Truyen3h.Co

Volcano Erupt

tujuhbelas.

authoriya

hilaaw, pada puasa nggak? apa, pura-pura puasa? ehe.

Sori ya lama update--terutama utk FF Flipped, aku lagi writer's block jadi butuh menghirup udara segar kayaknya. Kuharap kalian tetep menunggu

************

            Wajah Suzy terlihat super senang ketika Myungsoo mengiakan permintaannya semalam. Bahkan, sejak pagi-pagi sekali Suzy sudah pergi ke kamar mandi, menghabiskan beberapa waktu di dalam sana untuk melakukan perawatan sendiri dan keluar dengan kimono handuk yang sudah membungkus tubuhnya. Langkahnya tertuju pada meja rias dan duduk di bangku kecil di depan meja itu, mengambil toner, lalu memakainya. Senyuman tak kunjung surut dari wajah cantiknya, bahkan setelah ia melakukan ritual reguler yang biasa dilakukan wanita pada pagi hari sebelum beraktivitas.

Suzy berdiri seraya membuka handuk yang melilit di kepalanya dengan pelan ia mengusap helaian rambutnya yang basar menggunakan handuk itu sebelum membawa handuk itu ke balkon untuk menjemurnya. Masih menggunakan kimono, Suzy melirik Myungsoo yang tertidur tengkurap di atas ranjang dengan punggung polosnya yang terekspos akibat selimut yang merosot hingga pinggul. Yang sekarang, mau tak mau bayangan atas apa yang ia lakukan bersama Myungsoo semalam kembali melayang-layang di pikirannya.

Wanita itu menggerutu kecil saat merasa pipinya memanas dan membawa kedua telapak tangannya menangkup kedua pipinya dengan gemas. "Astaga, aku pasti sudah gila!" gumamnya tertahan.

Seraya menghilangkan apapun yang kini otaknya pikirkan, Suzy berjalan menuju lemari mengambil satu dress putih polos dengan aksen plisket sepanjang betis dan dengan cepat memakainya. Melirik dirinya melalui cermin berdiri di dekat lemari pakaian, Suzy kembali melangkah menuju ranjang. Menuju pria yang semalam terkena imbas dari sifatnya yang manja—dan terpaksa menunggu dua jam di luar kamar. Ketika Suzy sempat mengira bahwa Myungsoo akan pergi ke bawah, ternyata pikirannya salah. Pria itu dengan setia menunggu pada kursi sofa coklat letter L di pojok sebelah kamar.

Tertidur.

Myungsoo pasti sangat lelah akibat seharian bekerja mengurusi perusahaan dan ketika pulang hendak istrirahat, pria itu malah disuguhkan sifat kekanakannya.

Sungguh sifat tidak patut diulang. Batin Suzy.

Tangan Suzy terulur, menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah Myungsoo seringan bulu. Satu hal yang dia sadari selama disini, bahwa ia begitu menyukai wajah pria itu ketika ia sedang tertidur seperti ini. Terlihat damai dan entah kenapa hatinya merasa tenang ketika melihat wajah itu. Seolah kedamaian di wajah itu menular pada dirinya.

Dan Suzy menyukai perasaan yang timbul itu.

"Apa aku tampan ketika sedang tidur, hm?" suara serak Myungsoo terdengar bersamaan dengan kedua kelopak mata pria itu yang terbuka.

Suzy terlonjak kaget, dan menjauhkan tangannya. Wanita itu berdeham pelan menelan kegugupannya. "Aku—"

"Aku senang kau melakukan itu," potong Myungsoo. Pria itu mengubah posisinya dengan berbaring menatap langit kamar. Meskipun sedikit kusut dengan mata sipit khas bangun tidur, pria itu masih bisa menyunggingkan senyum. "Kau sudah mandi?"

Suzy mengangguk. "Aku ingin membangunkanmu sebelum membuat sarapan pagi, tetapi kau pula—Astaga apa yang kaulakukan!?" akibat kewaspadaan diri Suzy yang tidak siaga, membuat Myungsoo dengan mudah menarik wanita itu ke dalam pelukannya.

Kedua tangan Myungsoo memeluk erat tubuh ramping di atasnya. Sementara kepalanya menusuk di antara lekukan leher dan bahu Suzy yang tertutup kain. "Kau cantik dan wangi," Gumam Myungsoo parau. Kedua matanya terpejam menikmati aroma Suzy yang memenangkan. "Biarkan seperti ini sebentar. Aku masih mengantuk, tapi aku ingin memelukmu." Imbuhnya.

