Truyen3h.Co

Volcano Erupt

duapuluh dua.

authoriya

Sesempurna apapun rencana kita, pada akhirnya Tuhan jugalah yang menjadi penentu dan sebaik-baiknya pemberi rencana.

Suzy terpaku. Menatap lurus menembus dinding krem dalam jarak pandangnya, sementara ia membiarkan bumi yang berdetak itu memeluknya. Rengkuhan erat, hangat, mendominasi serta bisikan menggunakan pengulangan kata yang sejak dokter mengkonfirmasi soal kehamilannya.

Suzy merasakan tubuhnya kebas dan otaknya lumpuh. Sebuah hal yang sama sekali tidak di prediksinya seolah muncul dengan mulut lebar menertawainya. Menertawai rencananya yang—sekali lagi, gagal.

Dia. Sedang. Mengandung. Bayi. Sekarang.

Bayinya bersama seseorang yang sangat ia benci... dulu. Jadi, sekarang?

Suzy menggeleng, menegaskan hatinya kalau ia masih membenci lelaki yang sedang memeluknya ini. Ia membenci lelaki itu segaris lurus dengan ia membenci keluarganya. Dan sekarang ia terjebak dengan kehamilan yang menghancurkan. Sebuah janin sedang berkembang di dalam rahimnya... suzy tak pernah membayangkan hal ini akan terjadi—oke sewaktu rencana ini tercetus di otaknya, tentu saja ia pernah membayangkannya. Tetapi saat itu sebisa mungkin ia selalu menerima 'ajakan' Myungsoo ketika ia sedang tidak dalam masa suburnya. Dan jelas ketika insiden hilang ingatannya itu, dia sama sekali tidak memikirkan masa subur atau tidaknya.

"Aish!"

"Ada apa?" Myungsoo melepas pelukannya. Kedua tangannya berada di sisi bahu Suzy sementara matanya menatap bingung pada wanita yang mengumpat frustasi di hadapannya. Ia tahu apa penyebabnya, tetapi lagi-lagi ego-nya memutuskan untuk berpura-pura bodoh dan mengikuti rencana wanita yang ia cintai itu. Kembali, Myungsoo mengeluarkan suaranya ketika wajah gugup dan bingung tercetak jelas di depannya. "Aku sejak tadi tidak mendengar reaksimu, apa kau begitu terkejut karena ucapan dokter itu?"

"O-oh?" Suzy tergagap, kemudian buru-buru menggeleng. "t-tidak, a-aku hanya... senang."

Sejujurnya, Suzy sama sekali tak mengerti apapun yang sedang ia rasakan. Wanita itu jelas sekali tidak menyukai fakta bahwa dia hamil sekarang. Tetapi ada perasaan takjub dalam dirinya ketika tahu ada kehidupan lain di dalam perutnya kini... kehidupan seorang calon bayi yang tidak berdosa dan tidak tahu apapun...

Dengan wajah teduhnya, Myungsoo mengusap pelipis Suzy pelan. "Kau harus memberitahu sahabatmu tentang ini. Aku yakin dia pasti sangat terkejut."

"Ha?"

Tangan Myungsoo turun bergerak mengusap perut Suzy pelan sambil berbisik. "Hanbin pasti akan senang saat mengetahui kau sedang mengandung anak kita, Suzy."

Tidak,dia pasti akan sedih mendengarnya... Suzy menjawab dalam hati.

Menarik napas pelan, Suzy menjauhkan tangan Myungsoo yang berada di perutnya tanpa membuta lelaki itu tersinggung atau curiga, lalu secepatnya ia menghela tubuhnya berdiri dan menuai senyuman. "Aku akan memberitahunya ketika dia kembali dari Seoul. Dan kau harus mandi, aku akan menunggu ruang makan. Oke?"

Myungsoo tersenyum dan mengangguk.

Suzy menggigit bibir bawahnya pelan sambil memikirkan ide apa yang akan dilampauinya. Menggugurkan kandungan tidak mungkin, memberontak dan berteriak kalau ingatannya sudah kembali juga tidak mungkin—Myungsoo mungkin akan menyekapnya dan tidak akan membiarkannya bertemu Hanbin. Sambil menunggu Hanbin kembali dari Seoul, sepertinya jalan satu-satunya adalah berpura-pura bahagia soal kehamilan ini. Ya, itu adalah satu-satunya cara terbaik yang ia miliki.

Sebelum langkahnya mencapai pintu, sebuah ide menerajang kepalanya membuat langkah kecil Suzy berhenti. Kepalanya menoleh, memandang lelaki yang sedang melepas kancing kemeja putih itu dengan wajah polos dan melemparkan bom-nya. "Aku ingin ke Seoul bertemu ayah dan ibumu, Myungsoo. Boleh ya?"

Tangan Myungsoo berhenti diudara. Dengan kaku, lelaki itu menatap sang istri yang tak jauh di depannya. "Kenapa tiba-tiba?"

Suzy tersenyum dalam hati. Wanita itu mengedikkan bahu, membuat apa yang ia katakan ini seolah-olah hanya sambil lalu. "Aku hanya bosan di tempat ini, dan aku tidak mungkin mengekorimu ke kantor. Karena aku tahu kalau keluargamu pasti sama sibuknya dengan kau, makanya aku ingin mengunjungi mereka di Seoul serta mengabarkan berita baik ini. Ya?"

