Truyen3h.Co

Volcano Erupt

delapan.

authoriya

FINALLY! we're done with this thing. After the kind of politic bullsht situation crap on my feed all day long like it's the only thing that matters. Suck it up and move on bcs nobody cares :))

-

happy reading!

Mata panda pagi itu benar-benar tidak bisa diabaikan. Dia mengantuk, bahkan sangat mengantuk. Namun pikirannya tidak bisa diajak kompromi untuk istirahat barang sejam saja. Dengan bersusah payah Suzy mencoba bangkit, tubuhnya nyeri bukan main dan ia benar-benar tidak memiliki tenaga sekarang. Tetapi ego-nya tak bisa menerima, pasca kejadian semalam plus ia yang berteriak histeris—dan berakhir dengan menyuruh Myungsoo keluar dari kamar—Suzy memang tidak mengecek pintu kamar itu lagi.

Tangannya terulur, meraih handle untuk membukanya.

Nihil.

Suzy memejamkan mata sesaat, mencoba mencari kekuatan agar dirinya tidak meluruh jatuh, karena sebisa mungkin peperangan ini harus ia menangkan. Atau paling tidak, dia harus meminta penjelasan sejak kapan dirinya telah ketahuan.

"Aku mencintaimu, Bae Suzy..." Suzy menggeleng keras, menghapuskan suara yang terekam oleh otaknya dan kini terus terdengar seperti sebuah kaset rusak dari dalam kepalanya.

Dan ulah kemarahan yang memuncak itu, akhirnya Suzy menggedor pintu di depannya membabi buta. "KIM MYUNGSOO! BUKA PINTU INI!" teriaknya.

"AKU TAHU KAU DI SANA! BUKA PINTU SIALAN INI!" umpatnya keras-keras.

Suara gedoran yang berasal dari wanita itu kepada pintu semakin mengeras, Suzy bahkan bertindak ekstrem sampai mendobrak pintu kamar itu menggunakan tubuh sebagai tameng, namun ia harus kembali meringis kesakitan karena boro-boro pintu di depannya bisa di dobrak, yang ada malah wanita itu yang kesakitan. Nanar, ditatapnya daun pintu itu dengan satu pipi tertempel pada pintu yang kini ikut merosot ke bawah bersamaan tubuh rampingnya yang meluruh.

Suzy tahu, menunjukkan kekesalan kepada pria itu tidaklah ada gunanya. Karena jelas, apapun yang ia katakan sejak tadi tak kunjung mendapatkan sautan dari luar—padahal Suzy kerap mendengar suara-suara seperti orang sedang berjalan atau apapun di sana. Dan yang paling basic adalah tentu saja rumah ini memiliki asisten rumah tangga!

Matanya memerah, sedangkan kepalanya bertambah pusing. Hingga sampai di fase pandangannya mulai buram dan akhirnya menggelap, tubuh Suzy meluruh pada dinginnya ubin lantai di kamar itu.

***

"Dia dimana?"

"RS Myungyeon. Aku telah mengirim orang untuk menjaga di depan pintunya."

"Bagaimana keadaannya?"

"Tidak baik. Dia terus berteriak dan menggaruk seluruh tubuhnya hingga menyebabkan goresan kemerahan," seseorang itu menginfokan. "Apa ini tidak keterlaluan? Maksudku, bagaimanapun juga kalian berte—"

"Kenapa kau jadi cerewet sekali, Hyun?"

"Jeosonghamnida."

"Dia pantas mendapatkan semua itu, walaupun aku sudah memarahi si bodoh-bodoh itu karena sampai menyentuhnya. Tapi bagaimanapun itu sudah terjadi, Hyun. Aku meminta kau mengurus Hanbin juga. Aku tidak ingin ada tikus-tikus lagi."

Sayup, suara obrolan itu masuk melalui indera pendengaran Suzy membuat wanita yang sejak tadi memejamkan mata itu perlahan membuka matanya. Dia mengaduh pelan saat merasakan selang infus yang menempel di satu tangannya seraya menekan pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut nyeri. Kedua matanya menyipit, mengerjap pelan, sebelum akhirnya terbuka sepenuhnya. Dan orang pertama yang masuk ke dalam pandangannya adalah Myungsoo.

