Truyen3h.Co

Volcano Erupt

duapuluh lima.

authoriya

            "Kau bertemu siapa?" pertanyaan Myungsoo meluncur saat mendapati Suzy yang sudah melangkah kembali kepadanya. Mata tajam Myungsoo ia bawa memerhatikan punggung perempuan yang sejak tadi mengobrol dengan Suzy itu dengan tajam.

"Aeri." Jawab Suzy, keningnya berkerut. "Tetapi kenapa dia memanggilku Lucy ya?" dilemparnya sebuah bom motolov yang langsung meledakkan sang target. Suzy diam-diam menikmati bagaimana perubahan yang terjadi pada pria yang berstatus sebagai suaminya itu.

"A-apa!?"

"Kenapa responsmu begitu?" Suzy mengangkat alisnya, pura-pura tak mengerti. Tangannya langsung terulur ketika mendapati gestur tubuh Myungsoo yang hendak melangkah, "Mau kemana? Sopirmu akan segera datang." tanya Suzy, mengikuti arah pandang Myungsoo.

Dalam hati Suzy langsung menarik napas lega saat melihat tubuh Aeri yang menghilang ke dalam mobil. Aeri mungkin bisa menjadi tamengnya untuk kabur, melihat bagaimana wanita itu yang masih mengira kalau ia adalah Lucy, sangat jelas jika Aeri tidak mengetahui apa-apa.

"Kenapa kau tidak memanggilku saat Aeri menemuimu." Myungsoo mengetatkan rahang. "Dia berbahaya."

Kau yang berbahaya... batin Suzy.

"Bagaimana seorang teman bisa berbahaya?" Suzy mendengus. Keningnya mengernyit saat merasakan serangan di perutnya. Suzy otomatis membawa satu tangannya menahan perut, sementara tangan lainnya tanpa sadar memegang lengan Myungsoo. "Aw!" ringisnya tertahan.

Myungsoo langsung berada dalam posisi siaga. Tangannya berada di pundak Suzy, "Suzy, kau kenapa?"

Suzy menggigit bibir, wajahnya berubah pucat. Dengan menggeleng pelan, ia menjawab. "Perutku tiba-tiba sakit sekali dan—" suara Suzy berhenti, kepalanya lantas menunduk saat merasakan sesuatu mengalir di sepanjang kakinya. "Myungsoo... aku berda—"suara Suzy tertelan hilang saat ketidaksadaran melingkupinya.

***

Suasana ini lagi.

Suzy mengernyitkan dahi saat matanya harus berusaha beradaptasi dengan sinar dari lampu yang menerangi. Sayup ia mendengar suara Myungsoo yang sedang beragumen dengan seseorang diluar sana dengan suara yang meninggi. Naas, kejadian di mana ia jatuh pingsan langsung menyerang kepalanya. Suzy dengan cepat bangkit, dan baru menyadari kalau ia diinfus. Lagi.

Kenapa ia selalu berakhir di rumah sakit? Sungguh menyebalkan.

Kedua mata Suzy lurus menatap turun pada baju pasien yang dikenakannya, lalu menghela napas. Omong-omong, kenapa dia bisa berakhir di sini kali ini? apakah ia salah makan saat di acara itu?

Pertanyaan-pertanyaan yang muncul dibenak Suzy itu bersamaan dengan pintu ruangan yang dibuka, Suzy langsung mendongak dan menemukan wajah gusar Myungsoo di sana. Wajah gusar itu langsung menghilang, berubah dengan raut terkejut dan khawatir. Myungsoo bergegas cepat menuju brankar, dan langsung memeluk Suzy dengan erat. Tangannya bergerak mengelus puncak kepala Suzy seraya memberikan pertanyaan.

"Kau lebih cepat sadar dari prediksi dokter. Ada yang sakit?" Myungsoo mengurai pelukannya, kedua tangannya menangkup pipi Suzy dengan hangat. Jarak di antara mereka berdua kini hanya tinggal sejengkal jari, "Aku benar-benar menyesal karena tidak membiarkanmu pergi dengan Hanbin, dan menyuruhmu ikut denganku. Maafkan aku..."

Rasa tak nyaman mulai melingkupi Suzy, kedekatan yang tak diduganya ini membuat wajahnya memanas. Suzy menyingkirkan kedua tangan Myungsoo cepat seraya bertanya—tak membiarkan pria itu untuk protes—"Kenapa aku bisa sampai di sini lagi? apa kata dokter?"

