enambelas.
"Aku Hanbin, Suzy. Aku Hanbin..." ucap Hanbin, pria itu maju selangkah namun Suzy mundur dua langkah.
Tatapan mata Suzy yang menyiratkan ketegangan, juga dengan jemari tangannya yang bergetar—Hanbin melihat itu dari bagaimana tangannya yang bergetar saat memegang cup odeng—membuat Hanbin merasa sedih. Wajah pria itu yang muram jelas terlihat, ditambah mata sedunya yang seakan turut menyiratkan kesedihan mendalam. Hanbin mencoba meraih lengan Suzy, namun secepat kilat Suzy menjauhkan lengannya.
Wanita itu menggeleng pelan. "Aku tidak mengenalmu."
"Kau mengenalku."
Suzy menggeleng lagi, semakin kencang. "Suamiku mengatakan kau orang jahat, jadi mana mungkin aku mengenal orang jahat!"
Suzy berusaha pergi, namun seperti di sambar petir tangan Hanbin langsung terulur menahan wanita itu agar tidak kemana-mana. Dia tidak ingin Suzy jauh dari jarak sentuhnya, dia tidak ingin kehilangan wanita itu lagi.
"Maaf," ucap Hanbin seraya melepaskan cengkeramannya ketika melihat ekspresi horor Suzy. Lalu, ia buru-buru menambahkan. "Kita saling mengenal, Suzy. Percayalah."
"Tidak."
"Aku serius, Suzy. Aku serius," Ucap Hanbin dengan hati teriris.
Suzy menggeleng lagi. "Kau bohong!"
"Aku bersungguh-sungguh. Satu-satunya yang berbohong adalah Myungsoo karena dia mencoba menjauhkan kita. Kita adalah sahabat..." suaranya semakin memelan saat mengucapkan kata terakhirnya. Dan aku mencintaimu... tambah Hanbin dalam hati.
"Sahabat?"
Hanbin mengangguk. Pria itu melangkah mendekat, mengulurkan tangannya kembali dan Suzy tidak menolak ketika pria itu mengajaknya untuk mengambil tempat di bawah rindang pohon yang ada kursi kayunya disana. Lalu, keduanya duduk.
Masih dengan menatap Suzy, Hanbin merogoh ponselnya dari dalam saku jaket, membuka kunci layar dan seketika foto pria itu dan Suzy yang tengah tersenyum menghadap kamera dengan Suzy yang membawa tart coklat dengan tulisan 'selamat ulangtahun, Suzy.' . ujung hidung Suzy cemong terkena cream kocok, namun jelas aura kebahagiaan tersirat di foto itu.
Ada sesuatu di dalam diri Suzy yang tiba-tiba merasa hangat ketika melihat foto itu. Bahkan walaupun sulit diyakini perasaan apa ini, tapi yang terjadi ketika ia bertemu dengan pria di hadapannya ini adalah radarnya tidak bersikap siaga. Sikap defensifnya tadi adalah murni karena terkejut melihat sosok yang ada dalam foto berkamuflase di depan mata. Hanya itu.
Namun, alih-alih mendalami apa yang dikatakan Hanbin—atau apa yang ia lihat di ponsel pria itu—Suzy langsung menarik tangannya hingga terlepas dari genggaman Hanbin, lalu ia berdiri.
Ditatapnya Hanbin tepat di manik mata. "Aku tidak tahu apakah yang kau katakan itu benar, atau tidak," Suzy menggigit bibir dalamnya sekilas, lalu kembali melanjutkan, "Tetapi aku yakin kalau suamiku tidak akan membohongiku." Suzy menunduk sekali. "Aku permisi."
Tangannya gemetar ketika berbalik.
"Suzy!" Hanbin hendak mengejar wanita itu cepat, sebelum Suzy kembali berbalik dengan ancaman keras. Tidak hanya melalui sebuah kalimat, namun dengan kedua matanya juga.
"Jangan ikuti aku, atau aku akan panggil polisi!"
Membuat langkah Hanbin terhenti di tempatnya. Pria itu menatap muram pada punggung yang semakin menjauh di depannya, dan menghilang di telan oleh kerumunan orang yang berlalu-lalang.
***
Pertemuan itu benar-benar mengusik pikiran Suzy.
Berkali-kali ia mengganti posisi duduknya yang tak nyaman, ia juga kerap menghela napas keras-keras dalam jeda waktu yang tak lama. Ucapan Hanbin bagaikan jaring laba-laba yang memerangkapnya dalam angan, dan untuk kali pertama sejak tersadar di rumah sakit waktu itu Suzy merasakan rasanya gusar.
Suara bibi Pyo berulang mempertanyakan kegelisahan yang ditampilkan nyonya-nya di waktu yang beruntutan, sejak mereka sampai di villa, memasak di dapur dan kini sedang menunggu lasagna matang. Duduk pada salah satu kursi kayu berukir yang mengelilingi meja makan dengan apron menggantung di tubuhnya, lamunan Suzy benar-benar hampir mencelakakan diri wanita itu sendiri. Bahkan terkadang bibi Pyo harus mengulang dua kali pekerjaannya—padahal niat awal Suzy hendak menolongnya mencuci beberapa belanjaan yang mereka beli di pasar tradisional. Tapi alih-alih, Suzy malah menambah pekerjaannya.