"Akhirnya kau sadar juga, aku begitu khawatir..." Pria dengan kaos hitam polos dibungkus dengan coat itu memamerkan wajah leganya, satu tangan Myungsoo terulur hendak menyentuh pelipis Suzy, sebelum berhenti diudara kala wanita yang hendak ia sentuh beringsut mundur dengan sikap defensif sambil memegangi tubuhnya melindungi diri.

Satu tangan itu mengepal diudara serta rahangnya mengeras, dadanya seperti di hantam batu besar ketika sebuah penolakan kembali diterimanya. Semalam dia benar-benar kelepasan saking menikmati, hingga lupa kalau dia pun tengah berpura-pura. Dan sekarang, ketika kenyataan telah terkuak, Myungsoo seperti dibawa ke masa lalu, dimana ia kembali jauh dengan wanita di depannya.

Meskipun Myungsoo tahu bahwa kedekatan mereka berdua belakangan ini tidaklah nyata—karena jelas, mungkin saja wanita cantik ini berusaha menahan untuk tidak muntah saat dicumbu olehnya—tetapi tetap saja sikap Suzy sekarang jauh diluar prediksinya.

Wanita itu masih membencinya.

"Suzy..."

"Sejak kapan kau tahu!?" Suzy menatap Myungsoo penuh amarah.

Rahang yang mengeras itu perlahan mengendur, ada senyum kecil muncul di wajah Myungsoo. Pria itu menoleh, menatap seseorang yang mengobrol dengannya tengah berdiri dengan sikap siap di dekat pintu ruangan, lalu Myungsoo menyuruh pria bersetelan hitam formal itu untuk menunggu diluar. Hyun mengangguk, mengikuti perintah.

Sepeninggal Hyun, Myungsoo kembali membawa fokusnya pada wanita yang masih mencoba membentangkan jarak di antara mereka sejauh mungkin itu dengan pandangan sayang. Pria itu maju satu langkah dan mengambil tempat di ujung ranjang.

"Aku akan menjawab semua pertanyaanmu, tetapi kau harus mengisi perutmu. Dokter tadi mengatakan kau lemas dan syok." ucap Myungsoo. tangannya terulur mengambil nampan bubur yang tadi di letakkan di atas meja kecil di samping ranjang. Lalu, menyendokkan bubur itu dan mengulurkan tangannya ke depan mulut Suzy. "Buka mulutmu."

"Tidak mau!"

"Kau tidak akan mendapatkan informasi apapun kalau kau tidak memakan makananmu, Suzy." Myungsoo memberikan ultimatum. "Ayo, buka mulutmu."

Dengan penuh amarah ketika mendengar suara Myungsoo yang sok berkuasa dan memerintahnya, Suzy langsung menepis tangan dan nampan bubur itu hingga membuat semuanya membentur ubin lantai hingga pecah dan berserakan.

Myungsoo memejamkan mata sesaat, kemudian tersenyum lembut. "Aku akan menyuruh pelayan untuk membereskan ini dan membuatkanmu bubur yang baru." Ucapnya, mengusap pelan puncak kepala Suzy, "Seberapa pun kau membenciku, mungkin sekarang sedang terbentuk calon masa depan kita di dalam sini." Bisik Myungsoo sambil memegangi perut Suzy.

Suzy tersentak, wajahnya memerah dan ia menahan napas. Pandangan penuh luapan kemarahan itu ia lemparkan terus kepada pria yang ia benci dan baru mereda ketika tubuh itu menghilang dari balik pintu. Sikap tegang Suzy perlahan mengendur, wanita itu mengembuskan napas sambil meremas ujung bajunya.

Kepalanya bergerak mencari, dan langsung melesat mengambil tas miliknya ketika ia menemukan tas biru dongker itu tergeletak di dekat meja rias. Dengan cepat Suzy mencakar seluruh isinya, tetapi yang ia cari tak juga ditemukan di sana. Walaupun agak samar, namun ingatan pasti kalau terakhir kali ia meletakkan HP itu di dalam tas, karena ia sibuk memasak makanan untuk Myungsoo sore itu sehingga membuatnya tidak sempat melihat-lihat HP-nya. Tetapi, kenapa benda elektronik itu tidak ada di dalam tasnya?

Suzy berpikir keras.

