Truyen3h.Co

Volcano Erupt

tujuh.

authoriya

Terdapat konten kekerasan dan dewasa. Diharapkan bagi pembaca untuk bijak menyikapi.

🌹

"SIAPA KALIAN!?" Lucy mencoba melepaskan cekalan pada lengannya namun tak berhasil. Matanya menatap pria-pria berbadan besar yang mencekal kedua lengannya dengan begitu kencang itu berulang kali, mencoba mempelajari wajah-wajah mereka, namun Lucy sama sekali tidak menemukan siapa orang-orang seram ini. Napasnya pelan, keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya. Namun, Lucy tak gentar dan kembali meneriakkan pertanyaan serupa. "KUTANYA SIAPA KALIAN!? SIAPA YANG MENGUTUS KAL--"

Plak!

"Aish, kau berisik sekali, perempuan," keluh seseorang yang sejak tadi diam. Meregangkan otot lehernya dan mengusap tangan. "Mianhae, biasanya aku tidak pernah kasar terhadap wanita cantik, tapi kau sepertinya pengecualian." imbuh pria dengan codet di pipi kiri itu.

Tadi, ketika Lucy sedang menunggu Myungsoo datang menjemputnya di tempat yang mereka janjikan, tiba-tiba dua orang berkapakaian gelap menyekapnya dan menarik paksa Lucy masuk ke dalam mobil hitam besar. Lucy di bius, dan ketika ia membuka mata, ia sudah berada di suatu ruangan pengap--seperti gudang yang sudah tak terpakai lagi.

Pria itu nampaknya adalah bos dari kedua pria yang mencekal lengan Lucy karena pria itu kemudian menginteruksi untuk membawa Lucy ke bangku di tengah ruangan. Lalu, memaksa wanita itu duduk disana dengan tangan terikat.

Perempuan itu berteriak, meronta guna meloloskan diri. Namun usahanya sia-sia ketika ia malah mendapat satu kali tamparan di pipi sebelahnya. Pria bercodet itu tersenyum bengis sambil mencekam kedua pipi wanita berani di depannya dengan kasar,

"Bosku menyuruhku untuk bermain-main denganmu sebelum memberikan hadiah untuk wajahmu yang cantik itu..." gumam pria itu. Ditundukkannya kepala hingga sejajar dengan wajah Lucy, kemudian dengan kurang ajarnya pria itu mencium bibir Lucy.

"Sialan!" amarah Lucy memuncak. Wanita itu mencoba meronta dengan ekstrem sampai menendang-nendang pria bengis itu, kali ini dengan mata memerah menahan tangis.

Namun, perlawanan Lucy malah membuat pria itu semakin menjadi. Ditanggalkan baju yang ia pakai dengan cepat, kemudian menatap kedua anak buahnya satu persatu, "Kalian berdiskusi siapa yang mencicipinya setelah aku selesai."

Lalu, semua terjadi begitu saja. Dengan kasar, disertai tangisan Lucy dan tawa ketiga pria bengis itu. Pakaian Lucy robek, segala yang ia banggakan hilang, dan seketika itu juga kehidupan yang dibanggakan Lucy runtuh. Hancur.

Tidak hanya sampai situ, kemudian pria bercodet itu menyuruh salah satu dari anak buahnya menyiramkan air panas ke pipi kiri dan lengan Lucy, membuat wanita itu kembali berteriak kesakitan dan akhirnya tak sadarkan diri.

Si pria bercodet itu lalu mengirimkan sebuah pesan singkat 'Mission completed' kepada sang Bos yang mengutus perintah kepadanya.

***

Suzy benar-benar panik. Pasca berita menghilangnya Lucy dari tempat sekapan, ia tidak bisa berhenti berjalan mondar-mandir sambil mengigiti kuku tangan dengan gelisah. Satu hal yang pasti, ia harus segera menemukan Lucy sebelum kembarannya itu pulang dan mengacaukan segalanya.

"Tenanglah." Hanbin mengumumkan mantra entah sudah yang keberapa kali. Pria itu sedang duduk di sofa apartemen Suzy--yang hanya mereka berdua yang mengetahui letaknya--dengan mata menatap Suzy yang terus melangkah di depannya.