Selain itu, bibi Pyo harus mengadon ulang bahan untuk menu makan malam mereka karena Suzy melamun dan menyebabkan apa yang sedang di goreng olehnya berakhir gosong. Tidak sedikit, tetapi semuanya. Akhirnya karena tidak tahan harus mengulang beberapa pekerjaan dari awal, bibi Pyo mencoba mengatasi dengan menyarankan kepada Suzy membuat lasagna yang di minta Myungsoo tadi sebelum berangkat ke perusahaan cabang tadi pagi.
"Nyonya, tuan Myungsoo telah tiba." Seorang pelayan wanita menginformasikan kepada Suzy dari ambang pintu dapur.
Suzy yang melamun langsung tersentak, menoleh dan mengangguk cepat. Ia segera bangkit dari duduknya sambil melepas apron yang masih dipakainya dan menyerahkan apron itu kepada bibi Pyo, "Tolong bantu aku tangani lasagna itu ya, bi?"
Bibi Pyo mengangguk dan mengambil apron yang diulurkan Suzy tadi. Wanita setengah baya itu menghela napas lega ketika air muka majikannya yang tadinya keruh tak terbaca, sekarang mengalami perubahan aura. Jangan-jangan sejak tadi Suzy diam dan kalut adalah karena dia merindukan suaminya? Pikirnya.
Suzy berjalan cepat dan langsung memeluk Myungsoo ketika pria itu sudah berada dalam jarak sentuhnya. Ia membiarkan Myungsoo mencium puncak kepalanya dan semakin menenggelamkan diri dalam bumi yang sedang balas memeluknya kini. Wangi aroma tubuh Myungsoo bercampur dengan aroma parfum yang pria itu gunakan sungguh menenangkan pikirannya yang kacau. Dan bodohnya, ia sempat mencurigai pria yang sedang memeluknya ini hanya karena ucapan dari pria yang tidak dikenalnya, plus foto yang digunakan pria itu sebagai wallpaper ponsel tadi.
"Aku sangat bosan disini..." suara Suzy teredam oleh pelukan. Lantas, kepalanya mendongak perlahan dan memenukan manik mata tajam yang kini memandangnya dengan tatapan hangat. Suzy lantas mengulas senyum, dan berjinjit pelan untuk memberikan satu kecupan di bibir Myungsoo. "Kau terlalu lama meninggalkanku. Aku merindukanmu."
Kehangatan sekaligus rasa nyeri langsung melingkupi Myungsoo. Pria itu membalas senyuman Suzy seraya menyingkirkan dengan gaya seringan bulu anak-anak rambut di pelipis Suzy. "Banyak yang harus kulakukan di tempat baruku. Aku juga sama sedihnya meninggalkanmu di villa terlalu lama."
"Dan kau tidak ada niatan untuk mengajakku. Apa pekerjaanku dulu?"
Lagi-lagi pertanyaan tak terduga membuat Myungsoo terkejut. Tangannya mengambang diudara selama lima detik sebelum kembali melanjutkan aktivitasnya. Myungsoo mengalihkan pembicaraan, "Aku akan mengajakmu lain kali. Apa yang kaulakukan seharian ini?"
Suzy melepaskan pelukannya. Ia berjalan sambil mengandeng lengan Myungsoo menuju lift dan keduanya masuk ke dalamnya. "Aku ikut bibi Pyo ke pasar tradisional dan mencicipi berbagai makanan disana. Apa kau pernah ke pasar tradisional?"
"Apa?"
"Kau pernah ke pasar tradisional?" Suzy mengulangi pertanyaannya. Senyumnya kembali terukir ketika mengingat perasaannya tadi ketika mencicipi berbagai makanan di sana. Rasanya, ia ingin mengulangi kulinerannya lain kali bersama Myungsoo.
Namun, katika merasa Myungsoo yang tak kunjung menjawab pertanyaannya, bahkan sampai pintu lift terbuka, Suzy lantas mendongak sambil melangkah menuju kamar mereka. Kedua alisnya terangkat saat menemukan ekspresi tegang di wajah Myungsoo. Ia yang langsung paham, buru-buru menambahkan. "Aku salah ya karena ikut bibi Pyo dan tidak meminta izin padamu dulu?"
"Aku kan sudah mengatakan padamu kalau kau bisa berpergian ditemani Hyun."
"Tetapi Hyun tidak ada, dan kurasa dia memiliki urusan lebih penting membantumu di perusahaan daripada mengikutiku jalan-jalan," Suzy mendesah. Melepaskan rangkulan pada lengan Myungsoo dengan wajah muram. Kepalanya mendongak, menatap sebal Myungsoo. "Aku bukan tahanan, tahu!" lanjutnya dengan suara naik satu oktaf.
