Truyen3h.Co

Volcano Erupt

empat.

authoriya

Setelah kondisi Suzy sudah lebih baik, Hanbin membawa Suzy keluar dari sana. Keduanya berjalan pelan bersisian dengan Hanbin yang menggenggam jemari Suzy.

"Aku tidak tahu kalau orang yang kau maksud adalah sepupuku." Hanbin menolehkan kepala sedikit menunduk, menatap dari atas perempuan yang sedang berjalan  dengan raut wajah dingin.

"Aku tidak akan merusak perusahaan keluarga kalian. Targetku hanya keluarga Bae dan saudaramu."

Hanbin menghela napas. Langkahnya berhenti, pria itu membawa Suzy menghadap kepadanya dengan kedua tangan ia letakkan di pundak sahabatnya, "Suzy, kau tahu bukan itu maksud perkataanku tadi...?"

Sejujurnya, walaupun Hanbin benar-benar tidak mengira bahwa lelaki jahat yang membuat kehidupan sekolah Suzy yang pernah diceritakan perempuan itu adalah anak dari paman Shijin, tetapi Hanbin benar-benar tidak mempermasalahkan soal itu. Hanya jika saja Hanbin mengetahui lebih awal--atau ia mengenal Suzy lebih awal--maka mungkin saja dia bisa membalaskan perbuatan sepupunya itu dengan menonjok wajah itu sampai babak belur.

Suzy tersenyum kecil, "Terima kasih karena selalu disisiku. Dan untuk tadi juga sudah menyelamatkanku dengan menelpon."

"Menelpon?" kening Hanbin mengernyit. Pasalnya, ia sama sekali tidak pernah menelepon Suzy, dia malah ingin menanyakan siapa orang yang menelpon perempuan itu tadi, namun ia lupa karena mendapati wajah syok dan nelangsa perempuan itu.

"Kau tidak menelponku dengan nomor korea?"

Hanbin menggeleng. "Aku baru mendarat tadi sore kan? Lagipula aku sudah mengirimimu pesan tentang nomor baruku. Kau tidak menyimpannya?"

Dengan segera Suzy mengeluarkan HP-nya dari dalam tas. Dia memang belum sempat menyimpan nomor Hanbin karena ibu tiba-tiba datang mengantarkan gaun satin yang dipakainya sekarang. Suzy mendongak kaku, menatap Hanbin tepat di manik mata saat ia telah berhasil mencocokan nomor. Dan nyatanya kedua nomor itu memang berbeda.

"Jika ini bukan kau, lalu sia...pa?" Suzy panik, ia mencoba menghubungi nomor itu dan tidak diangkat. "Hanbin, hanya kau dan informanku yang tahu nomor ini."

"Mungkin hanya orang salah sambung, Zy?"

Suzy menggeleng, "Tidak. Dia mengirimi pesan kalau dia sudah ada di depan ketika aku di dalam toilet tadi. Tidak mungkin orang salah sambung kan?"

"Aku mencarimu sejak tadi, Lu. Ternyata kau disini dengan... Hanbin?"

Suara berat seseorang menghentikan perbincangan Suzy dan Hanbin. Keduanya lantas menoleh ke sumber suara dan mendapati Myungsoo berdiri tak jauh dari mereka.

Hanbin segera melepaskan melepaskan tangannya dari bahu Suzy dan mundur satu langkah, lalu memupuk kebohongan saat mendapati mata tajam Myungsoo nyalang memerhatikan, "Tunanganmu tadi hampir jatuh."

Raut wajah kaku Myungsoo perlahan mengendur, pria itu melangkah mendekati Suzy, menyisir rambut halus di sekitaran pelipis tunangannya dengan sayang. "Aku cemas karena kau tidak kembali-kembali. Kau sakit?"

Suzy menggeleng kaku.

"Aku duluan ya kalau begitu." sela Hanbin menepuk pelan bahu Myungsoo. Yang ditepuk bahunya mengangguk singkat.

