Truyen3h.Co

Volcano Erupt

duabelas.

authoriya

Hujan semakin deras ketika helikopter pribadi dengan inisial KMS mendarat di lapangan luas yang berada tepat disamping hunian tingkat dua bergaya klasik modern—dengan suara baling-balingnya yang berisik. Beberapa orang dengan pakaian serba hitam seragam plus asisten rumah tangga—dengan pakaian seragam bercorak abu-abu kotak—memegang payung transparan nampak berdiri berjajar membentuk barisan vertikal.

Hyun membukakan pintu helikopter itu dari luar sementara pengawal yang mentudungi kepalanya tadi setia berdiri di tangga terbawah. Untung dalam penerbangan tadi tidak menyangkut kendala apapun meski hujan sama sekali tidak mau bekerja sama, alhasil mereka bisa sampai ke tujuan dengan waktu yang sama seperti estimasi perjalanan, yakni tujuhbelas menit saja. Yang umumnya akan dilalui sekitar tiga jam lebih-kurang jika menggunakan transportasi darat.

"Tidur...?" Hyun terkejut di tangga bagian atas ketika melangak ke dalam dan mendapati kepala Suzy yang sudah menyandar nyaman di atas bahu Myungsoo. Sementara bosnya itu nampak rileks meskipun ia tahu pasti kalau bahu itu jelas mendapatkan beban yang tak enteng. Hyun kemudian berjalan sedikit masuk ke bagian dalam. "Aku akan memanggilkan orang untuk membawa istrimu masuk ke dalam vil—"

"Tidak perlu. Aku yang akan membawanya sendiri." Potong Myungsoo cepat. Dengan gerakan terkordinir Myungsoo dapat dengan mudah membawa Suzy ke dalam bopongannya. Tubuhnya berdiri tegak, kemudian mengulas senyum kecil. "Tolong katakan pada mereka untuk memayungi Suzy dan aku sementara kami berjalan. Aku tidak ingin dia terbangun karena terguyur hujan, Hyun."

Hyun mengangguk. Pria itu lantas berjalan keluar dari dalam helikopter itu terlebih dahulu, lalu menyuruh beberapa orang standby untuk melindungi dua orang penting yang akan keluar dari dalam helikopter itu.

Beruntung, ketika menuruni tangga yang digunakan untuk turun dari helikopter itu telah memiliki lindungan sejenis kanopi sehingga keduanya tidak perlu kehujanan saat hendak menuruni tangga itu, barulah ketika tungkai panjang itu telah sampai pada anak tangga terbawah salah satu dari pria berpakaian hitam-hitam itu menjulurkan tangan yang memegang payung itu ke arah Myungsoo, dan untuk kemudian berjalan dibelakang bosnya yang tengah membawa istri di dalam bopongannya.

Bagi siapapun yang melihat, pandangan ini benar-benar seperti potongan kejadian dalam drama korea yang santer tayang menghiasi layar televisi setiap malam. Pangeran tampan yang sedang membopong putri cantik yang terlelap, dengan efek hujan dan beberapa barikade pengawal yang siap melindungi tuan mereka kapanpun. Yang mana, kejadian malam ini normalnya akan menjadi bahan gosip antar sesama asisten rumah tangga tiap ada kesempatan.

Barikade pengawal plus Asisten rumah tangga itu kemudian membubarkan diri setelah tuan mereka terlindungi hingga masuk ke dalam villa.

Villa ini sangat besar, untuk menuju ke atas menggunakan lift dengan kartu akses yang hanya dimiliki oleh kepala ART, Hyun, kepala pengawal, dan sudah pasti Keluarga besarnya. Namun karena kondisi yang riskan ini, Myungsoo meminta Hyun untuk mengganti kartu akses lift di lantai dua ini agar yang memiliki akses keluar masuk lift hanya dia dan beberapa orang kepercayaannya. Maksud lain dalam penggantian kartu akses tersebut adalah supaya keluarga besarnya tidak bisa menerobos masuk ke lantai dua. Tempat pribadinya.

Terutama untuk orang yang bertanggung jawab atas sudut bibirnya yang sedikit robek ini. Tidak akan dibiarkannya untuk Hanbin memiliki akses kesini. Tidak akan pernah.

