sembilan.
304.
Hanbin membaca nomor pada ruangan di depannya dalam hati. Tubuhnya seketika kaku saat ia mengintip melalui kaca kecil yang ada di tengah daun pintu putih dan menemukan sosok yang begitu mirip dengan wanita yang ia cintai di dalam sana. Sedang duduk meringkuk dengan pandangan tak fokus, sementara sebelah wajahnya terlihat seperti bekas habis terkena luka bakar yang serius.
Hanbin tahu kalau wanita itu adalah Lucy, kembaran Suzy. Ia memang tidak mengenal wanita itu-apalagi sampai bertatap muka-ia hanya melihat dan mendengar informasi berkala yang dikirimkan (atau diceritakan) Suzy kepadanya-itupun tidak terlalu sering. Sejujurnya, Hanbin merasa kalau yang mengukus di antara dua bersaudara itu adalah sebuah kesalahpahaman akibat dari kata iri. Melalui cerita yang ia tangkap dari Suzy, Hanbin bisa menyimpulkan pula bahwa akar masalah dari semua kejadian yang terjadi ini adalah keluarga saudara kembar itu.
Dikarenakan sifat pilih kasih merekalah sehingga terbentulah Lucy, dan akibat dari perbuatan Lucy maka lahirlah Suzy yang sekarang. Yang dingin dan menganggap bahwa semua orang di bumi adalah spesies jahat-sama seperti keluarganya.
Perlahan, dibukanya pintu yang menjadi satu-satunya penghilang batasan antara wanita itu dan dirinya. Kemudian, dengan langkah pelan Hanbin masuk ke dalam. Hati kecilnya teriris melihat bagaimana kini Lucy yang terlihat seperti orang ling-lung, wanita itu mengusap kasar seluruh tubuhnya seperti ada sesuatu yang menjijikkan bersarang di sana.
Hanbin tak kuasa menghela napas. Beruntung karena salah satu dokter di rumah sakit jiwa ini merupakan seorang teman lama Hanbin. Wanita itu langsung mengontak Hanbin ketika melihat wajah familier yang mirip dengan wanita yang pernah di unggah Hanbin di akun media sosialnya. Sejak lama menyimpan rasa terhadap Hanbin membuat Yena jelas mengetahui siapa saja wanita yang sedang dekat dengan pria itu. Dan Suzy, adalah wanita tetap yang keberadaannya kerap membuat Yena cemburu.
"Lucy kenapa?" tanya Hanbin dengan suara tercekat. Tubuhnya kaku berdiri tak jauh dari ranjang tempat Lucy duduk meringkuk. Sementara, orang yang ia tanyai sedang berada tak jauh dari ranjang itu juga.
Wanita berparas ayu dengan jas putih yang khas itu menatap Hanbin. Matanya kembali bisa menangkap satu kekhawatiran yang tak ditutup-tutupi pria itu, hanya saja sekarang tak ada sorot mata yang biasa ia lihat ketika Hanbin sedang menatap wanita itu.
Tunggu, kenapa Hanbin menyebutkan nama Lucy? Bukankah nama wanita itu adalah Suzy?
"Lucy...?" tanpa sadar Yena menggumamkan pertanyaan yang ada dalam hatinya. Wanita itu menatap Hanbin dengan sorot yang berbeda, keningnya mengerut dan ia sungguh penasaran sekarang.
Walaupun jelas ini telah melanggar kode etik, namun sekarang adalah pengecualian. Hanbin bukan orang asing baginya. Segala hal mengenai pria itu tak pernah asing untuk Yena.
Yena sabar menunggu, satu tangannya yang memegangi bolpoin nampak menekan ujung bolpoin itu berulang. Namun, karena Hanbin yang tak juga memberikan jawaban, akhirnya ia mengalah dan mengeluarkan informasinya untuk pria itu. "Seseorang menemukannya di semak-semak dekat jalan kecil tanpa cctv. Dia pingsan dengan wajah melepuh dan berdarah, sementara pakaiannya...compang-camping."