Suzy tahu sesuatu hal telah terjadi ketika melihat ekspresi Myungsoo berubah. Pandangan Suzy turun menatap kedua tangan Myungsoo yang terkepal. Kenapa perasaannya tiba-tiba tidak enak?

"Aku akan memastikan wanita itu mendapatkan ganjarannya."

Wanita itu... detak jantung Suzy semakin cepat saat menyadari siapa yang di maksud oleh Myungsoo. Aeri, sudah pasti.

Myungsoo kembali menangkupkan kedua tangannya di wajah Suzy, mengunci manik mata itu dengan kedua matanya. "Aku akan membuat mereka membayar semuanya. Semuanya."

"Aku tidak mengerti..." Suzy menggeleng.

"Aeri memberikan obat agar kau keguguran."

...

Jarum jam berhenti bergerak, detak jantung berhenti berdetak, segalanya terasa seperti mati dalam sekejap. Satu hal yang sangat mengganggunya dan kini hilang dengan cara yang tak wajar itu seperti menusuk ulu hati Suzy. Ia harusnya senang karena tak ada tanggungan lagi. Ia seharusnya senang karena satu-satunya yang mengikatnya dengan Myungsoo tak ada lagi. Tetapi nurani siapa yang tahu? karena hati tak bisa berbohong dan rasa sakit karena kehilangan lah yang kini melingkupi. Disaksikan oleh pemilik mata tajam di depannya, air mata merembes turun melewati pipi semerah tomat itu.

***

Segala hal terasa buram. Pasca keguguran tiga hari yang lalu, Suzy merasakan kekosongan yang mendominasi. Dadanya sesak, dan ia mendapati dirinya sesekali menangis tanpa sebab. Ia emosional berat, dan tak mengerti bagaimana harus mengatasi emosi itu.

Suzy menghela napas, setelah lelah hanya berbaring di atas ranjang, akhirnya ia mulai memenuhi energinya kembali. Fokus pada niat awalnya memang hal yang utama. Kehilangan bayi memang mengacaukannya karena bagaimanapun dia adalah seorang wanita. Namun, mengenyampingkan itu, Suzy harus kembali ingat niat awalnya datang ke Korea. Rencana awalnya. Meskipun berantakan, namun tujuan akhir tetaplah bisa dituju bukan?

Mengambil ponsel pribadinya dari balik bantal, Suzy mulai mengontak nomor Hanbin. Tidak ada respons. Sekali lagi dikontaknya nomor Hanbin, dan tetap tidak ada respons.

Kening Suzy mengernyit, lalu ia mengontak nomor lain di daftar kontaknya. Milik Ben. Berbeda dengan milik Hanbin, nomor milik Ben bahkan tak dapat dihubungi.

"Kenapa sih dengan orang-orang ini?" Suzy mendengus, melempar ponselnya kembali ke atas ranjang. Rasa kesal Suzy mulai melingkupi, disaat ia sudah bersemangat kembali untuk menjalankan rencana, dua orang yang ia miliki itu malah sibuk tak dapat dihubungi. "Aku akan marah besar jika bertemu dengan mereka. Lihat saja!" gumam Suzy sambil mengambil remote tv.

Tayangan yang keluar pertama kali di layar televisi gantung itu membuat Suzy langsung membuka mata lebar-lebar. Jantungnya berdetak dengan cepat saat membaca tulisan yang ada dibagian bawah berita itu.

"REKENING KORAN TERSIBAK. PENGGELAPAN DANA OLEH BAE CORP TERKUAK!"

Jantung Suzy terpompa cepat, ia segera mengambil ponselnya dan kembali mengontak nomor Hanbin lalu menunggu dengan sabar.

Satu... dua... tiga... Suzy menghitung dering dalam hati. Masih belum diangkat. Dirinya takut, napasnya tercekat. Apakah Hanbin dan Ben sudah menjalankan misi mereka tanpa melibatkannya? Tapi tidak mungkin...

Saat ia mulai putus asa karena merasa ada yang salah. Tutt pada panggilan itu berhenti. Hanbin mengangkat panggilan itu!

"Hanbin-ah, apa yang terjadi? Kenapa kau dan Ben sulit kuhubungi? Kalian sudah menjalankan rencana tanpa aku? bagaimana—"

"Kau sudah melihat beritanya sayang?"

Napas Suzy tercekat diudara. Itu bukan Hanbin, tetapi Myungsoo!

***

Setelah 51 chapter bergulat dengan POV Suzy yang super bahlul dan menjengkelkan, balik nulis dengan gaya dewasa begini aku jadi kagok saay wkwkwk

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co