empatbelas.
"Dan satu lagi," Myungsoo mengeluarkan secarik foto dari dalam kantong celana, meletakkannya ke atas pangkuan Suzy. Menggeser tubuhnya sedikit menyerong menatap wanita di sampingnya dengan pandangan kelam. "Kau harus ceritakan padaku jika kau bertemu dengan orang ini, janji?"
"Dia siapa?" kepala Suzy tertunduk, memandang bingung pada foto di pangkuannya. Tangan Suzy bergerak mengambil secarik foto yang menampilkan sesosok pria sebaya dengannya. Fokus pria itu tidak sedang menatap ke lensa kamera tetapi perawakannya jelas disana. Tiba-tiba ada sesuatu terasa aneh di dalam dirinya. Suzy mengernyit tak suka, lantas mengalihkan pandangannya kepada Myungsoo. "Kenapa rasanya aneh ketika melihat foto ini. Apa aku mengenalnya?" tanya Suzy kembali.
Sesaat Myungsoo kehilangan kendali diri, namun segera berhasil dikuasai kembali kendalinya karena suara gemericik dari beberapa ikan yang melompat-lompat di danau yang menyentakkan kesadaran itu kembali. Myungsoo meraih jemari tangan kanan Suzy pelan, menggenggamnya seperti sedang memegang porselen nan mahal dan langka. "Dia adalah orang yang ingin merebutmu dariku."
"Maksudmu? Apa dia orang yang kusukai itu?"
"Bukan." Jawab Myungsoo cepat. Dia sama sekali tidak menyukai ketika Suzy mengatakan bahwa Hanbin adalah orang yang disukai istrinya. Karena pada kenyataannya adalah tidak. Tidak untuk segala alasan.
Embusan angin menerpa bulu halus di leher belakang Myungsoo yang telanjang, membuatnya sedikit menggigil, dan ia kembali mengeratkan genggaman tangannya ketika merasakan aliran kehangatan dari tangan Suzy kepadanya. Myungsoo kembali bicara, "Ada satu hal yang tidak bisa kuceritakan padamu. Tetapi percayalah, bahwa dia adalah orang jahat."
Meskipun ragu dan kepalanya masih dipenuhi tanda tanya besar, namun Suzy tetap mengangguk. Wanita itu mengukir senyuman kecil seraya melingkarkan tangannya pada tubuh Myungsoo; memeluknya.
"Aku akan mengatakan padamu jika bertemu dengannya."
"Janji?"
Suzy mengangguk. "Mm..."
Ada kelegaan dari dalam hati Myungsoo yang keluar ketika mendengar ucapan Suzy barusan. Setidaknya, dia telah meminimalisir pertemuan mendadak Hanbin dengan istrinya, karena jelas, setelah ultimatum yang diberikannya ia yakin bahwa jikalau takdir tidak memihak dan pertemuan itu terjadi, setidaknya Suzy akan segera lari dan menolak untuk mendekat pada sepupunya itu.
Keduanya beranjak masuk ketika angin terasa semakin menusuk tulang. Myungsoo melingkarkan lengannya pada pinggang Suzy, sementara wanita itu melakukan hal yang sama di pinggang Myungsoo dengan senyuman yang merekah-rekah di wajahnya. Pemandangan itu jelas menggelitik perasaan iri pada siapa saja yang melihat, dan kembali menjadi buah bibir di antara pelayan-pelayan dalam villa besar itu.
Suzy memberucutkan bibir dengan dahi menekuk dalam ketika melihat Myungsoo yang masih saja asik dengan laptop di atas meja, mengerjakan atau memeriksa apapun menggunakan laptop itu sementara ia diangguri sejak satu jam ke belakang.
Sengaja Suzy menghela napas keras-keras supaya Myungsoo mengalihkan perhatian, namun pria itu hanya melirik Suzy dan tersenyum meminta maaf sambil mengatakan, "Sebentar lagi pekerjaanku selesai. Ada yang harus kuperiksa untuk rapat esok."
Dan, kembali mengulang kalimat sakti itu tiap tiga puluh menit sekali.
