur, menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah Jefri seringan bulu. Satu hal yang dia sadari selama disini, bahwa ia begitu menyukai wajah pria itu ketika ia sedang tertidur seperti ini. Terlihat damai dan entah kenapa hatinya merasa tenang ketika melihat wajah itu. Seolah kedamaian di wajah itu menular pada dirinya.

Dan Rosa menyukai perasaan yang timbul itu.

"Apa aku tampan ketika sedang tidur, hm?" suara serak Jefri terdengar bersamaan dengan kedua kelopak mata pria itu yang terbuka.

Rosa terlonjak kaget, dan menjauhkan tangannya. Wanita itu berdeham pelan menelan kegugupannya. "Aku—"

"Aku senang kau melakukan itu," potong Jefri. Pria itu mengubah posisinya dengan berbaring menatap langit kamar. Meskipun sedikit kusut dengan mata sipit khas bangun tidur, pria itu masih bisa menyunggingkan senyum. "Kau sudah mandi?"

Rosa mengangguk. "Aku ingin membangunkanmu sebelum membuat sarapan pagi, tetapi kau pulas—Astaga apa yang kaulakukan!?" akibat kewaspadaan diri Rosa yang tidak siaga, membuat Jefri dengan mudah menarik wanita itu ke dalam pelukannya.

Kedua tangan Jefri memeluk erat tubuh ramping di atasnya. Sementara kepalanya menusuk di antara lekukan leher dan bahu Rosa yang tertutup kain. "Kau cantik dan wangi," gumam Jefri parau. Kedua matanya terpejam menikmati aroma Rosa yang memenangkan. "Biarkan seperti ini sebentar. Aku masih mengantuk, tapi aku ingin memelukmu." imbuhnya.

Rosa terdiam, membiarkan Jefri memeluknya sementara kedua matanya menatap lurus pada dinding dengan bingkai foto pernikahan mereka disana. Senyuman hangat khas yang ia temui pada wajah pengantin pria, dan senyuman artifisial yang ia temui pada pengantin wanita.

Kenapa wajahmu di foto itu begitu tidak menyiratkan kebahagian, Rosa? Apa yang telah terjadi sebenarnya? Pertanyaan itu terus muncul sejak ia kali pertama ia melihat bingkai foto yang menggantung di kamar ini.

Bersamaan dengan suara pria lain yang ia temui kemarin... "Aku bersungguh-sungguh. Satu-satunya yang berbohong adalah Jefri karena dia mencoba menjauhkan kita. Kita adalah sahabat..."

Membuat kepala Rosa langsung diserang kesakitan mendalam.

"Arrgh!" Rosa mengerang keras.

Dan hal itu langsung membuat Jefri kembali nyalang. Pria itu langsung membawa Rosa bangung, menatap Rosa dengan pandangan super panik. "Kau baik-baik saja, Rosa? Kenapa? Yang mana yang sakit?"

Rosa mengernyit, kedua matanya memejam menahan sakit yang tiba-tiba menyerangnya. "Kepalaku sakit sekali, Jefri. Rasanya seperti ingin pecah." dan pada kalimat terakhir saat suaranya semakin rendah, Rosa meluruhkan diri ke dalam pelukan Jefri karena tak sadarkan diri.

***

"Apa ini?"

"Hadiah," pria itu tersenyum menatap Rosa. Tangannya masih mengulur, menunggu Rosa untuk mengambil pemberiannya. "Ayo, ambil ini." imbuhnya kembali.

Rosa menatap kotak hadiah berwarna marun dengan pandangan tak terbaca. Kemudian, ia menghela napas dan akhirnya mengambil hadiah yang diberikan Chand untuknya dengan mengeluh. "Harusnya kau—"

"Aku tidak repot dan tidak membuang-buang uang, Rosa. Tenang saja, aku mendapatkan bonus di pekerjaan paruh waktuku. Hadiah ini kubeli karena sahabatku berulang tahun, menggunakan uang hasil kerja kerasku, bukan uang yang dikirimkan oleh orangtuaku. Tidakkah kau bangga padaku, Ros?" potong Chand dengan penjelasan panjang-lebar.

Rosa menukas senyum, menatap Chand dan bergumam. "Terima kasih."

"Jadi?"

"Apa?"

"Kau tersentuh?"

