sebelas.
Wagelaseeh gonjang-ganjing ini panjang lho gaes. Harusnya di cut ya biar gak panjang2, gasuka aku kalo liat kalian seneng :))
wkwkwk
************************************
Beginilah seharusnya.
Pria itu memusatkan lurus pandangannya pada patung serupa ikan paus yang tengah mengeluarkan air dari lubang sembur di kepala. Satu tangannya yang menopang di atas tangan lainnya bergerak, jari telunjuknya membuat ketukan beritme pada ujung hidungnya. Menandakan bahwa pria itu sedang terlibat dalam konflik dalam kepalanya.
Dia mati-matian meyakinkan hati, kalau dengan hilang ingatan Suzy adalah sebuah hadiah yang Tuhan berikan untuknya. Merupakan kesempatan lain untuknya memperbaiki apa yang telah rusak. Myungsoo mati-matian meyakinkan hati, bahwa dengan membawa Suzy keluar dari Seoul adalah hal yang paling aman saat ini.
Embusan napas pelan mengiringi jarum jam pada dinding yang terus bergerak maju, Myungsoo keluar dari selubung embun yang membiaskan penglihatan dan berakhir kembali ke dalam realita. Untuk pertama kali sejak bermenit-menit lamanya, Myungsoo akhirnya melepas pandang dari patung ikan paus yang berada di tengah-tengah kolam ikan pada taman artifisial di rooftop. Tempat favorit Myungsoo saat sedang berpikir.
Matahari telah masuk ke peradabannya, semburat jingga nan memanjakan mata pun telah menghilang di gantikan oleh langit malam dan bintang yang mulai bermunculan. Myungsoo mengerutkan dahi ketika merasakan ada air yang menetes di atas kepalanya. Mendongak pelan, ia kemudian menemukan rintik hujan mulai terasa turun dari langit atas. Dengan langkah bergegas, Myungsoo masuk melalui pintu penghubung dan berjalan menuju ruang kerjanya. Di sambarnya jas dari hanger, ia sedang memakai jasnya ketika ponselnya berdering.
Pria itu tersenyum menatap nama si penelepon, namun alih-alih mengangkat ia malah memasukkan benda eletronik itu ke dalam saku jas dan beranjak pergi. Lorong-lorong dalam gedung pencakar langit itu gelap, hanya menyisakan lampu temaram di beberapa ruang guna penglihatan.
"Kau belum pulang?" pertanyaan Myungsoo mengudara ketika milihat perawakan Hyun sudah berdiri di depan pintu lift. Nampak menunggunya.
Keduanya lantas masuk ke dalam lift dan Myungsoo membiarkan Hyun menekan tombol nomerator menuju basement.
"Aku menunggumu, pak," Jawab Hyun formal. Satu tangannya menimpa punggung tangan lainnya, sedang matanya melirik Myungsoo yang nampak menerawang di tempatnya. Sejak tadi pagi—setelah Suzy dinyatakan sudah bisa pulang dari rumah sakit (tetapi Myungsoo menahannya dan mengatakan kalau wanita itu akan pulang bersamanya ke hunian baru—pria itu nampak tak fokus. Beberapa kali Hyun harus mengulang informasinya karena ternyata Myungsoo sedang tidak mendengarkan ia berbicara. Sementara, segala rapat bulanan yang biasa dilakukan setiap kepala divisi terpaksa di batalkan sebab alasan yang pribadi. Wajah jika Hyun merasa khawatir dan alih-alih ia lebih memilih tinggal untuk menunggu bosnya itu. "Anda baik-baik saja?" imbuh Hyun.
"Bicaralah santai, kita tidak sedang dalam jam kantor, Hyun," tukas Myungsoo sambil mengulum senyum. "Dan memangnya aku kelihatan sedang tidak baik-baik saja?" Myungsoo memiringkan kepala, menatap Hyun dengan satu alis terangkat aneh.
"Ya," angguk Hyun mantap.