Sebal, Suzy mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan menemukan televisi menggantung pada dinding di kamar hunian mereka. Kemarin, mereka sampai ke sini sudah malam dan ia sama sekali tidak tahu menahu karena ketika bangun tadi pagi, ia sudah menemukan dirinya di atas ranjang dengan suasana yang berbeda. Sementara pagi tadi Suzy langsung buru-buru pergi mandi karena Myungsoo yang menggodanya dan langsung turun ke bawah untuk sarapan.
Lama Suzy memerhatikan benda eletronik itu. Ia butuh hiburan karena matanya mulai mengantuk, tetapi jika ia menyetel televisi itu sekarang mungkin saja hal itu bisa mengganggu Myungsoo yang sedang bekerja. Karenanya, Suzy menyandarkan punggungnya pada sofa yang ia duduki dengan kerutan pada kening yang masih sama.
"Kalau kau ingin menonton tivi, tidak apa-apa. Nyalakan saja, sayang." Gumam Myungsoo.
Kepala Suzy spontan menoleh. Kemudian, bahunya kembali merosot ketika melihat Myungsoo yang masih fokus pada layar di depannya dengan jemari yang sesekali menari pada keyboard laptop itu. Ia lantas menggeleng, "Tidak, aku tidak ingin menonton."
Saat itulah Myungsoo benar-benar memusatkan pandangannya pada Suzy. Pria itu menjauhkan tangannya dari laptop, memautkannya di atas pangkuan sambil menatap redup wanita di sebelahnya. Ia sangat menyukai Suzy yang penurut dan tidak banyak menuntut, namun kenapa sekarang ia merindukan Suzy yang mendebatnya—meskipun kondisinya saat itu Suzy sedang menyamar sebagai Lucy—dan sikap enggan wanita itu tiap kali ia mengajaknya pergi ke suatu tempat ya?
Mungkin karena itulah ia semakin mencintai wanita ini. Karena kebencian dan penolakan Suzy itulah sehingga membuat Myungsoo semakin ingin menaklukannya.
"Aku senang jika kau mendebatku. Sungguh, aku tidak akan keberatan soal itu," Myungsoo mengusapkan ibu jarinya di pipi Suzy. "Aku senang jika kau menyuarakan pendapatmu alih-alih diam dan menjadi penurut."
"Bukankah seorang istri memang harus menjadi penurut?"
Myungsoo tersenyum kecil. Ia mengunci manik mata indah di depannya dengan lembut. "Begitu memang cara kerja sebuah pernikahan. Tetapi, tidak masalah jika kau mendebatku, mengatakan keinginanmu. Aku ingin kau menjadi dirimu sendiri, dengan hati yang selalu berjalan kepadaku."
Kemudian pandangan Myungsoo meredup, pria itu menundukkan kepalanya untuk menempelkan bibir mereka hingga getaran kimiawi di antara mereka semakin bereaksi. Menumpulkan pikiran, melumpuhkan persendian.
Melepaskan segala keputusasaan dan gairah dengan sebuah ciuman panas, Myungsoo menarik Suzy semakin mendekat kemudian menggendong Suzy menuju ke ranjang. Dilupakannya semua pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi penuhnya untuk sekarang, karena jelas apa yang telah terhidang di depannya adalah satu-satunya hal yang lebih penting dan menarik. Myungsoo menjatuhkan tubuh itu ke atas ranjang dengan pelan. Deru napasnya parau dan berat, pandangan mereka sama-sama kabur menatap satu sama lain dengan keinginan untuk memiliki yang sama besarnya.
"Hanya kau yang bisa membuatku seperti ini, Suzy." Ujar Myungsoo serak sambil menyisingkan helaian rambut yang menutupi wajah sang istri.
Kemudian, mereka kembali terlibat dalam pertempuran yang menyenangkan, penuh keringat dan suara yang khas. Dan baru berhenti saat keduanya benar-benar merasa lelah, hingga kantuk membawa mereka tertidur pulas menyusuri alam mimpi yang menenangkan jiwa.
