tigabelas.
Channie : a sweetheart,
Channie : a way of escaping from reality and going into a world of love, lust, and prosperity.
Channie : a nice, a cute, and sweet girl; polite and well-mannered; Fun and loving.
Jadi, bukan channie (chaeyoung and jennie) ya gaes-_-
🌹🌹
Gumaman Suzy sebagai jawaban mengiringi Myungsoo melangkah keluar dengan senyuman yang tak luput dari bibirnya. Bahkan, ketika lift yang membawanya sampai lantai bawah dan menemukan Hyun sudah menunggu di sana bersama beberapa berkas ditangannya.
Hyun mengangkat alis melihat senyuman Myungsoo yang sempat tertangkap matanya, namun lenyap setelah beberapa detik setelahnya dan pria itu kembali ke dalam mode biasa, berjalan keluar lift mendahului Hyun yang masih berdiri terkejut.
"Ini hari minggu, dan kau masih membawa pekerjaan." Ujar Myungsoo, melangkah ke jendela spektakuler yang menampilkan pemandangan ke taman villa dengan rumput Jepang dan artifisial lake di tengah-tengah taman, nampak beberapa petugas perkebunan sedang melakukan pekerjaannya dengan menggunting beberapa rumput dan tanaman di taman yang tingginya tidak simetris.
Hyun tersadar, dengan segera ia menyejajari langkah ke arah Myungsoo. "Ini dokumen tentang manipulasi pajak oleh perusahaan mertuamu," ucap Hyun seraya menyodorkan dokumen itu kepada Myungsoo. Pandangannya berubah tak enak. "Kau yakin akan membeberkan ini? maksudku, Suzy saat ini sudah hilang ingatan dan rencanamu akan diluncurkan. Kenapa tidak kita lupakan saja dendam Suzy sementara waktu?"
"Aku tidak sedang berniat membeberkan ini," Myungsoo mengulum senyum tipis, namun satu lesung pipitnya terukir di wajah. "Aku hanya ingin menyimpan ini. Mungkin saja bisa kugunakan untuk menahannya jika suatu saat terjadi hal yang tidak diinginkan."
Pria itu mengangguk paham mendengarnya.
"Kau sudah menyelidiki apa yang sedang Hanbin lakukan?"
"Menurut informan, dia sedang mencari tahu dimana keberadaan kau dan Suzy. Kurasa cepat atau lambat dia akan menemukan kalian berdua disini."
Myungsoo menerawang kelam ke depan. Ada helaan napas kentara yang terdengar, namun tak terdengar menyedihkan. Ia mengembalikan dokumen yang semula di lihatnya itu kepada Hyun. "Akan kupastikan dia tidak akan bisa bertemu Suzy-ku."
"Apa yang sedang kalian bicarakan? Kenapa suara kalian pelan sekali seperti orang sedang bersembunyi?" suara Suzy terdengar penasaran dengan langkah mendekat ke arah dua pria yang masih berdiri menghadap ke jendela. Lalu, ia tersipu ketika Myungsoo berbalik, dan dalam jarak sentuh pria itu menarik tangannya hingga membuat Suzy masuk ke dalam pelukannya.
"Kau wangi sekali," bisik Myungsoo setelah menghirup aroma yang terkuar dari tubuh Suzy bercampur wangi bunga mawar. Beruntung rasanya ia ingat dan memberitahu kepala pelayan di villa ini untuk berbelanja segala peralatan yang sama dengan yang ada di rumahnya di Seoul. Dari parfume sampai sabun mandi Suzy—yang ia ketahui ketika Suzy membeli sabun lain (menolak memakai sabun yang sama dengannya)—setelah melewati pengamatan bertahap, Myungsoo mengetahui ternyata merek sabun yang digunakan adalah favorit wanita itu.
"Hei, ada pegawaimu disini..." ucap Suzy pelan seraya mendorong tubuh Myungsoo menjauh. Wanita itu melirik Hyun dengan pandangan tidak enaknya karena Myungsoo yang tiba-tiba saja melakukan hal seperti itu, padahal yang berdiri di sana bukan hanya mereka saja.
Hyun mengangguk dengan ekspresi datar. Lalu, mengundurkan diri. "Kalau begitu aku pergi dulu. Semoga hari kalian menyenangkan."
Suzy menatap punggung yang menjauh itu pelan, sebelum memukul bahu Myungsoo jengkel. "Kau sih!"
"Kenapa?"
"Pasti pegawaimu merasa tidak enak karena dia mengira mengganggu kita, padahal kalian sedang ada perbincangan dan sejujurnya tentu sajak aku yang sepertinya mengganggu," Bibir mungil Suzy maju tiga senti. "Aku jadi merasa bersalah..."