Rosa terkekeh kecil. "Ya, aku tersentuh. Aku tidak menyangka ada orang baik di dekatku. Seperti dirimu."

Tersenyum bangga, Chand kembali mengulang keberuntungannya."Kalau gitu jadi kekasihku ya?"

"Oh ayolah, bukankah kita lebih baik seperti ini? Hubungan seperti itu akan berakhir, sementara persahabatan akan kekal sampai mati." Rosa mulai merasa tak nyaman tiap kali Chand membuat pengakuan. Baginya, Chand adalah satu-satu sahabat yang ia miliki dan Rosa tidak ingin jika mereka naik ke level lain dan tidak berhasil, mereka akan menjadi dua orang asing. Akhirnya, satu-satunya orang yang terluka adalah dirinya sendiri. Ia akan merasakan lagi rasa kesepian karena tak memiliki teman. Dan Rosa belum bisa membayangkan jika hal itu kembali terjadi.

"Baiklah, asal kau harus memberitahuku jika nanti kau menyukai orang lain. Walaupun aku tetap berharap jika itu adalah aku." Chand akhirnya mengalah. Baginya, dekat dengan Rosa adalah hal yang penting. Jika wanita itu belum bisa menerima cintanya, maka ia akan menunggu hal itu. Hal yang mungkin, atau tidak akan terjadi.

"Aku tidak akan melakukan hal-hal semacam itu. Tetapi, aku pasti memberitahumu jika hal itu terjadi..." angguk Rosa.

Jefri mengamati wanita yang sedang terengah-engah, bangun dari posisi tidurnya dengan peluh membasahi pelipis. Duduk di pojok ruangan, Jefri membiarkan keheningan melingkupi sampai waktu yang ia butuhkan untuk menganalisa ekspresi Rosa saat ini.

Tiga jam waktu yang dibutuhkan Jefri hingga Rosa tersadar dari pingsannya—sampai meninggalkan pekerjaannya demi menemani wanita yang sangat dicintainya. Dia begitu panik karena Rosa yang pingsan mendadak. Dan kepanikannya tidak membaik saat mendengar penuturan dari dokter pribadinya yang memeriksa Rosa tadi, yang mengatakan kalau itu adalah serangan yang mungkin terjadi karena otaknya ingin mengeluarkan informasi; jika sedang mengingat sesuatu.

Karena itu, dengan radar yang terus waspada, Jefri mengamati ekspresi wanita itu yang nampak kosong dan kebingungan sebelum akhirnya Rosa menoleh ke tempatnya duduk dan memanggil namanya dengan suara yang sama seperti sebelumnya. Urat syaraf tegang Jefri langsung mengendur, diam-diam ia menghela napas lega dan menuai senyuman. Ia membawa tubuhnya berdiri, melangkah menuju ranjang tidur dan duduk di ujung ranjang seraya mengusap pelan puncak kepala Rosa.

"Aku begitu khawatir..." gumam Jefri.

"Aku mengingat sesuatu!" Kedua mata Rosa nampak tak fokus, wanita itu merasa bingung sekaligus gugup.

Sementara Jefri langsung menegang, dengan kaku ia mengurai pertanyaannya. "Apa yang kauingat?"

"Aku mengingat pria yang fotonya kau tunjukan waktu itu," ucap Rosa menatap Jefri, "tetapi dalam ingatanku kami bersahabat."  Rosa mengerutkan dahi. Dia menghilangkan bagian confession yang dilakukan Chand padanya, takut jika hal itu melukai hati suaminya.

Jefri memejamkan mata, mencoba menarik udara sebanyak yang ia bisa. Kenapa ketika ingatan Rosa melasak keluar, yang diingat wanita itu hanya tentang pria lain? Meskipun jika di beli skala satu sampai sepuluh, ingatan wanita itu akan dirinya hanya 0.5. Tidak sampai satu. Dan, tidak ada hal baik di dalamnya.

Jefri tersenyum nelangsa. Ditatapnya Rosa dengan pendar mata yang berbeda, dielusnya puncak kepala Rosa dengan lembut. Ada permintaan maaf disana yang Jefri sampaikan melalui tindakan dan tatapan. Hingga ia berkeharusan mengubah pendirian dan keyakinan, agar apa yang ia pertahankan semoga tidak hilang tertelan.

