duapuluh satu.
Lucy menutupi wajahnya menggunakan selendang hitam tipis ketika seorang pria gelandangan yang ia mintai tolong untuk membelikan ponsel baru datang menemuinya dengan paperbag ditangan. Lucy berdeham, mengambil ponsel itu sambil melirik kanan-kiri.
"Kau yakin ini sudah terdaftar atas namamu?"
Pria itu mengangguk. "Ponsel itu sudah di daftarkan atas namaku," senyumannya lebar ketika menerima uang yang disodorkan oleh Lucy, sembari menghitungnya ia sedikit melirik dan kembali bersuara. "memang kau terlibat dengan kepolisian sampai-sampai tidak berani--" namun ucapannya terhenti ketika melihat tatapan tajam Lucy. Pria itu akhirnya mengangguk, "Terima kasih, nona. Kau bisa meminta bantuanku lagi lain waktu."
Lucy melirik sinis pria gelandangan asing itu lalu memutar bola mata. Tanpa merasa perlu mengucap pamit apalagi terima kasih, wanita itu langsung melenggang pergi dari sana.
"Sudah jelek, sombong. Benar-benar tidak tahu diri!" caci pria gelandangan itu sambil memasukkan uangnya ke dalam saku jaket dan melangkah pergi.
Lucy mencoba untuk menebalkan telinga. Omongan pria itu tentu saja masih bisa ia dengar, namun jika ia kembali dan melakukan aksi debat malah akan menimbulkan masalah baru. Atau bahkan, ia akan langsung bisa di lacak. Karena itu, ia lebih memilih membekukan hati dan pergi.
Beruntung setelah pergi dari kurungan rumah sakit dengan penjagaan super ketat itu ia berhasil pergi ke rumah Aeri. Sahabatnya. Meskipun dengan wajah luka bakar dan jalan yang terseok, sahabatnya itu masih bisa mengenalinya tanpa ada keraguan sedikitpun. Saat itu, Lucy menanyakan kenapa Aeri langsung memercayai bahwa wanita dengan wajah mengerikan itu adalah dirinya, dan Aeri langsung memberikan penjelasan detail mengenai kecurigaannya yang tidak bisa menghubungi ponsel Lucy. Bahkan, Aeri tidak mendapatkan undangan resmi--melalui telepon atau pertemuan.
Dan disana juga Lucy sekarang tinggal. Namun, ia tidak ingin melibatkan Aeri ke dalam rencana yang telah disusunnya, karena itu Lucy hanya meminjam sejumlah uang untuk keperluan pada Aeri dan sisanya ia mengurus secara diam-diam perihal yang lain.
Lucy menyandarkan tubuh pada koridor di samping tangga yang akan membawanya ke bagian luar stasiun kereta. Ke lima jemari yang memegang ponsel itu mengetat saat tiba-tiba perasaan jijik mulai melingkupinya. Ia tidak bisa menerima kenyataan kalau Myungsoo yang melakukan semua ini kepadanya. Ia tidak bisa menerima kenyataan kalau laki-laki itu mencintai Suzy yang buruk rupa daripada dirinya. Ia tidak bisa menerima kenyataan kalau lampu sorot yang menyorotinya meredup. Dan satu-satunya cara agar lampu sorot kembali menyoroti setiap langkahnya adalah dengan mematikan satu di antara mereka.
Hidup adalah soal pilihan. Merebut atau direbut. Bahagia atau menderita. Dicintai atau dibuang. Menghancurkan atau dihancurkan. Dan kepada opsi terakhir, Lucy memilih posisi pertama.
Tidak ada yang boleh merebut tempatnya. Dan ia yakin Ayah dan Ibu pasti akan turut membantu ketika tahu semuanya. Jadi pertama-tama, ia harus menemui kedua orang tua nya terlebih dahulu, maka mengambil langkah cepat, Lucy segera menaiki undakan tangga di depannya untuk mencari taksi terdekat.
***
Myungsoo bermain dalam pikirannya sendiri sambil menerawang lukisan abstrak di depannya. Membuat gerakan mengusap menggunakan jemari telunjuk pada bagian bawah bibirnya bersamaan dengan percakapannya bersama dokter Oscar empat minggu yang lalu kembali terngiang. Jika prediksinya tepat, maka sperma yang membuahi sel telur Suzy telah berhasil. Pada masa subur Suzy sejak tiga minggu yang lalu, Myungsoo sama sekali tidak melepaskan sedikitpun wanita itu darinya. Kendalinya nyaris lepas melihat bagaimana Hanbin memeluk Suzy begitu erat. Meskipun ia tidak mengetahui pembicaraan mereka--karena terhalang cctv--namun Myungsoo yakin sesuatu tak terduga telah terjadi.
Dan, melihat bagaimana cara Suzy berbicara--yang belakangan ini sedikit halus, merajuk dan penuh nada merdu--tadi sedikit dipaksakan bermanja-manja persis seperti apa yang wanita itu lakukan sebelum insiden hilang ingatan, semakin memperkuat praduganya. Myungsoo kali ini yakin seribu persen kalau ingatan Suzy telah kembali.
"Sialan!" umpat Myungsoo dalam situasi yang sama.
Tekadnya untuk membawa Suzy terus ke dalam jarak sentuhnya mengendur. Ia paham bahwa cinta itu bukan mengekang, tetapi ia ingin Suzy sadar kalau ia benar-benar mencintai wanita itu. Sepenuh hati. Segenap jiwa.