Suzy melirik Hanbin melalui ekor mata yang sedang mengangguk sekali kepadanya sambil membuat kode dengan membawa jari kelingking dan ibu jari ke arah telinga dan bicara tanpa suara, "Aku akan menelpon nanti."

Mengangguk tak kentara, Suzy kemudian membubuhkan pandangan kepada pria di depannya kembali dan memberikan jawaban, "Aku menunggu sampai toiletnya kosong."

"Kau seperti Suzy saja..." gumam Myungsoo dengan kening berkerut.

Suzy tersentak, tanpa sadar menahan napas sambil menatap Myungsoo horor. "Apa maksudmu!?"

Myungsoo tersenyum manis, mengacak pelan puncak kepala Suzy, "Saudaramu itu kan tidak pernah percaya diri di depan orang banyak. Tetapi jelas berbeda denganmu sayang..."

Suzy mengepal tangan, tanpa sadar mengembuskan napas lega. Dia tidak boleh berlama-lama disini karena bisa saja Myungsoo mengendus hal mencurigakan. "Ayo kita kembali, mereka mungkin sudah bertanya-tanya." ajak Suzy bersamaan dengan melangkahkan kakinya.

"Shireo," Myungsoo buru-buru mencekal lengan tunangannya sampai membuat wanita itu menaikkan alisnya bingung. Untuk sesaat Myungsoo hanya memandangi Suzy lamat-lamat. Tapi, ketika Suzy hendak melanjutkan langkah, tiba-tiba suara Myungsoo mengalun menawarkan sebuah ajakan yang lebih menjurus kesebuah perintah. "Ikut aku, aku ingin mengajakmu melihat sesuatu."

Dan tanpa menunggu jawaban, pria berlengkung mata tajam itu sudah membawa Suzy keluar dari dalam sana menuju mobilnya yang terparkir ditempat pertama tanpa memberitahu kemana tujuan mereka.

***

Suzy terpaku. Pandangannya jatuh pada pemandangan indah memanjakan mata di depannya. Ia kira, semua orang hanya membual soal suasana Namsan Seoul Tower yang nampak berkali-kali lipat lebih indah ketika malam hari, tetapi hari ini semua prasangkanua seolah di hempas jatuh ke dasar sungai.

Ini lebih dari indah!

Tanpa ia sadari kedua sudut bibirnya tertarik ke atas.

"Yeppeo..." gumam Suzy pelan.

Myungsoo terpana melihat senyum wanita di sampingnya, senyuman yang membuatnya luruh dan menjadikan wanita ini sebagai cinta pertamanya sampai sekarang. "Oh, yeppeo..."

Meski jaraknya lumayan jauh dan menyita prasangkanya sejak perjalanan menuju kesini--Suzy sempat kira kalau ia akan di culik--namun pemandangan yang dibentangkan di depan matanya sekarang adalah yang terbaik. Sejak dulu, Suzy memang menyukai hal-hal berbau alam selain memasak--atau tepatnya semenjak dunianya berubah menjadi kelam. Menurut Suzy, hanya alam yang mampu menerima manusia apa adanya tanpa mencela seperti kebanyakan manusia.

Kepala Suzy menunduk, menatap jas yang kini menaungi tubuhnya. Memberikan kehangatan yang nyaman, kehangatan yang tak berwujud namun mampu ia rasakan. Tangannya memegang ujung jaket, lalu kepalanya mendongak. Menatap si pemilik bola mata kelam yang juga balas menatapnya.

"Angin bulan Desember sangat dingin, aku tidak ingin kau sakit." ucap Myungsoo menjawab tatapannya.

Suzy tersenyum masam. Lucy memang beruntung memiliki bajingan sialan ini, kalau saja semuanya tidak seperti ini--mungkin sekarang ia akan ikut berbahagia bersama Lucy dan Myungsoo. Kalau saja...

Tidak menjawab perhatian Myungsoo, Suzy memilih berjalan pergi menatap sekitar. Langkahnya pelan, menapaki lantai kayu yang disusun rapi. Beberapa penjual makanan ringan dan gembok nampak berjajar menawari dagangan mereka kepada pasangan muda-mudi yang datang malam ini. Lalu, pandangannya beralih ke sisi kiri dimana terdapat bangku panjang kayu berjajar yang kini isi hampir dipenuhi oleh beberapa pasangan.

