Truyen3h.Co

Volcano Erupt

sepuluh.

authoriya

P.s : jangan berisik, dah baca aja.

            Ruangan putih.

            Pertama yang Suzy lihat ketika matanya terbuka. Ia mengerjap pelan, membawa matanya agar terbiasa dengan cahaya lampu di ruangan putih ini. Barulah setelah dirasa pandangannya sudah terbiasa, Suzy mulai mengamati lebih dalam ruangan ini.

            Tempat yang ia tiduri jelaslah bukan brankar karena dilihat dari lebar dan bahan kayu yang digunakan—bukan stainless seperti brankar pada umumnya. Tetapi, kenapa dia ada disini?

            "Ugh...," Suzy menggeram, memegangi kepalanya yang tiba-tiba sakit dan saat itulah ia sadar kalau ia sedang di perban. Mengabaikan rasa sakit pada kepalanya, Suzy mengelus pelan perban pada kepalanya itu. "Kenapa aku—"

            "Kau sudah sadar, istriku?"

            Suara berat pojok ruangan membuat Suzy langsung tersadar kalau dia tidak sendirian di dalam ruangan ini. Kepalanya lantas menoleh, menatap sosok laki-laki dengan pakaian serba hitam sedang duduk pada satu sofa cokelat—sungguh kontras dengan warna dinding dan nuansa ruangan ini yang di dominasi oleh putih—menatapnya dengan mata tajam nan menakutkan.

            Siapa dia?

            Dan apa katanya? Istriku?

"Maaf, kau mengenalku?" tanya Suzy hati-hati pada pria menyeramkan di sana. Tangannya tiba-tiba gemetar ketika menyadari raut wajah kelam pria itu, dan Suzy mulai bertanya-tanya apakah ia telah salah bicara?

Bukannya ia sudah sopan dengan membawa kata 'maaf' sebelum pertanyaannya? Lantas kenapa lelaki itu...

Suara pintu yang terbuka kasar dan menelan lelaki bermata tajam itu keluar membuat kepala Suzy semakin sakit. Astaga, apa yang sebenarnya terjadi?

Lalu, siapa dia? Karena bahkan, Suzy tidak mengetahui identitas dirinya sendiri sekarang. Otaknya seolah kosong, tidak meninggalkan jejak apapun. Suzy bahkan tidak mengingat kenapa dia berakhir dengan selang infus ditangan dan kepala di perban.

Kepala Suzy menunduk, menatap tangan yang berada dalam pangkuannya, dan langsung mengernyit bingung. Diusapnya pelan punggung tangannya yang ditutupi plaster luka berwarna hitam bertuliskan inisial KMS ditengah-tengahnya, lagi-lagi dia tidak mengingat darimana luka itu berasal.

"Kenapa ini..." gumam Suzy pelan.

Sebelum ia kembali larut memikirkan hal-hal yang menimpanya pagi ini, Suzy lebih dulu mendapati suara langkah kaki terdengar mendekat. Kepalanya mendongak, dan menemukan orang asing yang sama dengan yang tadi. Dengan sorot mata tajam membius, pria itu melangkah tergesa mendekati Suzy. Suzy memiringkan kepala sedikit, dan mendapati seorang dokter tua dan perawat mengikuti pria itu dari belakang.

Napas pria yang tidak diketahui Suzy identitasnya itu tersengal, namun sorot matanya tidak semenyeramkan saat pertama menatapnya—meskipun dengan tidak yakin tadi Suzy juga sempat melihat ada kekhawatiran disana—dan membawa kedua tangan itu sedikit meremas bahunya. Membuat Suzy seketika menahan napas terkejut.

"Kau yakin tidak ada cidera di kepala istriku?"

Istriku...

Ini maksudnya apa? batin Suzy tak paham.

Dokter itu nampak gugup, namun dengan profesional segera menunjukan hasil scanning kepada si pria yang nampak gusar itu.

