duapuluh tiga.
------------------
Ia menatap sendu pada refleksinya di cermin panjang yang menggantung di atas wastafel di dalam kamar mandi. Fokusnya sejak tadi menatap satu pada titik yang teramat mengganggu pikirannya.
Perut.
Meskipun belum memiliki perubahan yang signifikan dari perutnya, namun fakta bahwa ada janin yang tumbuh di dalam sana tetap mengusiknya. Lagi-lagi.
Suzy mengesah, memejamkan matanya sebentar kemudian mengambil kimono mandinya dari gantungan yang dipasang pada dinding keramik kamar mandi, kemudian membungkus tubuhnya. Tangannya bergerak membuka pintu penghubung lain sebagai penghubung kamar mandi dan walk in closet, langkahnya teratur masuk ke dalam setelah menutup kembali pintu penghubung itu. Suzy membuka salah satu dari empat lemari yang disusun berderat masuk ke dalam dinding di ruangan itu, kemudian memasukkan jemarinya ke bawah tumpukan baju pada slot paling atas. Suzy mengarahkan pandangannya pada pintu takut-takut Myungsoo tiba-tiba masuk dari arah kamar dan bernapas lega ketika tak mendengar ada langkah yang mendekat. Dikeluarkannya sebuah ponsel dari dalam tumpukan baju itu.
Itu adalah ponsel lamanya yang ia temukan pada laci nakas. Ponsel itu sudah lama dilihat Suzy, namun karena ponselnya mati dan Suzy merasa tidak pernah memiliki wanita itu tidak berpikiran untuk mengisi daya batreinya. Tetapi jelas sekarang berbeda, ingatannya telah pulih dan ia tahu itu ponsel milik siapa.
Itu adalah ponselnya. Ponsel sebenarnya.
Ponsel itu ia beli ketika di Sydney tepat tiga bulan setelah ia memutuskan untuk kembali ke Korea. Suzy segera menyalakan ponsel itu, menunggu beberapa saat sampai ponselnya menyala dan...
Tiga puluh pesan masuk. Dari dua nomor yang sama.
Suzy tersenyum masam, isi kontak di ponselnya itu memang hanya dua nomor. Pertama, Hanbin. Kedua, orang kepercayaannya. Nothing more, nothing else.
Suzy segera membuka pesan dari Hanbin. Duapuluh sembilan pesan yang berbeda namun memiliki arti yang sama. Itu adalah pesan dimana Hanbin frustasi mencarinya, dan mau tak mau Suzy tersenyum membacanya. Bagi Suzy memiliki Hanbin adalah hal terindah dalam hidupnya, pria itu memerdulikannya dengan sepenuh jiwa dan begitu tulus tidak seperti orang-orang yang kebanyakan hanya ingin mengambil perhatiannya saja.
Masih dengan senyuman yang tersungging di wajahnya, Suzy kembali membuka pesan dari nomor lain. Sederet kalimat yang mampu menghapuskan senyuman diwajahnya.
Aku telah menemukan cacatnya.
Kapan eksekusi akan dimulai?
***
Lucy lama mengamati bangunan berpagar tinggi di depannya dengan seksama. Tangannya terus bergetar, dan ia tidak yakin kalau ia baik-baik saja sekarang.
Ia tentu tak dikenali, dan mengaku sebagai dirinya pun pasti tak dipercaya. Tetapi Lucy berpikir kalau ia perlu untuk mencoba. Setidaknya, Ayah dan ibu mungkin akan menemukan perbedaan—atau mungkin tidak. Suara hatinya kembali membatin.
Mengingat bagaimana kedua orangtuanya itu tidak memasang kecurigaan sedikitpun jelas bahwa kembarannya itu telah mengoperasi wajahnya jadi secantik dia. Rasa amarah tiba-tiba menerobos masuk dalam diri Lucy, pokoknya ia tidak akan membiarkan tempatnya direbut. Tidak akan!
Dengan itu, Lucy langsung menekan password rumah besar itu dan masuk ke dalamnya dengan percaya diri yang bertambah.
"Siapa di sana—?" kedua mata ibu langsung membeliak seraya suara piring yang berbenturan dengan keramik terlepas dari pegangannya hingga menghempas lantai.
Sikap defensif ibu yang membuat langkah Lucy urung mendekat. Nanar ditatapnya sang ibu. "Ibu, ini aku Lucy. Putrimu."
Ibu menggeleng cepat. "Lucy sedang bersama Myungsoo di Mungyeon," ada tawa serupa remehan yang keluar seraya dengan wajah ibu yang menatap Lucy dengan tatapan merendahkan. "Suzy, kenapa wajahmu tambah jelek saja? kenapa kau kembali kesini, ha? Membuat malu keluarga saja."
"Ibu... ini aku, Lucy." Lucy berjalan cepat untuk meraih tangan sang ibu, namun dengan cepat ditepis oleh wanita setengah baya itu seolah tangan yang hendak memengangnya tadi seonggok bakteri yang menjijikan.
"Anakku cantik. Keturunan keluarga Bae cantik. Dan kau, bukankah kau sudah kami berikan kehidupan layak di Sydney sana? kenapa kau kembali lah?!"
"IBU!" Lucy mengepalkan kesepuluh jemarinya. Air mata yang sejak tadi berusaha ditahannya itu akhirnya merembes bersamaan dengan seruannya barusan. Ia tidak menyangka bahwa ibu tidak memercayainya. Dan untuk pertama kali dalam hidupnya, ia berdiri ditempat yang sama dengan tempat Suzy berdiri.
Diabaikan.
Dimaki.
Tak dianggap.
Ternyata ini lebih menyakitkan dari apa yang ia rasakan dulu ketika ia menjadi Lucy yang lemah...
Juga, untuk pertama kalinya ia merasakan kepedihan yang selama ini ditanggung oleh saudara kembarnya itu. yang disebabkan olehnya...
"Kau menempatkanku diposisi yang sama dengan Suzy?"
"Berhenti bicara omong kosong. Dan pergi sebelum ayahmu pulang, dia mungkin akan menyakitimu lebih dari aku." ucap ibu sengit. Ia mendekat ke arah telepon rumah di dekat tangga. Menelepon sekuriti.
Tak lama, seorang sekuriti datang dan suara ibu memerintahkan. "Bawa anak ini keluar! Sekarang!"
Lucy langsung memelototi sekuriti yang dikenalnya itu dan menepis cepat tangan lelaki tua dengan kepala botak itu. "Jangan sentuh aku!"
Setelah melemparkan pandangan sengit kepada ibunya—persetan dengan tata krama—Lucy langsung keluar berjalan keluar. Masih didengarnya suara teriakan ibu yang mengatakan kalau penjagaan dirumah itu harus lebih diperketat, dan melakukan penggantian password berkala.
Mendengarnya membuat amarah Lucy berada di ambang batas. Dia memakai kacamata hitam dan syalnya merapat, lalu menyetop taksi yang lewat.
"Tolong antarkan aku Mungyeon." Ucapnya pada sopir taksi itu.
***
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co