limabelas.
JANGAN MINTA MOMEEEENT. NIKMATIN AJA CERITANYA, OKEY:(
SELAMAT AKHIR PEKAN GAIS!
***
Hanbin melangkah cepat menuju ruangan Yena ketika mendapati empat orang pria berbadan tegap berdiri menjaga pintu di ruangan 304. Dua hari ia tidak mengunjungi Lucy karena sibuk melucuti segala perasaan bersalah akibat tidak bisa menjaga Suzy hingga berakhir dengan kejadian seperti sekarang membuat pria itu sedikit tidak mengerti akan situasinya saat ini.
Namun, ditilik dari keempat pria besar berpakaian hitam dengan badge 'MS' di lengan kanan pakaian mereka sudah bisa disimpulkan oleh Hanbin kalau keempat orang itu merupakan orang suruhan Myungsoo. Entah karena apa Myungsoo menyuruh orang untuk menjaga kamar itu padahal pria itu sendiri yang merusak Lucy hingga seperti sekarang.
Hanbin mendengus sinis. Pria itu segera membuka pintu putih yang setelah mengetuk pintu itu tiga kali, dan menemukan Yena sedang menerima keluhan dari pasiennya. Wanita itu mendongak, sedikit terkejut melihat Hanbin sudah berada di ruangannya, namun segera mengangguk ketika Hanbin dengan gerakan tangan tanpa suara mengatakan kalau ia akan menunggu dipojok ruangan.
Sementara menunggu Yena menyelesaikan tugasnya, ekspresi Hanbin tanpa sadar kembali muram, matanya yang biasa memancari semangat seolah meredup dan tak terlihat lagi disana. Hanbin benar-benar hampir putus asa dua hari mencari Suzy dan ia sama sekali tidak menemukan secuil jejak yang ditinggali, seolah Suzy dan pria itu lenyap. Bahkan, ketika ia coba melacak ke kediaman Myungsoo dia tidak mendapati siapapun disana. Pelayan-pelayan yang bertugas di rumah itu dipensiunkan, dan sudah memencar pulang ke desa mereka masing-masing dengan uang pesangon yang bisa digunakan untuk membiayai sandang dan pangan mereka untuk dua puluh tahunan ke depan.
"Apa yang membawamu kemari setelah berhari-hari tidak bisa kuhubungi?" suara merdu Yena membawa Hanbin kembali ke dalam realita.
Pria itu mendongak, dan menemukan senyuman ramah Yena disana. Tak urung, Hanbin membalas senyuman itu meskipun tahu kalau senyumannya malah terkesan seperti dipaksakan. Ia menarik napas, dan bersandar punggung. "Kau tidak memberitahu padaku jika ada orang-orang yang menjaga kamar Lucy?"
"Bagaimana aku akan memberitahumu jika nomormu saja tidak bisa kuhubungi," Yena memutar bola mata, wanita itu lantas mengambil tempat pada kursi panjang yang sama dengan yang diduduki Hanbin. "Kau baik-baik saja?" ada kekhawatiran terselip di suara Yena.
Hanbin tersenyum masam. "Jika kau bertanya soal tubuhku, maka aku baik-baik saja."
Mengamati selama beberapa detik, Yena memilih bungkam. Pria ini jelas tahu jika ia tidak sedang mempertanyakan kondisi tubuhnya, melainkan keadaannya pasca telepon tak disangka waktu itu.
"Kau tahu aku tidak sedang membahas kesehatanmu, Hanbin." Tidak ada senyuman di wajah Yena. Namun ia tahu Hanbin pun tidak mungkin menceritakan apa yang sedang bergelayut dipikiran pria itu. Hanbin adalah tipikal pria yang lebih memilih menyimpan perasaannya, bukannya membagikannya.
Terdengar helaan napas berat sebelum Hanbin kembali bersuara. "Apa kabar Lucy?"
"Dia baik. Kau tahu orang-orang menyangka bahwa dia gila, namun kurasa dia hanya sedikit depresi karena kejadian yang menimpanya. Sejak kemarin, Lucy bahkan mau kuajak bicara walaupun hanya sepatah dua patah kata," ucap Yena. Wanita itu menatap Hanbin semakin dalam dan melanjutkan, "Dia bertanya soal keluarganya."
"Lalu?"
"Kau tahu rumah sakit ini masuk dalam pengawasan manajemen atas, dan bagi siapapun yang menghubungi keluarganya maka akan tamat saat itu juga."