Mendengar nada spontan dan tidak ragu Hyun membuat Myungsoo menarik napas kepayahan. Pria itu menyandarkan punggung pada dinding lift seraya menatap nomerator yang bergerak dari satu lantai ke lantai lain tanpa membawa fokusnya disana. "Aku hanya berpikir."
"Maaf karena aku lancang," Hyun meminta maaf terlebih dahulu sebelum kembali menyuarakan pertanyaannya dengan diplomatis. "Tetapi, apakah yang kaupikirkan itu tentang tuan Kim dan keluarga istrimu?"
Myungsoo mengangguk sebagai jawaban. Hyun diam sebentar, pria yang memiliki umur sebaya dengan Myungsoo itu mengerti tentang situasi. Dan sudah menjadi kewajibannya untuk selalu membantu segala hal urusan yang menyangkut Myungsoo. Hyun adalah seorang preman yang tidak memiliki keluarga, pria itu bertemu Myungsoo karena Myungsoo menolongnya ketika ia tertangkap oleh polisi karena memalak mobil yang membawa Myungsoo saat itu—Hyun yang tidak tahu jika Myungsoo anak dari seorang yang berpengaruh di Korea jelas langsung tak berkutik. Alih-alih memenjarakan, Myungsoo malah mengatakan mereka akan berdamai karena takut media mengendus, lagipula saat itu Myungsoo beralibi kalau dia tidak kenapa-napa. Dan sejak hari itu Myungsoo seperti sebuah lentera yang menunjukan jalan keluar tepat ketika Hyun merasa bahwa dirinya tak bisa terselamatkan di dalam jurang yang sepenuhnya kelam.
"Kau mengenalku dengan baik, Hyun," Ada senyuman dalam suara Myungsoo. Keduanya lantas berjalan keluar dari dalam lift ketika suara dentingan lift serta pintu lift yang terbuka. Myungsoo memasukkan satu tangannya pada kantong celana, "Bagaimana cara menjelaskan pada mereka kalau kami akan pindah ke Mungyeong. Sementara kudengar bahwa orang kepercayaan Suzy yang manipulatif itu telah berhasil memerangkap Shijin si mata duitan itu. Dalam kondisi seperti ini, bukankah akan berbahaya jika Suzy sampai sedih?"
Hyun tersenyum mendengar penuturan Myungsoo. Tidak disangkanya hari ini akan segera terjadi, karena sepanjang enam tahun tahun mengenal pria yang menjadi atasannya itu, tak pernah sedetikpun Myungsoo mengoceh tentang wanita seperti sekarang, apalagi sampai mengkhawatirkannya. Bahkan ketika bersama Lucy—yang notabanenya adalah kekasih sekaligus sahabat Myungsoo, pria itu tidak juga seperti sekarang. Dia... datar. Senyumnya tak sampai ke mata. Begitulah penilaian Hyun mengenai Myungsoo.
Semakin mengerutkan dahi bingung karena ekspresi wajah asistennya yang tidak jelas, Myungsoo mendengus keras-keras. Membuat Hyun segera mengomentari. "Aku sudah mengurus semuanya."
"Apa?"
Hyun mengangkat bahu sekilas. Dengan bangga dia mengatakan kalau dia telah berhasil menyelesaikan permasalahan itu, bahkan ketika Myungsoo belum memerintahnya. "Mengingat kau mengatakan untuk menyiapkan villa, maka dengan pikiran yang terbuka dan penuh perhitungan aku langsung mengumumkan informasi kepada tuan Kim, bahwa anak cabang baru di Mungyeon butuh untuk di perhatikan. Dan ayahmu setuju. Sementara kepada keluarga istrimu tidak terlalu susah, karena mereka langsung menyetujui ketika aku mengatakan kalau kau dan istrimu ingin segera memiliki anak,"
"Apa hubungannya dengan Mungyeon?"
"Kurasa keluarga itu tahu kau memiliki villa dan cabang disana. Lagipula mereka langsung mengiakan tanpa banyak bertanya."
