duapuluh.
Myungsoo tersenyum miring ketika menolehkan kepala dan mendapati Hanbin sudah berada di ambang pintu ruang kerjanya. Namun, ia langsung siaga satu ketika mendapati fokus mata Hanbin yang meredup—tatapan yang hanya bisa dibaca oleh sesama laki-laki—sedang menatap wanita yang duduk di sebelahnya, dengan gerakan cepat Myungsoo berdiri tepat menutupi tubuh munggil yang masih duduk di tempatnya. Myungsoo menatap lurus ke depan dengan rahang mengeras.
"Kau bahkan tidak meminta izin sebelum masuk ke gedungku. Apakah sopan santun yang diajarkan kakek dan nenek sama sekali tidak masuk ke dalam otakmu?" ucap Myungsoo sinis.
"Kau sedang bicara dengan cermin?" Hanbin terkekeh, pria itu melangkah masuk tanpa memerdulikan tatapan Myungsoo kepadanya. "kau yang tidak sopan karena menipu semua orang, termasuk orang yang kau sandera ini. Sahabatku, yang paling kusayang." Ada kemarahan dalam suara Hanbin yang tertahan.
Keduanya saling pandang, menghunus pedang tak kasat mata. Bertarung menggunakan tatapan sinis dan membunuh.
"Kita bisa bicara diluar. Kau tahu istriku sedang sakit, jadi tidak seharusnya kau—"
"Tidak seharusnya kau mengambil kesempatan dengan mencuci otaknya!" Potong Hanbin cepat.
"Hanbin!"
Kedua pria yang sedang terlibat pertarungan tak kasat mata itu langsung menoleh dengan pandangan terkejut. Myungsoo bahkan tanpa sadar menggeser tubuhnya ketika Suzy berdiri di sebelahnya. Tangan Suzy nampak gemetar dan matanya memerah menatap Hanbin yang terpana karena bentakannya.
"Myungsoo adalah saudaramu, bagaimana kau bisa mengatakan hal menyakitkan seperti itu kepadanya?" ada nada terluka di dalam suara Suzy. Ia kemudian menambahkan, "dan suamiku sama sekali tidak pernah mencuci otakku. Aku ingat semuanya tentang kita, dan karena itu aku tahu kalau kita berteman. Tetapi aku tidak bisa bersahabat denganmu lagi kalau kau menjelekkan Myungsoo. Aku mencintai Myungsoo, kau harus tahu itu."
Sinar mata Hanbin terluka, pria itu mundur selangkah sambil menggelengkan kepala tak percaya. Ia yakin kalau Myungsoo pasti telah memasukkan kata-kata lain hingga membuat Suzy seperti ini, Hanbin sangat yakin kalau Suzy belum sepenuhnya ingat. Tidak, ini tidak benar. Suzy tidak akan mencintai Myungsoo. Wanita itu terlalu membenci Myungsoo dan tidak akan pernah jatuh hati dengan pria itu. Tapi nahasnya, kenapa rasanya tetap saja sakit mendengar hal itu?
Suzy memejamkan mata pelan, sambil mengapit lengan Myungsoo ia kembali bersuara. "Kau sebaiknya meminta maaf dengan Myungsoo dan mungkin aku bisa memikirkan tentang pertemanan kita. Atau, sebaiknya kita tidak harus bertemu lagi."
***
Hanbin terkekeh ironis menatap bunga di jok mobil sebelahnya. Ini adalah pagi lain dari pagi waktu itu yang mampu membuat jantungnya hampir lepas dari tempatnya. Dan, ini merupakan pagi lain dari pagi saat itu yang akan menambah harga dirinya semakin jatuh tak tersisa. Namun, hanya ini satu-satunya strategi yang ia miliki—dengan meminta maaf dengan tulus pada Myungsoo di depan Suzy—agar ia bisa berdekatan lagi dengan wanita itu. Setidaknya, sebagian ingatan Suzy mengenai dirinya sudah menjelaskan kalau mereka adalah sahabat. Sejak dulu.
Sedangkan urusan Myungsoo, hal itu akan dipikirkannya nanti. Sekarang adalah saatnya masuk kembali ke kehidupan Suzy dengan pintu masuk yang berbeda. Pintu masuk yang mungkin memiliki jebakan yang banyak, namun Hanbin yakin dengan frekuensi yang sama, Suzy akan semakin mengingatnya. Dan pada saat ia dan Suzy sudah kembali dekat tanpa ada rasa canggung dari sisi Suzy, Myungsoo tentu saja tidak bisa menuntut apa-apa. Apalagi memisahkan mereka.
