tigapuluh satu.
"M-myungsoo..." Suzy merintih. Kedua matanya menatap tidak fokus, sementara ke sepuluh jemarinya mencengkram erat rambut Myungsoo. dadanya membusung—Myungsoo yang sudah menurunkan satu tali gaunnya hingga ke lengan, dan menaikkan cup bra-nya ke atas—saat tangan lihai yang meremas dadanya itu digantikan oleh bibir basah pria itu. "Bibi Moon ada di bawah," rintihnya kembali
"Biarkan saja."
"Aku harus membantunya memasak, dan kau harus bersiap meeting." Ucap Suzy dengan susah payah. Mulutnya setengah terbuka saat merasakan satu tangan Myungsoo menelusup ke bawah gaunnya menuju daerah terlarang dan mengusapnya.
"Aku benar-benar merindukannya." Bisik Myungsoo parau sambil mengusap daerah terlarang Suzy. Tangan dan mulutnya bersinkronisasi mendambakan tubuh indah wanita dalam jarak sentuhnya itu.
Suzy terengah dan fokusnya langsung hilang dalam sekejap mata ketika Myungsoo mulai membuainya dengan penuh gairah.
***
Wajah riang yang dilihat oleh mata tuanya pagi itu benar-benar menyenangkan hati. Bibi Moon tersenyum kecil, meletakkan mangkuk nasi ke depan Myungsoo yang sudah rapi dengan kemeja putih dan jas hitam.
"Bibi, maafkan aku. Aku harusnya membantu—"
"Jadi, apakah kalian berdua sudah baikan?" tanya bibi Moon memotong kalimat Suzy.
Suzy terperanjak kaget, kedua matanya sampai membeliak lalu berdeham. "A-apa?"
"Kau dan suamimu. Myungsoo suamimu kan? Hanbin menceritakan semuanya padaku kemarin."
Oh tuhan!
Bibi Moon menatap Myungsoo sambil memukul. "Dasar anak nakal, bagaimana bisa kau tidak langsung bercerita padaku soal Suzy!"
"Aw, sakit, Bi!" keluh Myungsoo sambil menghindar dari pukulan bibi Moon yang sebenarnya tidak sakit sama sekali itu. "Aku hanya tidak ingin membuatnya tak nyaman. Tapi sekarang kami sudah baik-baik saja." Myungsoo tersenyum lebar.
"Hanbin memberitahumu?" tanya Suzy.
Bibi Moon mengangguk. "Kemarin dia ke restoran. Idenya juga soal aku yang tidak pulang semalam karena badai itu."
Suzy mengerjap. "Lalu, dimana Hanbin sekarang?"
"Kenapa kau menanyakan Hanbin?" tanya Myungsoo cepat. Dari suaranya ia sama sekali tak menutupi ketidaksukaannya.
Suzy menatap dengan mata menyipit. "Dia sahabatku. Tentu saja aku bertanya." Jawabnya. Lalu, kembali menatap bibi Moon. "Hanbin dimana, bi?"
Bibi Moon membawa pandangannya pada jam yang menggantung di dinding. "Seharusnya sudah di bandara. Hanbin mengatakan pesawatnya jam 10."
Tanpa membuang waktu, Suzy segera berlari menuju ke kamarnya. Mengganti pakaiannya dan mengambil tas berikut ponsel. Wanita itu segera bergegas keluar kamar dan menemukan Myungsoo sudah menghadangnya.
"Aku harus ke bandara."
"Suzy, katanya kau mau ikut aku?"
Suzy menggeleng. "Tidak. Aku harus bertemu Hanbin, Myungsoo."
"Kau istriku," Myungsoo mendengus. "Kau bisa bertemu Hanbin besok-besok saat sudah kembali ke Seoul."
"Dia tahu tentang kau dan aku di sini. Dan aku penasaran kenapa dia tak menjengukku disini." Suzy mengernyitkan dahi. Kedua matanya menatap Myungsoo. "Aku tidak ingin Hanbin salah duga."