"Kau mencari ponselmu?" Suara Myungsoo membuyarkan lamunan Suzy. Wanita itu mendongakan kepala, menatap Myungsoo dengan pandangan memicing. Membuat Myungsoo menampilkan raut sedih, "Temanmu begitu berisik menelpon dan mengirimi pesan. Aku cemburu, jadi ponselmu kusita ya?"

"Kim Myungsoo!" Suzy membentak.

"Ayo, ini buburnya," Myungsoo mengabaikan bentakan itu, meletakkan nampan bubur itu ke atas meja semula dengan sedikit membungkuk. Kemudian, ia menatap Suzy lembut. "Aku tahu kau pasti marah. Kau bisakan menghabiskan makananmu tanpa berulah? bibi pelayan akan menemanimu sambil dia membersihkan kotoran ini. Aku akan menunggumu diluar. Aku mencintaimu." Langkah Myungsoo hampir mencapai ambang pintu, kemudian ia berbalik. Mengeluarkan sebuah kalimat yang mampu membuat Suzy harusnya mau menurut. "Aku mungkin akan membatalkan niat untuk menyentuh Hanbin kalau kau mau menghabiskan makananmu dan mengikuti aturanku, Suzy. Ya, walaupun aku begitu kesal karena dia terus menempel istriku."

Mendengar nama Hanbin kembali disebut, Suzy langsung terdiam kaku. Ingatannya kembali kebeberapa saat lalu ketika Myungsoo dan lelaki asing mengobrolkan satu topik yang juga menyeret nama Hanbin di sana.

Suzy menggeleng pelan. Dia tidak boleh membiarkan Hanbin terluka, pria itu sudah membantunya sejauh ini.

"Tidak, tidak boleh." Gumam Suzy cepat, kemudian tanpa sadar wanita itu mengambil sendok dari nampan makanan dan mulai menyuapkan bubur itu ke dalam mulutnya.

***

Myungsoo sedang menatap keluar jendela di ruang kerjanya ketika pintu diketuk dan Hyun menginformasikan bahwa Suzy telah datang. Raut wajah dingin yang sejak tadi terpasang perlahan menghilang digantikan dengan senyuman kecil ketika tubuhnya berbalik dan mendapati Suzy telah berdiri di depan pintu dengan floral dress coklat bertangan panjang. Dibawah pendar cahaya lampu yang termaram, Suzy nampak cantik meskipun Myungsoo bisa menangkap jelas raut kemarahan di wajahnya. Diam-diam Myungsoo menghela napas frustasi. Dia sangat mencintai wanita di depannya ini, dan Suzy harus tahu kalau dia mencintainya. Bahkan, ia sangat ingat bagaimana tubuh Suzy yang merespons segala bentuk sentuhannya. Meskipun ragu, Myungsoo berkepala besar karena mungkin Suzy akan luluh dan menerimanya seperti tubuh wanita itu yang menerimanya.

"Sejak kapan kau tahu kalau aku bukan Lucy." Suara Suzy menyingsingkan keheningan di ruangan itu. Dengan langkah terorganisir, ia berjalan dan mengambil duduk pada kursi hitam di tengah ruangan itu.

Myungsoo mengurai tangannya yang terlipat di depan dada itu, lalu mengikuti Suzy mengambil tempat pada kursi di seberang wanita itu. Ekspresinya nampak tenang ketika meluncurkan sebuah jawaban yang pastinya mampu membuat Suzy merasa telah kalah sejak awal.

"Mm," gumamnya nampak berpikir sebelum melanjutkan. "Ketika kau menuruni tangga rumahmu saat acara pertunangan kita? Waktu itu aku sempat meragu, namun ketika menemukan mata yang selama ini telah menghipnotisku, aku yakin kalau yang berdiri di depanku itu adalah Suzy, bukan Lucy."

Suzy mengepalkan kedua tangannya. "Kau pasti senang karena berhasil mengelabuhiku?"

"Tidak," Myungsoo mengernyit. "Sepanjang hari aku memikirkan kenapa kau berpura-pura menjadi Lucy. Dan ketika informan yang kusuruh membeberkan semua informasi—termasuk dimana Lucy di sekap—aku paham dan mengikuti aturan mainmu," Myungsoo menarik napas, membenarkan posisi duduknya dan suaranya kembali mengudara. "Ahya, kau tidak perlu takut. Aku telah menyingkirkan Lucy untukmu sayang. Jadi kau bisa terus melanjutkan balas dendam kepada keluargamu."