Hanbin juga panik, tetapi pria itu terlampau tenang tiap kali mengatasi kepanikannya. Hanbin menghela napas, saat Suzy memilih tak mendengarkan dan tetap bergerak gelisah, Hanbin kemudian menarik lengan Suzy hingga membuat wanita itu terduduk di jok sofa yang sama dengannya, kedua tangan Hanbin memegang bahu Suzy. "Dengar," Hanbin memulai, suaranya rendah menatap ke dalam manik mata coklat wanita dengan rambut terurai di depannya. "Kau tidak akan ketahuan."

"Bagaimana kalau dia kembali?"

Hanbin tersenyum, satu tangannya bergerak mengusap puncak kepala Suzy perlahan. "Maka aku akan membawamu pergi dari korea detik itu juga. Lalu kita menikah."

"Yya," Suzy berdecak, menyingkirkan dengan paksa tangan Hanbin dari kepalanya sambil menatap jengah. "Aku sedang tidak berniat bercanda."

"Aku serius."

"Dan aku sekarang sedang menjadi istri orang. Kalau kau lupa." Suzy kembali mendengus malas. Kedua tangannya terlipat di depan dada sembari menyandar pada punggung sofa. Matanya lurus menatap televisi yang sejak tadi dibiarkan menyala, dan kini sedang menyiarkan acara ragam yang tidak ia ketahui judulnya. Sedangkan ketika pikirannya hendak kembali terenggut, HP-nya malah berdering. Dengan cepat Suzy langsung mengeluarkannya dari dalam tas, dan ia kontak tergugup saat membaca nama pada layar HP-nya. Suzy melirik kaku pada Hanbin, "Myungsoo..."

Jantungnya berdetak tak karuan dengan segala praduga yang melayang di kepala. Apakah Lucy sudah datang dan membeberkan semuanya?

"Angkatlah."

"Tapi ini facetime," balas Suzy ragu. Dia bisa mati jika di sana semua keluarga sedang berkumpul. Terlebih jika Lucy ada disana juga.

"Angkatlah dan bersikap biasa saja. Aku akan pindah duduk, dan membantu jika diperlukan." Hanbin bicara tenang. Pria itu langsung mengambil tempat di sofa lain. Kedua tangannya saling bertautan bertumpu pahanya. Menatap Suzy.

Suzy menarik napas pelan, kemudian mengangguk. Merapikan rambutnya, hingga akhirnya ia mengangkat panggilan itu. Senyuman artifisial terlihat di wajah cantik itu ketika panggilan video itu terhubung.

Dan Suzy tidak bisa mendesah lega saat mendapati hanya wajah Myungsoo yang memenuhi layar itu. Dia aman untuk sekarang.

"Aku sudah di airport. Kau tidak menyusulku? Kau dimana sekarang?"

Aku pasti sudah gila. Aku lupa sudah berjanji akan menjemputnya! Runtuk Suzy dalam hati.

"Maaf, aku..." Suzy melirik Hanbin melalui ekor mata tanpa kentara. "Aku menyiapkan makan malam spesial untukmu. Cepatlah datang, aku rindu." imbuhnya dengan nada menggoda.

Myungsoo tersenyum lebar di sana. "Aku tidak sabar untuk menikmatinya..." jawabnya ambigu. Lalu mengakhiri panggilan video itu, "Sampai nanti. Aku mencintaimu."

Suzy mengangguk dengan terus menyunggingkan senyum. Setelah panggilan itu berakhir, ia langsung berdiri dan menyambar tasnya. "Hanbin, tolong antarkan aku pulang sekarang. Kita tak punya banyak waktu."

"Wah, aku benar-benar iri dengan pria sialan itu." Hanbin geleng-geleng. Mengikuti Suzy yang sudah berjalan mendahului.

"Waeyo?"

"Bagaimana bisa dia mendapatkan service-mu gratis, sementara aku harus menunggu dibuatkan makanan olehmu hanya setahun sekali ketika hari ulang tahunku."

"Kau benar-benar kekanakan."

"Janji kalau kau tidak akan memasak yang enak, oke?" Hanbin menyodorkan jari kelingkingnya, membuat janji seperti anak kecil. Hal itu malah membuat Suzy tertawa keras. Alih-alih menyambut jemari itu, Suzy malah menekan tombol lift. "Yya, janji dulu!"