"Hyun sangat peka dengan kita, makanya ia pergi begitu," Myungsoo melingkarkan kedua tangannya di pinggul Suzy, menatap wanita itu dari jarak sentuh dengan intim. Lalu, kembali dilabuhkannya sebuah ciuman—kali ini cukup panjang sebelum ia mengudarakan kalimat tambahan. "Ayo, channie-ku harus makan dan meminum vitamin."
Kedua mata Suzy berbinar. "Menu apa yang aku sukai?"
Pertanyaan yang membuat Myungsoo terdiam kaku. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa pertanyaan itulah yang pertama akan dilontarkan oleh Suzy alih-alih lainnya. Pria itu berdeham, menghalau kegundahan dan ketidaknyamanan yang tiba-tiba menelusup masuk menggigilkannya—karena sungguh ironis, ia sama sekali tidak mengetahui makanan apa yang disukai wanita di depannya ini. Mereka tidak memiliki kesempatan yang sama, dan jelas saat masa sekolah dahulu Suzy sama sekali tidak pernah nampak di kantin untuk memakan menu makan siangnya. Lucy juga tidak pernah membahas soal Suzy kepadanya. Dengan sisa pertahanannya, Myungsoo mengusap lembut pipi Suzy dan mengulas senyum kecil.
"Satu-satunya yang tidak kau sukai adalah ketinggian."
Suzy mengerutkan dahi. "Aku sedang membicarakan makanan."
"Kau menyukai semuanya. Itulah sebabnya kau memiliki tubuh yang seperti ini. terasa pas."
"HEI!" Suzy memelototi Myungsoo. Kepalanya menoleh ke segala arah sambil mencari apakah ada pelayan yang berdiri di dekat mereka, sebelum ia menghentakkan kaki kesal. "Aku benar-benar penasaran kenapa aku bisa menikah dengan pria sepertimu!" ucapnya, lalu berjalan menjauh menuju ruang dapur.
Myungsoo menatap dingin pada punggung rapuh yang semakin menjauh itu. Lalu bergumam kaku. "Karena kau membenci keluargamu dan aku, Suzy. Karena kau membenci kami..."
***
Hanbin tertunduk lesu. Pada meja di depannya telah terhidang beberapa menu sarapan pagi yang sama sekali belum ia sentuh. Nasi di mangkuk masih mengepulkan asap meskipun sudah lewat lima menit sejak pria itu menyambangi meja makan. Hanbin mendongak sedikit, menatap salah satu menu di antara banyaknya menu yang tersedia di meja—terima kasih kepada bibi yang ditugaskan untuk membersihkan apartemen dan memasakinya makan pagi—dan wajahnya semakin murung.
Ia mengambil sepasang sumpit, kemudian menyumpitkan telur orak-arik dengan irisan tomat ke dalam mulutnya. Hanya ini satu-satunya yang bisa menghubungkannya dengan Suzy karena menu sederhana satu merupakan menu olahan favorit Suzy sejak ia mengenal Suzy di Sydney. Wanita itu jelas pintar memasak, namun ia acap kali memasak menu olahan super sederhana ini alih-alih yang lain—bahkan harus diakui Hanbin, ini juga adalah satu-satunya menu olahan yang pernah di masak oleh Suzy untuknya.
Miris, dulu. Namun sekarang rasanya malah membuat rindu.
Ternyata benar bahwa frekuensi rindu memang seram. Kenangan sekecil apapun jika sudah terkena rindu akan terasa menyakitkan ketika diingat. Dan untuk yang kesekian kalinya Hanbin kembali menarik napas payah.
Kembali ia melahap telur itu, kali ini bersama nasi yang tersedia di dalam mangkuk. Rahangnya terkatup rapat ketika kilasan kembali melandanya, ia membanting sumpit ditangannya ke meja hingga membuat dentingan ketika stainless sumpit berbenturan dengan kaca meja makan sebelum akhirnya terjatuh membentur ubin.
Hanbin memejamkan mata pelan, mencoba membawa segala asumsi di kepalanya menjauh. Yang ia butuhkan untuk mencari keberadaan Suzy adalah melacak menggunakan sinyal ponsel Suzy. Namun, orangnya sama sekali tidak menemukan apa-apa. Ketegangan semakin kental terasa, Hanbin yakin kalau Myungsoo sengaja melakukan semua ini agar mereka tidak terlacak.
"Argh!" bentaknya sambil membanting mangkuk nasi yang semula berada di tangannya dengan kasar. Sepektrum kekesalan semakin tak terbendung, apalagi ketika ia mengingat soal informasi yang diterimanya tentang Suzy yang mengalami amnesia.
