Truyen3h.Co

Volcano Erupt

lima.

authoriya

Lucy sadar dirinya telah di culik. Kedua matanya menyisir sepetak ruang tempatnya di sekap selama hampir 72 jam lamanya, sebuah ruang dengan dinding berupa kayu yang disusun rapat tanpa jendela dan Lucy tidak menemukan apapun disana, kecuali ranjang kecil, meja dan tivi yang menggantung di dinding kayu itu.

Satu-satunya hal yang ia ingat adalah bahwa ada seorang nenek tua yang menanyakan alamat menuju stasiun, namun karena jaraknya yang jauh dan Lucy tidak melihat angkutan umum berlalu-lalang disana, Lucy akhirnya tidak tega dan menawarkan sebuah bantuan. Lalu, ketika ia membuka mata tahu-tahu tubuhnya sudah berada di dalam ruangan senyap ini.

"Hei, siapa yang mengutus kalian!" teriak Lucy sambil menggedor pintu kayu. Matanya mencoba mengintip melalui celah-celah dinding kayu, mencari tahu apakah ada orang lain diluar sana. Namun, desahan lagi-lagi lolos saat mendapati ruang tengah sebuah rumah yang menyekapnya ini kosong.

"Sialan!" umpatnya sambil memukul kasar daun pintu di depannya.

Lucy berbalik badan, menyandarkan diri pada daun pintu itu lalu merosot disana. Ditatapnya makanan yang berada dalam nampan stainless itu dengan gamang. Lalu berdecak sinis, "Apa mereka serius memberikan makanan sampah ini untukku?"

Dengan kasar, dilemparnya nampan itu hingga isinya berceceran. Lucy kembali berdiri, kemudian mengedor pintu dengan membabi buta sambil teriak histeris. "Yya, kalian tidak tahu aku anak siapa?! Kalian ingin uang berapapun akan kuberikan asal kalian lepaskan aku sekarang! Aku harus tunangan dengan lelaki yang kucintai! Yya!"

Namun segalanya kembali dibawa angin ketika Lucy tak mendapatkan sautan dari siapapun diluar. Lucy tahu kalau ada orang di sini, tetapi entah kenapa suara-suara itu langsung senyap tiap kali ia mulai berteriak. Seolah suara itu hanya sebuah ilusi dari jiwanya yang ketakutan. Tapi anehnya, kenapa tidak ada satupun siaran di televisi yang menayangkan pembicaraan tentang dirinya yang hilang?

***

Suzy berkonsentrasi penuh pada gawai di tangannya. Senyumnya tercetak tipis saat membaca sebuah pesan surel masuk dari Ben--orang kepercayaan yang diutus Suzy untuk mengurus perusahaan miliknya dan Hanbin di Sydney mengatakan 'mission clear' .

Baiklah, segalanya beres dan tinggal menunggu kapan bom waktu itu akan meledak... Pikir Suzy.

Dia benar-benar tidak sabar membuat perusahaan keluarganya bangkrut total. Sejak kecil sering mengikuti mendiang kakek dan ayahnya jika bertemu dengan kolega bisnis membuat Suzy paham bagaimana cara kerja perusahaan itu. Kakek dan ayah adalah dua pribadi yang sama-sama mencintai uang, dan mereka tidak akan segan-segan melakukan afiliasi dengan perusahaan bonafit lainnya untuk menambah pundi-pundi rupiah. Dan tugas Ben adalah memenangkan tender dan menyebarkan skandal sehingga saham perusahaan anjlok.

Dengan begitu, siapa yang peduli dengan wajah rupawan yang katanya gen unggulan itu? Karena jelas Suzy paham, orang-orang yang tersenyum di depan kita bukanlah wajah asli mereka. Mereka adalah sebuah pistol yang siap menempak jika kita melakukan kesalahan sedikit saja.

Tentu saja, Hanbin bukan yang termasuk golongan itu menurut Suzy. Hanbin dan Ben adalah salah dua orang kepercayaan Suzy, yang mengambil peranan penting dalam hidupnya. Kedua orang itu tidak pernah mencela wajahnya yang menyeramkan dulu, dan tidak pernah memuji wajahnya yang cantik sekarang. Menurut Hanbin dan Ben, Suzy adalah Suzy.

"Apakah ada kabar baik?"

