Truyen3h.Co

Volcano Erupt

delapanbelas.

authoriya



.

.

Sinar mentari pagi ini terlingkup oleh selubung awan kelabu sisa hujan semalam. Bahkan, kicauan burung yang biasanya saling menyaut membangunkan di pagi hari dari depan kaca jendela, pagi ini tak terdengar sama sekali. Suzy menggeliat dari tidurnya seraya menarik selimutnya hingga ke leher. Radarnya yang sejak tadi beristirahat langsung siaga ketika mencium aroma dari seduhan kopi. Kopi yang selalu di minum oleh Myungsoo setiap pagi—yang biasanya ia buat dengan sepenuh hati.

Kedua mata yang terpejam itu lantas terbuka, sedikit menyipit saat cahaya pagi yang menembus masuk lewat jendela (meskipun tidak memiliki sinar seperti pagi biasanya) lalu Suzy menyibak selimutnya.

"Kau tidak membangunkanku," kata Suzy kepada Myungsoo sambil mengusap wajahnya pelan menggunakan telapak tangan.

Sesaat, Myungsoo terpaku pada bahu mulus Suzy yang satu talinya merosot ke bawah. Pendar di kedua mata lelaki itu meredup seiring dengan keinginan manusiawinya yang mendadak muncul tanpa aba. Myungsoo segera mengalihkan pandangannya menatap wanita yang sedang menatapnya juga dengan ekspresi sedikit kesal itu, lantas bersuara. "Kau tidur nyenyak. Aku mana tega membangunkanmu sayang..."

"Aku kan bersemangat sekali ingin ikut ke kantormu," ucap Suzy sembari mengembuskan napas. Ia melirik ke arah jam yang menggantung pada dinding kamar. Pukul 06.29. Dengan sigap, ia langsung membawa kedua kakinya menapaki ubin lantai dan melangkah menuju kamar mandi. "Kau tidak diperbolehkan meninggalkanku. Mengerti?" ucap Suzy sambil membuka pintu kamar mandi.

Myungsoo mengangguk menahan senyum.

"Jangan menahan senyum seperti itu aih!" seru Suzy di antara kosen dan daun pintu yang hampir tertutup. Kedua matanya menyipit dengan jari telunjuk mengarah kepada Myungsoo. "Yang tadi itu perintah, bukan permintaan. Paham?"

"Iya, aku tidak akan meninggalkanmu. Sudah, kau harus mandi dan bergegas. Kita perlu mengucapkan 'salam pagi' sebelum turun ke bawah." Myungsoo mengulas senyum ketika wajah cemberut Suzy tercetak di depannya.

Tawanya lepas ketika Suzy berseru setengah memaki dan mengatai dirinya mesum. Namun, hanya sekejab karena setelahnya ekspresi wajah Myungsoo kembali datar sembari menatap layar tab yang mencetak kabar bahwa tahanannya telah kabur.

Kedua mata Myungsoo terpejam dengan rahang mengetat. Dasar pegawai-pegawai bodoh, untuk apa ia membayar mahal mereka jika menjaga satu orang saja di dalam ruangan bisa gagal seperti ini!

***

Hanbin mengambil cup kopi dan membiarkan cairan hangat nan pahit itu melewati tenggorokannya dengan santai. Pria itu menaruh cup kopi di atas dashboard, lalu membiarkan kedua tangannya terpaut di atas stir kemudi.

Hanbin sengaja membiarkan irama musik mengalun dengan volume kecil melingkupi bagian dalam mobilnya, sementara kedua manik mata tajam dibalik lensa menatap lurus pada pagar bertuliskan nama perusahaan yang sangat dikenalnya. Jam sudah menunjuk di angka delapan, dan orang yang ditunggunya belum juga muncul.

Apakah hari ini akan berakhir sia-sia seperti kemarin? Pikir Hanbin.

Keberuntungan sedang tidak memihaknya kemarin, karena lama ia menunggu di kedai—plus di tempat ini juga—ternyata lewat sekuriti perusahaan ia mendapatkan informasi bahwa bos mereka tidak masuk hari itu. Alhasil, dengan pundak merosot Hanbin menyalakan mesin mobilnya untuk pulang ke hotel. Pria itu menunggu sangat lama untuk bertemu hari ini, bahkan ia sampai tidak bisa nyenyak tidur padahal sengaja sejak jam delapan malam ia sudah mematikan lampu kamar hotel, dan ketika fajar akhirnya menyingsing, Hanbin lekas bergerak secepat kilat menuju kamar mandi dan berakhir menunggu di tempatnya memarkirkan mobil sejak dua jam yang lalu.

Hanbin langsung mengubah posisi ketika melihat sebuah mobil masuk ke area gedung bertingkat dua itu. Tubuhnya menegak seraya melepas kacamata yang ia pakai.



Terlihat dua orang pria tegap yang sejak tadi berdiri di dekat sekuriti nampak berlari saat sebuah mobil berhenti tak jauh dari tempat mereka berdiri, kemudian salah seorangnya membukakan pintu mobil.

Dan disana...

Seseorang yang sama sekali tidak akan terbesit dalam benaknya akan bertemu di tempat ini karena Hanbin yakin Myungsoo tidak akan menempatkan Suzy ke dalam jangkauannya itu nyatanya kini sedang berjalan menuju gedung perusahaan dengan senyuman yang membingkai manis di wajah cantiknya. Berbalut dress hitam setinggi betis, ia berjalan di arahkan oleh kedua pria tadi.

Sesaat Hanbin terpaku di tempat, kedua matanya memandang penuh rindu pada sahabat sekaligus wanita yang ia cintai itu. Padahal jelas, udara di luar begitu dingin dan seharusnya Suzy membalut tubuhnya dengan pakaian tebal, bukannya seperti ini.

Ada keinginan Hanbin untuk turun dan menghampiri. Namun keinginan itu tertelan begitu saja ketika tubuh ramping itu sudah hilang di telan pintu kaca gedung pencakar langit di depannya. Sekejapnya yang lantas menghilang lagi, sekejap rasa hangat yang berlalu pergi. Dan bahwa sekejap itu kini terasa hinggap di hati.

Menerobos masuk sekarang tidak mungkin berhasil, karena sejak tadi Hanbin belum melihat ada Myungsoo—otomatis dua pria yang menjaga Suzy tadi pasti mendapat mandat dari Myungsoo untuk menjaga wanita itu supaya jangan sampai lecet dan tergores—dan entah kemana pria itu sekarang. Jadi, yang harus ia lakukan saat ini adalah kembali menunggu; menunggu hingga lawannya datang.

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co