Hanbin menghela napas lega, "Jangan katakan apapun. Aku tidak ingin Suzy terluka jika orangtua-nya tahu kalau selama ini mereka telah dibohongi."
Yena mengangguk. "Well, aku juga tidak berniat mencampuri urusan orang lain."
Hanbin menyunggingkan senyum karena ucapan Yena. Begitulah wanita itu, dia tidak senang mencampuri urusan orang lain—tidak seperti kebanyakan wanita yang dikenalnya—dan sama sekali menjaga privasi sesama. Mungkin karena itu juga ia dan Yena bisa berteman akrab, karena wanita itu tidak ribet dan drama.
Karena tidak mungkin bagi Hanbin untuk menemui Lucy—disamping itu ia juga sudah mengetahui kabar saudara kembar Suzy itu, akhirnya dia menepuk kedua pahanya sebelum beranjak berdiri. Hanbin tersenyum, menatap arloji ditangannya sebentar sebelum kembali menatap Yena. "Sepertinya aku harus pergi."
"Kau masih belum menemukan Suzy?"
"Aku akan segera menemukannya. Ini hanya soal waktu." tukas Hanbin. Ia tidak mau mengatakan 'belum' atau 'tidak' untuk apa yang sedang ia usahakan. Karena kepastian hanya milik semesta, dan ia yakin bahwa semesta akan segera memberikan kepastian itu kepadanya.
Dengan langkah terkordinasi Hanbin berjalan keluar ruangan. Pikirannya melayang-layang memikirkan distrik mana lagi yang harus disisirnya kali ini, karena ia jalan sendiri—tidak mungkin menghubungi polisi—dan hanya mengandalkan maps. Juga orang kepercayaannya yang masih terus mencoba melacak ponsel Suzy melalui sinyal. Meskipun harapannya setipis selendang pengantin, karena jelas Myungsoo pasti telah membuang ponsel itu jauh ke dalam lautan atau hutan.
***
Ini benar-benar membosankan. Setelah menghabiskan banyak waktu di perpustakaan untuk membaca buku, kemudian menonton televisi selama dua jam, lalu turun ke bawah untuk menghirup udara di taman belakang, mengobrol dengan kepala pelayan—sampai Suzy bisa membuat satu lembar portofolio kepala pelayan itu—dan sekarang ia sudah sampai pada fase bosan yang paling atas.
Suzy berpikir, apakah yang dia lakukan sepanjang hidupnya sebelum ia hilang ingatan, apakah ia melakukan kegiatan membosankan ini? ataukah, ia melakukan hal yang menyenangkan? Tetapi pertanyaan itu tidak akan bisa dijawabnya, dijawab para pengawalnya, ataupun dijawab para pelayannya. Satu-satunya yang bisa menceritakan kisah hidup dirinya terdahulu adalah Myungsoo. Dan pria itu kini sedang di kantornya.
Suzy berdecak, kemudian mendorong tubuhnya untuk bangun dari posisi duduknya, mengambil langkah keluar ketika melihat bibi Pyo sedang berbicara pada salah satu pegawai pria di teras depan. Langkahnya cepat ketika melihat kepala pelayan itu sudah selesai dari pembicaraannya dengan pegawai pria dan kini nampak melangkah ke arah pagar. Suzy buru-buru menyejajari langkah wanita setengah baya itu,
"Bibi Pyo!" panggilnya ketika langkahnya hampir sampai. Ia menetralkan napasnya ketika kepala pelayan itu menoleh ke belakang dan nampak terkejut. Diukirnya senyuman kecil dan kembali bersuara. "Kau hendak kemana?"
"Aku harus berbelanja bahan makanan dan beberapa sayuran. Ada yang bisa kubantu, nyonya?"
Suzy kembali berdecak malas ketika mendengar bibi Pyo kembali memanggilnya dengan sebutan 'nyonya', rasanya tidak nyaman ketika seorang yang lebih tua daripada kita malah memanggil dengan panggilan seperti itu alih-alih nama saja. "Kau bisa memanggilku Suzy saja, bi. Sudah kukatakan puluhan kali," katanya. Dan menambahkan, "Bisakah aku ikut berbelanja?"
"Aku hanya tidak nyaman jika memanggilmu dengan nama, sementara kau adalah istri dari tuan Myungsoo."