Suzy mengernyit jijik saat mendapati satu pasangan yang tengah berciuman mesra di bangku paling pojok. Tanpa sadar suara dinginnya menggumam, "Yuck! Dasar menjijikkan!"

"Kau mau?"

Suzy mendongak dengan kening berkerut. "Apa?"

Menggunakan dagu, Myungsoo menunjuk ke arah pasangan muda-mudi yang sedang berciuman disana, dan tertawa kencang ketika melihat kedua mata Suzy melotot tajam. Dibawanya tubuh itu dan mengurungnya kedalam pelukan. Sambil mengelus belakang kepala Suzy pelan, Myungsoo berbisik. "Aku mencintaimu."

Suzy tersenyum sinis dengan pandangan lurus ke depan.

Lihat saja, tunggu sampai kau tahu kalau aku bukan Lucy, dan sampai Lucy tahu kalau kau menikahiku. Kalian berdua akan hancur bersamaan dengan kehancuran perusahaan keluarga Bae... Batinnya.

"Kau sering mengatakan kalau kau mencintaiku sebelumnya. Kenapa hari ini tidak sama sekali?" Myungsoo menguraikan pelukan mereka bersama satu pertanyaan yang lolos dari mulutnya.

Keningnya mengerut dalam memandangi wanita cantik yang kini pipinya mulai berubah memerah karena terpaan angin malam.

"Kau tidak bosan apa mendengarnya terus?" Suzy mengangkat alis.

"Baiklah, tunggu sebentar," Myungsoo bernego, matanya menatap ke sekeliling dan berlari menuju satu pedagang gembok cinta dan membeli sepasang. Myungsoo kembali dengan napas sedikit terengah, namun senyuman lebar tak hilang dari wajahnya. Pria itu mengusap pelan tengkuknya sambil berkata, "Aku sudah lama ingin mengajakmu ke namsan dan melakukan hal seperti ini."

Suzy menatap gembok berwarna putih dengan gradasi merah muda itu sesaat. Lalu menghela napas pelan, "Ayo kita lakukan."

Myungsoo tersenyum lebar. Memberikan satu gembok kepada Suzy, dan satu lagi untuknya. "Ini akan berbeda,"

"Ha?"

"Aku tidak akan melihat tulisanmu, dan kau tidak akan melihat tulisanku. Alih-alih menuliskan nama kita seperti kebanyakan orang, bagaimana kalau kita menulis harapan kita?"

Meskipun bingung, namun Suzy tetap mengangguk. Well, apapun itu agar ia bisa cepat pulang dari sini.

Membutuhkan beberapa waktu sampai akhirnya mereka berjalan ke salah satu sudut yang sudah dipenuhi banyak sekali gembok cinta milik orang-orang yang lebih dulu kesini, beberapa juga ada yang baru selesai memasangnya. Myungsoo mengambil gembok yang di pegang Suzy dan mengaitkannya dengan miliknya.

Setelah itu, Myungsoo membubuhkan tatapannya pada satu-satunya wanita yang ia berikan keseluruhan jiwanya itu. Myungsoo mengambil kedua tangan Suzy perlahan, "Apapun yang terjadi nanti. Kau harus tahu bahwa aku mencintaimu. Mencintai wanita yang sedang berdiri di depanku sekarang ini. Paham?"

Kalimat itu tidak membutuhkan jawaban. Kalimat yang Myungsoo keluarkan dari dalam lubuk hatinya, yang hanya diperuntukkan untuk wanita di depannya ini. Karena setelah kalimat itu meluncur, Myungsoo langsung meraih tengkuk wanita di depannya, dan menciumnya.

Dengan seluruh hati dan jiwanya.

----
"Aku ingin bahagia, tanpa alasan pun tak masalah."

"Semoga kau bahagia, dan maafkan aku."
----

***

Tuhkan...👀

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co