"M-mwo?!"

Myungsoo kembali tersenyum. "Lucy meneleponku dan mengatakan kalau dia telah diculik olehmu. Padahal aku sudah tahu soal itu, tetapi karena bisa saja dia mengacaukan semuanya dan membuatmu pergi dari sisiku lagi, aku akhirnya memutuskan untuk membalaskan dendammu kepadanya."

Jantung Suzy berpacu cepat. Tubuhnya gemetar, ia benar-benar tidak memercayai apa yang didengarnya barusan. Dengan perasaan yang tidak lebih baik setelah mendengar penuturan itu, Suzy kembali bertanya dengan suara rendah, "Dimana dia?"

"RSJ. Dia sepertinya sedikit frustasi atas apa yang menimpahnya. Kuakui anak buahku memang keterlaluan, aku hanya menyuruh mereka untuk menakuti Lucy dan membuat wajahnya luka seperti apa yang Lucy perbuat kepadamu dulu, tetapi mereka malah menggilir Lu—"

"Kau monster!" Suzy berdiri cepat, kakinya gemetar dan matanya memerah menatap Myungsoo. "Kau tidak dalam kapasitas menghancurkan mereka karena aku juga membencimu!"

Myungsoo yang tidak menyangka kalau ini yang akan diterimanya, terdiam. Napasnya tercekat ketika kata-kata Suzy mengenai dirinya menghunusnya sampai ke hati. Bahkan, ketika Suzy telah pergi dari pandangannya, barulah ia sadar dan kemudian kalap. Dengan cepat, Myungsoo berlari keluar ruangan itu untuk mengejar Suzy.

"Hyun, dan semua pelayan, hentikan Lucy yang mencoba pergi! Cepat!" amaran Myungsoo sambil berteriak.

Napas Myungsoo terengah, namun ada perasaan lega ketika melihat Suzy telah berada dalam cekalan Hyun. Meskipun wanita itu meronta dan terus mengeluarkan sumpah serapahnya, yang terpenting adalah Suzy tidak lari darinya.

Myungsoo membalas tatapan penuh kebencian Suzy dengan sorot lembut, "Kau harus tetap disisiku."

Suzy menggeleng.

"Aku akan membantumu menghancurkan perusahaan keluargamu. Aku mempunyai buk—"

"Aku tidak bisa bersama seorang yang kubenci."

"Apa?"

"Lepaskan aku!"

"Suzy—"

"Kau gila! Psikopat! Tidak seharusnya kau melakukan itu pada seorang yang kau cinta—"

"Kau yang kucinta, Suzy. Kau."

Suzy terdiam.

"Sejak dulu sampai sekarang, hanya kau yang aku sukai. Aku tahu caraku mengambil perhatianmu salah, aku minta maaf soal itu. Makanya, sekarang aku akan berusaha untuk menunjukkan dengan benar perasaanku kepadamu."

"Dengan menghancurkan hidup Lucy?"

Myungsoo mengerutkan dahi, "Bukankah itu yang kau inginkan?"

Bukankah itu yang kuinginkan? Suzy menggumam dalam hati. Dia menginginkan ini, tetapi kenapa saat Lucy hancur hatinya tidak membaik juga?

Suzy memejamkan matanya dua detik. "Ayo kita sudahi pernikahan sialan ini. Aku tidak bisa melanjutkan pembalasan dendam ini saat targetku bahkan sudah mengetahui sia—"

"Tidak. Aku tidak mau."

"Myungsoo!" Suzy berseru. "Terserahlah, Aku akan meminta Hanbin untuk menjempu—"

"Hyun, bawa dia ke dalam kamar dan kunci kamar itu dari luar," amaran Myungsoo kepada orang kepercayaannya itu dengan rahang mengeras. "Suruh orangmu untuk membunuh Hanbin agar istriku sadar kalau hanya aku yang ia butuhkan." Lalu tanpa menoleh Myungsoo melangkah pergi.

Mengabaikan teriakan Suzy yang bertambah histeris di sana.

Karena satu hal yang harus Suzy tahu, beginilah cara seorang pria sejati mempertahankan seseorang yang di cinta secara benar.

***

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co