Menunggu hingga sang fajar datang dan suara kicauan burung membangunkan keduanya dari mimpi indah itu.
***
Suzy terbangun dengan kehangatan dan perasaan aman yang menyelimuti. Seraya berjuang untuk menembus selubung awan tidur yang melingkupi, samar pandangannya mendapati kulit putih bersih Myungsoo yang melingkari tubuhnya. Memeluknya.
Wajah Suzy sontak memerah ketika menyadari bahwa ia telah menghabiskan sepanjang malam dengan Myungsoo. Tidak hanya tidur, tetapi lebih dari itu.
Suzy tahu ini pasti bukan yang pertama untuknya—karena ia dan Myungsoo sudah menjadi sepasang suami istri dan jelas tidak ada rasa sakit saat mereka sampai pada tujuan—tetapi tetap saja membayangkan itu kembali rasanya benar-benar membuat malu. Apalagi, sekarang Suzy bisa merasakan kalau di balik selimut yang menutupi tubuh mereka tidak ada sehelai benangpun yang menghalangi. Ia menelan saliva gugup, berusaha melepaskan pelukan Myungsoo agar dirinya bisa ke kamar mandi sehingga pada saat pria itu terbangun nanti, dirinya sudah dibalut oleh pakaian dan tidak dalam keadaan seperti ini.
Namun, sepertinya keinginan Suzy harus pupus ketika Myungsoo malah semakin mengeratkan pelukannya, meringkuk dan menduselkan kepalanya di antara lekukan leher dan bahu Suzy.
"Kau sudah bangun?" suara serak Myungsoo terdengar masih dengan kedua mata terpejam.
"Mm," gumam Suzy dengan wajah memerah dan tubuhnya yang kaku tak bergerak. Suzy menggigit bibir bawahnya pelan, dengan ragu ia kembali bersuara. "Aku... ingin ke kamar mandi."
"Ini masih malam, channie," Myungsoo semakin menelusupkan kepalanya, mencari kehangatan. "Ayo kita tidur lagi, semalam kau pasti sangat lelah."
Ya ampun, apakah mulut Myungsoo memang seperti ini? pikir Suzy. Kemudian, ia kembali mencoba peruntungan. Lagipula, mana mungkin dia bisa tidur kembali disaat kepalanya mulai di selubungi gambaran-gambaran tentang kejadian malam tadi. Astaga!
"Myungsoo, ini sudah jam lima pagi. Dan aku harus mandi, aku ingin membuat sarapan untukmu." Ucap Suzy.
Dan sepertinya kalimat itu berpengaruh besar karena pria itu langsung menjauhkan kepalanya. Dengan pandangan yang masih setengah buram karena belum sadar sepenuhnya, Myungsoo mengurai pelukan mereka.
"Aku sebenarnya tidak masalah memakan makanan buatan pelayan-pelayan itu, tetapi kau serius ingin membuatkan sarapan pagi untukku?"
Suzy mengangguk. Senyumnya terbit, namun pupus beberapa detik kemudian. "Apa aku bisa memasak?"
Dia benar-benar tidak mengingatnya. Rasanya tidak lucu jika ternyata ia tidak pandai memasak, dan sok percaya diri dia mengatakan ingin membuat sarapan pagi. Sesaat ia kembali menyesali ucapannya. Ia sama sekali tidak berpikir panjang tadi, dan kalau dapur villa ini menjadi hancur karena ternyata ia tidak mampu mengolah bahan mentah menjadi sebuah makanan lezat—maka ia harus menguburkan wajahnya di bantal untuk beberapa waktu ke depan.
"Kenapa tidak kau coba saja?"
"Aku tidak mungkin mencobanya kalau ternyata aku tidak pandai memasak." Suzy mendengus.
"Kau akan tahu bahwa kau bisa atau tidak memasak hanya dengan mencobanya, Suzy." Tukas Myungsoo santai.
Myungsoo benar. Tetapi, Suzy tetap bergeming. Lalu menggeleng, "Tidak. Aku tidak akan jadi memasak. Dapur villa ini akan hancur kalau ternyata skill-ku kosong."