Dan Hanbin berharap jika perlahan ingatan Suzy akan kembali normal. Agar mereka bisa melanjutkan rencana balas dendam jika wanita itu menginginkan, atau Hanbin akan mengajak Suzy kembali ke Sydney untuk meneruskan kehidupan mereka disana.
Hanbin itu mengambil buket bunga di jok samping sebelum turun dari dalam mobil dan melangkah menyambangi gedung pencakar langit di depannya. Harapannya adalah semoga Suzy ada di dalam, semoga sepupunya itu tidak mencari seribu alasan untuk melarang Suzy ikut ke kantor sepupunya itu.
Ia mengira kalau seluruh pegawai di gedung ini telah di intruksikan untuk membanned dirinya dari gedung ini, namun ternyata Hanbin tak membutuhkan jurus-jurus lain untuk menerobos masuk ke dalam karena seluruh pegawai di dalam gedung pencakar langit ini nampaknya sedang melakukan pekerjaan mereka dan tidak memperhatikan. Ada bagusnya ia datang sedikit lebih siang dari kemarin karena bahkan tak ada satupun pegawai disini yang memerhatikan ke datangannya. Pun dengan wanita yang kemarin tergopoh-gopoh menyusulnya karena ia yang tidak mengikuti protokol.
Hanbin akan mengingat untuk meminta maaf kepada wanita itu untuk kejadian pagi itu, lain kali.
Nomerator pada lift menunjukkan angka pada lantai paling atas gedung sebelum mengeluarkan bunyi dentingan cukup keras dan pintu lift itu terbuka. Hanbin berjalan keluar dengan memeluk buket bunga di tangannya, sementara fokusnya langsung menggapai pada satu pintu kaca buram di depannya. Semoga saja hari ini ia tidak menyaksikan pemandangan yang tidak bisa diterima oleh inderanya. Karena itu, alih-alih Hanbin kini mengetuk daun pintu di depannya tiga kali sebelum mendorong handle pintu ke dalam.
Dan satu wanita berhasil menyita fokusnya lagi. Di sana, duduk dengan kepala tersembunyi di kedua tangan yang terlipat di kedua lututnya, warna baju yang dikenakan Suzy terlihat sangat kontras dengan warna kulit sofa yang ia duduki.
Hanbin berdeham sekali, membuat kepala yang tadi menunduk itu mendongak. Suzy nampak sedikit terkejut, namun ia langsung merubah posisi. Wanita itu menegakkan tubuhnya sambil mengulas senyum, menatap buket bunga ditangan Hanbin.
"Ini bunga permintaan maafku kepada Myungsoo," Hanbin mengusap tengkuknya pelan. "jangan salah paham. Aku melakukan ini karena ingin menjadi sahabatmu kembali."
Suzy tertawa hingga kedua matanya membentuk bulan sabit. Wanita itu kemudian mempersilakan Hanbin untuk duduk di sebrangnya. "Melihat bagaimana kau dengan sukarela menekan ego-mu dan memberikan bunga ini, aku yakin bersahabat denganku adalah hal yang paling pentin dalam hidupmu. Benar?" Senyuman tidak luput dari kedua mata dan bibirnya kala ia mengulurkan tangan ke depan Hanbin dan bersuara. "kupikir kau tidak akan datang kesini setelah apa yang aku katakan kemarin lusa."
Hanbin menatap tangan itu tak percaya, kemudian dengan perlahan ia membawa pandangannya naik menatap manik mata Suzy dengan pandangan menilai.
"It's me. Your bestfriend." Ucap Suzy dengan senyuman lebar.
Hanbin meletakkan sembarang buket bunga yang ia pegang dan langsung melangkah mengitari meja, pria itu menarik Suzy ke dalam pelukan eratnya. Mendekap wanita itu seolah jika ia mengurai pelukan mereka maka Suzy akan pergi darinya.
"Kau mengingatku? Kau mengingat kita?"
"Hanbin. Satu-satunya sahabat, rekan dan saudara yang kumiliki. Satu-satunya orang yang tidak pernah berubah dan selalu ada untuk Suzy. Hanbin—"
"Aku senang kau kembali!" potong Hanbin dengan semakin mengeratkan pelukan mereka.
