enam.
"Selamat untuk kita, akhirnya keluarga kita bisa bersatu melalui pernikahan anak-anak kita. Hohoho!" Bae Shijin mengacungkan gelas kaca berisi red wine ke udara, membuat kerumunan yang sedang berbahagia itu mengikuti. "Cheers!" serunya sambil menggoyangkan gelas kaca itu pelan.
"Selamat untuk kita," ucap ayahanda Myungsoo. Kemudian menatap pasutri baru yang tengah berbahagia di antara mereka. Senyumannya tulus nan menghangatkan. "Hiduplah dengan bahagia, nak." ucap ayah Myungsoo sambil memeluk menantu barunya.
Kedua tangan Suzy mengepal, untuk kali pertama dalam hidupnya ia mendengar sebuah kalimat seperti itu yang diperuntukkan untuknya. Tatapan mata ayah Myungsoo saat menatapnya, membuat Suzy tahu kalau pria setengah baya itu serius dalam ucapannya. Tak ada kemunafikan di dalamnya.
Sekejab, perasaan bersalah kembali menyekapnya. Orang-orang yang tak tahu apapun akan ikut menjadi korban. Pria ini baik, dan tentu tidak tahu apa-apa. Belum lagi semua staf pegawai di perusahaan yang juga termasuk golongan orang baik.
"Maafkan aku," akhirnya kalimat itulah yang keluar dari mulutnya.
"Kenapa kau meminta maaf?" pria itu mengurai pelukannya. Ditatapnya Suzy dengan wajah bersahaja. "Pokoknya kau harus katakan padaku jika semisal anak ini...," ia melirik Myungsoo sambil menepuk lengan sang anak yang kini tingginya sudah melebihinya itu, lalu melanjutkan. "sampai menyakitimu. Maka aku akan langsung membuang namanya dari daftar warisan."
"Ayah!" seruan Myungsoo membuat semua yang ada disana tertawa. Kecuali satu orang yang terus membubuhkan tatapannya kepada Suzy.
"Kalau Myungsoo tidak mendapatkan warisanmu, maka mungkin aku akan mencari pria kaya lain dan bercerai darinya." suara Suzy langsung membuat seisi ruangan hening.
Segalanya saling tatap dan salah tingkah. Kemudian suara bibi Nara, memecahkan keheningan dengan suara tawa yang dipaksakan. "Omo, Lucy sayang, pulang dari Jeju kau jadi humoris ya? Omo, omo, ponakanku yang paling cantik ini. Ahaha,"
Membuat semua yang disana kemudian ikut tertawa. Masih sama; tawa yang dipaksakan.
Suzy tersenyum sinis tanpa kentara. Lalu, mimik wajahnya kembali di setel seperti semula. Ditatapnya keseluruhan wajah yang saling pandang salah tingkah itu, kemudian kedua tangannya mengampit lengan Myungsoo dengan manja dengan kepala menyandar pada pundak pria yang menjadi suaminya itu, "Aku tidak mungkin bercerai dengannya, ayah dan ibu tahu kalau aku sangat mencintai Myungsoo 'kan?"
Ibu mengangguk. "Tentu saja. Makanya kami mengabulkan permintaanmu sebagai hadiah di ulangtahun tahun kemarin."
"Selamat ulang tahun, anak ayah dan ibu yang paling cantik!" ayah dan ibu mencium kedua pipi Suzy bersamaan. Kemudian keduanya beralih menatap Lucy, dan gantian memeluk satu anaknya yang lain itu. "Selamat ulang tahun, sayang!"
Ruang keluarga yang sekarang di dekor dengan balon-balon dan aksesoris lain yang sebagai pelengkap perayaan ulang tahun bersama dengan kue tart yang diletakkan pada meja kecil di depan kedua anak kembar keluarga itu.
Suzy tersenyum senang. Bersama Lucy, keduanya saling membuka kado yang diberikan ayah dan ibu mereka bersamaan.
"Woah, buku komik series limited edition?!" Lucy memekik riang menatap tumpukan buku di dalam box kadonya. Senyuman terukir di wajahnya, "Terima kasih, ayah, ibu."
"Sama-sama." Shijin mengusap puncak kepala Lucy sekilas.
Kemudian matanya memandangi anak lain yang sedang berkerut heran melihat isi box nya. Membuat pasutri itu saling menukar pandang dengan senyuman tertahan.
"Apa ini? Hanya kertas dengan tulisan 'Ruang 01'?" Suzy cemberut, menatap kedua orang tuanya dengan bingung.
Kedua orang dewasa itu tersenyum. Menundukkan tubuh mereka sama-sama agar sejajar dengan anak yang sangat dibanggakan itu. "Hadiahmu ada di ruangan bernomor itu." ucap ibu sambil menjawil ujung hidung puterinya.
"Temukan ruangan itu di rumah ini." ayah tersenyum lebar menambahkan.
Kedua mata bundar yang selalu tersenyum itu membulat. "Jinjaa?"
Kedua orang tua Suzy mengangguk. "Carilah pintu bernomor itu."
