duapuluh empat.
Mungyeon.
Kedua mata Lucy membaca sebuah plang jalan yang tertulis saat taksi yang ia sewa melintas masuk ke kawasan baru. Udara dingin dipenghujung tahun sedikit menerobos masuk melalui celah meskipun AC di dalam taksi sudah disetel hangat. Lucy mengusap lengannya untuk menghantarkan gelenyar hawa panas ditubuhnya. Sejujurnya, Lucy merasa sedikit awas. Hatinya berdebar dengan perasaan tak enak yang mendominasi. Pasca penolakan ibunya, Lucy merasa dunianya hancur. Di tempat kan di tempat yang sama dengan posisi saudara kembarnya dulu, ia merasa kalau itu sebuah mimpi buruk.
Dan satu-satunya orang yang harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi dalam hidupnya ini adalah saudara kembarnya, Suzy. No wonder.
Taksi yang ditumpangi Lucy berhenti di pinggir jalan yang tak jauh dari rumah berpagar besar di depan mereka. Lucy sedikit mencondongkan tubuh, menyipitkan mata menatap ke arah depan. Terdapat barikade pengawal di sana, kedua mata Lucy semakin menyipit saat melihat sebuah mobil hitam keluar dari dalam pagar itu dan ia menemukan Suzy di sana. Senyumannya terukir, sempat ia mengira akan sulit menerobos barikade pengawalan ketat di rumah itu—karena jelas Myungsoo sudah mengendus kalau tahanan-nya telah kabur—dan keajaiban berpihak pada Lucy sekarang.
"Ikuti mobil hitam itu." ucap Lucy sambil menepuk pundak sopir taksi.
"Tidak jadi berhenti di sini?"
Lucy berdecak. "Ikuti saja. Banyak bertanya sekali!"
Sambil menatap kesal, si sopir taksi itu lantas menarik porsneling dan kembali mengendarai taksinya mengikuti mobil hitam di depan dengan jarak tak kentara.
***
Suzy menahan kesal. Hari ini adalah satu hari yang sudah ia nantikan dari tujuh hari menyebalkan. Ia akan bertemu dengan Hanbin dan satu orang kepercayaannya untuk membahas perihal rencana eksekusi pembalasan mereka. Bukti sudah ditangan dan target sudah masuk ke perangkap, namun tak semulus wacana awal karena tiba-tiba pagi tadi Myungsoo mengumumkan kalau Suzy akan ikut bersamanya menemui salah satu kolega kerjanya. Pertemuan bisnis mendadak, menurut Suzy. Namun jelas sudah direncanakan matang-matang menurut Myungsoo.
"Kedua alismu akan menyatu kalau kau terus merengut seperti itu, Suzy..." Myungsoo mengusap punggung tangan Suzy seringan bulu. Kepalanya sedikit menunduk seraya menggunakan tangan lain pria itu menangkup dagu sang istri. Pandangannya meredup memerhatikan bibir ranum di depannya ini, namun dengan berat hati ia terpaksa menahan hasratnya untuk mencumbu. Wanita dalam jarak sentuhnya ini telah sepenuhnya ingat, dan dia sedang hamil. Myungsoo tidak ingin jika ulahnya mengakibatkan hal-hal yang macam-macam nanti. Karena itu, alih-alih, ia kembali menambahkan. "Kau begitu ingin bertemu dengan Hanbin dibandingkan menemaniku pergi ke acara?"
Suzy menahan napas, manik mata berkobar api itu jelas terekam oleh Myungsoo membuatnya menelan pil pahit dan kesedihan dalam hatinya. Ia hanya perlu Suzy menjawab hal yang ingin ia dengar, kali ini, pura-pura pun tak masalah.
"Bukan begitu," Suzy mencoba menekan intonasi kesalnya. Lalu melanjutkan, "aku dan Hanbin sudah berencana hendak mengunjungi panti jompo. Kami sudah menyiapkan segala hal."