"Shijin jelas tahu bahwa Lucy-nya masuk ke rumah sakit. Walaupun dia tidak tahu pasti kenapa anaknya terbaring disana." Myungsoo mendengus sinis. Padahal pria itu selalu mengatakan bahwa ia sangat menyayangi putrinya, tetapi mendengar kabar bahwa putri kesayangannya itu masuk rumah sakit tak seorangpun dari keluarga itu membuka pikiran dan melangkah menjenguk bagian dari keluarganya.
Apakah sistem dari fungsi keluarga dalam keluarga itu memang sudah berantakan?
"Ya, aku rasa—"
"BAJINGAN!" makian seseorang dari belakang serta tendangan tanpa prediksi hingga membuat Myungsoo terjerembap jatuh pada lantai basement. Beruntung kedua telapak tangan Myungsoo segera menumpu sehingga wajah tampannya tidak mencium kotornya lantai dibawah sana.
Myungsoo terkekeh kecil seraya bangkit berdiri. Matanya mengamati dengan santai pria di depannya yang dirundung kemarahan sambil menepuk-tepuk kedua tangan membersihkan debu. Hyun sudah ingin membalaskan atas apa yang dilakukan pria itu terhadap atasannya, namun langkahnya berhenti saat Myungsoo menahannya.
"Aku akan menganggap kalau tendanganmu tadi merupakan manifestasi dari kemarahanmu. Meskipun jelas disini siapa yang harusnya marah, tapi karena kau turut andil dalam perusahaan keluargaku, maka aku akan menganggap impas," tutur Myungsoo dengan suara dingin. Senyuman dibibir itu hilang, digantikan dengan sorot membekukan. "Kenapa kau sampai repot-repot ke perusahaan ini padahal jelas bagianmu di Incheon."
Hanbin kembali tersulut api. Ia hendak menerajang kembali pria dengan dimple di kedua pipi itu namun asisten pria itu lebih dulu menahannya keras. Hanbin beradu pandang dengan bara api di mata sebelum melepaskan cekalan Hyun dengan kasar. Pria itu membenarkan jaket yang ia kenakan dengan tatapan sinis yang ia tunjukan terang-terangan pada Myungsoo.
"Dimana Suzy."
"Kau pikir aku akan memberitahumu?" Myungsoo terkekeh sinis. "Mengapa kau tidak cari kekasih saja daripada usil mengurusi istri orang, Hanbin?" dalam pertanyaan itu jelas sekali bahwa nada suara Myungsoo semakin meruncing. Pria itu tidak main-main dengan pertanyaan yang ia tunjukan pada sepupunya. Myungsoo adalah tipikal pria yang jarang mencampuri urusan orang sama karena ia juga tidak suka ketika ada orang yang mencampuri urusannya. Dan ia dikenal tidak pernah main-main dengan orang yang berani mencampuri urusan pribadinya.
"Sialan, dia Suzy bukan Lucy!" bentak Hanbin. Napasnya terengah karena menahan marah, dadanya turun naik karena memforsir diri untuk terus bersabar menghadapi pria penyulut emosi di depan Hanbin kini.
"Terima kasih atas informasinya, tetapi aku sudah tahu soal itu."
Kesepuluh jemari Hanbin terkepal di sisi kanan dan kiri. Pria itu menipiskan bibir, matanya terpejam. Dia benar-benar tidak mengerti apa yang hendak Myungsoo perbuat kepada Suzy dan perasaannya kian memburuk sejak mengetahui keadaan saudara kembar Suzy saat itu. Selaksa kejadian yang beruntun terjadi di belakang menghasilkan satu kata yang terasa ambigu. Dalam dua hal yang cocok, Hanbin tidak rela jika dugaan terkuatnya adalah soal romansa.