Suzy tersadar, buru-buru melepas pandangnya dan menatap Myungsoo yang sedang fitting baju pengantin mereka. Dibantu beberapa asisten desainer yang kini menyibukkan diri dengan jas yang Myungsoo kenakan, pria itu malah menatap tunangannya melalui stand mirror di depannya dengan alis terangkat.

Suzy berdeham, "Tidak," katanya, kemudian mencari pengalihan. "Wow, kau tampan sekali memakai itu." tambahnya asal.

Menurut survey tidak hanya wanita yang senang dipuji, tetapi pria juga. Jadi, mungkin pujiannya yang tidak dari hati itu bisa membuat Myungsoo beralih membahas hal yang lain.

Myungsoo tersenyum. Lalu bergumam pelan, "Aku harap itu dari hatimu."

"Ya?"

Menggeleng pelan, Myungsoo melepaskan jas yang ia kenakan ketika asisten desainer memintanya untuk melepaskan jas itu. Myungsoo mengatakan jika jas-nya sudah pas dan baik. Setelah berbincang sebentar dengan si desainer, pria itu kemudian menghampiri Suzy.

"Kau lapar?"

Ya. Tapi aku ingin pulang dan menelusup pergi bersama Hanbin... Jawab Suzy dalam hati.

Hanbin sudah berjanji agar Suzy menemaninya menemukan hidden places di Seoul. Katanya, ada salah satu menu makanan enak yang memiliki cita rasa rumahan sekali.

"Ng, sebenarnya aku--"

"Kau ada acara lain?" Myungsoo menebak.

Wanita itu mengangguk.

"Dengan?"

"Aera." jawab Suzy setelah memikirkan nama siapa yang akan ia kambing hitamkan. Untung saja Suzy ingat bahwa Lucy pernah bertukar pesan dengan kontak nama Aera. Dan Suzy menduga pasti lewat bahasanya, bahwa wanita bernama Aera itu pastilah sahabat saudara kembarnya itu.

Memandang Suzy sesaat, Myungsoo kemudian merogoh HP-nya. "Aku akan meminta pada Aera supaya dia membatalkan janji kalian karena aku--"

"Tidak!" dengan spontan Suzy langsung mengambil HP Myungsoo yang hendak ia dekatkan pada cuping pria itu. Tapi, Suzy langsung sadar tentang tindakannya. Buru-buru ia menambahkan, "Maksudku, biar aku saja yang menelponnya. Ayo."

"Ke?"

"Makan. Aku lapar sekali." tukas Suzy seraya menggenggam jemari tangan kanan Myungsoo sambil menarik tubuh itu supaya mengikuti pergerakannya.

Myungsoo tersenyum kecil, memerhatikan tangannya yang berada dalam genggaman Suzy membuat senyum kecil itu berubah menjadi senyum lebar.

***

Alih-alih mengajak Suzy menyambangi restoran bintang lima, Myungsoo malah membawa Suzy ke sebuah resto kecil yang letaknya di daerah Donhwanmun 11da-gil, Seoul. Untuk menuju resto itu, mereka harus berjalan kaki karena letaknya yang melewati gang-gang sempit di antara rumah-rumah warga.

Suzy menatap jalan yang membentang di depannya. Suasana yang langsung melempar Suzy ke dalam pusaran masa kecilnya yang menyenangkan sebelum semua berubah menenggelamkannya. Bangunan-bangunan yang sama, suasana yang serupa. Suzy menoleh kaku, menatap satu dinding batu di dekat tempatnya berdiri yang kini sudah setengah ditutupi oleh rimbunnya tanaman merambat morning glory, tanpa sadar Suzy berjalan mendekat ke arah dinding batu itu.

Dan disana serpihan masa lalu nya berada. Sebuah gambar khas anak kecil, meskipun tampak sedikit memudar, namun rasa yang dituangkan dalam sebuah gambar itu jelaslah masih terasa. Suzy masih bisa melihat gambar keluarga cemara yang ia gambar ketika ia sedang bermain dengan beberapa anak-anak di taman bermain yang letaknya tak jauh dari sini.

Ini adalah daerah rumah lamanya!

Langkahnya mendadak mundur, napasnya tiba-tiba tercekat. Dengan kedua bola mata membeliak memandangi bukti masa lalu-nya, Suzy nyaris kehilangan pawang diri. Seperti grativasi bumi, kaki yang seketika kehilangan kekuatan untuk menahan beban tubuhnya itu meluruh, hampir saja tubuhnya menerpa kerasnya bumi ketika dengan kecepatan yang bahkan satuan detik tak mampu menghitung, seseorang telah menerima tubuhnya ke dalam sebuah pelukan.