Ada air mata di sudut mata Hanbin yang berhasil keluar bersamaan dengan hatinya yang menghangat, namun ia segera mengusap air mata itu sebelum terjun dan membuatnya malu. Demi tuhan, ia seorang pria. Dan Suzy akan mengejeknya jika ia sampai lemah hati menangis karena momen ini.
Seraya mendorong tubuhnya menjauh meski enggan, Hanbin membawa kedua tangannya memegang kedua bahu Suzy sambil menatap wanita itu. "Kau tahu aku bahkan rela menjadi kacung pria itu jika dia meminta, asal kau memaafkanku dan kita bisa bersahabat lagi, Suzy."
"Aku benar-benar ingin menghubungimu, tetapi aku tahu kalau ponselku di lacak oleh Myungsoo."
"Kapan kau ingat semuanya?"
Wajah Suzy bersemu merah, namun dengan cepat ia menggelengkan kepalanya. Berdeham sekali, Suzy lalu memalingkan pandangannya menatap patung harimau yang berada di pojok ruangan. "Kemarin malam." Tepat ketika aku dan Myungsoo selesai bercinta... tambah Suzy dalam hati.
Ia tidak mungkin mengatakan hal itu, karena jelas hal itu juga mengganggunya. Bagaimana bisa ingatannya pulih tepat ketika Myungsoo memeluknya erat sehabis olahraga yang mereka lakukan. Benar-benar tidak masuk akal!
Bahkan, tidak ada insiden kepala pusing apalagi sampai pingsan, malam itu segalanya terasa normal. Sampai ketika ia mendapati seluruh ingatannya kembali. Untuk memaki, atau kabur saat itu sangatlah mustahil karena Suzy tahu bahwa pegawai di villa itu sangatlah banyak. Dan Myungsoo tidak mungkin membiarkannya kabur—atau kejadiannya akan semakin parah dan ia berakhir di kurung seperti waktu itu.
Suzy mengerutkan dahi menatap Hanbin. "Aku menunggumu kemarin, tetapi kau tidak datang. Aku mulai berpikir jika yang kukatakan waktu itu benar-benar merusak egomu dan kau memilih untuk melupakan persahabatan kita alih-alih menemuiku lagi. aku—"
"Aku tidak mungkin melupakan kenangan kita. Kau adalah hal yang terpenting setelah Ibu dan Ayahku."
Suzy menunduk. "Aku ingin pergi dari sini. Tetapi Myungsoo akan bertindak nekat, atau dia akan menyekapku seperti waktu itu..." Suzy menggeleng-geleng dengan kedua mata berair menahan tangis. "Dia bahkan menyakiti Lucy..."
"Tenang saja, Lucy ada di rumah sakit tempat temanku bekerja," Hanbin mengusap puncak kepala Suzy perlahan. "untuk sekarang kita harus berpura-pura dulu sampai dia lengah dan aku bisa membawamu pergi dari tempat tinggalmu sekarang. Omong-omong, dimana kau tinggal?"
"Di—" Suzy barusan hendak menjawab ketika sayup mendengar suara percakapan diluar. Tubuhnya menegang, dan dengan cepat menyuruh Hanbin pergi dari sofa panjang yang mereka duduki, ke tempatnya semula. Wanita itu menekan kedua matanya agar airmata itu tak merembes jatuh ke pipi dan memperbaiki posisinya saat mendengar suara pintu terbuka. Menampilkan Myungsoo dan Hyun dalam balutan jas hitam.
Myungsoo langsung menatap awas ketika melihat Hanbin ada di dalam ruangannya bersama Suzy. Baru saja ia hendak mengeluarkan kata-katanya, namun Suzy buru-buru berdiri dan melangkah mendekati Myungsoo. Wanita itu merangkul lengan Myungsoo manja. "Rapatmu lama sekali. Aku hampir saja tertidur disini, untung saja sepupumu datang. Katanya dia ingin meminta maaf padamu sayang..."
"I-iya," Hanbin berdeham. Meraih buket bunganya, ia berdiri. "aku minta maaf soal waktu itu. Aku benar-benar ingin bersahabat dengan Suzy lagi, kumohon kau bisa mengerti soal yang satu ini, Myungsoo." ucapnya seraya menyodorkan buket bunga itu ke hadapan Myungsoo.
***
bentar lagi ending. aciiik!
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co