Membayangkan hal itu membawa kekuatan Hanbin meningkat, pria itu langsung maju membawa kedua tangannya memegang ujung kerah jas Myungsoo. Kobaran api di dalam setiap detik tatapan Hanbin menegaskan bahwa pria itu sedang dalam kondisi awas, siap menyemburkan larva dalam detik yang tak dapat ditebak. Hanbin mencengkeram kerah jas itu semakin menjadi, "Mau kauapakan Suzy?!"
"Kuapakan? Hm..." Myungsoo membuat gaya nampak sedang berpikir, tatapannya ke atas sebelum kembali mengarah pada Hanbin dan bersuara tegas. "Tentu saja kuhamili, kau harus bertanya soal itu?"
"SIALAN!" Hanbin membawa satu tinjuannya kepada Myungsoo, membuat sudut bibir pria itu robek dan darah segar mengucur tersendat dari bagian dalam. "KAU PASTI TAHU DIA AMAT MEMBENCIMU! DAN DIA AKAN SEMAKIN MEMBENCIMU KETIKA TAHU—"
"Suzy hilang ingatan," Myungsoo melepas cekalan tangan Hanbin dengan menyentak, membuat pria yang tidak memprediksi perkataan Myungsoo itu terhuyung kebelakang. Gravitasi menariknya. Myungsoo menikmati keterkejutan Hanbin sebagai sebuah balasan, pandangannya semakin dingin, ia bergerak mengusap sudut bibirnya yang mulai terasa ngilu menggunakan ibu jari, lalu kembali melemparkan granatnya. "Dan satu-satunya orang yang akan dibenci Suzy adalah kau, Hanbin. Kau."
"A-apa?"
"Berhenti usil dan lupakan Suzy, dan aku akan mengurungkan niatku untuk menarik pelatuk di kepalamu," kembali Myungsoo membenarkan jasnya. "Kau tidak perlu khawatir karena aku akan membuat hidup Suzy bahagia. Kau harus tahu kalau aku telah menunggunya lama." Imbuh Myungsoo. Mata tajam itu melirik ke arah Hyun yang sejak tadi nampak menahan geram, lalu menginteruksi. "Ayo."
Meninggalkan Hanbin yang melangak di tempatnya berdiri.
***
Suzy hampir saja mati kebosanan. Atau, wanita itu sudah hampir meyakini dirinya telah mati karena kebosanan.
Hampir 14 jam lamanya Myungsoo meninggalkan dia di kamar rumah sakit ini sendirian. Melakukan pencarian saluran di televisi sampai jempolnya terasa kebas, dipaksa makan tepat waktu oleh perawat yang di dampingi pria tambun berpostur menyeramkan dengan pakaian serba hitam—padahal jelas Suzy tidak berselera dengan menu rumah sakit. Benar-benar menjengkelkan ketika tahu mungkin saja Myungsoo menyantap menu super lezat di kantornya sementara ia harus terjebak dengan menu makanan rumah sakit yang sama sekali tidak lezat itu.
Dan sekarang, dengan pandangan bosan Suzy menyisir pandangannya pada nampan khas rumah sakit yang menyediakan menu berbeda dari tadi siang. Suzy mengembuskan napas keras-keras, menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang. Matanya melirik ke jendela yang tirainya ia biarkan terbuka itu dengan sedih.
"Nyonya, kau harus makan supaya bisa meminum obatmu. Aku bisa dalam bahaya kalau kau tidak mau berkooporatif. Lihatlah bagaimana pria tinggi besar nan menyeramkan ini terus berdiri dari jarak sentuh."
"Apa tidak ada roti? Setidaknya, makanan lain selain nasi dan sayuran itu. Aku benar-benar muak melihat brokoli itu." Keluh Suzy. "Aku tidak mau makan."
"Kenapa kau tidak mau makan?" suara Myungsoo yang dalam memenuhi ruangan. Tiga pasang mata yang ada disana langsung menoleh otomatis. Dua di antaranya melepas pandangan dengan membungkuk hormat, sementara sepasang mata lainnya nampak tak peduli dan memilih memberikan tatapan penuh amarah. Lalu, membuang muka.
"Kenapa tidak besok saja kau kemari?" Suzy merajuk.