Suzy terdiam, membiarkan Myungsoo memeluknya sementara kedua matanya menatap lurus pada dinding dengan bingkai foto pernikahan mereka disana. Senyuman hangat khas yang ia temui pada wajah pengantin pria, dan senyuman artifisial yang ia temui pada pengantin wanita.

Kenapa wajahmu di foto itu begitu tidak menyiratkan kebahagian, Suzy? Apa yang telah terjadi sebenarnya? Pertanyaan itu terus muncul sejak ia kali pertama ia melihat bingkai foto yang menggantung di kamar ini.

Bersamaan dengan suara pria lain yang ia temui kemarin... "Aku bersungguh-sungguh. Satu-satunya yang berbohong adalah Myungsoo karena dia mencoba menjauhkan kita. Kita adalah sahabat..."

Membuat kepala Suzy langsung diserang kesakitan mendalam.

"Arrgh!" Suzy mengerang keras.

Dan hal itu langsung membuat Myungsoo kembali nyalang. Pria itu langsung membawa Suzy bangung, menatap Suzy dengan pandangan super panik. "Kau baik-baik saja, Suzy? Kenapa? Yang mana yang sakit?"

Suzy mengernyit, kedua matanya memejam menahan sakit yang tiba-tiba menyerangnya. "Kepalaku sakit sekali, Myungsoo. Rasanya seperti ingin pecah." Dan pada kalimat terakhir saat suaranya semakin rendah, Suzy meluruhkan diri ke dalam pelukan Myungsoo karena tak sadarkan diri.

***

"Apa ini?"

"Hadiah,"pria itu tersenyum menatap Suzy. Tangannya masih mengulur, menunggu Suzy untuk mengambil pemberiannya. "Ayo, ambil ini." imbuhnya kembali.

Suzy menatap kotak hadiah berwarna marun dengan pandangan tak terbaca. Kemudian, ia menghela napas dan akhirnya mengambil hadiah yang diberikan Hanbin untuknya dengan mengeluh. "Harusnya kau—"

"Aku tidak repot dan tidak membuang-buang uang, Suzy. Tenang saja, aku mendapatkan bonus di pekerjaan paruh waktuku. Hadiah ini kubeli karena sahabatku berulang tahun, menggunakan uang hasil kerja kerasku, bukan uang yang dikirimkan oleh orangtuaku. Bangga tidak kau padaku?" potong Hanbin dengan penjelasan panjang-lebar.

Suzy menukas senyum, menatap Hanbin dan bergumam. "Terima kasih."

"Jadi?"

"Apa?"

"Kau tersentuh?"

Suzy terkekeh kecil. "Ya, aku tersentuh. Aku tidak menyangka ada orang baik di dekatku. Seperti dirimu."

Tersenyum bangga, Hanbin kembali mengulang keberuntungannya."Kalau gitu jadi kekasihku ya?"

"Oh ayolah, bukankah kita lebih baik seperti ini? Hubungan seperti itu akan berakhir, sementara persahabatan akan kekal sampai mati." Suzy mulai merasa tak nyaman tiap kali Hanbin membuat pengakuan. Baginya, Hanbin adalah satu-satu sahabat yang ia miliki dan Suzy tidak ingin jika mereka naik ke level lain dan tidak berhasil, mereka akan menjadi dua orang asing. Akhirnya, satu-satunya orang yang terluka adalah dirinya sendiri. Ia akan merasakan lagi rasa kesepian karena tak memiliki teman. Dan Suzy belum bisa membayangkan jika hal itu kembali terjadi.

"Baiklah, asal kau harus memberitahuku jika nanti kau menyukai orang lain. Walaupun aku tetap berharap jika itu adalah aku." Hanbin akhirnya mengalah. Baginya, dekat dengan Suzy adalah hal yang penting. Jika wanita itu belum bisa menerima cintanya, maka ia akan menunggu hal itu. Hal yang mungkin, atau tidak akan terjadi.

"Aku tidak akan melakukan hal-hal semacam itu. Tetapi, aku akan memberitahumu jika hal itu terjadi..." angguk Suzy.

Myungsoo mengamati wanita yang sedang terengah-engah, bangun dari posisi tidurnya dengan peluh membasahi pelipis. Duduk di pojok ruangan, Myungsoo membiarkan keheningan melingkupi sampai waktu yang ia butuhkan untuk menganalisa ekspresi Suzy saat ini.

Tiga jam waktu yang dibutuhkan Myungsoo hingga Suzy tersadar dari pingsannya—sampai meninggalkan pekerjaannya demi menemani wanita yang sangat dicintainya. Dia begitu panik karena Suzy yang pingsan mendadak. Dan kepanikannya tidak membaik saat mendengar penuturan dari dokter pribadinya yang memeriksa Suzy tadi, yang mengatakan kalau itu adalah serangan yang mungkin terjadi karena otaknya ingin mengeluarkan informasi; jika sedang mengingat sesuatu.