Ini tidak benar. Bagaimanapun ia harus segera menemukan Suzy.
Harus.
***
"Disini tidak ada kuda ya?" tanya Suzy dengan kepala miring menatap Myungsoo yang berdiri tepat di sebelahnya.
Myungsoo yang sejak tadi terhanyut pada ikan-ikan hias di danau buatan di depan mereka, menoleh. Dan menemukan manik mata coklat bening yang menenangkan milik Suzy sedang menatapnya penuh pertanyaan. Selesai makan, Myungsoo mengajak Suzy untuk menghirup udara di luar villa yang begitu asri pemandangannya. Meskipun ucara dingin yang terasa karena sebentar lagi kemungkinan salju pertama akan turun, hal itu tidak membuat mereka berhenti menikmati pemandangan menyejukkan di lahan villa besar ini.
"Kau ingin berkuda?" tanya Myungsoo seraya mengusap pelan puncak kepala Suzy. Pria itu membalas tatapan Suzy dengan begitu lembut, dan ketika anggukan kecil yang ia lihat, Myungsoo kembali menyuarakan suara beserta nada jahilnya. "Aku bisa menjadi kudamu."
"Maksudmu?"
Seringaian Myungsoo semakin melebar. "Kita bisa bermain kuda-kudaan di dalam kamar seharian, Suzy."
Semburat merah langsung menjalar ke seluruh wajah Suzy. Wanita itu melempar pandang tak percaya akan perkataan Myungsoo barusan, kemudian ia menutup wajah menggunakan kedua telapak tangannya. "Aku mau naik kuda sungguhan. Bukan kau!"
Myungsoo tertawa geli. Matanya menelurusi setiap jengkal jemari Suzy yang menutup wajah mungil wanita itu dengan perlahan, menyimpan segala hal ke dalam memorinya dalam satu folder yang memiliki nama sama. Lalu, tangannya bergerak, meraih lengan kecil itu untuk di genggam. "Disini tidak ada kuda. Aku akan menyuruh Hyun membeli kuda terbaik untukmu."
"Tidak," Suzy menggeleng cepat. "Tidak seharusnya kau mubadzir soal uang," kedua matanya menatap Suzy dengan senyuman mengembang. "Aku tidak terlalu ingin berkuda."
Myungsoo menegang, rahangnya mengatup keras dengan tatapan menajam. Kedua tangan yang memegang lengan Suzy terlepas, dan beralih menangkup pipi wanita itu erat. Pandangannya menyayu, "Jika soal dirimu, aku tidak pernah mubadzir soal uang. Jadi, kau tidak boleh menolak jika aku ingin memberimu sesuatu. Paham?"
Suzy tersenyum kecil. Membawa kedua tangan ke atas punggung tangan Myungsoo dan menggenggamnya erat. "Kenapa kau bisa mencintaiku?"
"Karena kau Suzy."
"Hanya itu?" ia kembali bertanya, nampak tak percaya karena hanya alasan itu yang dikatakannya.
Myungsoo mengerut dalam, raut wajahnya nampak berpikir selama beberapa menit terlewat. Lalu, kembali ia mengangguk. "Aku menyukaimu karena kau Suzy. Kau adalah orang pertama yang mendatangiku ketika di taman bermain di daerah rumah lama kita."
"Jinjaa?"
Myungsoo mengangguk. "Saat itu lututku luka dan aku menangis. Kau memberikan plaster luka kepadaku padahal kita belum saling mengenal. Sejak itu aku terus kepikiran denganmu dan ingin mengetahui namamu. Hingga takdir membawaku bertemu kau ketika kita SMA."
"Kau mengenaliku?" Suzy berkata tak menyangka. Manik mata itu berbinar, menyala seperti yang seharusnya. "Lalu, kita berteman? Atau langsung berkencan?"
"Tidak," Myungsoo menggeleng. Sorot matanya berubah muram membalas tatapan Suzy yang menenggelamkan. "Kau membenciku saat itu."
"Kenapa?" tanya Suzy. Myungsoo bisa menangkap kalau binar dari kedua mata Suzy yang tiba-tiba menghilang kembali merasakan nyeri. Namun, ia harus menjelaskan tentang ini kepada Suzy. Setidaknya, dalam permohonan kecil dalam hati Suzy mampu menerimanya. Menerima kebodohannya saat itu...