"Kau sudah membelikan nomor baru yang kukatakan kemarin?" tanya Myungsoo seraya menarik quilt hingga menutupi bahu Suzy. Tatapannya teduh ketika melihat Suzy yang menggeliat pelan memperbaiki posisi tidur sebelum menjadi pulas kembali. barulah Myungsoo menegakkan tubuhnya, kedua mata tajam itu menaruh pandang pada pria yang sudah dianggapnya seperti saudara sendiri itu.

Hyun mengangguk, tangan kanannya merogoh sebuah ponsel dari dalam jas kemudian mengulurkannya ke hadapan Myungsoo. "Nomor baru Suzy sudah kuprogram di ponselnya. Segalanya sudah kuatur dan kuhapus demi kenyamanan."

Myungsoo menerima ponsel itu dengan senyuman kecil yang tak bisa dihindari. Dia benar-benar bisa mengandalkan Hyun kapanpun dan untuk urusan apapun. "Terima kasih, dan kau boleh ke kamarmu, Hyun. Ini sudah malam, aku akan beristirahat."

"Baiklah. Kalau begitu aku permisi." Ucap Hyun seraya membungkuk sopan, lalu pria itu berjalan keluar kamar menutup pintunya dan melangkah menuju lift.

Myungsoo memalingkan pandangan dari daun pintu yang tertutup itu dan kembali memusatkan diri pada wanita yang sedang tertidur di ranjang. Matanya menelusuri setiap lekuk wajah yang begitu ia cintai itu. Wajah yang tertidur dengan damai dan sekarang wajah itu sedang tersenyum. Perasaan hangat kembali menjalar ke sekujur tubuh Myungsoo, entah apapun yang dimimpikan oleh Suzy sekarang, namun Myungsoo menduga pasti kalau itu adalah sebuah hal baik. Kemudian ingatan Myungsoo kembali menerawang pada kejadian di rumah sakit beberapa jam yang lalu ketika Suzy memintanya untuk menceritakan perihal masa lalu wanita itu. Yang sampai detik ini masih menjadi sebuah tanya dalam benak wanita itu—tadi Myungsoo berkilah dan mengatakan akan menceritakannya besok karena hari ini sudah malam dan mereka harus pulang—dan sekarang tanya itu malah mengusik Myungsoo.

Sebuah teks telah tersusun rapi di kepalanya dan tinggal dilucuti melalui suara yang akan menjadikannya informasi bagi Suzy, namun masalahnya adalah teks yang telah tersusun rapi itu bukanlah kronologis hidup yang sebenarnya terjadi, Myungsoo telah mengganti semuanya; semua tentang cerita hidup Suzy disana.

Pada detik ini akhirnya dia meloloskan asumsi dikepalanya itu. Bahwa ia ingin Suzy bahagia bersamanya. Dan ini adalah jalan menuju kebahagiaan itu.

***

Sinar matahari menembus melalui jendela-jendela bertirai tipis di kamar itu ketika telinga Suzy mulai terjaga. Samar, ia menangkap suara-suara langkah kaki dan bunyi dari benda kecil yang berdenting, namun wanita itu masih enggan untuk membuka mata karena quilt yang super hangat itu menyelimuti, mendekapnya dan menyebarkan kehangatan.

Ia kembali menggeliat kecil ketika aroma dari asap kopi yang baru di seduh masuk ke menembus selubung awan setipis selendang pengantin dan membiaskannya. Perlahan, dibukanya kedua mata itu. Suzy melihat bayangan Myungsoo sedang duduk di sofa dengan samar sebelum penglihatannya benar-benar fokus.

Suzy menegakkan tubuhnya dari berbaring, quilt-nya merosot hingga melingkari pinggulnya. Tanpa sadar ia menyunggingkan senyum kecil ketika melihat Myungsoo yang sedang menikmati secangkir kopi panas dengan mata yang menatap pada koran di tangannya.

Pria itu adalah suaminya... suaranya menggema dalam dinding hati.

"Kau sudah bangun?"

Pertanyaan Myungsoo yang tak terduga membuat Suzy langsung melepaskan tatapannya. Matanya tertuju ke arah jendela kamar yang sedikit melengkung membungkus sebagian atap yang kini sedang membentangkan pemandangan langit yang super cerah.