"Tidak ada, pak. Kau bisa melihatnya sendiri." tunjuk sang dokter sambil menjelaskan hasil scanning itu.

Myungsoo menghela napas. Tubuhnya sedikit membungkuk untuk mensejajarkan dengan wanita yang pada saat ini sedang duduk kebingungan. Lalu, jemarinya terulur mengusap pelan pipi Suzy, sambil berkata, "Ada yang sakit?"

Suzy menggeleng. "Tadi kepalaku sakit sedikit, tetapi sekarang sudah tidak lagi."

Myungsoo mengangguk. Kemudian, kembali menatap dokter tua itu. "Jadi, menurutmu apa?"

"Sebentar, aku harus memastikan." Ucap dokter itu. tangannya terulur meminta senter kecil dari perawat, sebelum menyoroti satu persatu mata Suzy. Tidak ada yang salah. Dokter itu lalu mengembalikan senter itu kepada si perawat, dan membawa pandangannya kembali pada Suzy. "Kau ingat namamu?"

Suzy menggeleng. "Aku tidak mengingat siapapun. Bahkan namaku dan kenapa aku berada disini. Ini ada apa?"

"Kau tidak sedang berakting kan?" Myungsoo menyipitkan mata, menatap Suzy dengan pandangan curiga. Satu bayangan langsung melesat di kepalanya, karena mengingat bagaimana Suzy yang nekat kabur dari rumah dan berakhir jatuh. Untung saja saat itu ada pelayan yang melihat dan segera menolong karena kalau tidak Myungsoo tidak tahu apa yang akan terjadi pada wanitanya ini. Suzy jelas masih phobia ketinggian, dan jelas dia tidak bisa berenang. Karena itu tanpa menunggu lama Myungsoo langsung menyuruh orangnya untuk membawa Suzy ke rumah sakit sementara ia menyusul dari kantornya.

Dan sekarang, ketika firasat buruk tiba-tiba menyelinap di benaknya, Myungsoo tidak bisa menyalahkan pemikirannya tentang wanita ini kan? Siapa tahu...

Pandangannya langsung melunak ketika melihat air mata yang menetes di pipi cantik itu. Dengan segera ia menghapusnya menggunakan ibu jari.

"Kenapa kau mengatakan itu?" mata Suzy berair, sinarnya meredup terluka dan sedang menatap Myungsoo. "Memangnya aku kenapa sebelumnya sampai-sampai kau berbicara seperti itu?"

Myungsoo mengesah. Lalu, menggeleng pelan. "Kau suka membuatku khawatir karena suka melakukan prank. Maafkan aku sudah mencurigaimu ya?"

Suzy terdiam. "Apa benar aku adalah istrimu?"

Myungsoo mengangguk, wajahnya terlihat penuh kesedihan karena Suzy yang tak mengingatnya.

"Benar," tiba-tiba suara dokter itu terdengar. Ada senyuman hangat di sana. "Aku menghadiri acara pernikahan kalian. Kalian benar-benar pasangan yang serasi." Imbuhnya.

Myungsoo tersenyum dalam hati. Dengan dokter Lee bicara begitu, Myungsoo jadi yakin kalau Suzy tidak akan berpikiran macam-macam dan menuduhnya berbohong, karena bukti paling konkret adalah saksi mata.

Suzy kembali menatap sedih, menggenggam kesepuluh jemari besar milik Myungsoo sebagai suatu manifestasi dari rasa bersalah yang bersarang. Dengan sorot pendar, ia bersuara. "Maafkan aku karena tidak mengingatmu..."

Myungsoo tersenyum, dan menarik Suzy ke dalam pelukannya. "Tidak pa-pa. Asal kau tetap bersamaku. Tidak pa-pa."

***

"Jadi dia amnesia?" Myungsoo mengulang kata-kata sang dokter. Saat ini keduanya telah berada di ruangan dokter Lee guna membahas hilangnya ingatan Suzy. Tidak separuh, melainkan semuanya.