"Aku menyukaimu, tapi aku mengganggumu," ia tersenyum masam. "Aku pikir dengan mengganggumu bisa mencuri perhatianmu, tetapi ternyata kau membenciku karena hal itu. Kemudian, suatu hari ketika kita di minta untuk menulis surat cinta kepada siapapun yang kita suka dan karena aku penasaran akhirnya aku merebut suratmu--"
"Aku menyukai orang lain?" potong Suzy.
Myungsoo mengangguk. "Ya. Aku tidak akan menyebutkan nama orang itu, tetapi aku benar-benar kesal saat itu..."
"Dan?" tanya Suzy ketika merasakan kalau itu bukanlah akhir dari kalimat Myungsoo.
"Dan kabar buruknya, Jimin--temanku dan teman sekelas kita memergoki. Dia menyebarkan soal kau menyukai pria itu, dan kau mengira kalau aku yang menyebarkannya. Lalu kau semakin membenciku."
Suzy mengerutkan dahinya. "Maafkan aku, aku pasti sangat kekanakan karena membencimu soal itu dan malah menuduhmu..."
"Tidak, tidak. Aku yang salah, tidak seharusnya aku selalu menggodamu hanya agar kau memerhatikanku." Myungsoo mengusap lembut kedua pipi Suzy. "Aku senang kita bisa bersama-sama."
"Bagaimana aku bisa tidak membencimu lagi?"
Jemari Myungsoo yang mengusap pipi Suzy berhenti diudara. Sorot matanya kembali muram, namun segera ia menyamarkannya dengan mengulas senyuman kecil. "Kau akhirnya sadar karena aku tampan. Jadi kau memaafkanku dan kita berteman." kelakarnya.
Suzy mendengus. "Aku tidak percaya soal itu."
Myungsoo yang gemas melihat wajah itu tak kuasa menarik tubuh Suzy ke dalam pelukannya. Satu tangan yang tak mendekap tubuh Suzy dibawanya ke rambut dan mengusap pelan rambut belakang wanita itu. "Kita berteman ketika masuk universitas, dan menjadi akrab..."
"Oh seperti itu," ada senyuman kecil terbit di wajah Suzy. "Aku senang mengenalmu. Kurasa disini akulah yang sedang jatuh cinta kepadamu, Myungsoo." gumam Suzy sambil mendongak dalam pelukan Myungsoo.
"Aku juga tetap jatuh cinta padamu sampai sekarang." kepala Myungsoo menunduk dan mengecup bibir ranum wanita itu sekali.
"Kalau tentang keluargaku? Kenapa mereka tidak ada yang menjengukku ketika aku di rumah sakit?" kening Suzy mengernyit ketika dadanya tiba-tiba terasa nyeri. Kernyitan itu semakin mendalam ketika ia merasakan sebuah perasaan aneh datang mengerogotinya, sebuah perasaan asing yang Suzy tak tahu dari mana ia bermuara. Yang jelas, efeknya sangat tajam karena ia langsung merasakan napasnya tercekat seolah ada sesuatu yang menghalanginya untuk keluar.
Myungsoo yang menyadari perubahan itu dengan cepat kembali membawa kepala Suzy ke dalam dekapannya. Tangannya memeluk erat tubuh itu dengan sesekali mengelus kepalanya pelan seraya menembakkan kecupan di puncak kepala Suzy. "Kau baik-baik saja?"
"Aku merasa sesak napas ketika membicarakan keluarga. Apa yang terjadi?"
Dalam setiap hal yang telah dilupakan wanita dalam pelukannya ini. Kenapa traumatisnya tetap tinggal? Kenapa kesakitan Suzy tak ikut menghilang?
Myungsoo memejamkan mata. Kepalanya menengadah membiarkan angin menampar wajah itu hingga menggigil. Ia membutuhkan hal itu agar sakit yang juga ia rasakan tiap melihat Suzy terkena serangan bisa sedikit mereda. Ia membutuhkan angin untuk membuatnya waras dan tidak membunuh orang-orang yang membuat Suzy menderita...
Dan ia akhirnya meluncurkan kebohongan lainnya, berharap kalau itu bisa menyembuhkan.
"Keluargamu meninggal karena kecelakaan pesawat. Semuanya, tanpa terkecuali karena mereka semua berada dalam penerbangan dari Aukland ke Korea. Dan kau tidak ikut saat itu karena kau memiliki tugas akhir di masa kuliahmu. Hal itulah yang membuatmu selalu merasakan sakit tiap membicarakan soal keluarga," ucap Myungsoo masih memeluk Suzy. "Kuharap sakit itu yang terakhir. Karena mulai hari ini aku akan mengukirkan kenangan yang hanya berisi kebahagiaan di dalam hatimu, channie."
***
tbc
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co