"Mm, baru saja." Suzy melirik Myungsoo. Lalu, tiba-tiba ia teringat akan hal semalam. "Apa aku ketiduran ketika kita akan kesini?"

Myungsoo menutup halaman pada koran paginya, melipat dua koran yang dipegangnya kemudian meletakkannya ke atas meja di samping kopinya. Matanya menatap Suzy lurus-lurus sambil mengangguk santai. "Ya. Sama seperti dulu..."

Satu kilas balik tiba-tiba menyerang Myungsoo, masih terekam jelas bagaimana ia melihat Suzy yang jatuh tertidur di perpustakaan ketika jam pelajaran di kelas mereka kosong. Saat itu, Myungsoo benar-benar kebingungan karena ia melepaskan matanya sesaat dan langsung kehilangan orang yang sejak tadi ia awasi diam-diam keberadaannya. Waktu itu ia ingat sampai menyisir ke segala tempat—dan akhirnya menemukan Suzy sedang tertidur menyandar pada rak buku dengan satu buku yang berada dalam pangkuan. Lama mengamati, hingga ketika Jimin memanggilnya melalui telepon karena mereka akan tanding basket, Myungsoo akhirnya mengakhiri menatap dalam diam-nya.

"Seperti dulu?" suara Suzy memelan, keningnya mengernyit bingung karena ia sama sekali tidak mengingat apapun mengenai masa lalu-nya itu. Lalu, ia ingat kalau Myungsoo masih memiliki hutang cerita kepadanya. "Kau janji akan menceritakan masa lalu-ku, rasanya tidak menyenangkan karena hanya kau yang mengingat sementara aku tidak." Keluhnya sambil membawa alisnya melipat ke bawah.

Myungsoo menahan senyum. Pria itu membawa cangkir kopinya ke mulut dan menyesap cairan pahit itu sekali teguk, kemudian berdiri.

Telapak kakinya yang telanjang berjalan menapaki ubin dingin menuju ranjang. Dalam jarak sentuh, dia mengulurkan tangannya menangkup pipi Suzy gemas. Lalu ia mendaratkan satu kecupan singkat disana. "Kau harus mandi."

"Kau mengingkari janji?!" Suzy mengerutkan dahi, pandangannya menembus ke dalam manik mata hitam Myungsoo yang menyesatkan. Manik mata yang menguncinya dalam sekali pandang.

"Tidak," Myungsoo menyapukan senyuman. "Aku akan bercerita nanti setelah kau mandi dan kita pergi sarapan bersama di bawah."

Suzy mendesah. Melepaskan tangkupan tangan Myungsoo dengan kepala menunduk. "Tidak mau!"

"Tidak mau?" Myungsoo mengulang kalimat Suzy. Kemudian satu seringaian muncul di bibirnya, "Jadi, kau lebih memilih kita menghabiskan waktu di atas ranjang ini? Aku setuju—"

"Hei!" Suzy berseru cepat. Wajahnya memerah, menatap Myungsoo setengah malu dengan sekejap ia sudah langsung berdiri dengan kedua tangan memegangi kerah baju. "Bukan itu maksudku. Aih, bagaimana kau bisa mengatakan hal seperti itu pada seseorang yang hilang ingatan!" gerutunya seraya melangkah menuju kamar mandi.

Myungsoo tersenyum geli, dan berseru bersamaan dengan pintu kamar mandi yang tertutup. "Apa kau butuh di gosokkan punggungnya?"

"TIDAK!" seru Suzy ketus dari dalam kamar mandi.

Membuat Myungsoo terbahak di luar. Ia melangkah mendekati pintu kamar mandi dan mengetuk sekali, "Aku akan menunggumu dibawah, ya? Kartu akses lift ada di meja. Sampai nanti, channie."

Gumaman Suzy sebagai jawaban mengiringi Myungsoo melangkah keluar dengan senyuman yang tak luput dari bibirnya.


***

TBC gaes, Park Sooyoung ngantuk banget mo ngetik panjang2 abis kecapekan joget-joget manjah di ttv. ehe

see you besok! janji besok bakal update, makanya komen yang agresif dong jan jd siders. HAHAHA

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co