Karena itu, dengan radar yang terus waspada, Myungsoo mengamati ekspresi wanita itu yang nampak kosong dan kebingungan sebelum akhirnya Suzy menoleh ke tempatnya duduk dan memanggil namanya dengan suara yang sama seperti sebelumnya. Urat syaraf tegang Myungsoo langsung mengendur, diam-diam ia menghela napas lega dan menuai senyuman. Ia membawa tubuhnya berdiri, melangkah menuju ranjang tidur dan duduk di ujung ranjang seraya mengusap pelan puncak kepala Suzy.

"Aku begitu khawatir..." Gumam Myungsoo.

"Aku mengingat sesuatu!" Kedua mata Suzy nampak tak fokus, wanita itu merasa bingung sekaligus gugup.

Sementara Myungsoo langsung menegang, dengan kaku ia mengurai pertanyaannya. "Apa yang kauingat?"

"Aku mengingat pria yang fotonya kau tunjukan waktu itu," ucap Suzy menatap Myungsoo, "tetapi dalam ingatanku kami bersahabat." Simpul Suzy. Dia menghilangkan bagian confession yang dilakukan Hanbin padanya, takut jika hal itu melukai hati suaminya.

Myungsoo memejamkan mata, mencoba menarik udara sebanyak yang ia bisa. Kenapa ketika ingatan Suzy melasak keluar, yang diingat wanita itu hanya tentang pria lain? Meskipun jika di beli skala satu sampai sepuluh, ingatan wanita itu akan dirinya hanya 0.5. Tidak sampai satu. Dan, tidak ada hal baik di dalamnya.

Myungsoo tersenyum nelangsa. Ditatapnya Suzy dengan pendar mata yang berbeda, dielusnya puncak kepala Suzy dengan lembut. Ada permintaan maaf disana, yang Myungsoo sampaikan melalui tindakan dan tatapan. Hingga ia berkeharusan mengubah pendirian dan keyakinan, agar apa yang ia pertahankan semoga tidak hilang tertelan.

"Kau tahu aku mencintaimu, 'kan?" Myungsoo berucap pelan, meraih kesepuluh jemari Suzy untuk di genggam. Suzy mengangguk. Lalu, ia menambahkan. "dan kau memimpikan pria lain disaat aku khawatir akan keadaanmu," Ada senyuman miris tercetak di wajah Myungsoo sebelum kembali bersuara, "tapi ada keharusan untukku mengatakan yang sebenarnya—yang kau mimpikan adalah benar. Kau dan dia bersahabat. Dulu. Hanbin adalah sepupuku, sepupu jauh tepatnya. Dan, dia menyukaimu entah apa yang direncanakan pokoknya dia ingin merebutmu dariku."

"A—apa?" Suzy tercekat, memandang Myungsoo tak percaya.

"Aku berbohong padamu karena ingin mempertahankanmu disisiku. Aku tidak ingin kau kemana-mana, aku hanya ingin kau bahagia." Myungsoo tersenyum kecil menyelesaikan penuturannya.

Aku hanya ingin kau bahagia... kenapa mendengarkan itu dada Suzy langsung menghangat? Menghangat karena menyadari bahwa ada orang yang ingin dirinya bahagia, bukannya egois demi kebahagiaan diri sendiri. Seolah apa yang baru ia dengar adalah hal yang jarang didengarnya selama ini.

Suzy jadi tidak enak, dia seperti memojokkan Myungsoo karena sebuah mimpi. Dia bahkan tidak jujur karena pernah bertatap muka dengan Hanbin tempo hari. Tetapi, alasan lainnya adalah karena ia menjaga agar kepala pelayan yang baik hati itu tidak terkena imbas. Ia hanya ingin segalanya berjalan normal. Hidup normal.

Suzy melepaskan genggaman tangan Myungsoo dan maju memeluk tubuh Myungsoo. Menikmati degup jantung milik pria itu dengan tenang, lalu bergumam lirih. "Maafkan aku, tidak seharusnya aku menceritakan soal kilas balik yang kuingat. Terima kasih karena menempatkan kebahagiaanku di atas kebahagiaanmu, Myungsoo. Aku mencintaimu."

Myungsoo mengecup puncak kepala Suzy hangat seraya membalas pelukan itu. "Kau tahu aku hanya mencintaimu. Hanya mencintaimu."

***

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co