Dokter Lee mengangguk. "Aku tidak yakin apa penyebabnya, namun mungkin ini adalah suatu bentuk manifestasi dari segala hal yang telah terjadi di hidupnya. Dan otaknya menolak untuk ingat hal-hal yang dianggap olehnya sebagai kesakitan. Kau tahu terkadang beberapa hal tidak bisa dicari pengertiannya dalam dunia medis."

Ada perasaan sedih sekaligus senang di hati Myungsoo saat ini. Namun sepertinya rasa senang itulah yang paling mendominasi, sorot mata tajam itu kembali menatap pria baya di depannya. "Apa ingatannya akan kembali?"

"Bisa ya dan tidak."

"Maksudmu?" tanya Myungsoo. Dengan kedua tangan ia ke kantong coat, sementara pandangannya menatap lurus pada pria baya yang sudah menjadi dokter andalan keluarga selama bertahun-tahun.

Dokter Lee nampak membenarkan jasnya sebelum suara tua yang khas kembali terdengar. Dengan mata yang membalas tatapan tajam Myungsoo agak sedikit gugup—karena walaupun Myungsoo adalah orang baik, tetapi bagaimana tadi Myungsoo dengan gusar dan mengancam seluruh staf rumah sakit yang sedikit lambat menangani istrinya, mau tak mau membuat dokter Lee menciut. Apalagi, ketika moncong pistol tepat menempel di ujung dahi sebelah kirinya saat ia mulai memeriksa Suzy, dan yang menodong pistol jelas dilakukan oleh asisten Myungsoo yang tak pernah tersenyum itu.

"Jika amnesia bisa jadi itu akan bersifat permanen. Karena itu sebelum aku memberikan obat, kami akan melakukan pemeriksaan CT-scan atau MRI ulang dan beberapa tes kognitif untuk menguji kemampuan berpikir dan mental pasien. Aku berharap ini bukan hal yang buruk—maksudku, bisa jadi ini sifatnya hanya sementara. Dan istrimu akan kembali puli—"

Myungsoo memotong. "Apa ada cara agar ingatannya tidak kembali?"

"Ya?" dokter Lee menatap kebingungan, namun melihat keengganan pria di depannya menjawab tanya yang bersarang dikepalanya, akhirnya pria baya itu kembali bersuara. "Tidak ada obat yang seperti itu, pak. Itu memang hanya tergantung keajaiban dari yang di atas."

"Aku harap keajaiban itu tidak ada," Gumam Myungsoo pelan. Matanya memejam sesaat, sebelum bersuara. Kedua tangannya saling berpaut di atas meja. "Jangan katakan ini pada keluargaku maupun keluarga istriku. Rahasiakan ini, dokter. Kumohon?"

Dokter Lee mengangguk. Mengiakan.

Myungsoo berdiri. Setelah berpamitan, pria itu langsung mengeluarkan ponselnya dan mengontak seseorang.

"Hyun, siapkan villa."

Ucapan Myungsoo kepada seseorang yang tadi menodongkan pistol ke kepalanya membuat sang dokter bergedik ngeri. Kepala yang dibaut dengan rambut agak putih itu menggeleng pelan, apapun itu dia tidak akan membuat kesalahan seperti tadi—mementingkan pasien lain yang kontrol bulanan—agar tidak mendapat perlakuan menyeramkan lagi dari pihak pria muda yang sudah ia anggap seperti anak sendiri itu.

Dan, dokter Lee bersumpah tidak akan ikut campur masalah apapun yang kini sedang terjadi. Tugasnya hanya dokter yang membantu mengobati pasien, bukan si tukang ikut campur. Maka, sambil menatap daun pintu yang sudah tertutup di depannya, dokter Lee kembali menekuni berkas di meja kerjanya.

***

Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co