Serangan itu kembali. Wajah Suzy pucat pasi, matanya menatap tanpa fokus dan mulai mencari-cari inhaler miliknya di dalam tas. Namun kesialam sepertinya berpihak, karena benda keramat itu masih berada dalam clutch yang dibawanya malam kemarin. Sementara pernapasannya kian tercekat, tiba-tiba Myungsoo membuka coatnya, melingkupi wajah serta tubuh Suzy dengancoat hitamnya dengan kedua tangan merengkuh wanita itu dalam pelukannya. Dalam bumi yang berdetak.

"Tenanglah, tenanglah. Kau baik-baik saja." bisik Myungsoo sehalus angin sambil mengeratkan pelukannya pada Suzy.

Suzy membuka coat yang melingkupinya dengan perasaan yang lebih membaik. Serangannya telah hilang, dan ia sedikit takjub karena tak membutuhkan inhaler yang menemaninya selama bertahun-tahun itu. Kedua mata Suzy langsung menemukan manik mata hitam nan tajam Myungsoo yang sedang menatapnya dengan pandangan yang tak terbaca.

Tamat riwayatku jika dia sampai ta--

"Kau sudah membaik, Lu?"

Suzy bernapas lega. Setidaknya Myungsoo masih menganggapnya sebagai Lucy. Bukan Suzy. Dan sekarang ia harus mulai mengarang cerita untuk alasan serangannya tadi.

Wanita dengan riasan jepit mutiara itu mengangguk. Lalu, pura-pura meringis, "Aku aneh ya?"

"Aneh kenapa?"

"Aku selalu mendadak seperti itu ketika perutku melilit karena belum makan." Suzy menatap melalui bulu mata kepada pria yang masih memeluknya. Saat ia hendak mengurai tangan kokoh itu, Myungsoo malah menariknya kembali ke dalam pelukan.

"H-hei, apa yang kaulakukan!?" tanya Suzy terkejut.

Namun Myungsoo diam. Diendusnya bahu itu dalam-dalam seraya tangannya yang mengusap lembut rambut bagian belakang Suzy. Ia tahu segalanya terasa berat, dan ia ingin menjaga wanita dalam pelukannya itu sepenuh jiwa. Kebodohannya dulu adalah karena tidak memperlihatkan cintanya secara benar hingga membuat kesalahpahaman dan berujung kehilangan.

Ia sempat putus asa, mencoba mengikhlaskan jikalau harus bersama dengan yang lain. Namun, saat mata itu kembali ditemukannya, pria itu tahu bahwa Tuhan telah memberinya kesempatan untuk menunjukkan perasaannya dengan cara yang benar.

---

"Kau menangis?"

"Bukan urusanmu!"

"Tunggu," anak perempuan kecil itu mengambil plester luka bergambar leaf dari dalam kantong celana pendeknya. Kemudian, ia berjongkok dan meniup pelan lutut lelaki kecil yang menangis di bawah prosotan dan memasangkan plester luka itu dengan cepat. Si bocah perempuan kecil itu mendongak, menatap anak laki-laki dengan senyuman yang sampai ke mata. "Kau bisa mati jika kehilangan banyak darah."

"Oi Bae! Ayo main lagi!" seruan dari seorang anak lain yang seumuran membuat bocah kecil itu menoleh.

Ia mengangguk, lalu kembali menatap anak kecil laki-laki tadi. Bocah perempuan dengan rambut diikat dua itu tersenyum sebelum pergi dari sana sambil berlari hingga membuat rambutnya yang bergoyang-goyang.

Meninggalkan anak laki-laki yang juga sedang terpana karena sebuah mata indah yang selalu turut tersenyum tiap kali bibir itu menyunggingkan senyum.

***

Sori ya kemaren ga update, sengaja biar kalian gak bosen aja tiap hari dpt update-an #wlee
Omong-omong, flipped mulai lagi abis cerita ini selesai aja ya, biar gak bingung (padahal authornya yg bingung)

HAHAHA.

Kira2 part selanjutnya bakal mulai eksekusi deh, secara ini ga bakal lebih dr 10chap jd supaya gak pance aja. Muahaha

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co