"Asik!" pekiknya riang. Lalu tanpa menunggu lama gadis itu berlari lakang putang mencari pintu yang dimaksudkan.
Ketika keluarganya itu saling mengikuti dari belakang. Senyuman ayah dan ibu tak sirna di wajah mereka. Sedangkan Lucy yang juga penasaran, berubah kesal ketika lagi-lagi saudara kembarnya mampu membuat orangtua mereka tersenyum seperti ini.
Kekesalan Lucy semakin menjadi ketika Suzy membuka pintu dengan nomor 01 itu. Matanya ikut melihat ke dalamnya dan menemukan hal super indah di dalam sana.
"Woah, studio dance?!" Suzy memekik senang sambil lompat-lompat. Kedua tangannya merepal di depan dada, sedangkan kakinya melangkah mengelilingi isi ruangan itu. Begitu lengkap dan... Super keren!
"Kau senang?" tanya ibu, membuat Suzy mengangguk. "Tentu saja! Terima kasih ibu, ayah."
"Sama-sama anak kebanggaan kami. Jadi kau akan semakin hebat dalam menari. Bakat yang perlu diasah agar karir modellingmu semakin bersinar. Karena, semua bisa berjalan di catwalk, tetapi hanya sebagian yang memiliki bakat penunjang." ucap Ayah sambil mengelus puncak kepala Suzy.
Tangan Suzy langsung bergetar ketika kilas balik kembali menembak pikirannya. Tubuhnya menegang, dan pelukan tangannya pada lengan Myungsoo perlahan terlepas. Ini adalah malam private party, dan ini adalah babak yang baru saja akan dimulainya. Tetapi ketika ia mulai merasakan kalau serangannya akan kembali, Suzy langsung menatap Hanbin yang sejak tadi mengawasinya.
Hanbin yang menyadari hal itu, langsung mencari cara untuk membantu Suzy, namun keluarga ini tidak tahu kalau mereka bersahabat. Sehingga tidak mungkin untuknya menolong terang-terangan.
Disaat Hanbin masih berpikir apa yang harus ia lakukan. Myungsoo juga menyadari perubahan wanita disebelahnya. Rahangnya mengerat, menoleh menatap Suzy yang kini menunduk dengan wajah pucat. Dengan gerakan impulsif Myungsoo langsung mengambil lengan Suzy dan menariknya dalam pelukan. Menenggelamkan kepala itu ke dalam dadanya; memeluknya erat.
"I love you more, sweetheart. I love you more." dengan dada berdetak cepat.
"Aigoo, Myungsoo tahanlah, kau harusnya tidak bersikap romantis seperti itu di muka umum." bibi Nara terkekeh melihat kedua anak manusia yang tengah menjadi pusat perhatian malam ini.
Myungsoo tak mendengarkan, pikirannya kini terfokus pada wanita dalam pelukannya. Tubuhnya ikut menegang, namun ketika merasakan tubuh yang ia peluk itu sudah lebih rileks dan napasnya yang teratur. Myungsoo diam-diam menghela napas lega. Dikecupnya puncak kepala Suzy perlahan. "Aku sungguh mencintaimu." bisiknya sehalus angin.
***
"TIDAK MUNGKIN!" Lucy berteriak keras menatap televisi di depannya yang sedang menayangkan pemberitaan mengenai pernikahan anak dari keluarga chaebol di negeri ini. Pandangannya buram, kedua tangannya meremas rambut geram.
Nama yang tertera adalah namanya, tetapi jelas orang yang ada disana bukan dirinya. Dia ada diruangan ini, di sekap dan keluarganya bahkan tak mencari... Ini sudah direncanakan!
Jantung Lucy berdebar ketika satu nama muncul di kepalanya.
Suzy...
"Sialan, apa dia sudah merencanakan semua ini!?" pertanyaan yang ia tunjukkan untuk dirinya sendiri.
Dengan perasaan yang tersulut emosi, ketakutan, dan merasa di khianati, Lucy berdiri. Dimatikannya televisi itu dan menatap ke sekeliling. Mencari sesuatu yang ia butuhkan untuk membuka pintu yang menguncinya ini. Desahan lolos dari bibirnya ketika ia tidak menemukan satupun alat untuk membuka pintu itu. Tanpa gentar, Lucy berjalan ke arah pintu dengan sedikit menunduk ia membawa satu matanya mengintip melalui lubang kunci. Perlahan, senyuman Lucy timbul kembali saat secercah harapan untuk kabur terpampang di depannya.
Lucy mendongak, mengambil jepit besi serupa lidi dari rambutnya dan mulai memeraktekkan hal yang pernah ia baca dalam komik favoritnya. Sebelumnya, ia membawa kertas putih yang ia temukan di dalam laci meja kecil itu hingga sebagian berada di antara daun pintu bagian luar dan dalam.
"Yes!" pekik Lucy. Dengan perlahan ia mulai menarik kertasnya dan... Hap!
"Tamat kau, jalang!" desis Lucy ketika telah memegang kunci itu dalam genggaman.
