sembilanbelas.
P.s : kalian ini luar biasa, kalo nagih cerita sama aku nggak nodong langsung dg PM atau ke wall. Tapi dg re-read ceritaku, lalu input komen "udah baca yang ke 5x-nya!" atau mendadak vote ulang chapter cerita yg belum tuntas dan input redudancy comments.
Cintak kali aku ama kalian! Xx
****
Suzy menggenggam erat pada kacamata yang sudah dilepasnya. Perasaan tak enak tiba-tiba saja melingkupi wanita itu ketika seluruh mata tertuju padanya. Ia membuat ketukan berirama dari sepatu heels yang dipakainya, sedangkan lewat pembawaan dicobanya untuk tetap terlihat tenang walau napasnya kembali berubah tercekat. Sebuah sensasi yang sama seperti yang ia rasakan ketika mendengar tentang keluarganya tempo lalu dari cerita Myungsoo. Dan sekarang, kembali dirasakannya perasaan sesak itu.
Dadanya selayak di remas-remas, membuat Suzy lantas memejamkan matanya seraya langkahnya memundur. Suzy memegang ujung meja resepsionis di sebelahnya untuk menahan agar dirinya tak limbung ambruk.
"N-nyonya! Kau baik-baik saja?" pertanyaan dari seorang perempuan muda bersanggul di balik meja resepsionis terdengar was-was. Ia sama seperti orang-orang di dalam gedung ini yang sejak tadi tak bisa melepaskan pandangan mereka dari wanita yang di sinyalir sebagai istri dari bos mereka--yang cantiknya luar biasa berkali-lipat dari yang mereka lihat pada portal daring, televisi, atau majalah edisi terbaru.
Suzy mencoba tersenyum seraya mengangguk. "O-oh. Aku baik-baik saja."
Kedua matanya menatap ke arah pintu masuk gedung mencoba melihat apakah Myungsoo sudah selesai berbicara dengan Hyun. Tadi, suaminya itu menyuruhnya untuk turun terlebih dahulu dan menunggu di dalam gedung karena dia perlu berbicara hal penting bersama Hyun. Mungkin itu masalah bisnis, dan Suzy lebih memilih untuk menurut daripada mengeluh hal yang tidak penting. Lagipula, pembicaraan mereka pasti membingungkan dan diluar jangkauannya, karena itu ia tidak mempermasalahkan. Namun, nyatanya di dalam sini sendiri, bersama dengan orang asing yang baru pertama kali Suzy temui--tapi sepertinya semua orang di gedung ini telah mengetahui siapa dirinya--hal itu membuatnya tak nyaman.
Suzy bergerak gusar di tempatnya, kedua matanya lurus mencari dan ketika objek yang dicarinya tak kunjung terlihat, wanita itu mengembuskan napas. Menegakkan tubuhnya dan berusaha menstabilkan perasaan, ia menatap sekali wanita muda yang duduk di balik meja resepsionis. "Sepertinya aku akan menunggu suamiku diruangannya. Lantai berapa?"
"Lantai sebelas," Jawab wanita muda itu cepat. Ia hendak memanggil seorang pengawal yang tadi mengawal Suzy masuk untuk menemani wanita itu ke ruangan Myungsoo, namun suara Suzy menahannya. Si resepsionis itu nampak ragu lewat suaranya. "T-tapi, Pak Hyun berpesan katanya--"
"Aku bisa sendiri. Tenang saja, baik Hyun ataupun suamiku, mereka tidak akan memarahimu apalagi sampai memecatmu. Oke?"
Wanita muda itu mengangguk. Menatap punggung istri dari bos-nya itu dengan pandangan mengagumi yang terang-terangan.
***
"Bagaimana?"
Hyun menggeleng pelan. "Belum ada yang menemukan jejaknya. Aku telah mengutus orang melacak melalui cctv di sekitar, tetapi belum juga ada penerangan."
Myungsoo menghela napas gusar. Pria itu membawa tangannya mengusap wajah frustasi. Bagi Myungsoo, kehilangan Lucy dari rumah sakit itu adalah malapetaka yang akan terjadi. Wanita itu jelas tidak sehat, sifatnya ambisius dan sekarang Lucy tahu kalau semua yang terjadi adalah perbuatannya.
Jadi, hal yang perlu di minimalisir adalah agar wanita itu tidak pulang ke rumah. Walaupun lewat mata-mata yang ia kirim Myungsoo tahu jika belum ada tanda-tanda bahwa Lucy pulang atau sampai ke rumah keluarga wanita itu, tapi Myungsoo yakin kalau cepat atau lambat hal itu pasti akan terjadi.