"Tidak bisakah itu ditunda?"
Suzy paham jika perdebatan ini tak akan membuahkan hasil. Pihaknya akan kalah selama apapun perdebatan ini terjadi. Alhasil, Suzy mengembuskan napas berat. Ditatapnya manik mata Myungsoo yang entah kenapa sekarang terasa hangat dan indah itu, lalu saat menyadari ada pergolakan dalam dirinya lagi, buru-buru Suzy memalingkan wajah ke arah jendela. "Baiklah. Aku akan membatalkan rencana kami."
Myungsoo tersenyum masam, bahkan meskipun tahu kalau Suzy terpaksa mengiakan permintaannya itu, entah kenapa ia tetap saja merasa senang? Seolah-olah menampik semua fakta, bahwa apa yang wanita itu katakan sekarang adalah memang dari hatinya. Bukan sebuah keterpaksaan.
Ironis.
Menyedihkan.
Setelah perjalanan yang banyak dilingkupi kebisuan yang menyengsarakan—Suzy mencoba mencari topik bahasan agar dirinya tidak dicurigai, namun karena tidak menemukan ia jadi pura-pura tidur—akhirnya mobil hitam nan megah itu memasuki sebuah pintu gerbang tinggi berwarna keemasan. Mobil itu menyusuri jalanan aspal yang pinggirannya dihiasi oleh pohon-pohon besar nan rindang, melihat ada mobil tak jauh di depan mereka Suzy meyakini kalau ia tidak diculik kali ini. Diam-diam Suzy bernapas lega.
"Kau tertidur pulas sekali..." gumaman Myungsoo membuat Suzy tersadar kalau pria di sampingnya masih ada.
Suzy menoleh, mencoba menetralkan ekspresinya sebelum berkata, "Err, belakangan ini aku jadi mengantuk."
"Dan pendiam." Myungsoo menambahkan.
Suzy menelan saliva. "O-oh, benarkah?" Suzy mengerutkan dahi pura-pura berpikir, lalu kepalanya mengangguk pelan. "padahal kupikir aku biasa saja. Mungkin ini efek kehamilan juga." ucap Suzy tanpa sadar mengusap perutnya.
Ada perasaan dalam diri Myungsoo yang tiba-tiba berubah menghangat melihat aksi yang Suzy lakukan barusan. Ia yakin kalau itu adalah sebuah refleks, namun hatinya begitu riang saat tahu kalau wanita yang mati-matian dipertahankannya ini memiliki ingatan yang tebal dengan janin yang ada dalam kandungannya. Setidaknya, Suzy tidak jijik dan berniat ingin membunuh janin itu. Darah daging mereka berdua.
Tidak genap lima menit mobil itu berhenti tepat di lobi sebuah gedung megah. Salah satu pegawai di gedung itu langsung membukakan pintu penumpang mobil. Myungsoo turun lebih dulu dari sana, satu tangannya kemudian terulur pada tangan mungil nan hangat milik Suzy. Meski enggan, akhirnya Suzy memilih menyambut uluran tangan itu. selain karena akan menimbulkan curiga, ia juga agak susah karena heels yang digunakan.
"Kau yakin tak masalah memakai heels?"
Suzy mengerutkan dahi. Lalu mendengus dingin. "Memangnya aku ada pilihan lain? Kau pembisnis sukses, mana mungkin aku pergi kemari memakai sandal. Kau bisa malu."
"Aku tidak akan malu meskipun kau bertelanjang kaki." Jawab Myungsoo. Suzy sempat tercenung, aura dingin Myungsoo seketika mendominasi. Namun, saat pria itu kembali bersuara dengan nada lunak dan hangat seperti biasa, Suzy memilih untuk membuang pemikirannya bodohnya barusan yang mengira kalau ego pria itu terluka ulah kalimatnya. "Kau tahu kalau aku mencintaimu. Dari dulu sampai sekarang."