"Kau tahu aku mencintaimu, 'kan?" Jefri berucap pelan, meraih kesepuluh jemari Rosa untuk di genggam. Rosa mengangguk. Lalu, ia menambahkan. "dan kau memimpikan pria lain disaat aku khawatir akan keadaanmu," Ada senyuman miris tercetak di wajah Jefri sebelum kembali bersuara, "tapi ada keharusan untukku mengatakan yang sebenarnya—yang kau mimpikan adalah benar. Kau dan dia bersahabat. Dulu. Chand adalah sepupuku, sepupu jauh tepatnya. Dan, dia menyukaimu entah apa yang direncanakan pokoknya dia ingin merebutmu dariku."

"A—apa?" Rosa tercekat, memandang Jefri tak percaya.

"Aku berbohong padamu karena ingin mempertahankanmu disisiku. Aku tidak ingin kau kemana-mana, aku hanya ingin kau bahagia." Jefri tersenyum kecil menyelesaikan penuturannya.

Aku hanya ingin kau bahagia... kenapa mendengarkan itu dada Rosa langsung menghangat? Menghangat karena menyadari bahwa ada orang yang ingin dirinya bahagia, bukannya egois demi kebahagiaan diri sendiri. Seolah apa yang baru ia dengar adalah hal yang jarang didengarnya selama ini.

Rosa jadi tidak enak, dia seperti memojokkan Jefri karena sebuah mimpi. Dia bahkan tidak jujur karena pernah bertatap muka dengan Chand tempo hari. Tetapi, alasan lainnya adalah karena ia menjaga agar kepala pelayan yang baik hati itu tidak terkena imbas. Ia hanya ingin segalanya berjalan normal. Hidup normal.

Rosa melepaskan genggaman tangan Jefri dan maju memeluk tubuh Jefri. Menikmati degup jantung milik pria itu dengan tenang, lalu bergumam lirih. "Maafkan aku, tidak seharusnya aku menceritakan soal kilas balik yang kuingat. Terima kasih karena menempatkan kebahagiaanku di atas kebahagiaanmu, Jeff. Aku mencintaimu."

Jefri mengecup puncak kepala Rosa hangat seraya membalas pelukan itu. "Kau tahu aku hanya mencintaimu. Hanya mencintaimu."

***

Sinar mentari pagi ini terlingkup oleh selubung awan kelabu sisa hujan semalam. Bahkan, kicauan burung yang biasanya saling menyaut membangunkan di pagi hari dari depan kaca jendela, pagi ini tak terdengar sama sekali. Rosa menggeliat dari tidurnya seraya menarik selimutnya hingga ke leher. Radarnya yang sejak tadi beristirahat langsung siaga ketika mencium aroma dari seduhan kopi. Kopi yang selalu di minum oleh Jefri setiap pagi—yang biasanya ia buat dengan sepenuh hati.

Kedua mata yang terpejam itu lantas terbuka, sedikit menyipit saat cahaya pagi yang menembus masuk lewat jendela (meskipun tidak memiliki sinar seperti pagi biasanya) lalu Rosa menyibak selimutnya.

"Kau tidak membangunkanku," kata Rosa kepada Jefri sambil mengusap wajahnya pelan menggunakan telapak tangan.

Sesaat, Jefri terpaku pada bahu mulus Rosa yang satu talinya merosot ke bawah. Pendar di kedua mata lelaki itu meredup seiring dengan keinginan manusiawinya yang mendadak muncul tanpa aba. Jefri segera mengalihkan pandangannya menatap wanita yang sedang menatapnya juga dengan ekspresi sedikit kesal itu, lantas bersuara. "Kau tidur nyenyak. Aku mana tega membangunkanmu sayang..."

"Aku kan bersemangat sekali ingin ikut ke kantormu," ucap Rosa sembari mengembuskan napas. Ia melirik ke arah jam yang menggantung pada dinding kamar. Pukul 06.29. Dengan sigap, ia langsung membawa kedua kakinya menapaki ubin lantai dan melangkah menuju kamar mandi. "Kau tidak diperbolehkan meninggalkanku. Mengerti?" ucap Rosa sambil membuka pintu kamar mandi.

Jefri mengangguk menahan senyum.