Kemudian dia melangkah masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya dari dalam. Biarkan saja Myungsoo diluar, siapa tahu udara dingin bisa menyadarkannya kalau istrinya ini juga butuh hiburan selain menunggu suaminya pulang bekerja. Suzy memberikan tatapan tajam ke arah pintu seolah-olah pintu itu tembus pandang dan bisa menghantarkan tatapan tajam itu langsung kepada Myungsoo.
"Suzy, maaf kalau aku salah bicara. Aku bukannya bermaksud untuk melarangmu keluar. Aku hanya takut kau terluka."
"Aku tidak mungkin terluka," Suzy mendengus kasar. "Aku bukan anak umur tujuh tahun."
"Iya, aku paham," ucap Myungsoo lagi sambil mengetuk pintu kamar itu dari luar. "Aku minta maaf, ya? Kumohon buka pintu ini sayang..."
Suzy tak membalas lagi. wanita itu melangkah menuju ranjang dan menggeletakkan diri disana, kedua matanya memandang lampu yang menggantung pada langit-langit kamar dengan minat berlebih. Lagi-lagi perasaan asing kembali merundungi kepala atas apa yang baru ia lakukan ini. Seolah-olah apa yang ia lakukan itu—merajuk dan bersikap manja— adalah kali pertama dilakukannya seumur hidup. Membuatnya semakin penasaran bagaimana sikap dan sifatnya selama ini...
Di samping itu, ada hal yang tak luput mengganggu benaknya; bahwa satu pertanyaannya tadi tidak di jawab oleh Myungsoo.
"Sebenarnya siapa dan bagaimana aku yang sesungguhnya..." gumam Suzy sehalus angin.
***
Hanbin duduk dalam kegelapan. Bahkan, ketika matahari mulai muncul bersama dengan galur-galur keemasan yang memancar masuk melalui celah-celah gorden kamar hotel, pria itu tetap diam di tempatnya. Tak merubah posisinya sedikitpun.
Kemarin setelah pergi menemui Lucy—namun tidak berhasil karena penjagaan ketat—akhirnya Hanbin memutuskan untuk menyising tempat-tempat yang memungkinkan. Setelah penjelajahannya kemarin-kemarin tidak membuahkan hasil, Hanbin berupaya merubah petanya, dan mulai mencari Suzy dari tempat terjauh—juga terpencil—yang mungkin tidak terpikirkan oleh orang lain kalau berada di posisinya.
Dan di desa itu terdapat anak cabang perusahaan keluarga Myungsoo yang belum lama didirikan. Meskipun tidak begitu yakin, tetapi harapan Hanbin besar ke sana.
Singgah ke pasar tradisional memang tidak termasuk dalam destinasi, karena Hanbin yang belum makan sejak pagi dan cacing-cacing diperutnya mulai berkonfrontasi untuk demo, alhasil Hanbin terpaksa meluangkan waktu ke pasar itu untuk membeli makanan pengganjal dan bisa di makan di mobil. Dan takdir mulai bermain disana, ia sama sekali tidak menyangka jika wanita yang tengah terkena pelototan dari penjual odeng adalah wanita yang ia cari-cari keberadaannya.
Lalu sekarang, segala tentang Suzy sore kemarin semakin mengganggunya, dan ia benar-benar tak terima karena omongan Myungsoo tempo lalu terbukti; bahwa pria itu akan membuatnya menjadi satu-satunya orang yang dibenci oleh Suzy.
Ia mengusap wajahnya frustasi, kemudian menyibak selimut dengan kasar, dan bangkit dari ranjang dengan satu tujuan yang kini berputar-putar di kepalanya. Jika dia menemukan Suzy di sekitar sini, sudah pasti dalang dari semua ini juga berada di sini. Dan jika dia tidak mengetahui dimana Suzy di 'sekap', maka satu-satunya tempat untuk adu argumen—yang mungkin berakhir dengan luka lebam atau bonyok di wajah—adalah di sarang pria itu.
Hanbin melepas kaos yang dipakainya melempar sembarang ke lantai, lalu melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Tidak sampai lima menit pria itu sudah keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk yang menggantung di pinggul. Ia berjalan menuju koper dan mengambil salah satu baju serta celana dari dalamnya. Untung saja dia selalu membawa sekoper pakaian bersih untuk berjaga-jaga kalau saja ia sampai menginap di hotel—atau suatu tempat yang jauh dari apartemennya seperti sekarang.
Setelah siap, pria itu langsung mengambil kunci mobil dan keluar dari kamar hotelnya. Berhubung ini masih jam enam pagi, Hanbin akan menunggu sepupunya itu pada salah satu kedai yang buka 24 jam, dan membeli sarapan disana. Ia hanya tidak ingin jika di kantor cabang itu terdapat mata-mata dan berakhir dengan kegagalannya menemui Myungsoo disana. Karena itu, menunggu di kedai ini sampai jam masuk kantor datang adalah hal yang paling tepat.
Sambil meneguk kopinya, Hanbin memandangi wallpaper pada ponselnya sambil mengusap layarnya pelan.
"Aku akan membuatmu mengingatku lagi..." ucapnya lirih.
***
cian hanbinQ :(
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co