***
"Kau yakin dia tidak mengetahui sesuatu?" Hanbin bertanya tanpa prolog ketika ia memiliki kesempatan menemui Suzy. Mereka sedang dalam perjalanan menuju tempat penyekapan Lucy.
Suzy tak bisa lebih bersyukur karena Myungsoo harus melakukan perjalanan bisnis pagi tadi dan baru pulang sore nanti. Dia benar-benar belum bisa mengontrol dirinya untuk tidak menepis atau bersikap kasar ketika Myungsoo mencoba 'menyentuh'-nya semalam. Memang dasar laki-laki sulit untuk menahan hasrat!
Untung saja Myungsoo percaya saat Suzy mengatakan kalau ia sedang datang bulan... Padahal, siklus datang bulannya telah dilalui empat hari yang lalu.
Wanita itu mendesah. Kepalanya bersandar pada jok, lalu melepas kacamata hitamnya. Ditatapnya Hanbin dengan pandangan sama bingungnya. "Aku juga curiga. Dua kali dia memelukku seolah tahu tentang penyakitku."
"Ini tidak bisa dibiarkan, Zy... Kau bisa tamat jika ketahuan," Hanbin berucap khawatir sambil membagi pandangannya dengan jalanan dan wanita di sebelahnya. "Aku khawatir."
"Kau kira aku tidak gemetar?" Suzy mendengus. "Apalagi semalam Myungsoo hampir--"
"Dia melakukan itu!?" Hanbin menginjak rem mendadak. Kepalanya menoleh cepat pada Suzy yang menggerutu karena hampir terbentur dashboard. "Maaf, aku refleks." imbuh Hanbin sambil mengusap pelan dahi Suzy.
"Kukatakan 'hampir' bukannya sudah." gerutu Suzy. Ia menepis dengan dingin tangan Hanbin yang mengusap dahinya. "Sakit, tahu! Kalau keningku sampai benjol dan membuat pertanyaan-pertanyaan tidak penting bagaimana?"
Hanbin benar-benar tidak bisa menyembunyikan perasaan leganya. Pria itu menoleh, tersenyum sambil menjawil hidung Suzy dan memilih untuk menikmati gerutuan serta makian perempuan yang telah mengisi sebagian relung di hatinya yang ia biarkan kosong itu.
Tapi, saat ia hendak menjawab perkataan Suzy, terpaksa ditelannya kembali ketika dering HP Suzy terdengar.
"Siapa?" tanyanya ketika Suzy sudah menggenggam HP-nya.
Suzy menunjukkan layar HP-nya yang kini dipenuhi nama samaran sang informan wanita itu.
"Ya, ini aku." ucap Suzy ketika ia mengangkat panggilannya.
Namun, sikap santai Suzy berubah tegang ketika suara diseberang sana mulai berkata dengan nada suara panik.
"Dia kabur!" ucap sang informan.
***
Sementara yang jaraknya sedang berkilo-kilo meter jauh dari Seoul. Myungsoo sedang meregangkan otot-ototnya saat sampai di dalam hotel. Pria itu melepas jas dan menggulung lengan kemeja hingga ke siku, matanya menatap luar jendela kamar hotel sambil mengendurkan dasinya. Lalu bergumam, "Suzy sedang apa?"
"Pergi dengan Hanbin."
Tangannya berhenti, raut wajah Myungsoo kembali angker disana. Mati-matian ia menahan diri untuk tidak agresif, untuk berpura-pura buta dan mengikuti apapun rencana Suzy. Namun, ia benar-benar tidak bisa menerima kalau ada pria lain disisi wanitanya. Apalagi, setelah mengetahui Suzy kembali, dan juga pelukan di depan pintu toilet yang terus membayanginya, Myungsoo langsung menyuruh seseorang mengorek informasi dan membuntuti wanita itu. Alhasil, satu fakta mengejutkan diketahuinya pada hari setelah hari itu; bahwa sepupu jauhnya ternyata sahabat Suzy.
Sebenarnya apa maumu, Hanbin? Gumamnya dalam hati.
"Pak, kau baik-baik saja?" tanya Hyun, asisten Myungsoo.
Myungsoo mengangguk. Pandangannya masih menatap gedung pencakar langit dari jendela hotel dengan tangan terlipat di depan dada. "Aku mulai berpikir untuk mematikan satu tikus yang mencoba mengganggu kejuku, Hyun. Bagaimana?" tanyanya dingin.
Hyun mengangguk pelan. Namun fokusnya beralih saat HP dalam kantong jasnya bergetar. Pria berpotongan rambut rapi itu segera mengambilnya, lalu memberikannya pada Myungsoo. "Nomor baru menelpon." ia menginformasikan.
Dengan kening berkerut, Myungsoo segera mengangkatnya. Menunggu si penelpon bersuara lebih dulu.
"Myungsoo, ini aku Lucy! Wanita yang sedang bersamamu bukan aku, dia Suzy dan tolong aku... Aku disekap, sekarang aku sedang di telepon umum. Kumohon jemput aku, Jinjaa museowo..."
***
Kolom komentar di persilakan untuk netijen yang budiman...
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co