"Jangan menahan senyum seperti itu... aih!" seru Rosa di antara kosen dan daun pintu yang hampir tertutup. Kedua matanya menyipit dengan jari telunjuk mengarah kepada Jefri. "Yang tadi itu perintah, bukan permintaan. Paham?"

"Iya, aku tidak akan meninggalkanmu. Sudah, kau harus mandi dan bergegas. Kita perlu mengucapkan 'salam pagi' sebelum turun ke bawah." Jefri mengulas senyum ketika wajah cemberut Rosa tercetak di depannya.

Tawanya lepas ketika Rosa berseru setengah memaki dan mengatai dirinya mesum. Namun, hanya sekejab karena setelahnya ekspresi wajah Jefri kembali datar sembari menatap layar tab yang mencetak kabar bahwa tahanannya telah kabur.

Kedua mata Jefri terpejam dengan rahang mengetat. Dasar pegawai-pegawai bodoh, untuk apa ia membayar mahal mereka jika menjaga satu orang saja di dalam ruangan bisa gagal seperti ini!

***

Chand mengambil cup kopi dan membiarkan cairan hangat nan pahit itu melewati tenggorokannya dengan santai. Pria itu menaruh cup kopi di atas dashboard, lalu membiarkan kedua tangannya terpaut di atas stir kemudi.

Chand sengaja membiarkan irama musik mengalun dengan volume kecil melingkupi bagian dalam mobilnya, sementara kedua manik mata tajam dibalik lensa menatap lurus pada pagar bertuliskan nama perusahaan yang sangat dikenalnya. Jam sudah menunjuk di angka delapan, dan orang yang ditunggunya belum juga muncul.

Apakah hari ini akan berakhir sia-sia seperti kemarin? Pikir Chand.

Keberuntungan sedang tidak memihaknya kemarin, karena lama ia menunggu di kedai—plus di tempat ini juga—ternyata lewat sekuriti perusahaan ia mendapatkan informasi bahwa bos mereka tidak masuk hari itu. Alhasil, dengan pundak merosot Chand menyalakan mesin mobilnya untuk pulang ke hotel. Pria itu menunggu sangat lama untuk bertemu hari ini, bahkan ia sampai tidak bisa nyenyak tidur padahal sengaja sejak jam delapan malam ia sudah mematikan lampu kamar hotel, dan ketika fajar akhirnya menyingsing, Chand lekas bergerak secepat kilat menuju kamar mandi dan berakhir menunggu di tempatnya memarkirkan mobil sejak dua jam yang lalu.

Chand langsung mengubah posisi ketika melihat sebuah mobil masuk ke area gedung bertingkat dua itu. Tubuhnya menegak seraya melepas kacamata yang ia pakai.

Terlihat dua orang pria tegap yang sejak tadi berdiri di dekat sekuriti nampak berlari saat sebuah mobil berhenti tak jauh dari tempat mereka berdiri, kemudian salah seorangnya membukakan pintu mobil.

Dan disana...

Seseorang yang sama sekali tidak akan terbesit dalam benaknya akan bertemu di tempat ini karena Chand yakin Jefri tidak akan menempatkan Rosa ke dalam jangkauannya itu nyatanya kini sedang berjalan menuju gedung perusahaan dengan senyuman yang membingkai manis di wajah cantiknya. Berbalut dress hitam setinggi betis, ia berjalan di arahkan oleh kedua pria tadi.

Sesaat Chand terpaku di tempat, kedua matanya memandang penuh rindu pada sahabat sekaligus wanita yang ia cintai itu. Padahal jelas, udara di luar begitu dingin dan seharusnya Rosa membalut tubuhnya dengan pakaian tebal, bukannya seperti ini.

Ada keinginan Chand untuk turun dan menghampiri. Namun keinginan itu tertelan begitu saja ketika tubuh ramping itu sudah hilang di telan pintu kaca gedung pencakar langit di depannya. Sekejapnya yang lantas menghilang lagi, sekejap rasa hangat yang berlalu pergi. Dan bahwa sekejap itu kini terasa hinggap di hati.

Menerobos masuk sekarang tidak mungkin berhasil, karena sejak tadi Chand belum melihat ada Jefri—otomatis dua pria yang menjaga Rosa tadi pasti mendapat mandat dari Jefri untuk menjaga wanita itu supaya jangan sampai lecet dan tergores—dan entah kemana pria itu sekarang. Jadi, yang harus ia lakukan saat ini adalah kembali menunggu; menunggu hingga lawannya datang.