Buku tangan Hanbin memutih, pandangannya mengeras, menyisir wanita di depannya dengan jantung yang seperti mau meledak disana. Ini adalah sebuah naluri kemanusiaannya, terlebih si korban adalah seseorang yang memiliki hubungan dengan wanita yang ia sayangi. Jadi, bagaimana Hanbin tidak bisa untuk tidak berbuat apa-apa. Sejak awal, Suzy memang menargetkan keluarga wanita itu, tetapi Hanbin yakin bahwa Suzy tidak akan pernah bertindak senekat ini-sebenci apapun dia, Hanbin tahu bahwa Suzy tidak akan main kekerasan yang sampai melibatkan fisik seperti ini. Karena jauh dari kata pembalasan yang terus melekat kental di kepala Suzy, Hanbin paham bahwa Suzy adalah salah satu orang tulus dan baik yang pernah ia kenal.
"Saat kami meminta pemeriksaan, hasil laporan menunjukkan kalau dia telah mengalami pelecehan seksual dan kekerasan," Kembali Yena melaporkan informasi yang ia terima. Yena memandangi Hanbin, mencoba memeriksa ekspresi wajahnya sebelum ia kembali mengudarakan pertanyaan yang serupa dengan pertanyaannya di awal tadi. "Kau menyebutnya tadi Lucy, seingatku sahabatmu adalah Suzy kan?"
Kepala Hanbin menoleh kaku. "Dia adalah saudara kembar Suzy."
"A-apa?"
"Ceritanya panjang," Hanbin menghela napas. "Yena, bisakah kau meninggalkan kami disini?" pintanya.
Yena mengangguk. "Panggil aku jika kau membutuhkan bantuan, oke?"
"Terima kasih." Ucap Hanbin pelan.
Pria itu memandangi Lucy dalam diam. Lalu, memantapkan langkah untuk berjalan mendekati sang objek. Tangannya terulur memegang bahu Lucy, namun dengan segera Lucy menghindar, menatap Hanbin penuh ketakutan seraya berteriak histeris.
"JANGAN SENTUH AKU!" Lucy menggeleng sambil melindungi tubuhnya, "SIAPA KAU!? JANGAN SENTUH AKU! KALIAN SEMUA ADALAH ORANG JAHAT! AKU BENCI HIDUP INI!" lanjutnya dengan suara yang menghunuskan jiwa.
Hanbin mengalah. Kedua telapak tangannya bergerak memberikan aba-aba supaya Lucy tenang disana, kakinya mundur tiga langkah memberikan jarak di antara keduanya.
"Aku tidak akan menyakitimu, Lucy. Tenanglah." Kata Hanbin.
Setelah teriakan Lucy berhenti, Hanbin mengambil satu boneka beruang putih-oranye mini dari dalam kantong coat-nya, kemudian mengulurkannya pada Lucy. Walau sedikit meragu, namun dengan cepat ia menyambar boneka lucu itu dan tersenyum kecil sembari memainkannya.
Aman... untuk sesaaat Hanbin bisa membuat wanita di depannya ini fokus terhadap boneka-yang sebenarnya ingin diberikan kepada Suzy, namun Hanbin keburu lupa karena insiden kaburnya Lucy. Dan sekarang dia harus segera menghubungi Suzy untuk mengatakan kalau ia telah menemukan saudara kembar wanita itu. Mungkin saja nomor Suzy sudah aktif lagi walau tadi saat dalam perjalanan kemari Hanbin sudah berulang kali mencoba menghubungi sahabatnya itu, namun berakhir pada pesan suara.
Perasaan was-was kembali menyelimuti Hanbin. Apakah Suzy sedang tidak bisa memegang ponselnya?
Tetapi, biasanya jam segini Hanbin bisa bertukar pesan dengan wanita itu karena jelas Myungsoo pasti sedang berada di perusahaan, bekerja. Kembali mencoba peruntungan, Hanbin kembali mendial nomor Suzy, menunggu hingga tut suara pada panggilan itu terhubung.
Tuuut... satu. Hanbin menghitung dalam hati.
Tuuut... dua.
Tuuut... tiga. Belum juga ada jawaban.
Tuuut... emp-
"Kau benar-benar usil ya, terus-menerus menelpon istriku."
Tubuh Hanbin seketika menegang. Dijauhkannya ponsel itu dari telinga untuk menatap nomor yang ia hubungi. Ini adalah nomor telepon Suzy, bukan Lucy. Iya. Benar.
Degup jantungnya semakin menggila ketika ia mendekatkan kembali ponsel itu ke telinga. "Myungsoo..."
"Ya, aku, suami dari sahabatmu. Suzy."
Sial! Umpat Hanbin dalam hati.
"Dimana Suzy brengsek!?" makinya.
"Suzy? Ada bersamaku. Kau aneh sekal, Hanbin."