"Aku bisa membenarkan dapur ini hanya dengan satu perintah."
Suzy berdecak, melirik pria yang berbaring di sebelahnya ini dengan kesal. Bisa-bisanya disaat ia sedang serius, pria ini malah menjawabnya dengan bercanda. "Kau menjengkelkan."
Myungsoo tertawa. Kemudian menarik Suzy ke dalam pelukannya dan memberikan kecupan hangat di dahi wanita itu. "Aku senang melihat ekspresi wajahmu yang satu ini."
"Apa?"
Tatapan hangat Myungsoo kembali terpancar. "Masakanmu sangat lezat. Dan semua yang kaubuat adalah menu favoritku."
"Kau tidak berbohong?"
Myungsoo mengangkat alis. "Aku sangat sensitif soal makanan, dan aku jujur soal apa yang kukatakan padamu. Kau adalah chef favoritku."
Mendengar penuturan Myungsoo membuat Suzy tersenyum kecil. "Kalau gitu aku akan membuatkan sarapan untukmu." Ucapnya seraya menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Suzy melingkarkan selimut itu, membawanya masuk sampai ke dalam toilet.
***
Myungsoo menatap dengan raut wajah tak suka ketika melihat Hyun, dan seluruh pegawai juga para pelayan di villa yang sedang duduk di atas meja makan panjang—terpisah dengan ia dan Suzy—dengan wajah bahagia menyantap makanan yang tersaji di atas meja.
Tiga belas menu olahan rumah dengan resep yang Suzy cari dari internet tersuguh nampak menggiurkan untuk di santap. Myungsoo mengalihkan pandangan, menatap wanita yang duduk di seberangnya yang kini sedang mengambilkan semangkuk nasi untuknya dengan senyuman bahagia. Bukan senyuman itu yang membuatnya kesal, tetapi fakta karena ternyata tidak hanya ia yang menikmati masakan wanita itulah yang membuatnya kesal.
"Kau mengatakan kalau kau akan memasakkan sarapan untukku." Myungsoo mendengus, dan mulai menyantap sarapannya.
"Aku memang memasakkan sarapan untukmu." Jawab Suzy. Wanita dengan bandana lilit biru dongker dengan garis-garis hitam vertikal itu meraih segelas air tawar, menegak isinya, sebelum ia ikut menyantap sarapannya. "Apakah enak?"
"Enak. Kau tidak mengatakan kalau kau akan memasakkan mereka juga." Myungsoo mengambil kimchi dan melahapnya.
"Memangnya salah? Lagipula mereka pegawaimu, dan akan bekerja pagi sama sepertimu."
Itu benar. Tetapi, fakta kalau masakan Suzy ikut dinikmati oleh orang lain adalah hal yang tidak menyenangkan.
"Staf dapur akan membuatkan sarapan untuk mereka. Lagipula, mereka tidak makan di sini, Suzy. Mereka sudah memiliki dapur sendiri di rumah tinggal sebelah villa ini."
"Jadi aku tidak boleh memasak untuk mereka juga?" raut wajah Suzy berubah muram. Dengan sedih, ia meletakkan sumpit yang ia pegang ke atas serbet di dekat mangkuk nasinya. "Kau bilang aku bisa melakukan apapun yang kuinginkan. Tetapi baru sekali ini, dan ternyata aku malah membuatmu kesal..."
"Tidak, bukan begitu," Myungsoo mengurut pangkal hidungnya. Nampak bingung menjelaskan perihal kecemburuan yang merasukinya. Akhirnya, ia mengalah. "Maaf, aku bukannya tidak senang. Aku senang kau memasakkan makanan untuk pegawaiku juga. Sudah, ayo kita kembali makan ya?"
Suzy tersenyum dan mengangguk. "Aku akan sering-sering membuat sarapan kalau begitu. Aku senang karena pegawaimu sangat menikmati masakanku. Rasanya, ini kali pertama melihat orang lain menyukai apa yang kuperbuat. Sungguh menghangatkan."
***
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co