***

Rosa menggenggam erat pada kacamata yang  sudah dilepasnya. Perasaan tak enak tiba-tiba saja melingkupi wanita itu ketika seluruh mata tertuju padanya. Ia membuat ketukan berirama dari sepatu heels yang dipakainya. Sedangkan lewat pembawaan, di cobanya untuk tetap terlihat tenang walau napasnya kembali berubah tercekat. Sebuah sensasi yang sama seperti yang ia rasakan ketika mendengar tentang keluarganya tempo lalu dari cerita Jefri. Dan sekarang, kembali dirasakannya perasaan sesak itu.

Dadanya selayak di remas-remas, membuat Rosa lantas memejamkan matanya seraya langkahnya memundur. Rosa memegang ujung meja resepsionis di sebelahnya untuk menahan agar dirinya tak limbung ambruk.

"N-nyonya! Kau baik-baik saja?" pertanyaan dari seorang perempuan muda bersanggul di balik meja resepsionis terdengar was-was. Ia sama seperti  orang-orang di dalam gedung ini yang sejak tadi tak bisa melepaskan pandangan mereka dari wanita yang di sinyalir sebagai istri dari bos mereka--yang cantiknya luar biasa berkali-lipat dari yang mereka lihat pada portal daring, televisi, atau majalah edisi terbaru.

Rosa mencoba tersenyum seraya mengangguk. "O-oh ya. Aku baik-baik saja."

Kedua matanya menatap ke arah pintu masuk gedung mencoba melihat apakah Jefri sudah selesai berbicara dengan Hyun. Tadi, suaminya itu menyuruhnya untuk turun terlebih dahulu dan menunggu di dalam gedung karena dia perlu berbicara hal penting bersama Hyun. Mungkin itu masalah bisnis, dan Rosa lebih memilih untuk menurut daripada mengeluh hal yang tidak penting. Lagipula, pembicaraan mereka pasti membingungkan dan diluar jangkauannya, karena itu ia tidak mempermasalahkan. Namun, nyatanya di dalam sini sendiri, bersama dengan orang asing yang baru pertama kali Rosa temui—tapi sepertinya semua orang di gedung ini telah mengetahui siapa dirinya—hal itu membuatnya tak nyaman.

Rosa bergerak gusar di tempatnya, kedua matanya lurus mencari dan ketika objek yang dicarinya tak kunjung terlihat, wanita itu mengembuskan napas. Menegakkan tubuhnya dan berusaha menstabilkan perasaan, ia menatap sekali wanita muda yang duduk di balik meja resepsionis. "Sepertinya aku akan menunggu suamiku diruangannya. Lantai berapa?"

"Lantai sebelas," jawab wanita muda itu cepat.  Ia hendak memanggil seorang pengawal yang tadi mengawal Rosa masuk untuk menemani wanita itu ke ruangan Jefri, namun suara Rosa menahannya. Si resepsionis itu nampak ragu lewat suaranya. "T-tapi, Pak Hyun berpesan katanya—"

"Aku bisa sendiri. Tenang saja, baik Hyun ataupun suamiku, mereka tidak akan memarahimu apalagi sampai memecatmu. Oke?"

Wanita muda itu mengangguk. Menatap punggung istri dari bos-nya itu dengan pandangan mengagumi yang terang-terangan.

***

"Bagaimana?"

Hyun menggeleng pelan. "Belum ada yang menemukan jejaknya. Aku telah mengutus orang melacak melalui cctv di sekitar, tetapi belum juga ada penerangan."

Jefri menghela napas gusar. Pria itu membawa tangannya mengusap wajah frustasi. Bagi Jefri, kehilangan Risa dari rumah sakit itu adalah malapetaka yang akan terjadi. Wanita itu jelas tidak sehat, sifatnya ambisius dan sekarang Risa tahu kalau semua yang terjadi adalah perbuatannya.

Jadi, hal yang perlu di minimalisir adalah agar wanita itu tidak pulang ke rumah. Walaupun lewat mata-mata yang ia kirim Jefri tahu jika belum ada tanda-tanda bahwa Risa pulang atau sampai ke rumah keluarga wanita itu, tapi Jefri yakin kalau cepat atau lambat hal itu pasti akan terjadi.