"AKU SERIUS!"
"Kau kira aku sedang bercanda?" ada kemarahan dalam suara Myungsoo di sana. "Dengar, dia adalah istriku. Milikku. Dan aku tidak akan membiarkan siapapun menyentuh milikku. Meskipun kau adalah keluargaku, Hanbin." Myungsoo mengeluarkan sebuah peringatan yang sungguh-sungguh.
***
Suzy mengusap wajah frustasi saat seluruh tenaga yang ia kerahkan sia-sia. Bayangan tentang pembalasan dendam kepada keluarganya sejenak ia lupakan, karena sekarang ada hal yang lebih penting daripada semua itu; ia harus kabur dari dalam sini sekarang.
Wanita itu benar-benar tidak menyangka kalau sekarang ia sedang berada dalam fase 'senjata makan tuan' , terlebih lagi ia bahkan tidak tahu kalau ia sudah kalah sejak awal!
Sialan!
"Kau yang kucintai..." kembali, Suzy menggeleng keras. Suara berisik Myungsoo acap terdengar menghantui gendang telinganya. Dan Suzy tidak akan percaya soal yang satu itu. Karena bisa jadi, yang tadi didengarnya adalah suatu kebohongan, bisa saja dia sedang di jebak dan ternyata Myungsoo dan keluarganya-terutama Lucy-sedang bersekongkol untuk membunuhnya!
Pemikiran ekstrem seperti itu wajar sekali ia pikirkan mengingat bagaimana keluarganya dulu memperlakukannya seperti sampah. Sebuah aib yang harus disembunyikan atau bahkan dibuang hanya karena wajahnya tak lagi rupawan. Padahal dulu, seperti piala kesayangan bagaimana mereka memperlakukannya.
"Cih! Bedebah sialan!" Suzy berdecih sinis. Kepalanya menatap ke arah balkon kamar dan seketika satu ide terlintas di benak Suzy. Sejujurnya, ia takut ketinggian, dan jelas jarak dari lantai dua rumah ini sampai ke bawah bisa saja menewaskannya. Tetapi dia tidak memiliki opsi lain selain ini. Apalagi ponselnya yang disita oleh psikopat sialan itu membuatnya tidak bisa menghubungi Hanbin untuk meminta bantuan. "Orang itu pasti berbohong tentang apa yang ia katakan tadi. Dia pasti telah menolong Lucy dan sekarang mereka sedang siap-siap untuk menghancurkanku!" gumamnya sambil mengambil beberapa barang penting miliknya dan memasukan ke dalam tas.
Suzy tidak membutuhkan baju-baju, karena yang terpenting sekarang adalah ia harus keluar dari sini apapun caranya. Segera, Suzy melangkah ke arah pintu balkon dan membuka pintu itu. Seketika angin sepoi-sepoi langsung menyambutnya, membuat rambutnya yang terurai berterbangan karena embusan anginnya. Suzy menahan napas, dinaikinya besi pembatas itu hingga kini ia berada di luar. Tangannya bergetar sambil memegang erat besi balkon. Sebisa mungkin Suzy tidak ingin menatap ke bawah karena jelas semua itu hanya akan mengacaukan semuanya. Pokoknya ia harus melompat dengan ancang-ancang dan mata terpejam, dia hanya tinggal menahan napas dan berenang ketepian-karena tepat di bawah balkon kamar ini adalah kolam renang sehingga memudahkan Suzy lebih...
Kedua matanya tiba-tiba membeliak bersamaan dengan jantungnya berdegup keras ketika tanpa sengaja satu kakinya tergelincir membuat matanya yang terpejam itu terbuka dan langsung menatap ke arah bawah. Sontak, napasnya tercekat dengan pandangan yang berkunang-kunang dan tangan yang memegang besi balkon mulai terasa gemetaran. Lalu, tanpa dapat di prediksi karena semua itu terjadi begitu cepat, tahu-tahu tubuh Suzy terjatuh dibantu oleh gravitasi bumi. Dan bunyi deburan air yang terdengar begitu keras tak lama kemudian.
Suzy jatuh ke dalam kolam dengan kondisi kehilangan kesadarannya.
***
Selesai... Aja ya?
Hehe dah kalo ga end2 ini ntar bakal banyaqq chapter dan gak asik bete deh kalian bakal bosen beneran karena ini pance kalo dilanjutin. Trus ntar dikira aku boongan pdhl kan pen 3chap😭😭
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co