Berdecak malas, Myungsoo akhirnya mengangguk dan berkata. "Baiklah, aku akan ikut bersamamu."
"Tapi, kau ada meeting."
"Bagiku, lebih penting kau daripada uang-uang dan proyekku, Suzy."
***
Hanbin menghela napas. Keputusan yang diambilnya semalam jelas menentang hatinya. Ia tercabik-cabik dan dapat dipastikan patah hati sepatah-patahnya. Suzy, seseorang yang ia sukai dan kini bertransformasi menjadi orang yang ia cintai sepenuh hati itu sangat ingin didekapnya. Ingin dipeluknya erat. Namun, tidak bisa.
Hati wanita itu bukan miliknya sejak awal. Dan tak akan pernah menjadi miliknya. Jika dipikir ulang, keputusannya semalam—menyuruh bibi Moon agar berbohong soal hujan badai—akhirnya diputuskan Hanbin karena Suzy sendiri tak sadar dengan perasaannya. Suzy terlalu menyimpan benci, dan yang tak ia tahu kalau kebencian dan cinta hanya dipisahkan oleh sebuah benang tipis. Hanbin mulanya tak menyangka kalau Suzy—sahabatnya yang sangat ia cintai itu—perlahan menyukai Myungsoo. Tetapi, setelah penyekapannya bersama Ben, juga keputusan Suzy ingin "mengasingkan diri" yang dibungkus rapat dengan wanita itu dengan kata "liburan sejenak" , pun saat Suzy yang kebanyakan bengong, kadang menatap acara bisnis—yang kebetulan ada Myungsoo—dengan penuh antusias dan surat cerai yang tak kunjung dilayangkannya itu akhirnya membuat Hanbin bisa menyimpulkan kalau sahabatnya itu benar-benar sedang merasakan apa yang sering orang sebut dengan rasa galau.
"Kupikir rasanya akan lebih baik dari saat itu..." gumam Hanbin miris pada dirinya sendiri. Kepalanya menunduk dengan tiket ditangan.
"Hanbin!"
Hanbin mendesah. Bahkan ia kini berhalusinasi dengan mendengar suara Suzy yang memanggilnya. Jelas saja Hanbin mengatakan seperti itu karena Suzy tak akan datang kesini. Ia sudah mewanti-wanti bibi Moon supaya tidak mengatakan apapun soal kedatangannya ke Jeju ini. Dan bibi Moon pasti menuruti ucapannya.
"Hanbin!"
Suara itu semakin terdengar jelas. Dan Hanbin tahu kalau ia tidak sedang berhalusinasi sekarang. Pria itu mendongak, mengedarkan pandangnya ke segala penjuru dan rasa terkejutnya tak bisa ditutupi kala melihat seseorang dengan kardigan andalannya berdiri dalam jarak pandang. Raut wajahnya tak terlihat, tetapi Hanbin bisa tahu kalau wanita itu pasti sedang menangis karena sesekali ia mengusap pipinya. Tak jauh dibelakang Suzy, Hanbin bisa melihat Myungsoo dibelakangnya. Dan dari posisi berdiri pria itu jelas sekali ia tak suka berada disini.
Dasar possesif... sudut bibir Hanbin tertarik keatas.
Hanbin berdiri. Hendak melangkah menuju Suzy, namun suara sekelebat yang terdengar itu mampu menghentikan langkahnya. Kedua mata Hanbin membeliak, jantungnya terasa berhenti berdetak. Dalam kurun waktu yang bahkan satuan detik tak mampu menghitungnya itu, suara debuman keras yang begitu cepat—nyaris tak ada yang menyadari sebelumnya itu berhasil menumbangkan satu target dalam bidikan.
"Suzy!" teriak Hanbin sambil berlari lintang pukang kepada satu objek itu dengan dada berdebar kencang.
***
Bạn đang đọc truyện trên: Truyen3h.Co