Suzy menghela napas. "Aku juga sama tidak nyamannya ketika dipanggil dengan panggilan begitu. Atau begini saja, bibi bisa memanggilku seperti itu jika ada suamiku. Sementara, bibi bisa bersikap santai ketika kita hanya berdua seperti ini. oke?"
Bibi menukas senyum. "Baiklah, Suzy?"
"Ya, Suzy." Setuju Suzy dengan riang. "Jadi, apa boleh aku ikut berbelanja?"
"Kau ingin membeli apa, biar aku yang membelikannya saja. Tuan Myungsoo bisa marah jika tahu istrinya keluar dari villa tanpa sepengetahuannya..."
"Memangnya aku tahanan?" bibir Suzy mencebik ke bawah, menatap nanar pada aksen bunga di sendal yang ia pakai. "Aku hanya ingin berjalan-jalan karena bosan di dalam villa ini saja."
Jiwa keibuan kepala pelayan itu nampak teriris ketika melihat raut wajah sedu wanita muda di depannya. Ia bisa merasakan kebosanan yang dirasakan oleh Suzy karena jelas wanita itu selalu di dalam villa sepanjang hari. Akhirnya bibi Pyo mengangguk dan membuat Suzy tersenyum senang. Keduanya lantas berjalan menuju mobil pribadi yang terparkir di garasi yang terpisah dengan bangunan villa, dan masuk ke dalamnya.
***
Kedua mata Suzy benar-benar dimanjakan oleh apa yang kini tersuguh di depannya. Street food nampak berbaris rapi dengan beberapa pedagang yang berteriak kencang plus cepat untuk menawarkan dagangan mereka. Wajahnya semringah menatap jajanan-jajanan yang terlihat mengiurkan di depannya dan tanpa sadar ia melompat kecil. Ada satu hal yang Suzy tahu setelah ia hilang ingatan, bahwa pasti dirinya yang dulu sangat mencintai makanan. Kepalanya menoleh ke samping, memandang bibi Pyo yang sedang mengambil beberapa lobak dan wortel memasukkannya ke keranjang bawaan lalu menoleh, "Bibi Pyo?" panggilnya.
Suzy sama sekali tidak membawa uang—dan ia sangsi kalau dia memiliki uang karena ia bahkan tidak pernah melihat dompetnya—tetapi keinginannya untuk mencicipi olahan-olahan itu sangat kuat dan sulit di bendung.
"Kau ingin membeli sesuatu nyonya—maksudku, Suzy?" tanya Bibi Pyo setelah membayar belanjaannya.
"Apakah bibi masih lama?"
Wanita setengah baya itu mengangguk. "Masih banyak yang harus dibeli. Dan aku juga harus menunggu penjual kerang abalon segar, biasanya mereka sampai di pasar ini jam empat sore. Nyonya—emm maksudku Suzy, apa kau ingin melihat atau membeli sesuatu?"
"Ya!" Suzy mengangguk antusias. "Aku ingin mencicipi street food itu, tetapi aku tidak membawa uang."
Dengan senyum khas keibuan, bibi Pyo mengeluarkan sebuah dompet kecil berwarna ungu muda dari dalam tas yang dibawanya. Kemudian mengulurkan dompet itu kepada Suzy. Suzy menerima dompet itu dengan pandangan bingung.
"Sejak kemarin Hyun memberikan dompet itu padaku, katanya itu khusus untuk membeli keperluanmu. Diperintahkan langsung oleh tuan Myungsoo."
"Ya ampun, kenapa dia tidak memberikan langsung padaku, alih-alih kepadamu. Dasar pria aneh!" gerutu Suzy namun tetap memancarka seulas senyum dengan raut bahagia.
Suzy membuka dompet kecil itu dan kedua alisnya bertaut ketika melihat isi di dalamnya. "Mwoya, kartu semua?" keluhnya bergumam pelan. "Apakah kedai-kedai itu menerima pembayaran menggunakan kartu kredit atau debit..."
Kesenangannya yang semula hadir perlahan surut ketika mendapati isi dari dompet itu hanyalah beberapa kartu dari berbagai bank. Dia membutuhkan uang tunai sekarang, dengan wajah kesal akhirnya Suzy membawa dompet itu ke dalam kantong. Lalu, kembali menatap bibi Pyo yang nampak sedang memerhatikan daftar belanjaannya pada secarik kertas yang ia pegang.
"Bibi, aku akan melihat-lihat kesana siapa tahu ada kedai yang bisa membayar selain menggunakan uang tunai. Kita bertemu ditempat ini lagi saja ya?"