"Shireo."

"Baiklah, kalau begitu kau harus membuatkanku makanan juga besok. Call?"

Suzy tersenyum kecil. "Shireo."

Membuat Hanbin mendesah kesal sambil mengacak rambut.

***

"Boggosipyeo..." bisik Myungsoo ditelinga Suzy, sementara kedua lengan kekar itu memeluk tubuh ramping Suzy erat, menyalurkan kerinduannya pada si pemilik tubuh itu.

Suzy mencoba menenangkan jantungnya yang berpacu cepat. Jika mengesampingkan dendamnya, ia jelas begitu gugup perihal skinship yang selalu dilakukan Myungsoo padanya. Ia bahkan berulang kali merepalkan mantra jika semua yang dia korbankan akan terbayar ketika melihat satu persatu kejatuhan lawan tiap kali ia merelakan dirinya di kecup mesra atau di pegang oleh Myungsoo.

Tangan itu menelusup kebalik t-shirt merah muda yang dikenakan Suzy, dan mengelus perut rata di dalamnya. "Aku merindukanmu." bisik Myungsoo kembali.

Jemari Suzy bergetar, jantungnya berdetak liar. Ia ingin memaki, menghardik dan menyumpahi Myungsoo. Tapi ketika ia mengingat misi-nya hampir berhasil, Suzy kembali menekan habis segala bentuk kebenciannya itu.

Tubuhnya berbalik cepat di saat tangan Myungsoo semakin bergerak ke bagian atas. Dirangkulnya leher Myungsoo hangat, dengan sebuah senyuman di bibirnya. "Kau akan mendapatkan dessert-mu ketika kau menghabiskan makananmu. Umm?"

"Aku tidak sabar dengan dessertku." jawab Myungsoo sambil mengecup pelan bibir Suzy.

Suzy sama sekali tidak menikmati makanannya. Pikirannya tentang Lucy benar-benar menghantuinya, karena satu hal yang akan terjadi adalah kehancuran jika Lucy sampai datang kemari. Namun, dari pada ia gagal total, membuat Myungsoo menghamilinya mungkin akan membuat hati Lucy dan lelaki itu terluka. Kedua orang itu--dan bahkan keluarga mereka nanti--akan merasa tertipu. Lucy akan merasa dikhianati, dan Myungsoo akan merasa bersalah. Pria itu akan merasa patah hati jika ternyata orang yang di 'rusak'-nya bukanlah wanita yang ia cintai. Memikirkan itu membuat Suzy tersenyum kecil.

"Kau sedang memikirkan apa?" Tanya Myungsoo dengan alis terangkat. Piring di depannya sudah tandas, dan ia mendorong sedikit piring itu ke depan.

Suzy mendongak, menggeleng pelan. Melakukan hal yang sama dengan Myungsoo, kemudian wanita itu berdiri. Ia berjalan ke arah kursi Myungsoo dan duduk di pangkuan pria itu sambil merangkulkan kedua tangan dileher. "Dimana kau ingin menikmati dessert-mu?"

Myungsoo menyeringai. Tanpa membuang waktu lagi Myungsoo langsung membopong Suzy dan membawanya ke dalam kamar.

"Aku akan pelan-pelan." bisiknya parau setelah ia berada di atas tubuh wanitanya.

Dan berawal dari sebuah ciuman, Myungsoo menanggalkan semua pakaian mereka--melemparnya ke sembarang. Napasnya terengah, senyumannya terus mengembang ketika melihat wajah merah dibawahnya yang semakin terlihat cantik itu. Kemudian semuanya terjadi.

Dalam dinginnya malam yang kini terasa panas segalanya terasa nyata; segalanya terasa sempurna.

Ketika dinding tipis penghalang itu berhasil di terobos, Myungsoo tersenyum sambil memeluk tubuh ramping wanita yang dicintainya.

"Aku mencintaimu, Bae Suzy." bisiknya dengan menatap mata Suzy.

Membuat senyuman di wajah Suzy langsung luntur. Wajahnya pucat, menatap pria yang berada di atasnya dengan pandangan tak percaya.

***

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co