"Kau perlu mengancam anak buahmu dengan memberikan mereka pesangon jika sampai Risa pulang ke rumah orang tuanya," Jefri berkata tajam. Tatapannya menghunus seperti sembilah pisau. "dan pecat pegawai yang tidak becus itu. Paham?"

"Ya, aku mengerti." Hyun mengangguk sopan. Kepalanya masih menunduk kala Jefri keluar dari dalam mobil hingga terdengar bunyi debaman yang berasal dari pintu mobil yang tertutup. Ia kemudian menegakkan kepala, lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi anak buahnya di Seoul.

Di tempat yang menyembunyikannya sejak tadi, Chand memerhatikan tubuh Jefri yang menghilang ke dalam kaca pintu masuk gedung pencakar langit di depannya. Beberapa menit lagi ia akan menerobos masuk ke dalam sana, dan menjelaskan segalanya kepada Rosa, juga meminta sepupunya untuk mengaku perihal perbuatannya yang menipu itu.

***

Jefri terpaku di tempatnya dengan satu tangan masih memegang handle pintu, sementara pandangannya menatap lurus ke depan dimana wanita yang sangat di cintainya itu sedang terduduk di sofa dengan kepala menunduk dan tubuh bergetar.

Perasaan tidak enak langsung menyelimutinya, dan tanpa membuang waktu ia langsung menghampiri Rosa secepat kilat.

"Rosa?" suara Jefri tersirat khawatir seraya membawa kedua tangannya ke pundak Rosa membuat wanita itu mendongakkan kepala. Wajahnya pucat pasi sementara napasnya terlihat tersengal-senggal. "kau kenapa?" lanjut Jefri panik saat sadar kalau mungkin saja serangan Rosa kumat.

Dengan cepat, Jefri membawa Rosa ke dalam pelukannya. "Apa yang terjadi? Kenapa kau bisa seperti ini? Siapa yang menemuimu, sayang?"

Rosa menggeleng dalam pelukan. Matanya terpejam, dan menghela napas lega ketika perlahan napasnya tak sesesak tadi. Pelukan Jefri benar-benar sebuah penyembuh...

"Aku senang kau cepat datang," rintih Rosa pelan. Wanita itu menguraikan pelukan mereka untuk menatap wajah pria kesayangannya. "semuanya terjadi sekejap mata ketika aku melihat seluruh pegawaimu memerhatikanku dengan pandangan penuh. Kurasa, aku tidak terbiasa dengan tatapan seperti itu..."

Rahang Jefri mengerat. "Aku akan memecat mereka semua."

"Tidak!" Rosa menggeleng cepat. "mereka tidak salah apa-apa. Kau tidak boleh memecat mereka." perintah Rosa.

"Karena mereka kau mendapat seranganmu. Kau kesakitan, Rosa. Aku tidak suka melihatmu sakit."

"Tapi itu bukan salah mereka. Mungkin saja aku memang seperti itu sejak dulu, Jefri," Rosa menarik napas. "pokoknya aku tidak ingin kau sembarangan memecat pegawaimu. Kau tidak tahu berapa kepala yang harus di nakfahi para pekerja itu..."

Jefri mendesah. Rahangnya mengendur, kedua tangannya bergerak mengusap pipi Rosa seringan bulu. "Kau begitu baik. Dari dulu sampai sekarang."

"Benarkah?"

Pria itu mengangguk. "Tentu saja," Jefri memandang dengan sorot mata gelap. "kau sudah membaik?"

"Kau selalu bisa membuatku merasa lebih baik." tukas Rosa sambil tersenyum.

Melihat senyuman yang terbit selaksa pelangi di tengah badai membuat sorot mata Jefri semakin menggelap. Perlahan tapi pasti, pria itu mulai menundukkan kepalanya, dibantu dengan satu tangan yang berada di dagu Rosa, menolongnya untuk mendongakkan kepala wanita itu. Rosa mulai memejamkan matanya saat tujuan Jefri hampir sampai, namun tepat ketika bibir Jefri hampir sampai di sudut bibir Rosa, tiba-tiba suara pintu terbuka bersamaan dengan suara wanita yang nampak panik terdengar.

"Tuan, anda tidak boleh main masuk ruangan seperti ini!"

***
TBC

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co