Namun, ada hal lain yang mengganggunya. Pemikiran kacau yang mengusik nalurinya beberapa waktu ini; apakah bersamanya saat ini wanita itu akan tersenyum seperti saat ia sedang hilang ingatan? Atau, apakah bersamanya wanita itu akan tertawa seperti saat ia sedang bersama Hanbin?
Dan pada satu pengharapan yang sedang ia semogakan. Myungsoo benar-benar berharap jika janin yang sedang tumbuh di perut Suzy, akan melunakan dan membuka hati wanita itu. Yang semoga saja bisa menuntun Suzy menujunya. Tanpa terpaksa, tanpa dipaksa.
***
Suzy berjalan gusar dalam balutan gaun putih selutut yang dipakainya. Langkahnya mondar-mandir sembari melirik keluar jendela dengan tirai tipis yang ia biarkan terbuka meski tahu matahari telah berpulang dan digantikan cahaya rembulan di atas sana.
Beberapa pelayan sibuk tersenyum kecil sambil meneruskan pekerjaan mereka. Sebuah hal yang lumrah yang telah terjadi beberapa waktu belakangan ini adalah pemandangan yang biasa mereka lihat pada setiap harinya; bahwa nyonya besar mereka akan selalu dalam sikap gusar seperti ini jika sang suami belum juga terlihat saat senja mulai menyapa.
"Suzy, aku yakin tidak lama lagi tuan Myungsoo akan sampai. Aku sudah menyiapkan buah mangga muda permintaanmu."
Suara rendah wanita setengah baya kontan membuat langkah Suzy berhenti. Tubuhnya nyaris membeku di tempat kala menelaah ucapan kepala pelayan yang tetap sibuk dengan pekerjaannya.
Tunggu...
"Aku tidak--" Suzy hendak melemparkan bentuk protes atas apa yang sedang ia lakukan sekarang (kalau ini jelas bukan dirinya, karena ia sendiri bingung untuk apa ia berdiri gusar sejak tadi sambil memikirkan lelaki itu) namun ia mengurungkan niat karena takut dicurigai. Akhirnya, setelah mengembuskan napas pelan Suzy merubah percakapannya. "siapa yang meminta buah mangga?" keningnya mengernyit.
"Kau. Kemarin sore." jawab kepala pelayan itu dengan senyuman penuh pemahaman. "aku benar-benar tidak menyangka hari ini datang juga."
"Ha? Aku tidak pernah meminta buah itu. Aku tidak suka asam."
"Awal kehamilan memang berat, tapi bibi yakin bahwa nyony--Suzy bisa melewatinya."
Kedua mata Suzy membeliak tak percaya. "Tunggu, siapa yang sedang hamil?"
Kening si kepala pelayan itu mengerut, namun suara tertahan ketika melihat perawakan Myungsoo sedang berdiri di belakang tubuh Suzy. Senyuman penuh perhatiannya terukir disana, dan dengan penuh pemahaman ia memgangguk undur diri. "Permisi tuan..."
"T-tunggu! Bibi, siapa yang sedang ha--" pertanyaan Suzy tertelan dalam-dalam saat merasakan sebuah lengan besar melingkari perutnya menghangatkan. Suzy memberanikan menoleh ke belakang dan menemukan Myungsoo dengan aroma maskulin yang menenangkan. "O-oh, hai."
"Oh, hai?" Myungsoo menaikkan kedua alisnya. Diam-diam menikmati kegugupan dari wanita di depannya. "Kau hamil?"
"TIDAK!"
Menyadari tatapan Myungsoo yang berubah menggelap membuat Suzy buru-buru memperbaiki intonasi serta kalimatnya. "Ng, maksudku aku tidak tahu. Hahaha," Suzy tertawa membentuk suku kata, dan menambahkan. "bibi itu kan memang suka bercanda. Lagipula kita belum memeriksa ke dokter."
Untuk kalimat terakhirnya, Suzy benar-benar berharap jika Myungsoo membawanya ke dokter kandungan atau setidaknya membelikannya testpack umtuk memeriksa. Hamil anaknya Myungsoo tidak termasuk dalam rencananya, dan ia benar-benar tidak pernah memikirkan hal itu belakangan ini.
Ia resah. Besar kemungkinan kalau perkataan kepala pelayan itu benar karena 'rutinitas' mereka belakangan ini memang benar-benar tak terbayang. Myungsoo selalu mengajaknya dimanapun, kapanpun. Apalagi sejak mereka saling terbuka mengenai isi hati mereka masing-masing.
Saat itu Suzy bahkan merasa... Utuh. Sempurna. Lengkap.
Wanita itu menggeleng ketika perasaan hangat tiba-tiba melingkupinya. Kembali diarahkan manik matanya menatap lelaki yang kini berdiri tanpa jarak di hadapannya. Dengan was-was dia menunggu jawaban dari pertanyaan yang ia ajukan tadi.
Suzy mulai menghitung dalam hati dengan was-was. Dan, entah ekspresi apa yang harus dikeluarkannya saat suara berat Myungsoo terdengar menyetujui.
"Aku akan menelpon dokter dulu."
***
Oke, gamau lg janji update2 ah. Malah jadinya php kayak gebetan kalian:(
Mon maap yaaak
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co