"Kau perlu mengancam anak buahmu dengan memberikan mereka pesangon jika sampai Lucy pulang ke rumah orang tuanya," Myungsoo berkata tajam. Tatapannya menghunus seperti sembilah pisau. "dan pecat pegawaimu yang tidak becus itu. Paham?"
"Ya, aku mengerti." Hyun mengangguk sopan. Kepalanya masih menunduk kala Myungsoo keluar dari dalam mobil hingga terdengar bunyi debaman yang berasal dari pintu mobil yang tertutup. Ia kemudian menegakkan kepala, lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi anak buahnya di Seoul.
Di tempat yang menyembunyikannya sejak tadi, Hanbin memerhatikan tubuh Myungsoo yang menghilang ke dalam kaca pintu masuk gedung pencakar langit di depannya. Beberapa menit lagi ia akan menerobos masuk ke dalam sana, dan menjelaskan segalanya kepada Suzy, juga meminta sepupunya untuk mengaku perihal perbuatannya yang menipu itu.
***
Myungsoo terpaku di tempatnya dengan satu tangan masih memegang handle pintu, sementara pandangannya menatap lurus ke depan dimana wanita yang sangat di cintainya itu sedang terduduk di sofa dengan kepala menunduk dan tubuh bergetar.
Perasaan tidak enak langsung menyelimutinya, dan tanpa membuang waktu ia langsung menghampiri Suzy secepat kilat.
"Suzy?" suara Myungsoo tersirat khawatir seraya membawa kedua tangannya ke pundak Suzy membuat wanita itu mendongakkan kepala. Wajahnya pucat pasi sementara napasnya terlihat tersengal-senggal. "kau kenapa?" lanjut Myungsoo panik saat sadar kalau mungkin saja serangan Suzy kumat.
Dengan cepat, Myungsoo membawa Suzy ke dalam pelukannya. "Apa yang terjadi? Kenapa kau bisa seperti ini? Siapa yang menemuimu, sayang?"
Suzy menggeleng dalam pelukan. Matanya terpejam, dan menghela napas lega ketika perlahan napasnya tak sesesak tadi. Pelukan Myungsoo benar-benar sebuah penyembuh...
"Aku senang kau cepat datang," rintih Suzy pelan. Wanita itu menguraikan pelukan mereka untuk menatap wajah pria kesayangannya. "semuanya terjadi sekejap mata ketika aku melihat seluruh pegawaimu memerhatikanku dengan pandangan penuh. Kurasa, aku tidak terbiasa dengan tatapan seperti itu..."
Rahang Myungsoo mengerat. "Aku akan memecat mereka semua."
"Tidak!" Suzy menggeleng cepat. "mereka tidak salah apa-apa. Kau tidak boleh memecat mereka." perintah Suzy.
"Karena mereka kau mendapat seranganmu. Kau kesakitan, Suzy. Aku tidak suka melihatmu sakit."
"Tapi itu bukan salah mereka. Mungkin saja aku memang seperti itu sejak dulu, Myungsoo," Suzy menarik napas. "pokoknya aku tidak ingin kau sembarangan memecat pegawaimu. Kau tidak tahu berapa kepala yang harus di nakfahi para pekerja itu..."
Myungsoo mendesah. Rahangnya mengendur, kedua tangannya bergerak mengusap pipi Suzy seringan bulu. "Kau begitu baik. Dari dulu sampai sekarang."
"Benarkah?"
Pria itu mengangguk. "Tentu saja," Myungsoo memandang dengan sorot mata gelap. "kau sudah membaik?"
"Kau selalu bisa membuatku merasa lebih baik." tukas Suzy sambil tersenyum.
Melihat senyuman yang terbit selaksa pelangi di tengah badai membuat sorot mata Myungsoo semakin menggelap. Perlahan tapi pasti, pria itu mulai menundukkan kepalanya, dibantu dengan satu tangan yang berada di dagu Suzy, menolongnya untuk mendongakkan kepala wanita itu. Suzy mulai memejamkan matanya saat tujuan Myungsoo hampir sampai, namun tepat ketika bibir Myungsoo sampai di sudut bibir Suzy, tiba-tiba suara pintu terbuka bersamaan dengan suara wanita yang nampak panik terdengar.
"Tuan, anda tidak boleh main masuk ruangan seperti ini!"
***
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co