"Kau yakin berani sendirian? Ini bukan daerahmu, bagaimana kalau—"
"Aku tidak akan tersesat di sebuah pasar, bi." Suzy memotong cepat. Membuat bibi Pyo akhirnya mengangguk dan mereka berpisah jalan mulai sekarang.
Suzy mengambil langkah santai menyusuri jalan-jalan kecil yang di sepanjang kanan dan kirinya terdapat penjual makanan-makanan lezat. Wanita itu akan berhenti pada setiap kedai yang dilihatnya memiliki mesin gesek dan tersenyum sabar menunggu hingga makanan yang di pesannya datang. Kemudian, ia kembali menyusuri satu demi satu penjual makanan yang membuatnya penasaran. Kedua matanya membeliak ketika melihat odeng dengan kuah yang menguap di panci besar dan beberapa orang tengah mengantri untuk membeli itu, tanpa berpikir panjang Suzy langsung berjalan menuju penjual odeng itu dan ikut mengantri.
"Ahjumma, aku ingin tiga. Tolong?" ucap Suzy ketika ia sampai di depan.
Si penjual itu segera mengangguk dan memberikan tiga tusuk odeng kepada Suzy diletakkan di satu cup berisi kuah kaldu. Suzy langsung melahap odeng itu dengan ekspresi penasaran.
Kedua matanya membeliak ketika merasakan rasa odeng untuk pertama kalinya. Ia mendesah kenikmatan, "Woah, kupikir serial drama itu hanya melebih-lebihkan menikmati makanan ini dengan sangat lahap. Ternyata memang selezat itu! astaga!"
"Ahjumma, aku minta dua tusuk."
Sambil tetap fokus memakan odeng miliknya, Suzy mendengar ada suara lain yang memesan. Ia langsung tersadar kalau ia masih berdiri di tempatnya dan merusak antrean. Dengan buru-buru, Suzy membuang tusukan odengnya yang telah tandas ke dalam kotak sampah, lalu hendak melangkah pergi. Namun, suara ahjumma kembali terdengar, menyuruhnya untuk membayar.
Suzy mengerutu pelan ketika ia melupakan yang satu itu. sambil meminta maaf, wanita itu merogoh dompet yang ada di kantong kardigannya dan mengeluarkan sebuah kartu dari dalamnya.
"Maaf, aku lupa. Maafkan aku." Suzy menunduk meminta maaf.
"Nona, kau harus membayar dengan uang tunai. Kami tidak melayani kartu kredit atau debit." Kata si penjual.
Tamat riwayatku! Pikir Suzy. Dengan kaku, Suzy kembali menatap penjual yang nampak tidak senang karena Suzy memberikan kartu alih-alih uang tunai kepadanya.
"Aku tidak memiliki uang..." gumam Suzy pelan.
"Dasar orang kaya! Kau pikir segalanya akan menjadi mudah hanya dengan satu gesekan? Membeli odeng saja perlu menggunakan kartu sakti!"
"Aku yang akan membayar punyanya dan punyaku." Seseorang yang berdiri di samping berkata. "Berapa semua?"
"5000 won."
Kemudian pria itu mengulurkan uang pas kepada si penjual. Setelah mengucapkan terima kasih, lalu dengan deru napas pendek dan jantung yang berdetak cepat dia menoleh. Mendapati mata milik Suzy menatapnya dengan tatapan terima kasih.
"Terima kasih, aku akan mengganti uang—"
"Suzy..." gumam pria itu parau.
"Ya? Kau mengenalku?" Suzy memerhatikan wajah pria itu dengan ekspresi bingung. Mendadak, dia seperti pernah melihat wajah itu. Lama dipikirnya dimana ia pernah menemui atau melihat pria penolongnya hari ini.
"Dia adalah orang jahat..." suara penjelasan dari Myungsoo serta secarik foto yang dilihatnya sore itu tiba-tiba merengsek masuk ke pikirannya. Suzy membeliakkan mata dengan jantung berpacu cepat, langkahnya tiba-tiba mundur defensif.
"Aku Hanbin, Suzy. Aku Hanbin." Ada kesedihan dari suara Hanbin ketika melihat sikap waspada Suzy terhadapnya. Ia yakin seratus persen kalau Myungsoo telah mengatakan sesuatu hal yang salah kepada wanita di hadapannya ini hingga membuat wanita itu bersikap defensif seperti sekarang.
***
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co