Ada kehangatan yang menjalar di sepanjang bagian tubuh Myungsoo ketika mendengar suara Suzy merajuk itu. Setiap detail dari suara yang sebisa mungkin ia rekam dalam memori kepala itu bahkan selalu mengingat bahwa ia tak pernah mendengar suara seperti yang satu ini. ketegangan yang melingkupi Myungsoo perlahan menghilang, pria itu memberikan kode kepada pengawal dan perawat untuk menyuruh mereka keluar sementara ia membawa langkahnya mendekat ke ranjang.
Myungsoo mengambil tempat diujung ranjang itu dan meraih satu tangan Suzy untuk ia genggam. "Aku harus mengurus kepindahanku."
"Kau bosnya, untuk apa mengurus-urus seperti itu!"
"Kau merajuk?" bibir Myungsoo berkedut. Perasaan hangat itu semakin menjalar hingga ke akar membuat energinya yang terkuras langsung pulih seketika.
"Aku tidak merajuk," Suzy mengernyitkan dahi, menatap Myungsoo dengan mata menyipit. "Aku marah, tahu!" katanya.
Dalam situasi seperti ini—ditambah ingatannya yang tidak bersisa sedikitpun—satu dan lain hal seharusnya mampu membuat Suzy menahan hati. Dia seharusnya menjaga jarak pada pria yang mengaku sebagai suaminya itu, bukannya malah bersikap manja dengan merajuk seperti sekarang—walaupun jelas alasan kenapa ia merajuk seperti sekarang. Bayangkan saja, selama 14 jam itu ia sama sekali tidak diperbolehkan keluar kamar. Penjagaan di depan pintu ruangan ini pun terasa janggal karena begitu ketat dengan barisan pengawal berseragam sama dengan pengawal yang tadi. Suzy mau tak mau jadi terintimidasi dan sempat menduga kalau sebenarnya ia adalah buronan yang telah lama kabur. Tetapi, lagi-lagi didorong oleh keinginan hati, Suzy malah mendapati dirinya semakin payah.
Wajahnya kini cemberut ketika Myungsoo membawanya ke dalam pelukan. Suzy bisa mendengar degup jantung Myungsoo yang berisik, namun entah kenapa malah terdengar menenangkan. Sementara lengan kokoh itu melingkar hangat di pundak Suzy seraya membisikan sebuah kalimat di telinganya. "Maafkan aku, aku tahu aku salah. Tidak seharusnya aku meninggalkanmu disini dan membuatmu kebosanan."
Maafkan aku...
Kalimat singkat dan untuk sebagian orang hanya mengartikannya sebagai bentuk permohonan. Namun ini rasanya aneh, ini terasa aneh. Suzy merasakan otot-ototnya menegang, namun ada perasaan aneh yang berakar.
Senang? Bahagia? Hangat?
Segala bentuk tafsiran dari segala pertanyaan itu membuat kening Suzy berkerut. Myungsoo yang menyadari kalau tubuh yang ia peluk ini menegang langsung menunduk.
"Ada yang sakit?"
"Mm?" Suzy menghempaskan semua tafsirannya. Dia membawa otaknya kembali ke realita dan menggeleng pelan. "Tidak. Tidak ada yang sakit."
Hanya saja ini sungguh terasa aneh. Kenapa mendengar sebuah permohonan maaf bisa semenghangatkan ini? apakah dalam masa laluku, aku tidak pernah mendengar kalimat itu? ataukah ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan masa lalu?
Merasa frustasi akan keadaan, akhirnya Suzy memutuskan untuk membuat pertanyaan. Pertanyaan yang mungkin jawabannya bisa memberitahunya kalau apa yang ia rasa tadi setelah mendengar kata magic itu.
Ditatapnya Myungsoo dengan kepala mendongak karena posisi mereka yang masih sama seperti sebelumnya.
"Tolong ceritakan padaku soal aku sebelum hilang ingatan. Ya?"
***
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co