Dengan senyuman artifisial yang sudah dilatihnya bertahun-tahun, Suzy kemudian mengajak Myungsoo untuk masuk ke dalam karena cuaca dingin yang mulai menusuk-nusuk ke dalam kulit.
***
Tatapan wanita itu tajam mengikuti setiap pergerakannya. Bukannya Suzy tak menyadari, hanya saja ia masih tidak ingat siapa wanita dengan segelas wine yang sejak tadi menatapnya itu. Asing sekaligus terasa familiar.
Suzy menyipitkan mata, kepalanya menoleh kepada Myungsoo yang sedang terlibat pembicaraan santai dengan beberapa tamu—yang mungkin saja rekan kerjanya juga—Suzy menepuk bahu Myungsoo pelan, membuat pria itu menoleh. Pandangannya bertanya menatap Suzy.
"Aku ke sana sebentar ya?" tunjuk Suzy pada hidangan makanan yang tersedia.
"Ayo, aku akan menemanimu."
Suzy menggeleng cepat. "Tidak, tidak. Aku sendiri saja. Hanya sebentar."
Myungsoo belum mengiakan permintaan itu. Ditatapnya Suzy dengan pandangan menilai khas seorang bapak-bapak yang tidak percaya jika putri kecilnya ingin berpergian sendiri. Namun, ketika rekan kerjanya kembali mengajaknya bicara, Myungsoo akhirnya menyerah. "Jangan makan pedas dan kacang-kacangan."
Suzy mengangguk. Setelah itu ia langsung melesat pergi. Pandangan Myungsoo mengikuti sebentar, kemudian ia kembali beralih dan terlibat pembicaraan dengan rekan kerjanya saat merasa kalau Suzy aman-aman saja. Di sini tidak akan ada Hanbin apalagi Lucy, pikirnya.
"Akhirnya kau lepas juga dari Myungsoo..."
Suzy melirik melalui ekor mata dengan kedua tangan yang masih sibuk mengambil beberapa kudapan dan segelas orange juice yang terhidang di atas meja. Setelah itu, barulah ia menoleh dan menemukan wanita yang sama dengan wanita yang sejak tadi memerhatikannya.
Suzy menyunggingkan senyum. "Myungsoo bertemu banyak rekan kerjanya di sini. Dan dia memperkenalkanku."
"Oh, Lucy. Jadi benar kau hilang ingatan?" manik mata wanita itu nampak khawatir, pun dengan intonasi suaranya.
Jadi, wanita ini kenalannya Lucy? Batin Suzy dalam hati.
Suzy meringis. "Semuanya terjadi begitu saja... err kau?"
"Aku Aeri!" ucap Aeri, wajah cemas melingkupi. Namun segera ia memeluk erat sahabat di hadapannya itu. Atau jika Aeri boleh meralat dalam hati; memeluk kembaran sahabatnya.
Telepon dari Lucy tadi, membuat Aeri yang memang sedang dalam perjalanan menuju sini langsung menyetujui. Ia tentu saja ingin membalaskan dendam sahabatnya, karena posisi sahabatnya itu diambil paksa oleh orang lain. Harusnya, yang menyambat gelar Mrs. Kim adalah Lucy, bukan orang di depannya ini. Terlebih ketika cerita Lucy mengalir deras, Myungsoo juga ternyata turut andil dalam segala hal yang terjadi pada Lucy membuat Aeri semakin bersemangat untuk menghancurkan apa yang sedang disemogakan.
Senyuman Aeri terkulum tertahan saat berhasil memasukkan sesuatu ke dalam gelas digenggaman Suzy. Aeri melepaskan pelukannya. "Kita harus cheers, karena mulai sekarang kau sudah tahu aku sahabatmu." Aeri menyodorkan gelas wine-nya.
Suzy menatap gelas wine itu sebentar, kemudian membawa gelas yang dipegangnya hingga menghasilkan bunyi dentingan. "Cheers!" ucap Suzy, kemudian meminum orange juice-nya.
***
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co