Wajah Myungsoo berubah dingin kemudian melanjutkan kegiatannya. Myungsoo memasukkan pakaian kotornya ke keranjang di samping pintu toilet dan membawa tangannya membuka handle pintu, satu kakinya melangkah masuk ke bagian dalam dan sebelum ia benar-benar masuk ke sana, Myungsoo menoleh menatap Suzy sekilas lalu bergumam pelan. "Kita bicarakan hal itu nanti."

Suzy menatap daun pintu yang menutup itu dengan satu sudut bibir yang tertarik ke atas. Nyatanya, meski seribu rencana telah gagal, namun jika Tuhan berkehendak sama, kita sebagai umatnya hanya butuh mengikuti kehendak itu 'kan?

Dengan segala bentuk rencana baru yang telah di gariskan oleh Tuhan dalam kepalanya, Suzy memutar tubuh kemudian keluar dari dalam kamar itu menuju lift menuju ke lantai bawah.

***

Rembulan telah sepenuhnya menggantikan posisi sang dewa matahari di atas langit dengan beberapa bintang yang ikut memberikan sinarnya ke bumi saat Suzy berdiri dengan kedua tangan memegang piring keramik putih dengan irisan beef di atasnya tak sengaja menatap ke cermin gantung besar yang kini sedang menampilkan sebuah refleksi wanita dengan senyuman lebar memegang piring. Tubuhnya menegang selaras dengan senyuman lebar yang perlahan menyurut membentuk siluet wajah datar setelahnya.

"Kenapa?" gumam Suzy heran. Matanya memandang lurus pada wanita di cermin sibuk menelaah ekspresi yang sama dengan yang kini ia keluarkan. Lalu, embusan napas frustasi keluar setelahnya.

Kenapa ia tersenyum lebar selagi membawakan makanan kesukaan Myungsoo dari dapur ke meja makan?

Kenapa ia tersenyum lebar?

Senyuman yang bahkan tak disadarinya, senyuman yang keluar tanpa bisa di prediksi. Akhirnya, senyuman itu menumbuhkan pertanyaan-pertanyaan lain yang menghasilkan sebuah jawaban dari ego-nya sendiri.

Ini tidak benar.

Pada perasaan anehnya terhadap Myungsoo serta kelakuan apapun yang kini sedang ia lakukan Suzy sangat yakin itu pasti karena efek dari amnesianya, ia terlalu terbiasa dengan rutinitas ini dan akhirnya kenyamanan menyelimuti diri. Melepas kukungan perasaan yang tak terkendali sementara waktu ini, akhirnya Suzy berusaha kembali kedunianya. Ke dalam tujuannya.

Wanita itu sesaat kembali menatap wanita di cermin sebelum ia kembali melangkah menuju meja makan dengan ekspresi monoton. Meja makan telah terhidang berbagai lauk-pauk yang dibuat sepenuh hati oleh pelayan bagian dapur sebenarnya. Dan tadi—diluar akal sehatnya—Suzy malah membuatkan daging panggang dengan medium cook kesukaan Myungsoo, padahal lelaki itu tidak menyuruhnya.

Suzy sibuk menggerutui kebodohannya saat Myungsoo keluar dari dalam lift dengan kaos polo hitam. Rambutnya yang masih sedikit basah dibuat messy dengan sisir acak, untuk sedetik Suzy terpaku oleh senyuman Myungsoo kepadanya sebelum ia kembali berkonsentrasi pada piring yang dipegangnya dan dengan cepat ditelatakan piring itu ke atas meja. Berpura-pura tak terpengaruh akan kehadiran laki-laki itu.

Hingga beberapa menit Suzy menghabiskan waktunya mencuri pandang ke arah Myungsoo dan mengabaikan mangkuk nasinya yang semakin mendingin, akhirnya Myungsoo meletakkan garpunya ke atas serbet dan mendongak. Mengunci kedua manik mata Suzy dengan mata tajamnya. "Apa ada yang salah denganku?"

"Ha?" Suzy tergagap.

Hyun, yang duduk satu meja dengan pasangan suami istri itu nampak menahan senyum. Pun dengan bibi Pyo yang menunduk sambil mengulas senyum.

"Kau sejak tadi memerhatikanku dan membiarkan nasimu mendingin, apakah ada sesuatu di wajahku?" tanya Myungsoo dengan nada suara bingung.

"Tidak. Aku tidak memerhatikanmu!" jawab Suzy ketus.

"Yang benar?" Myungsoo menyipitkan mata. Kemudian kekehannya lepas ketika melihat wajah Suzy yang memerah. "baiklah aku percaya. Aku percaya."

"Tetapi biasanya wanita hamil akan kesal jika melihat suaminya sendiri," bibi Pyo tiba-tiba bersuara sambil mengulas senyum menatap kedua pasangan yang sangat serasi menurutnya itu. Lantas menambahkan pendapatnya, "sepertinya ini kasus langka. Kupikir baik ibu dan anak sama-sama mencintai ketampanan tuan Myungsoo."

"Aku sependapat dengan bibi Pyo." Ujar Hyun. "Sejak tadi aku perhatikan kalau Nyonya Suzy terus menatap ke arah Bos. Apakah itu yang disebut ngidam?"

Suzy membelalakan mata dengan horor.

Mencintai lelaki itu? ngidam? ugh, no and never!

***

gak nemu kbbi-nya ngidam apaan jd gkpp ya agak non-baku gini wkwkwk

see you!

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co